Minggu, 01 November 2009

Hore! Anakku Dapat Piala Lagi!

Ini mungkin hari yang cukup luar biasa bagi kami. Setelah lama menghentikan aktivitasnya bernyanyi di panggung, olah vokal Gisavo ternyata belum habis. Ia mampu membuktikan diri layak mendapat pujian dan hadiah setelah meraih juara tiga ajang Lomba Karaoke Kategori A, (usia 6 tahun ke bawah) di Miko Mal Jalan Kopo, siang tadi. Tidak seperti sebelumnya di ajang yang sama saat dia meraih juara III dari tiga peserta, kali ini ia meraih juara III dari delapan peserta.

Kemenangan itu berarti menambah koleksi piala yang dimilikinya sejak terjun mengikuti perlombaan menyanyi, hampir setahun silam. Selain piala, koleksi hot wheels-nya juga ikut bertambah, lantaran istriku selalu menjanjikan mainan tersebut jika berhasil menyanyi dengan sedikit cela. Semangat Gisavo mengikuti lomba nyanyi di Miko Mal tampaknya tak usah diragukan. Terbukti, begitu bangun sekitar pukul 08.00, ia langsung menanyakan kepastiannya mengikuti perlombaan tersebut. “Mah, hari ini Gisa jadi nyanyi kan?” tanyanya kepada istriku.

Ya, setiap hari sejak informasi lomba itu muncul via SMS sepekan lalu, Gisavo memang rajin berlatih menyanyikan dua lagu, masing-masing “Aku Bisa” dan “Andaikan Aku Punya Sayap”. Sengaja kami memilihkan dua lagu tersebut, karena tingkat kesulitannya cukup tinggi. Selain itu, kedua lagu itu belum pernah dinyanyikan Gisa saat mengikuti lomba. Awalnya, kami menginginkan Gisavo menyanyikan lagu “Aku Bisa”. Namun, dia kukuh ingin menyanyikan lagu “Andai Aku Punya Sayap”. Setelah dicoba berkali-kali, ternyata kekuatan vokal Gisa saat menyanyikan “Andai Aku Punya Sayap” lebih kuat ketimbang lagu “Aku Bisa”. Kami pun sepakat menyerahkan sepenuhnya pemilihan lagu kepada Gisavo. Dengan lantang, dia pun tetap menjawab ingin menyanyikan “Andai Aku Punya Sayap”.

Berbalut kemeja kotak-kotak, kami bertiga menuju Miko Mal di Jalan Kopo dengan menaiki motor. Sebelumnya, kepada istriku dia sempat mengaku enggan menaiki motor karena capek. “Mah, jangan pake motor, pake mobil aja, Gisanya capek kalau pake motor,” keluhnya. Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 09.20 dan tiba di Miko Mal pukul 09.50 Begitu tiba di sana, pintu masuk mal belum dibuka. Bersama ibu-ibu lainnya, kami menunggu, hingga akhirnya pintu masuk terbuka lebar sekitar pukul 10.00.

Puluhan ibu-ibu bersama anak-anaknya langsung memasuki mal. Tujuan mereka rupanya sama, mendaftarkan diri mengikuti perlombaan. Sekadar informasi, selain karaoke anak, di sana juga digelar lomba bayi sehat, mewarnai, minum susu, dan top model. Istriku mendaftarkan Gisavo di lomba karaoke anak kategori A, usia 6 tahun ke bawah. Begitu diminta memilih nomor, anakku memilih angka lima.

Pendaftaran selesai. Aku dan Gisavo berjalan melihat-lihat suasana mal. Istriku menunggu di dekat panggung, khawatir acara segera dimulai. Langkahku dan Gisavo terhenti di area pertandingan balap mobil remote, tidak jauh dari panggung. Gisavo pun asyik melihat mobil remote yang sudah dimodifikasi itu melaju kencang di atas trek dilapisi karpet. Satu jam berlalu. Perlombaan pun dimulai. Meski Gisavo memilih angka lima, dia tetap kebagian nomor pertama. Dengan gayanya yang khas tanpa ekspresi, Gisavo pun melantunkan lagu “Andai Aku Punya Sayap”.

