Sabtu, 23 Februari 2013

Suara Rakyat, Suara Tuhan

Tanggal sakral itu akhirnya tiba juga. Hari ini, 24 Februari 2013, rakyat Jabar menentukan siapa pemimpin mereka lima tahun ke depan. Perang jargon lewat spanduk, atau pun orasi usai sudah. Lima pasangan Cagub-Cawagub Jabar, kini tinggal bertarung dalam sebuah pemilihan langsung.

Dikdik Mulyana-Cecep Nana ST, Irianto MS Syaifuddin-Tatang Farhanulhakim, Dede Yusuf-Lex Laksamana, Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar, dan Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki, boleh jadi harap-harap cemas. Saat ini, mereka bersiap menanti suara rakyat.

Ya, rakyatlah yang menentukan. Berbagai survei yang dirilis jauh-jauh hari, boleh jadi tak berguna andai suara rakyat berkata lain. Kini, semua terserah kepada 32,5 juta pemilih yang tersebar dari ujung Selatan, hingga pesisir Pakidulan sepanjang Jalur Pantura.

Tak mudah memang. Sebab, selama masa kampanye, lima pasangan calon itu sudah berlomba meraih simpati rakyat. Menebar janji manis, semanis gula. Blusukan ke pasar-pasar tradisional. Pun berorasi di hadapan massa, menumbuhkan asa demi kesejahteraan Jabar ke depan.

Jabar boleh dibilang indikator peta Indonesia. Dia merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Dengan jumlah pemilih sebesar itu, betapa mahalnya harga pesta demokrasi lima tahunan itu. Betapa hebatnya Pemilukada Jawa Barat.

Yang juga patut dicermati adalah golongan putih (golput). ‘Hantu’ itu kerap bergentayangan pada setiap pemilukada. Tren pemilih golput, kerap meningkat di beberapa pemilukada. Banyak faktor memang. Kekecewaan, pesimistis, rasa jenuh berkepanjangan, bisa jadi pemicu.

Belum lagi kondisi masyarakat pedesaan yang tak sempat tersentuh para calon. Informasi terbatas, membuat mereka kurang mengenal para calon. Mereka mungkin hanya tahu calon yang mendapat jatah iklan terbanyak di televisi. Maka, mereka memilih untuk tidak memilih.

Kini, saatnya menanti sejarah. Pemilukada Jabar tercatat sebagai pesta demokrasi yang berlangsung aman, dan damai. Tak ada konflik berkepanjangan. Tak ada pertikaian antarpendukung. Semua pihak, saling legawa menghargai hasil akhir Pemilukada Jabar.

Siapapun yang terpilih nanti, tentunya harus betul-betul bisa berbuat yang terbaik bagi Jawa Barat. Karena dia adalah cerminan rakyat Jawa Barat. Seperti sebuah kata-kata bijak, pemimpin adalah cerminan rakyat. Pemimpin yang jujur, akan menumbuhkan kepercayaan rakyat.

Semoga Pemilukada Jabar menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Vox Populi, Vox Dei. “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan”. Begitu sebuah pepatah kuno dalam bahasa Latin. Maka, mari kita tunggu seperti apa suara Tuhan untuk Jabar lima tahun ke depan.

Read more »

Jumat, 15 Juni 2012

Piala Eropa dan Sepak Bola Indonesia

Seperti candu, hari-hari ini pengaruh sepak bola begitu kuat. Efek adiktifnya membuat jutaan pasang mata di dunia terjaga. Bak terdorong sebuah kekuatan revolusioner, bapak-bapak, pemuda, dan para remaja, mendadak jadi pengikut ajaran ‘footballisme’.

Ya, perhelatan akbar Piala Eropa bulan ini memang membuat pola hidup berubah. Di Kota Bandung, malam-malam menjelang pagi masih tampak ramai. Kafe-kafe menyediakan ruang kumpul bareng. Sejumlah stasiun TV menayangkan ulasan dan prediksi pertandingan.
Bursa taruhan? Jangan ditanya. Di mana-mana, selalu saja ada kelompok orang yang memanfaatkan momentum olah raga sebagai ajang taruhan. Mereka rela merogoh kocek dalam-dalam, demi mempertaruhkan tim jagoannya.

