Jumat, 22 April 2011

Dilarang Merindukan Senja

Senja. Setiap hari aku mematung di sini menantimu menyapa lembut, saat matahari mulai beranjak syahdu menuju garis cakrawala. Aku merindukanmu. Senja yang mengantarkan sejuta cerita dari negeri di awan hingga membuatku serasa berada di dunia berbeda. Dari sisi gelapku, saban waktu tak lelah aku mengagumimu.


Senja. Aku masih di sini menunggumu. Berkawan angin bertiup rindu pada burung-burung yang melintas di atap langit. Aku merindukanmu. Senja yang penuh cerita. Tentang hati yang menyepi, terhuyung-huyung bersembunyi dalam ketiadaan. Lalu tenggelam dibalut rasa cinta yang selalu indah dalam ketidakwujudannya

Senja. Aku masih berdiri di sini, menunggumu meski langit tak jua menguning. Sementara hati masih saja nanar, membeku dalam balutan cerita senja. Adakah senja bakal tersenyum walau sesaat sebelum malam datang mengoyak harapan? Ah, sepertinya tidak. Awan hitam menggelayut pertanda langit bakal segera basah. Ia seolah berbisik: Jangan pernah kau merindukan senja itu lagi.

Read more »

Selasa, 19 April 2011

Kembali ke Kota Cirebon

Hari menjelang sore, Jumat (15/4/2011). Saya memacu motor di ruas Jalan Raya Cileunyi menuju arah Timur Utara. Tujuan saya adalah Cirebon, kota yang berjarak sekitar 133 Km dari Bandung. Bom bunuh diri di Masjid Adzikra Mapolres Cirebon Kota (Ciko) saat Jumatan jadi pemicunya. Gara-gara insiden itu, saya pun punya kesempatan kembali liputan setelah lima bulan absen. Tanpa membawa baju ganti, saya berangkat berbekal uang seadanya, hape, dan kamera digital kecil milik teman.

Waktu menunjukkan jam 4 sore. Target sampai ke Cirebon jam 6 sore sepertinya bakal meleset. Terlebih lagi, saya sempat terjebak macet di kawasan Cibiru. Belum lagi membayangkan macet di Pasar Tanjungsari Sumedang. Saya tak sendiri. Ada Baban duduk di belakang jok motor. Ia juga ditugaskan kantor meliput insiden bom bunuh diri di Mapolres Cirebon Kota. Kondisi Baban idem ditto. Ia tak membawa baju ganti, selain bekal uang dan hape.

Seperti diperkirakan sebelumnya, kami terjebak macet di Pasar Tanjung Sari Kabupaten Sumedang. Laju motor tersendat. Kondisi ini sulit dipecahkan. Pasar Tanjung Sari memang jadi salah satu biang kemacetan di jalur Bandung-Cirebon. Antrean kendaraan bahkan terkadang sampai ke kawasan Jatinangor (dari arah Bandung) dan Citali (dari arah Sumedang). Pasrah, saya tak terlalu berharap banyak. Demikian pula Baban. Kami pun hanya bisa menikmati kemacetan, disemprot asap knalpot bus dan truk yang tepat berada di depan motor.

Hujan sempat menghambat perjalanan kami. Cukup deras hingga membuat badan dingin, mata perih, dan pakaian basah. Beruntung, Baban sigap membawa jas hujan. Sejenak kami berhenti sekadar mengenakan jas hujan dan mengamankan barang-barang penting agar tak kehujanan. Sejurus kemudian, kami melanjutkan perjalanan diguyur hujan sore. Hanya setengah jam, hujan berhenti tepat saat kami tiba di pusat Kabupaten Sumedang. Khawatir kembali hujan, kami tak melepas jas. Saya kembali memacu motor. Perasaan sedikit waswas karena rem belakang motor tak terlalu pakem.