“Satu-satu, daun-daun, berguguran tinggalkan tangkainya. Satu-satu, burung kecil, beterbangan tingalkan sarangnya….,” begitu suara Gisavo menyanyikan “Andai Aku Punya Sayap” diiringi alunan musik dari minus one yang kami bawa sendiri. Tepukan penonton pun terdengar begitu Gisavo selesai menyanyi.

Read more »

Senin, 12 Oktober 2009

Chelsea dan Anak Tikus

Pecinta sepakbola, terutama penggemar Premier League, tentu mengenal klub sepakbola Chelsea. Ya, klub asal Kota London Inggris yang dikenal dengan sebutan The Blues ini, sudah menghabiskan banyak sejarah dalam dunia sepakbola Inggris. Berdasarkan data dari Wikipedia Indonesia, klub ini didirikan oleh HA Mears pada tahun 1905 dan memiliki stadion sendiri di Fulham London Barat. Stadion tersebut mampu menampung sekitar 42.360 penonton.


Nah, adik ipar saya adalah salah satu penggemar berat Chelsea. Namanya Nivo Febriantino atau akrab disapa Apo. Meski begitu, empat keponakannya –termasuk anak saya, diwajibkan memanggil nama Apo dengan sebutan Oom Ganteng. Padahal menurut saya sih wajah Apo standar alias tidak terlalu ganteng meski tidak jelek-jelek amat. Saking ngefansnya Apo dengan klub sepakbola Chelsea, segala pernak-pernik yang berbau klub tersebut dia beli. Mulai dari jam dinding, seprei, kaos, gelas, hingga gantungan kunci. Setiap Chelsea bertanding, Apo pun tak pernah melewatkannya. Maksudnya nonton siaran langsung di televisi.

Lantas, apa hubungan Chelsea dengan anak tikus? Begini. Beberapa bulan lalu, Apo mendapat hadiah anak kucing dari temannya. Warna anak kucing itu abu-abu. Seperti sudah menjadi bagian dari keluarga mertua saya, kucing itu dipelihara dengan baik. Makanannya pun dijaga. Meski kadang-kadang menyebalkan juga karena suka sembarangan buang kotoran, Chelsea tetap disayang. Kini, anak kucing jantan itu menjelma menjadi kucing perkasa. Layaknya kucing-kucing lain, Chelsea kerap mencari tikus di dapur. Setiap malam, dia pasti keluyuran di dapur, masuk ke celah-celah lemari, atau ke kolong meja. Usahanya kadang berhasil, kadang tidak.

Sayangnya, Chelsea kebanyakan hanya memangsa anak tikus. Jarang sekali saya melihat dia membawa seekor tikus besar. Anehnya lagi, anak tikus hasil buruannya itu tidak pernah dimakan melainkan diajak main. Setiap berhasil ditangkap, anak tikus itu ia lepaskan. Setelah lepas, ia kejar lagi. Begitu seterusnya. Sekilas, kelakuan Chelsea dan anak tikus buruannya itu mirip adegan di film Tom and Jerry. Anak dan keponakan saya paling senang melihat adegan itu. Bagi mereka, kelakuan Chelsea adalah sebuah hiburan. Saat anak tikus itu lepas, mereka tertawa. Sebaliknya, begitu Chelsea berhasil menangkapnya kembali, mereka bersorak.

Di sisi lain, kelakuan Chelsea juga memicu kehebohan dan kepanikan orang rumah. Seperti yang terjadi siang tadi saat dia kedapatan membawa seekor anak tikus di mulut. Begitu berhasil mendapat anak tikus, Chelsea malah memainkannya di ruang tamu. Tentu saja orang-orang rumah heboh. Apalagi setelah anak tikus itu sempat menghilang beberapa saat gara-gara berhasil kabur dari cengkraman Chelsea. Bodohnya lagi, setelah anak tikus itu hilang, Chelsea mengeong seperti meminta pertolongan. Kontan saja, Apo majikannya, ikut-ikutan mencari. Rupanya sang tikus tengah asyik bersembunyi di balik gorden ruang tamu.