Meski masih bulan Syaban, sepak bola memang membuat hiruk pikuknya sudah seperti Ramadan. Orang-orang melek sampai pagi demi menonton sebuah laga. Sebagian orang bahkan sengaja merevisi siklus tidur agar energinya tak habis saat menonton tayangan sepak bola.

Seorang teman pernah bertanya. Dia mengaku penasaran dengan sepak bola yang seolah mampu ‘menguasai’ dunia. Di matanya, sepak bola adalah olahraga aneh. Ada 22 orang berlari memperebutkan satu bola. Belum lagi tackling keras yang tak jarang membikin tulang patah. Lebih gila lagi penontonnya. Tak kurang dari lima menit, mereka bisa saja bersorak dan menangis.

Belum urusan aksesori yang tak kalah edan. Kepala dicat, badan ditato, atau mengenakan kostum aneh bak seorang makhluk asing dari planet lain. Itulah sepak bola. Sihirnya tak hanya mampu menghipnotis alam pikir manusia. Lebih dari itu, sepak bola bisa menguasai tatanan hidup masyarakat, dari arus bawah hingga kalangan atas, tak terkecuali seorang presiden.

Saya termasuk korban sihir sepak bola itu. Laga-laga favorit Piala Eropa saya lahap meski harus begadang sampai subuh. Sejak gong Piala Eropa dimulai, saya pun jadi pecandu olahraga massal itu. Berbagai prediksi saya cermati sebagai bahan masukan.

Namun, memelototi laga Piala Eropa di layar televisi membuat pikiran saya melayang ke sepak bola tanah air, entah itu IPL atau ISL. Sungguh indah menyaksikan sepak bola Piala Eropa tanpa kekerasan di lapangan. Betapa eloknya melihat sosok wasit yang begitu berwibawa dan dihargai pemain.

Coba tengok laga sepak bola di tanah air. Banyak drama yang terjadi hingga membuat sepak bola seolah sebuah telenovela. Tiba-tiba saja wasit jadi bulan-bulanan pemain. Dia jadi korban kebrutalan pemain. Dicaci maki, didorong-dorong, bahkan dipukuli, terlebih jika sudah menunjuk titik putih.

Parahnya, pemeran utama sepak bola tanah air tak hanya pemain yang berjibaku di lapangan. Penonton pun bukan lagi sekadar figuran. Mereka bisa ada di lapangan dan membuat gaduh. Mewarnai udara di sekitar lapangan dengan asap pekat kembang api. Belum lagi kerusuhan seusai nonton laga.

Kematian tiga suporter seusai laga Persija vs Persib Bandung contohnya. Di lapangan, pemain bisa bersikap dewasa, membangun persaudaraan. Tapi di luar lapangan, penonton mengubah suasana jadi mencekam.

Tapi ya sudahlah. Lupakan persoalan sepak bola tanah air. Saya ingin membiarkan raga ini hanyut, menjadi pecandu sepak bola Piala Eropa. Toh obatnya pun tak sulit. Tak perlu masuk pusat rehabilitasi, cukup melihat tim favorit jagoan saya juara.

Read more »

Senin, 15 Agustus 2011

Papandayan Kini dan 9 Tahun Lalu

Ketenangan warga Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut kembali terusik Ramadan tahun ini. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi mengubah status Gunung Papandayan menjadi Siaga atau level III pada Sabtu (13/8/2011) lalu. Sebelumnya, sejak 2008 lalu, gunung dengan ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut itu berstatus waspada atau level II.





Perubahan status itu mengingatkan warga pada letusan Gunung Papandayan 9 tahun lalu. Ya, tepatnya 11 November 2002, Papandayan yang dikenal sebagai salah satu objek wisata terpopuler di Garut meletus. Warga yang saat itu juga tengah menjalankan ibadah puasa kaget. Mereka tak menyangka gunung yang lebih dari 70 tahun tenang tiba-tiba mengamuk.