Tanpa terasa, kami sudah melintasi jalur Tomo Kabupaten Majalengka. Sebentar lagi Palimanan. Hari mulai gelap rupanya. Saya sempat melirik jam tangan. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 6 sore lebih. Setengah jam lagi kemungkinan kami tiba di Kabupaten Cirebon. Jalanan rusak membuat saya harus ekstra hati-hati menjalankan motor. Salah sedikit, motor bisa terperosok masuk lubang. Lebih parah lagi, kami berdua bisa saja terjatuh dari motor jika tak hati-hati memperhatikan lubang jalanan.

Menyusuri jalur Bandung-Cirebon ingatan kembali ke 6 tahun silam. Terlebih lagi saat memasuki ruas Jalan Palimanan. Enam tahun silam saya ditugaskan menjajal wilayah III Cirebon yang meliputi Cirebon (kota/kabupaten), Majalengka, Indramayu, dan Kuningan selama tiga bulan sejak 16 Mei 2005. Dua bulan pertama, saya tak pernah melalui jalur Palimanan jika hendak ke Cirebon, atau sebaliknya. Biasanya, sebulan sekali saya pulang pergi lewat jalur Rajagaluh Majalengka yang tembus ke Sumber Kabupaten Cirebon. Namun, 29 Juli 2005, kali pertama saya melintasi jalur Palimanan, saat hendak pulang ke Bandung bersama seseorang. Ah, kenangan itu masih sangat kuat melekat di ingatan saya.

Lamunan saya buyar saat tiba di kawasan Ciwaringin. Ternyata kami sudah sampai di Kabupaten Cirebon. Saya menghentikan motor, membeli pulsa, lantas menelepon teman di Cirebon. Waktu menunjukkan jam setengah 7 malam. Baban melakukan hal serupa. Menelepon teman yang sama-sama ditugaskan kantor meliput perkembangan aksi bom bunuh diri di Masjid Adzikra Mapolres Cirebon Kota. Limabelas menit berlalu, saya kembali melanjutkan perjalanan. Sempat nyasar ke Jalan Cipto, akhirnya kami tiba di Mapolres Cirebon Kota Jalan Veteran jam 7 malam.

Tepat setengah jam setelah kedatangan kami, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan tiba di Mapolres Cirebon Kota. Fokus kami pun saat itu mewawancarai gubernur. Malam hari, kami berbincang dengan Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Agus Rianto. Langit di atas Mapolres Cirebon Kota tampak cerah. Bulan purnama nyaris sempurna, dihiasi lingkaran perak. Awan tegak lurus sempat menarik perhatian kami. Tak terasa, hari sudah berganti. Setelah sempat kesulitan mencari makan, kami mengakhiri liputan, Sabtu (16/4/2011) sekitar jam setengah dua dinihari.

Saya sungguh menikmati liputan di Cirebon. Seolah melakukan napak tilas, saya membawa Baban melintasi ruas jalan dan tempat berkesan saat liputan di Cirebon seperti Jalan Siliwangi, Jalan Kartini, Jalan Cipto Mangunkusumo, Tuparev, dan Mal Grage. Sabtu (16/4/2011) malam, saya pun menyempatkan diri menengok seorang teman liputan yang menginap di Hotel Priangan Jalan Siliwangi, setelah lelah beraktivitas bolak-balik Majalengka-Cirebon. Malam itu, kami menghabiskan waktu di depan Masjid Attaqwa Jalan Kartini bersama teman-teman wartawan Cirebon hingga Minggu (17/4/2011) pagi.

Rencana pulang Minggu (17/4/2011) gagal. Awalnya, kami hanya berniat kembali meminta komentar istri terduga teroris di rumahnya kawasan Majalengka. Namun, setelah selesai mememintai komentar, tim Densus dan identifikasi Polda Jabar ternyata datang menggeledah rumah tersebut. Baban tak bisa pulang hari itu karena kantor memintanya meneruskan liputan. Saya tak mau pulang tanpa Baban. Terlebih lagi, momen penggeledahan tak mungkin dilewatkan begitu saja. Empat jam sejak jam 5 sore hingga jam 9 malam kami terjebak di Majalengka, kehausan dan kelaparan setelah nyaris seharian tak makan nasi. Kami sepakat tak pulang ke Bandung malam itu dan kembali ke Cirebon setelah selesai meliput penggeledahan rumah terduga teroris.