Guna meredam kehebohan di rumah, Apo akhirnya berinisiatif mengeluarkan anak tikus itu dari ruang tamu. Di luar, Chelsea pun kembali asyik bercengkerama dengan sang anak tikus. Lama-lama, anak tikus itu mati kelelahan. Chelsea pun meninggalkannya. Dia melepas lelah persis di depan bangkai tikus.

Read more »

Minggu, 11 Oktober 2009

Anak Saya Meninggal karena Kanker Ginjal

LANGKAH Tita F Rahayu (37) terhenti di pintu masuk Ruang Bougenville RSUD Waled, Rabu (15/6) malam. Tatapannya kosong. Ibu dua anak itu kemudian meneteskan air mata, begitu melihat kondisi penderita kanker ginjal, Siti Romlah (9), duduk tak berdaya. Tangis guru kimia SMA 1 Cileunyi itu pun akhirnya pecah.

“Istri saya teringat anak ketiga kami yang meninggal karena penyakit yang sama dengan Romlah. Namanya Fadillah Khotimah. Usianya saat meninggal baru 4 tahun. Kanker ginjal menggerogoti putri ketiga saya sejak usianya dua tahun. Kami sudah berusaha berobat ke sana ke mari, namun Tuhan memang berkehendak lain. Tanggal 7 Desember 2003, Fadillah meninggal,” kata Yusuf kepada Tribun, menceritakan pengalaman pahitnya.

Menurut Yusuf, Fadillah divonis menderita kanker ginjal saat dirinya berobat ke RS Bromeous Bandung. Saat usia dua tahun, kata Yusuf, Fadillah tiba-tiba terjatuh. Kemudian, warga Jalan Rancabolang Bandung ini melihat benjolan pada bagian perut Fadillah. “Saya mengira benjolan itu disebabkan oleh benturan akibat Fadillah terjatuh. Setelah diperiksa, dokter langsung memvonis anak saya menderita kanker ginjal,” kata Yusuf.

Selang beberapa hari kemudian, ginjal Fadillah diangkat, agar kanker yang dideritanya tidak sampai menyebar ke paru-paru dan hati. Dokter yang menangani Fadillah, kata Yusuf, mengatakan operasi berjalan dengan sukses. Namun, lanjutnya, Fadillah tetap harus dikemoterapi. Yusuf pun menerima saran dokter, dengan harapan anaknya bisa sembuh seperti semula.

“Saya turuti nasihat dokter. Fadillah dikemoterapi di RS Rancabadak Bandung. Bahkan saya sengaja mencari obat kemoterapi hingga ke Singapura, demi kesembuhan anak saya. Setiap bulan sejak ginjalnya diangkat, saya bawa Fadillah ke RS Rancabadak. Selama 16 bulan Fadillah terus dikemoterapi. Uang yang saya keluarkan sudah mencapai Rp 100 juta,” kata Yusuf.

Namun, lanjut Yusuf, usaha kemoterapi yang dilakukan terhadap anaknya rupanya tidak membawa hasil yang baik. Setelah selama 16 bulan dikemoterapi, kata Yusuf, kanker yang diderita Fadillah malah semakin parah. Penyakit tersebut, lanjut Yusuf, bahkan sudah menggerogoti paru-paru dan hati Fadillah. Dokter yang menangani Fadillah, aku Yusuf, sudah tidak sanggup lagi mengobati.

“Saya sempat kecewa, tapi ini memang sudah suratan takdir. Setelah mengetahui penyakit kanker anak saya sudah menggerogoti paru-paru dan hati, saya rawat Fadillah di rumah. Perutnya sudah membuncit, seperti yang dialami Romlah. Setiap hari saya pangku Fadillah. Tepat 7 Desember 2003, Fadillah kemudian meninggal,” kata Yusuf sambil meneteskan air mata. (gin gin tigin ginulur)

Read more »

Menyimpan Tulisan Lama

Dua hari terakhir ini saya punya kegiatan baru. Di sela-sela aktivitas mengedit berita, saya menyempatkan diri meng-copy tulisan hasil reportase di tiga media dalam kurun waktu 2005-2008 yang dikirim ke redaksi via email. Tulisan-tulisan itu lantas saya simpan dalam blog ini sesuai dengan tanggal penulisan dan pengirimannya. Memang, tidak semua tulisan itu saya simpan. Hanya beberapa saja yang saya pikir menarik dan punya cerita di balik peliputannya. Selain itu, apa yang saya simpan juga hanya tulisan saat saya meliput di luar daerah sehingga harus dikirim via email.

