Senin, 20 Juli 2009

Luar Biasa Gisavo!!

Gisavo sungguh luar biasa. Ia berhasil mengatasi ketegangannya saat tampil menyanyi pada acara launching produk Mountea Starfruit rasa belimbing, di Bandung Indah Plaza (BIP), Minggu (19/7) sore. Padahal saat itu adalah kali pertama dia manggung di depan penonton yang lumayan banyak. Belum lagi, ia juga harus tampil bersama sejumlah penyanyi dewasa yang jelas-jelas bukan komunitasnya. Namun, dengan suara kanak-kanaknya yang khas, Gisavo sukses meluncurkan dua lagu. Lagu pertama berjudul “Aku Bisa” sedangkan lagu kedua berjudul “Cinta untuk Mama”. Meski ada beberapa nada yang sedikit meleset, secara keseluruhan penampilannya cukup memukau penonton. Tepukan hangat pun terdengar begitu dia merampungkan dua lagu.


Dua minggu lalu ajakan manggung di BIP memang sudah dilontarkan Kang Deni, guru vokal Gisavo di Purwa Caraka Music Studio (PCMS) Jalan Sriwijaya. Saat itu, Kang Deni memberi kabar mengenai rencananya mengajak Gisavo manggung di BIP pada Minggu (19/7). Meski belum mengetahui persis dalam rangka apa anakku tampil, aku mengiyakan ajakan tersebut. Gisavo pun begitu. Dia sangat bersemangat begitu mengetahui bakal naik panggung lagi setelah lama tidak tampil di depan umum. “Asyik, Gisa nyanyi di panggung lagi pak?” ujar anakku sumringah. “Iya, nanti Gisa manggung lagi sama Oom Deni. Gisa seneng kan naik panggung?” jawabku sambil bertanya. Dia mengangguk.

Kang Deni memang rajin mengajak anakku mentas. Entah lantaran usia anakku yang masih kecil ditambah badannya yang mungil atau memang suaranya bagus, aku tidak tahu. Toh, melihat keberaniannya menyanyi di atas panggung dan ditonton orang banyak, aku sudah cukup puas. “Gisa nanti nyanyi dua lagu: Aku Bisa dan Cinta untuk Mama,” kata Kang Deni, di PCMS Sriwijaya usai mengajari anakku menyanyi. Aku sempat kaget dengan rencana Kang Deni menyuruh Gisavo menyanyikan “Aku Bisa” mengingat lagu itu terbilang cukup sulit, baik dari sisi syair, maupun nada. Selain itu, Gisavo juga baru satu kali belajar menyanyikan lagu itu. Kalau lagu “Cinta untuk Mama” tak terlalu aku pikirkan. Dia sudah sangat hapal betul lagu itu. Untuk memudahkan latihan anakku, Kang Deni merekamkan minus one lagu "Aku Bisa". Sejak saat itu, anakku mulai berlatih di rumah, mendengarkan teks, lantas menyanyikannya diiringi musik.

Sabtu (11/7) lalu, seperti biasa anakku kembali berlatih vokal di PCMS Sriwijaya. Setelah sebelumnya selama satu minggu berlatih lagu “Aku Bisa”, Gisavo sudah mulai mahir, meski ada beberapa kata yang salah. Latihan berjalan mulus. Tingkat kesalahan Gisavo dalam menyanyikan lagu tersebut tidak terlalu banyak. Kang Deni pun mengingatkan lagi tentang rencana pentas di BIP. Tapi, lagi-lagi dia tidak menyebutkan acaranya. “Nanti hari Minggu jangan lupa. Acaranya siang,” kata Kang Deni. “Siap Kang,” jawabku. “Gisa masih mau naik panggung kan?” tanyaku memastikan. Anakku menjawab mantap. “Iya pak, Gisa masih mau naik panggung,” jawab Gisavo.

Ada kisah lucu saat Gisavo diminta berlatih bersama di sebuah studio Jalan Cijagra bersama Kang Deni Cs. Melihat banyaknya pemain band yang tidak dia kenal, Gisavo tiba-tiba mogok berlatih. Aku dan istriku berusaha membujuknya agar mau berlatih diiringi musik band. Namun, Gisavo bergeming, tetap tak mau bernyanyi. Dipaksa pun percuma. Dia malah menangis saat berlatih lagu “Cinta untuk Mama”. Akhirnya, kami pulang. Di rumah, aku menasihatinya agar tidak mogok bernyanyi saat tampil di BIP. Istriku mengiming-imingi dia hadiah. Hampir seisi rumah juga menjanjikan hadiah jika Gisavo tampil bagus. Beberapa saat, Gisavo termenung. Dengan iming-iming sejumlah hadiah, Gisavo pun berjanji akan tampil bagus pada hari H.