Malam terakhir Kota Cirebon berhias bulan purnama. Saya mengajak Baban makan malam di Rumah Makan Padang Simpang Raya Jalan Kartini. Jam 10 malam kami kembali ke hotel, menyimpan tenaga buat besok kembali ke Bandung. Tiga malam di Cirebon memang tak cukup mengembalikan kenangan enam tahun lalu. Namun saya cukup terpuaskan setelah kembali menyusuri malam-malam jahanam wilayah Pantai Utara menaiki motor. Besok, kami harus pulang ke Bandung, kembali menyusuri Jalan Palimanan, menempuh perjalanan panjang sekitar 133 Km. Ah, Cirebon memang luar biasa. Kota itu menarik saya kembali ke lingkaran masa lalu.

Read more »

Senin, 07 Februari 2011

Senja Terlukis di Pantai Anyer

Senja terlukis di ufuk Barat Pantai Anyer Kabupaten Serang. Cahaya emasnya menyepuh siluet Gunung Krakatau di ujung batas cakrawala. Indah, meski tak begitu sempurna lantaran gumpalan awan sedikit mencoreng wajahnya. Tak jauh di sebelahnya, kepulan asap Anak Krakatau masih terlihat, sisa batuk Desember silam. Sore itu, ombak Januari menghantam pesisir, membuat bibir pantai makin menyempit. Bayu senja membelah langit dan pintu rezeki buat nelayan terbuka.


Menatap wajah senja di pesisir pantai memang tak akan pernah ada habisnya. Ada aura kemesraan dan romantisme terpancar di sana. Keduanya menyatu membentuk harmoni tiada ujung. Senja membuat hamparan laut berdenyar laksana jutaan serakan kilau kristal. Ia seolah menjelma menjadi candu saat ruap ombak menciptakan nada kerinduan, membakar semangat nelayan. Ah, pantai dan laut memang sebuah tempat pelarian sempurna menepikan gundah, dan Tuhan sepertinya menitipkan cinta pada senja jingga di tepi pantai.

Senja mulai padam saat malam menjemput perlahan. Lembayung berlari menjauhi laut. Bocah lelaki enam tahun itu tampak kuyup. Butiran pasir memenuhi rambut tipisnya. Setelah nyaris seharian penuh menari bersama ombak, ia mulai lelah. Meski begitu, dua bola matanya yang memerah tersiram air laut tampak berbinar. Senyumnya terus mengembang. Sayang, sebentar lagi sore susut. Syair sunyi pun berlantun mengiringi datangnya malam, berharap bintang berbinar di tengah gemuruh gelombang. Saatnya membawa anakku pergi dari laut.

Sejak tiba di Pantai Anyer tengah hari bolong, Lembayung memang larut dengan keasyikannya sendiri bermain pasir dan mencari kepiting. Ia tak peduli panas matahari membakar kulit. Dibiarkannya lidah ombak menjilati kaki telanjangnya. Sesekali ia tampak menantang laut yang menggulung anak-anak ombaknya dalam debur terhelai. Tubuh kecilnya berguling terhantam gelombang yang menengadahi langit. Tawa pecah begitu air laut asin bercampur pasir menampar wajahnya.

Aku bahagia melihat Lembayung mulai mencintai laut, seperti ia mengagumi senja. Bagiku, laut laksana tempat peri-peri menjalin mimpi dan memintal asa yang beranjak menua. Laut mengisahkan kepergian dan kepulangan, tempat semesta bermuara. Kepada laut, aku kerap menitipkan pesan tentang luka yang terapung-apung pada botol kaca, terempas entah ke mana, abadi bersama dewa Neptunus. Oh laut, pada setiap pantainya, ada sederet kenangan tak terlupakan saat putaran angin mendesirkan pohon nyiur.

Malam itu awan hitam menyungkup laut Pantai Anyer. Anakku tertidur begitu cendera. Di luar gelombang liar laut pasang yang tak pernah tidur mengiringi keheningan malam. Gaungnya terasa begitu jujur melagukan nyanyian biru para pejalan sunyi. Angin mengempaskan pasir, mencatati setiap jejak putri duyung dan bajak laut yang sembunyi di balik karang. Di pinggir pantai, aku memejamkan mata, mendengarkan dongeng laut tentang lelah hati menggapai senja yang kau kisahkan pada bumi.