Pertengahan 2005 silam, saat masih bekerja di harian Tribun Jabar (Grup Kompas Gramedia), saya sempat ditugaskan meliput di wilayah III Cirebon (Kota/Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Majalengka, dan Kuningan). Selang beberapa bulan kemudian, tepatnya Desember 2005, saya beralih tugas ke Cianjur, masih dengan bendera yang sama yaitu Tribun Jabar. Dua tahun kemudian, tepatnya Februari 2007, saya hijrah dari Tribun Jabar ke Suplemen Pakuan (grup Pikiran Rakyat). Di suplemen yang terbit mingguan itu, saya ditempatkan di wilayah Kota/Kabupaten Bogor, dan Depok. Hanya bertahan dua bulan, saya kembali bekerja menjadi wartawan harian di koran Seputar Indonesia. Dari Maret 2007 hingga Mei 2008, saya ditempatkan di wilayah Bandung, tepatnya kepolisian, ploting, kejaksaan/kehakiman, dan Pemprov Jabar. Baru pada Mei 2008, saya kembali bertugas di luar kota, kali ini Kabupaten Garut dengan koran yang berbeda.

Memang perlu ketekunan saat menyimpan tulisan itu. Tidak seperti memposting tulisan baru, saat memposting tulisan lama ini, saya harus mengklik opsi entri di kolom posting. Lantas, postingan tersebut saya ganti waktunya, disesuaikan dengan tanggal penulisan dan pengiriman via email. Beberapa tulisan memang cukup berkesan buat saya, karena proses peliputannya yang menyenangkan, menegangkan, atau menyedihkan. Saya masih ingat betapa luasnya lokasi liputan saya saat berada di wilayah III Cirebon. Menembus malam-malam jahanam wilayah Pantura bersama kawan-kawan sekadar mencari lokasi kecelakaan di Eretan Indramayu. Atau bagaimana saya bersama seorang kawan di Kabupaten Cianjur terpaksa harus masuk ke kuburan malam-malam di tengah guyuran hujan lebat saat mencari rumah korban SUTET yang menjahit bibirnya. Belum lagi saya harus nyasar ke Pasar Minggu Jakarta saat ditugaskan meliput rumah si Pitung yang jadi kafe di Kota Depok. Atau tiga hari sekali mengencangkan rantai motor Yamaha Vega yang longgar akibat bolak-balik Bogor via Puncak.

Begitulah. Saya akhirnya berhasil menyimpan naskah-naskah kenangan itu dalam sebuah halaman baru di blog ini. Agar mudah mencarinya, saya simpan naskah itu di link:



Setidaknya, kalau saya merindukan suasana liputan di daerah, atau kawan-kawan liputan saya di daerah, tulisan-tulisan lama itu bisa jadi penghibur.

Read more »

Sabtu, 03 Oktober 2009

Masjid Kubah Emas Depok

Ini hanya hasil iseng-iseng saya menjelajah mesin pencari google. Setelah sekian lama gagal mencari tulisan Masjid Kubah Emas Depok hasil reportase saat bekerja di suplemen Pakuan (grup Pikiran Rakyat) sekitar bulan Februari 2007 silam, saya mencobanya kembali melalui mesin pencari google. Dengan kata kunci "Masjid Kubah Emas Depok", akhirnya saya berhasil menemukannya di antara 20.800 tulisan bertema sama.