Tak hanya meletus, Papandayan juga memuntahkan lahar dingin ke Sungai Cibeureum Gede. Belasan rumah penduduk di bantaran Sungai Cibeureum tertimbun longsor. Warga panik. Mereka berlarian ke tempat aman. Ada pula yang terpaksa hijrah ke rumah kerabatnya di Garut. Anak-anak menangis bingung. Sekejap saja, Kantor Kecamatan Cisurupan dipenuhi para pengungsi.



Saya sempat merasakan kepanikan warga sekitar Gunung Papandayan saat meletus 11 November 2002 lalu. Kebetulan sehari sebelumnya saya bersama dua teman masing-masing Machmud Mubarok dan Gani Kurniawan ditugaskan kantor meliput kondisi Gunung Papandayan yang terus menunjukkan aktivitasnya dalam satu minggu terakhir.



Menjelang tengah malam, kami meluncur ke Kabupaten Garut menaiki mobil. Saya bertugas menyetir lantaran dua teman lainnya belum mahir mengemudikan mobil. Tak banyak bekal yang saya bawa, termasuk baju ganti. Saya bahkan lupa membawa sepatu dan hanya beralaskan sandal jepit. Demi memburu berita, kami terpaksa sahur di jalan dan sempat beristirahat di Masjid Agung Garut.



Kami tiba di kawasan Gunung Papandayan Senin 11 November 2002 sekitar pukul 06.00 WIB. Saat itu warga sudah terlihat panik. Pascalongsor di puncak Gunung Papandayan, banyak warga yang sudah mengungsi. Mereka bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk Papandayan meletus. Kemacetan mulai terjadi. Warga tumplek ke jalan. Mereka berusaha menjauhi kawasan Gunung Papandayan.



Pos Pengamatan Gunung Api Papandayan pun riuh rendah. Tak hanya para ahli dan Muspida Kabupaten Garut, wartawan tumplek di sana. Mereka mengamati perkembangan kawah Papandayan. Senin 11 November 2002, sekitar pukul 15.30 WIB, Papandayan memulai menunjukkan aktivitasnya. Letusan freatik pertama terjadi pukul 16.03 WIB. Debu pekat menyembur dengan ketinggian sekitar 5 Km dari atas puncak. Warga makin panik. Sekejap saja, ruas jalan di kawasan Cisurupan macet.



Inilah letusan pertama yang menyebabkan terjadinya longsor dahsyat di sebagian dinding bukit Nangklak. Seluruh material longsor jatuh ke hulu Sungai Cibeureum Gede. Tercatat sedikitnya 12 rumah warga di Desa Pakuwon dan Naringgul tertimbun longsoran lumpur. Sebuah jembatan penyeberangan pun hancur diterjang banjir lumpur dan memutuskan akses dari Desa Cilimus ke Desa Sirnajaya.



Sialnya, di hari pertama letusan Papandayan itu kami gagal mendapat foto bagus lantaran terjebak di Pos Pengamatan Gunung Api Papandayan. Teguran pun melayang dari pejabat kantor. Kami pasrah, tak bisa memberikan alasan kuat.Terlebih lagi keesokan harinya seluruh foto HL halaman depan koran menggambarkan dahsyatnya letusan Gunung Papandayan. Hanya halaman koran kami yang tidak.



Hari kedua di Papandayan kami pun bertekad mengambil foto letusan dari jarak dekat. Di tengah rasa lapar karena puasa dan lupa sahur, kami mendaki Papandayan. Tak peduli orang-orang menjauh, kami malah mendekati kawah. Tanah bergetar. Beralaskan sandal, saya menaiki puncak berburu pemandangan indah letusan Papandayan. Ada rasa waswas di tengah keberanian mengamati semburan kawah Papandayan dari dekat. Namun semua terbayar setelah kami berhasil mengambil beberapa foto dahsyatnya letusan Papandayan dari jarak dekat. Betul-betul luar biasa!