Read more »

Senin, 17 Januari 2011

Tentang Gerimis

Gerimis itu tiba-tiba turun dari celah langit. Tipis, nyaris seperti embun. Saya melihatnya dari balik jendela. Tempiasnya membasahi kaca luar jendela, lalu mengucur perlahan seperti membentuk sebuah kaligrafi. Angin berembus pelan, membuat beberapa pucuk pohon melambai ke kiri dan kanan. Satu dua daun jatuh menyentuh tanah. Dingin menusuk pori-pori.

Pagi itu langit memang sedikit gelap namun tidak menakutkan. Nyaris setahun lebih kota ini diguyur hujan. Mungkin memang ini masanya jemari langit menyentuh bumi. Kadang bermain-main dengan lembut, meski sering pula berubah brutal. Kali ini ujung hujan memang tak setajam sebelumnya. Bagai pensil tumpul, ia hanya menuliskan pesan singkat, bukan janji mendatangkan pelangi.

Saya teringat seseorang beberapa tahun lalu. Kami bertemu dalam aroma gerimis yang menerjemahkan tanah-tanah. Menyusuri jalanan basah, kami tertimpa gerimis, membeku dalam dingin. Sepanjang jalan tak bosan kami bertukar kata. Sesekali terdiam mencoba mengurai makna gerimis yang menderai di antara sepi. Sejenak basah dalam percakapan di antara mendung yang semakin menyusut mengikuti sisa gerimis. Sungguh, gerimis mendedas yang menghasut kenangan.

Saya seolah menangkap sebuah nyanyian rindu ketika hujan gerimis itu perlahan turun. Meresonansi masa lalu, membuat saya terhipnotis pada keadaan. Berharap menemukan wajahnya di antara ribuan garis gerimis miris yang berjatuhan menabuh bumi, meresap ke dalam hati. Atau menangkap matanya yang kerap melukiskan pemandangan indah. Ah, gerimis memang menyimpan sebuah rahasia yang tak pernah bisa dibongkar. Ia seperti bercerita soal kerinduan, ketabahan, dan kelembutan.

Rindu pada gerimis ini memang tak pernah berhenti meski menggigil dalam dingin usia. Terus melaju di antara putaran malam dan siang yang terasa sangat singkat. Pada gerimis ini, saya selipkan beberapa bait pesan yang dikirim lewat aliran sungai kata-kata, tentang masa depan rumit dan meresahkan

Read more »

Jumat, 31 Desember 2010

Aku Kehilangan Senja

Aku kehilangan senja sore ini. Cahaya indahnya tak muncul di akhir tahun. Kali ini aku pasrah, hanya diam dan tak mengejar. Aku pun tak berniat menuliskan laporan kehilangan, karena sepertinya senja enggan menampakkan diri dan tak ingin diburu. Padahal aku biasanya rajin memburu senja, menangkapnya walau sepotong, menyimpannya baik-baik dalam sebuah bingkai yang ditancapkan di dinding hati.

Aku kehilangan senja sore ini. Hari pun mendadak gelap karena senja betul-betul tak tampak. Ia seperti menghilang bersama kegalauannya, berselimut malam yang selalu terasa cepat datang. Tiba-tiba saja aku takut senja tak lagi muncul mengisi mimpi-mimpiku, membebaskanku dari sunyi dan kelam. Aku takut senja tak lagi menyepuh dunia dengan warna keemasannya.

Aku kehilangan senja sore ini. Pancaran lembutnya hilang hingga langit terasa begitu kelabu. Ia tak muncul mengubah cakrawala dengan warna-warna magis. Tak ada paduan warna cantik menghias langit dibalut awan menjelang magrib. Ketika ungu, jingga, oranye, biru muda, bercampur di batas cakrawala, membuat gradasi warna yang luar biasa. Sore ini, hanya desir angin dan pepohonan rimbun yang kutemui. Mungkin ini hanya soal waktu. Karena aku masih berharap, senja yang sama muncul kembali suatu hari nanti.