Tulisan itu tersimpan di http://jaton.forummotion.com. Semakin yakin itu tulisan saya, karena tertera inisial PK-5 di akhir tulisan. Sekadar informasi, PK-5 adalah inisial saya saat bekerja di suplemen yang terbit di wilayah Kota/Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota/Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Cianjur itu. Wah, senangnya menemukan tulisan yang hilang karena saya tidak memiliki arsipnya. Terimakasih buat pemilik situs http://jaton.forummotion.com yang sudah menyimpan tulisan saya dengan apik. Biar tidak hilang lagi, saya posting saja di blog ini:

Luar biasa! Itulah kalimat pertama yang diucapkan masyarakat saat berkunjung ke Masjid Dian Al Mahri di Kel. Meruyung, Kec. Limo, Kota Depok. Sebuah masjid megah berkapasitas 20 ribu jemaah tampak berdiri kokoh di atas lahan seluas 100 hektare. Kekaguman pengunjung makin menjadi, tatkala melihat kubah utama masjid yang dilapisi emas 24 karat.

"Masjid ini dibangun April 1999 oleh seorang dermawan bernama Hj. Dian Juriah Maimun Al Rasyid. Rencananya, selain masjid, lahan ini akan dijadikan Islamic Centre. Nantinya akan ada lembaga dakwah, dan rumah tinggal. Pokoknya semua aktivitas keagamaan akan dilakukan di kompleks masjid ini," kata Ir. H. Yudi Camaro, M.M., pengelola Masjid Dian Al Mahri.

Menurut Yudi, saat ini tahap pembangunan Islamic Centre baru separuh jalan. Rencananya, lanjut dia, seluruh pembangunan ditargetkan rampung dalam kurun waktu tiga sampai lima tahun ke depan. Meski begitu, masjid tersebut telah resmi dibuka untuk umum bertepatan dengan Hari Raya Iduladha, 31 Desember 2006.

"Pembangunannya memang sudah berlangsung sejak tahun 1999, namun baru dibuka untuk umum 31 Desember 2006. Setelah salat Iduladha, pemilik masjid langsung meresmikan masjid ini. Saat itu, tak kurang dari 5 ribu jemaah mengikuti pro-sesi peresmian masjid ini," kata Yudi.

Bangunan masjid, kata Yudi, memiliki luas 8.000 meter persegi yang terdiri dari ba-ngunan utama, mezamin, halaman dalam, selasar atas, selasar luar, ruang sepatu, dan ruang wudu. Masjid, lanjut Yudi, mampu menampung 15 ribu jemaah salat dan 20 ribu jemaah taklim.

"Biasanya jumlah pengunjung membeludak sejak Jumat sampai Minggu. Saat Salat Jumat, minimal 5 ribu jemaah memadati masjid. Sementara pada hari Minggu, jumlah pengunjung biasanya mencapai 10 ribu orang. Sedangkan hari-hari biasa, jumlah jemaah tidak terlalu banyak," kata Yudi.

Masjid Dian Al Mahri memiliki 5 kubah. Satu kubah utama dan 4 kubah kecil. Uniknya, seluruh kubah dilapisi emas setebal 2 sampai 3 milimeter dan mozaik kristal. Bentuk kubah utama menyerupai kubah Taj Mahal. Kubah tersebut memiliki diameter bawah 16 meter, diameter tengah 20 meter, dan tinggi 25 meter. Sementara 4 kubah kecil memiliki diameter bawah 6 meter, tengah 7 meter, dan tinggi 8 meter.

"Kita tidak bicara jumlah emas, tapi ketebalan emas. Setiap kubah memiliki ketebalan emas 2 sampai 3 milimeter. Emas kubah tersebut kemudian dilapisi lagi dengan mozaik kristal. Masjid ini terbuka untuk umum, meski ada beberapa bagian yang harus tetap steril seperti menara masjid," kata Yudi.

Meski pengunjung bebas keluar masuk masjid, sejumlah aturan tetap harus dipatuhi. Aturan tersebut, kata Yudi, dibuat agar suasana ibadah tetap nyaman. Misalnya, lanjut Yudi, pengunjung dilarang membawa makanan dan minuman ke lingkungan masjid. Selain itu, anak di bawah usia 9 tahun juga dilarang memasuki lingkungan masjid.