Hanya tiga hari kami berada di Papandayan. Kantor meminta kami kembali dan bertukar tempat dengan tim lainnya. Ah, sungguh menakjubkan bisa melihat letusan gunung api dari dekat, merasakan tanah bergetar, dan menyaksikan debu pekat menyembur ke udara. Sungguh pengalaman luar biasa. Mungkinkan kejadian sama kembali berulang saat ini setelah aktivitas Papandayan meningkat? Tak ada yang bisa menduga. Saya hanya bersiap saja menanti kabar Gunung Papandayan selanjutnya.

Read more »

Rabu, 08 Juni 2011

Tentang Senja

Senja. Nama itu masih tersimpan di palung hati, tak kunjung terhapus. Sebuah nama yang kerap menghadirkan rindu, debar, dan sekelebat kenangan di masa silam. Entahlah, waktu ternyata tak bisa sedikitpun menghapus pesona alami yang terpancar tanpa alasan hingga aku akhirnya menolak lupa demi sebuah cerita yang pernah tercipta.


Senja. Nama itu masih tetap terdengar indah, selembut halimun terbawa angin. Sebuah nama yang sanggup membuatku bergeming di persimpangan, bingung memilih antara berjalan ke depan atau kembali ke belakang. Entahlah, kenangan itu begitu erat tergenggam meski aku kerap terhuyung menahan rindu tak terperi.

Senja. Nama itu membuatku belajar menerima rasa sakit ketika cinta sepertinya tak lagi butuh keberadaan, tertahan di padang tandus, kering tak tersirami. Entahlah apakah ini sebuah kebodohan hingga aku tak pernah sampai ke ujung perjalanan jiwa. Merasa letih menyimpan asa tak tersampaikan sekadar menatap bening matanya atau menyentuh hangat jemarinya.

Read more »

Rabu, 11 Mei 2011

Akhirnya Kutinggalkan Beranda Senja Itu

Akhirnya kutinggalkan juga beranda senja itu. Menghapus semua jejak yang pernah tercatat lebih dari 2.000 hari. Menanggalkan beribu potong kenangan selama tak kurang dari 42.000 jam. Sungguh, bukan aku tak mau menjaga beranda itu lebih lama lagi. Tapi aku sulit menerjemahkan setiap sudut yang ada di ruang beratap tak berdinding itu.

Akhirnya kutinggalkan juga beranda senja itu. Melepaskan mimpi-mimpi yang kerap muncul di sepertiga sisa malam. Melupakan hari-hari menikmati perubahan warna matahari di batas cakrawala. Maaf, bukan maksud menafikkan keindahan senja yang tak pernah ada habisnya. Bukan pula membenci wajah senja yang begitu lembut dan pantas disentuh. Tapi, aku memang harus pergi, kembali merumuskan diri sendiri yang masih tergeragap.

Akhirnya kutinggalkan juga beranda senja itu. Mencoba mengendalikan hidup yang penuh keterdugaan hingga masa depan kerap lepas dari pegangan. Sungguh, aku tak bisa selamanya menjelma menjadi patung yang berdiri menatap senja sempurna di beranda itu menjelang malam. Seperti katamu, aku memang harus melupakan beranda itu. Karena lupa mungkin akan membebaskanku dari pusaran tak berujung ini.

Read more »

Jumat, 22 April 2011

Dilarang Merindukan Senja

Senja. Setiap hari aku mematung di sini menantimu menyapa lembut, saat matahari mulai beranjak syahdu menuju garis cakrawala. Aku merindukanmu. Senja yang mengantarkan sejuta cerita dari negeri di awan hingga membuatku serasa berada di dunia berbeda. Dari sisi gelapku, saban waktu tak lelah aku mengagumimu.


Senja. Aku masih di sini menunggumu. Berkawan angin bertiup rindu pada burung-burung yang melintas di atap langit. Aku merindukanmu. Senja yang penuh cerita. Tentang hati yang menyepi, terhuyung-huyung bersembunyi dalam ketiadaan. Lalu tenggelam dibalut rasa cinta yang selalu indah dalam ketidakwujudannya

Senja. Aku masih berdiri di sini, menunggumu meski langit tak jua menguning. Sementara hati masih saja nanar, membeku dalam balutan cerita senja. Adakah senja bakal tersenyum walau sesaat sebelum malam datang mengoyak harapan? Ah, sepertinya tidak. Awan hitam menggelayut pertanda langit bakal segera basah. Ia seolah berbisik: Jangan pernah kau merindukan senja itu lagi.