Read more »

Sabtu, 11 Desember 2010

Tak Ada Senja di Rancabolang

Jalan Rancabolang tampak letih sore itu. Entah berapa bulan lamanya, kendaraan proyek mulai kembali hilir mudik melintasi jalan yang menghubungkan Kompleks Margahayu Raya dengan kawasan Ciwastra itu. Permukaan jalan yang awalnya mulus mulai kusam dan bergelombang. Debu-debu pun beterbangan liar mencari korban para pengemudi motor dan pejalan kaki. Sesekali tenang, lantas liar lagi mengikuti irama angin. Sore yang kering, matahari mulai redup. Malam sudah bersiap melahapnya.

Proyek pembangunan perumahan di kawasan Rancabolang memang tak pernah habis. Hamparan sawah yang awalnya terlihat di kiri kanan jalan, kini berubah jadi tanah lapang. Ruang terbuka hijau di Jalan Rancabolang nyaris musnah. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan tanah kering yang siap ditumbuhi rumah-rumah mewah.

Menjelang magrib, deru mesin bechoe terdengar keras diiringi teriakan para kuli bangunan. Alat berat itu sibuk menutupi lahan sawah dengan tanah hitam untuk dijadikan fondasi rumah. Gemuruhnya terasa hingga ke tengah jalan. Sejenak mesin itu berhenti bekerja dan suasana pun hening. Lantas, beberapa saat kemudian, kembali menyala, menuntaskan pekerjaan hari itu.

Seperti biasa, setiap sore begini, saya selalu membawa si kecil Gisavo ke Jalan Rancabolang sekadar menyaksikan fenomena senja. Lokasi favorit kami berdua adalah sebuah hamparan sawah tidak jauh dari depan Kompleks Perumahan Bumi Persada. Dari situ, matahari terbenam biasanya terlihat jelas. Perubahan warna langit pun begitu kentara. Kami biasanya berdiri di pinggir sawah tanpa mengucap sepatah kata pun. Tatapan kami hanya tertuju pada kaki langit.

Toh keinginan kami melihat senja kandas. Hamparan sawah favorit kami sudah dipenuhi gundukan tanah. Selain itu, sebuah mesin bechoe berdiri kokoh menghalangi pemandangan langit sebelah barat. Gisavo terdiam di pinggir jalan. Tatapan matanya tak fokus. Matanya liar mencari matahari, sekaligus cara kerja bechoe. Selain itu, pikirannya juga seperti berkelana mencari tahu ke mana hamparan sawah yang dulu menjadi tempatnya bermain.

Setahun lalu lokasi proyek itu merupakan hamparan sawah luas. Di sanalah awal mula Gisavo mengenali senja, sebuah fenomena alam yang sangat saya kagumi. Setahun lalu, hampir setiap hari kami mendatangi tempat itu. Menyaksikan proses perubahan warna langit yang semula biru muda menjadi agak kemerah-merahan. Awalnya Gisavo bingung dan bosan. Namun lama-lama senja mulai merasuki jiwanya.

Kini, di hamparan sawah itu ia tak lagi melihat senja. Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir dari mulut kecilnya. Ia ingin mencari kejelasan atas kebingungan yang menghinggapinya sore itu. Kebingungan tentang proyek, hilangnya senja, dan bergantinya sawah menjadi tanah hitam. Saya menjelaskan satu per satu semua pertanyaannya. Meski saya tahu, semua pertanyaan yang diajukannya mengarah pada satu jawaban. Ya,sawah dan senja tak terlihat lagi karena proyek perumahan.

Gisavo mengangguk, seolah mengerti penjelasan saya. Ia masih saja menatap langit sebelah barat. Bechoe di hadapannya berhenti meraung. Kuli bangunan bersiap pulang. Hari semakin sore. Tiba-tiba langit berubah kelam. Sebentar lagi malam. Saya menggenggam tangan Gisavo, mengajaknya pulang. “Sudah, di sini tak ada lagi senja,” saya berucap sambil menariknya menjauhi tanah hitam.