"Namanya ibadah kan harus nyaman. Bagaimana bisa nyaman jika anak-anak berlari-lari di dalam masjid. Atau, pengunjung membawa makanan dan minuman ke dalam masjid. Ini memang tata tertib yang harus ditaati pengunjung agar masjid tetap terjaga," kata Yudi.

Sayangnya, Yudi tidak mau menyebut nilai rupiah yang dihabiskan untuk pembangunan masjid ini. Yang pasti, lanjut Yudi, jika dihitung total biaya pembangunan masjid betul-betul menyentuh angka yang sangat fantastis. "Subhanallah, untuk ukuran tempat ibadah, total biaya pembangunan masjid betul-betul sangat fantastis. Mudah-mudahan ini menjadi spirit bagi umat Islam lain untuk membangun tempat ibadah," kata Yudi.

Rita (40), salah seorang pengunjung asal Kota Cimahi mengaku takjub saat melihat masjid itu dari dekat. Selama ini, Rita mengaku hanya mendengar kemegahan masjid tersebut dari beberapa temannya. "Saya takjub. Selama ini saya hanya mendengar dari teman tentang kemewahan masjid kubah emas ini," kata Rita. (PK-5)

Read more »

Kamis, 24 September 2009

Waspadalah! Jambret Merajalela!

Ketenangan warga Kompleks Margahayu Raya terusik Rabu (23/9) kemarin. Seorang jambret yang menaiki sepeda motor, berhasil menggondol tas milik warga. Ironisnya, aksi itu terjadi di siang bolong, selepas Azan Zuhur atau sekitar pukul 12.30. Warga pun masih banyak yang terlihat beraktivitas di luar rumah. Maklum, saat itu suasana Lebaran masih terasa. Beberapa warga juga terlihat ada yang menerima tamu.

Kejadiannya sendiri berlangsung di sekitar Jalan Jupiter Utama, tidak jauh dari rumah mertua. Seperti biasa, siang itu saya menghabiskan waktu di tengah rumah, menemani Gisavo –sang anak tunggal, menonton tayangan televisi Si Bolang. Mertua laki-laki dan perempuan, duduk di singgasananya masing-masing. Istri saya terlibat adu mulut dengan Gisavo yang lagi-lagi susah makan saat disuapi. Siang itu, Nivo adik ipar, baru beranjak keluar rumah hendak membeli keran dan teh celup.

Baru saja Nivo atau akrab disapa Apo menutup pintu dan hendak menyalakan motor, kami mendengar suara teriakan warga disertai jeritan wanita. Sekilas, kami melihat seorang pemuda mengemudikan motor kencang, melintas di jalan sebelah rumah. Beberapa pemuda dan bapak-bapak terlihat mengejar motor tersebut. Apo pun tiba-tiba menghilang. Dugaan kami, ia ikut mengejar pemuda bersepeda motor itu.

“Maling… maling,” seorang wanita berteriak sambil berlari mengejar laju motor. Tangannya tampak terluka. Baju putihnya kotor. Sambil menangis, ia terus berteriak maling. Belakangan diketahui wanita itu adalah tetangga kami. Ia mengaku dijambret tidak jauh dari rumahnya. Luka di tangan, akibat rebutan tas dengan jambret. Berdasarkan informasi pula, dia sempat terseret sepeda motor yang ditumpangi jambret. Saya sempat berniat ikut mengejar, namun urung karena merasa tak mampu. Lagipula, sudah banyak warga yang berlari mengejar.

Warga pun berkerumun, menolong korban. Dia sempat dibawa ke rumah mertua namun tak lama kemudian minta pulang. Kami harap-harap cemas, menanti para pengejar jambret kembali membawa hasil. Beberapa menit kemudian, pemuda dan bapak-bapak yang mengejar jambret itu kembali dengan wajah lesu. Upaya mengejar jambret gagal total. Dia berhasil lolos melewati jalur pinggir rumah mertua yang tidak diportal.