Read more »

Selasa, 19 April 2011

Kembali ke Kota Cirebon

Hari menjelang sore, Jumat (15/4/2011). Saya memacu motor di ruas Jalan Raya Cileunyi menuju arah Timur Utara. Tujuan saya adalah Cirebon, kota yang berjarak sekitar 133 Km dari Bandung. Bom bunuh diri di Masjid Adzikra Mapolres Cirebon Kota (Ciko) saat Jumatan jadi pemicunya. Gara-gara insiden itu, saya pun punya kesempatan kembali liputan setelah lima bulan absen. Tanpa membawa baju ganti, saya berangkat berbekal uang seadanya, hape, dan kamera digital kecil milik teman.

Waktu menunjukkan jam 4 sore. Target sampai ke Cirebon jam 6 sore sepertinya bakal meleset. Terlebih lagi, saya sempat terjebak macet di kawasan Cibiru. Belum lagi membayangkan macet di Pasar Tanjungsari Sumedang. Saya tak sendiri. Ada Baban duduk di belakang jok motor. Ia juga ditugaskan kantor meliput insiden bom bunuh diri di Mapolres Cirebon Kota. Kondisi Baban idem ditto. Ia tak membawa baju ganti, selain bekal uang dan hape.

Seperti diperkirakan sebelumnya, kami terjebak macet di Pasar Tanjung Sari Kabupaten Sumedang. Laju motor tersendat. Kondisi ini sulit dipecahkan. Pasar Tanjung Sari memang jadi salah satu biang kemacetan di jalur Bandung-Cirebon. Antrean kendaraan bahkan terkadang sampai ke kawasan Jatinangor (dari arah Bandung) dan Citali (dari arah Sumedang). Pasrah, saya tak terlalu berharap banyak. Demikian pula Baban. Kami pun hanya bisa menikmati kemacetan, disemprot asap knalpot bus dan truk yang tepat berada di depan motor.

Hujan sempat menghambat perjalanan kami. Cukup deras hingga membuat badan dingin, mata perih, dan pakaian basah. Beruntung, Baban sigap membawa jas hujan. Sejenak kami berhenti sekadar mengenakan jas hujan dan mengamankan barang-barang penting agar tak kehujanan. Sejurus kemudian, kami melanjutkan perjalanan diguyur hujan sore. Hanya setengah jam, hujan berhenti tepat saat kami tiba di pusat Kabupaten Sumedang. Khawatir kembali hujan, kami tak melepas jas. Saya kembali memacu motor. Perasaan sedikit waswas karena rem belakang motor tak terlalu pakem.

Tanpa terasa, kami sudah melintasi jalur Tomo Kabupaten Majalengka. Sebentar lagi Palimanan. Hari mulai gelap rupanya. Saya sempat melirik jam tangan. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 6 sore lebih. Setengah jam lagi kemungkinan kami tiba di Kabupaten Cirebon. Jalanan rusak membuat saya harus ekstra hati-hati menjalankan motor. Salah sedikit, motor bisa terperosok masuk lubang. Lebih parah lagi, kami berdua bisa saja terjatuh dari motor jika tak hati-hati memperhatikan lubang jalanan.

Menyusuri jalur Bandung-Cirebon ingatan kembali ke 6 tahun silam. Terlebih lagi saat memasuki ruas Jalan Palimanan. Enam tahun silam saya ditugaskan menjajal wilayah III Cirebon yang meliputi Cirebon (kota/kabupaten), Majalengka, Indramayu, dan Kuningan selama tiga bulan sejak 16 Mei 2005. Dua bulan pertama, saya tak pernah melalui jalur Palimanan jika hendak ke Cirebon, atau sebaliknya. Biasanya, sebulan sekali saya pulang pergi lewat jalur Rajagaluh Majalengka yang tembus ke Sumber Kabupaten Cirebon. Namun, 29 Juli 2005, kali pertama saya melintasi jalur Palimanan, saat hendak pulang ke Bandung bersama seseorang. Ah, kenangan itu masih sangat kuat melekat di ingatan saya.