Read more »

Sabtu, 04 Desember 2010

Tak Ada Senja di Rancabolang

Jalan Rancabolang tampak letih sore itu. Entah berapa bulan lamanya, kendaraan proyek mulai kembali hilir mudik melintasi jalan yang menghubungkan Kompleks Margahayu Raya dengan kawasan Ciwastra itu. Permukaan jalan yang awalnya mulus mulai kusam dan bergelombang. Debu-debu pun beterbangan liar mencari korban para pengemudi motor dan pejalan kaki. Sesekali tenang, lantas liar lagi mengikuti irama angin. Sore yang kering, matahari mulai redup. Malam sudah bersiap melahapnya.


Proyek pembangunan perumahan di kawasan Rancabolang memang tak pernah habis. Hamparan sawah yang awalnya terlihat di kiri kanan jalan, kini berubah jadi tanah lapang. Ruang terbuka hijau di Jalan Rancabolang nyaris musnah. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan tanah kering yang siap ditumbuhi rumah-rumah mewah.

Menjelang magrib, deru mesin bechoe terdengar keras diiringi teriakan para kuli bangunan. Alat berat itu sibuk menutupi lahan sawah dengan tanah hitam untuk dijadikan fondasi rumah. Gemuruhnya terasa hingga ke tengah jalan. Sejenak mesin itu berhenti bekerja dan suasana pun hening. Lantas, beberapa saat kemudian, kembali menyala, menuntaskan pekerjaan hari itu.

Seperti biasa, setiap sore begini, saya selalu membawa si kecil Gisavo ke Jalan Rancabolang sekadar menyaksikan fenomena senja. Lokasi favorit kami berdua adalah sebuah hamparan sawah tidak jauh dari depan Kompleks Perumahan Bumi Persada. Dari situ, matahari terbenam biasanya terlihat jelas. Perubahan warna langit pun begitu kentara. Kami biasanya berdiri di pinggir sawah tanpa mengucap sepatah kata pun. Tatapan kami hanya tertuju pada kaki langit.

Toh keinginan kami melihat senja kandas. Hamparan sawah favorit kami sudah dipenuhi gundukan tanah. Selain itu, sebuah mesin bechoe berdiri kokoh menghalangi pemandangan langit sebelah barat. Gisavo terdiam di pinggir jalan. Tatapan matanya tak fokus. Matanya liar mencari matahari, sekaligus cara kerja bechoe. Selain itu, pikirannya juga seperti berkelana mencari tahu ke mana hamparan sawah yang dulu menjadi tempatnya bermain.

Setahun lalu lokasi proyek itu merupakan hamparan sawah luas. Di sanalah awal mula Gisavo mengenali senja, sebuah fenomena alam yang sangat saya kagumi. Setahun lalu, hampir setiap hari kami mendatangi tempat itu. Menyaksikan proses perubahan warna langit yang semula biru muda menjadi agak kemerah-merahan. Awalnya Gisavo bingung dan bosan. Namun lama-lama senja mulai merasuki jiwanya.

Kini, di hamparan sawah itu ia tak lagi melihat senja. Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir dari mulut kecilnya. Ia ingin mencari kejelasan atas kebingungan yang menghinggapinya sore itu. Kebingungan tentang proyek, hilangnya senja, dan bergantinya sawah menjadi tanah hitam. Saya menjelaskan satu per satu semua pertanyaannya. Meski saya tahu, semua pertanyaan yang diajukannya mengarah pada satu jawaban. Ya,sawah dan senja tak terlihat lagi karena proyek perumahan.

Gisavo mengangguk, seolah mengerti penjelasan saya. Ia masih saja menatap langit sebelah barat. Bechoe di hadapannya berhenti meraung. Kuli bangunan bersiap pulang. Hari semakin sore. Tiba-tiba langit berubah kelam. Sebentar lagi malam. Saya menggenggam tangan Gisavo, mengajaknya pulang. “Sudah, di sini tak ada lagi senja,” saya berucap sambil menariknya menjauhi tanah hitam.

Read more »