Tak berapa lama kemudian, Apo muncul. Dia pun mengumpat lantaran gagal mengejar jambret. Jalanan yang tak diportal jadi kambing hitam. “Wah A, gagal yeuh olahraga siang. Padahal Apo geus ngabayangkeun jambret terjebak portal. Ternyata, portalna teu dipasang,” keluh Apo sambil menghela napas panjang. Sepertinya warga di Jalan Jupiter Utama harus betul-betul waspada. Pasalnya, sudah tiga kali kejadian warga jadi korban penjambretan. Barangkali, sepantasnya imbauan bang Napi diingat-ingat. “Waspadalah… Waspadalah…. !!

Read more »

Jumat, 04 September 2009

Abah Salim Orang Baduy

Lelaki tua itu berjalan di trotoar Jalan Diponegoro persis di depan Gedung Sate. Perawakannya tampak tinggi dibalut pakaian serba hitam. Ikat kepala biru khas suku Baduy melilit kepalanya. Ia terlihat menenteng tas anyam dan gembolan kain. Ditemani seorang bocah berusia sekitar 10 tahun, lelaki itu berhenti di depan kerumunan orang, lantas mengeluarkan barang-barang dari gembolan dan tas anyamnya. “Cep, bade gula aren. Asli,” ujarnya kepada seorang warga yang sedang duduk di tembok pagar Gedung Sate. “Sabaraha pa?” tanya pria itu. “Mirah , ngan dalapan rebu rupiah,” jawabnya mantap. Sedikit tawar menawar terjadi. Namun, lantaran harga yang ditawarkan terasa lebih murah ketimbang harga pasar, warga yang duduk di tembok pagar Gedung Sate itu luluh. Ia pun rela merogoh kocek sebesar Rp8.000 demi membeli gula aren tersebut.


Salim . Ya, lelaki tua itu bernama Salim. Ia asli berasal dari suku Baduy. Selain terlihat dari pernak-pernik yang dipakai, keabsahannya sebagai suku Baduy terlihat dari kakinya yang tanpa alas saat berjalan. Usianya sudah 70 tahun tapi masih terlihat sehat. Salim mengaku sengaja datang ke Bandung demi menjual gula aren hasil olahannya di kampung. Ia ditemani Melfri (10), cucunya. Kakek 10 cucu itu mengaku tiba di Bandung pukul 9 malam sebelumnya dengan menaiki kereta api ekonomi, dan menginap di Stasiun Kiara Condong. Pagi-pagi ia sudah menaiki angkutan kota menuju pusat perkotaan, mencoba mengais rezeki dari berjualan gula aren. Rupanya, selain menjual gula aren, Salim juga menjual madu odeng. Satu botol madu odeng, dijual dengan harga Rp70 ribu.

“Abah datangna kamari peuting naek kereta api. Ngahaja datang ti Baduy rek dagang gula,” ujar Salim saat ditanya alasannya mengadu nasib di Kota Bandung. Salim mengaku sudah sering berjualan di kota kembang. Biasanya, ia datang sekali dalam tiga bulan. Namun karena sekarang membutuhkan uang lebih untuk lebaran nanti, Salim pun mengaku hampir setiap hari pergi ke Bandung. “Engke peuting ge Abah balik deui ka Baduy. Nya, dua poe sakali lah ka Bandung,” terang Salim. Sambil berbincang-bincang, Abah tetap menawarkan barang yang dibawanya. Ia mengeluarkan sebotol madu odeng dari tas anyamnya. “Madu odengna bade moal?” tanya Salim. Lantaran harga yang ditawarkan lumayan mahal, tak ada orang yang menyahut. “Moal bah, engke deui we,” jawab saya, mewakili jawaban orang-orang yang mulai tak memedulikannya.

Usai sudah pertemuan itu. Setelah menjual sebongkah gula aren seharga Rp8.000, Salim beranjak sambil membereskan barang dagangannya. Melfri mengikuti langkah kakeknya itu. Tanpa alas kaki, Salim kembali berjalan menyusuri ruas jalan di Kota Bandung. Sebuah perjuangan yang luar biasa dari seorang warga asli suku Baduy.

Read more »