Lamunan saya buyar saat tiba di kawasan Ciwaringin. Ternyata kami sudah sampai di Kabupaten Cirebon. Saya menghentikan motor, membeli pulsa, lantas menelepon teman di Cirebon. Waktu menunjukkan jam setengah 7 malam. Baban melakukan hal serupa. Menelepon teman yang sama-sama ditugaskan kantor meliput perkembangan aksi bom bunuh diri di Masjid Adzikra Mapolres Cirebon Kota. Limabelas menit berlalu, saya kembali melanjutkan perjalanan. Sempat nyasar ke Jalan Cipto, akhirnya kami tiba di Mapolres Cirebon Kota Jalan Veteran jam 7 malam.

Tepat setengah jam setelah kedatangan kami, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan tiba di Mapolres Cirebon Kota. Fokus kami pun saat itu mewawancarai gubernur. Malam hari, kami berbincang dengan Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Agus Rianto. Langit di atas Mapolres Cirebon Kota tampak cerah. Bulan purnama nyaris sempurna, dihiasi lingkaran perak. Awan tegak lurus sempat menarik perhatian kami. Tak terasa, hari sudah berganti. Setelah sempat kesulitan mencari makan, kami mengakhiri liputan, Sabtu (16/4/2011) sekitar jam setengah dua dinihari.

Saya sungguh menikmati liputan di Cirebon. Seolah melakukan napak tilas, saya membawa Baban melintasi ruas jalan dan tempat berkesan saat liputan di Cirebon seperti Jalan Siliwangi, Jalan Kartini, Jalan Cipto Mangunkusumo, Tuparev, dan Mal Grage. Sabtu (16/4/2011) malam, saya pun menyempatkan diri menengok seorang teman liputan yang menginap di Hotel Priangan Jalan Siliwangi, setelah lelah beraktivitas bolak-balik Majalengka-Cirebon. Malam itu, kami menghabiskan waktu di depan Masjid Attaqwa Jalan Kartini bersama teman-teman wartawan Cirebon hingga Minggu (17/4/2011) pagi.

Rencana pulang Minggu (17/4/2011) gagal. Awalnya, kami hanya berniat kembali meminta komentar istri terduga teroris di rumahnya kawasan Majalengka. Namun, setelah selesai mememintai komentar, tim Densus dan identifikasi Polda Jabar ternyata datang menggeledah rumah tersebut. Baban tak bisa pulang hari itu karena kantor memintanya meneruskan liputan. Saya tak mau pulang tanpa Baban. Terlebih lagi, momen penggeledahan tak mungkin dilewatkan begitu saja. Empat jam sejak jam 5 sore hingga jam 9 malam kami terjebak di Majalengka, kehausan dan kelaparan setelah nyaris seharian tak makan nasi. Kami sepakat tak pulang ke Bandung malam itu dan kembali ke Cirebon setelah selesai meliput penggeledahan rumah terduga teroris.

Malam terakhir Kota Cirebon berhias bulan purnama. Saya mengajak Baban makan malam di Rumah Makan Padang Simpang Raya Jalan Kartini. Jam 10 malam kami kembali ke hotel, menyimpan tenaga buat besok kembali ke Bandung. Tiga malam di Cirebon memang tak cukup mengembalikan kenangan enam tahun lalu. Namun saya cukup terpuaskan setelah kembali menyusuri malam-malam jahanam wilayah Pantai Utara menaiki motor. Besok, kami harus pulang ke Bandung, kembali menyusuri Jalan Palimanan, menempuh perjalanan panjang sekitar 133 Km. Ah, Cirebon memang luar biasa. Kota itu menarik saya kembali ke lingkaran masa lalu.

Read more »