Hari yang dinantikan tiba. Selain aku dan istri, bapak, adik ipar, serta mertuaku juga ikut menonton penampilan Gisavo. Melihat gebyar acara launching produk Mountea rasa belimbing yang cukup meriah, aku sempat ragu apakah Gisa masih mau tampil atau tidak. Selain itu, acara launching tersebut tampaknya tak ada kaitannya dengan PCMS. Gisavo murni diajak manggung oleh Kang Deni. “Gisa masih mau nyanyi kan? Gak takut kan?” tanyaku. Beruntung, dia masih menjawab mau. Namun, tetap saja aku tegang. Khawatir Gisavo mogok tampil seperti saat berlatih bersama pemain band. Istriku juga sama. Dia tampak tegang, duduk di pinggir panggung menemani Gisavo.

Sebelum Gisavo tampil, Kang Deni bersama kawan-kawannya menjadi band pembuka. Kalau tidak salah, mereka menyanyikan empat lagu. Di pinggir panggung, Gisavo mulai pucat. Namun, dia tetap mengaku siap menyanyi. Mungkin bayangan hadiah sudah di depan mata. Selesai menyanyi, Kang Deni memanggil nama Gisavo. Ya, Gisavo pun berjalan di atas panggung. Langkahnya tampak mantap. Ia terlihat tampan dengan kemeja kuning dan celana jeans hitam. “Gisavo mau nyanyi lagu apa?” tanya Kang Deni. “Aku Bisa,” jawab Gisavo. Musik mulai terdengar. Kepala Gisavo bergerak ke kiri dan kanan, mengikuti irama lagu. Ketegangan pun cair. Penonton bertepuk begitu Gisavo menyelesaikan dua lagu. Dalam perjalanan pulang, sejumlah ibu-ibu menyalaminya. Ah, anakku memang luar biasa. Sesuai judul lagu yang dinyanyikannya, Gisavo berhasil membuktikan bahwa dia bisa.

Read more »

Rabu, 08 Juli 2009

Si Bolang, Bocah Pencari Belalang

Trans 7 punya tayangan film anak-anak yang diputar selama 30 menit setiap hari pukul 12.30. Film itu berjudul Si Bolang, singkatan dari Bocah Petualang. Sosok Si Bolang adalah sebutan dari seorang anak setempat yang memimpin teman-temannya berpetualang di sekitar tempat tinggalnya. Di setiap episodenya, tokoh itu selalu berganti. Namun, ia tetap digambarkan sebagai bocah yang berusia sekitar 12 tahun. Acara Si Bolang terasa bagaikan oase di tengah kegarangan dan gersangnya dunia anak-anak di televisi. Pasalnya, Si bolang mampu menampilkan satu sisi dunia anak yang sudah lama hilang.


Nah, hampir di setiap episodenya, bocah-bocah dan tokoh Si Bolang akan menampilkan petualangan-petualangan seru. Di sana, bocah-bocah seolah bersatu dengan alam, melakukan kegiatan yang berbau alam. Mereka berburu, memancing, meniti pematang, naik pohon, mencari burung, meski sesekali juga berpetualang di kota-kota besar. Rupanya, Gisavo, anakku sangat senang menonton film itu. Begitu azan Zuhur berkumandang, biasanya dia langsung duduk rapi di atas karpet dengan mata tertuju ke layar televisi, menunggu tayangan Si Bolang. Saking seringnya, ia jadi hapal jingle tayangan Si Bolang. “Bolang si bolang, si bocah petualang,” teriak anakku melantunkan jingle film Si Bolang.

Film Si Bolang rupanya mengilhami khayalan anakku. Ia tiba-tiba menyebut dirinya sebagai Si Bolang. Bukan lantaran sering berpetualang seperti Si Bolang, tapi karena dia sering mencari belalang di mana saja, terutama di lapangan rumput dekat rumah mertua. “Bapak, Gisa juga sekarang jadi Si bolang: Bocah pencari belalang,” ujarnya sambil membawa botol air mineral kosong yang sudah diisi belalang. Ya, setiap hari hobi Gisavo memang mencari belalang. Hampir setiap waktu, entah itu saat hendak pergi sekolah atau sepulang sekolah, dia selalu mendatangi rerumputan. Tubuh kecilnya mengendap-endap di antara rerumputan. Satu, dua, tiga, empat belalang didapat. Dengan sigap, ia masukkan belalang-belalang tersebut ke dalam botol air mineral plastik. Tentu saja botol itu sudah dilubangi agar udara bisa masuk sehingga serangga herbivora yang berhasil ditangkap itu tidak mati.

Belalang yang sudah ditangkap itu lantas dipamerkan ke seluruh penghuni rumah. Beberapa di antaranya dikeluarkan dari botol untuk dimainkan. Botol berisi belalang itu bahkan kerap dibawanya tidur. Tak heran, saat hendak tidur, aku kerap mendengar suara-suara aneh seperti benda berjatuhan di atas plastik. Selidik punya selidik, suara itu berasal dari belalang hasil tangkapan anakku yang berloncatan di dalam botol. Beberapa hari disimpan di dalam botol, belalang itu tentu saja mati. Nah, jika sudah mati, seluruh hewan itu menjadi makanan ikan lele yang ada di kolam mertuaku.

Hmmm, hobi anakku memang aneh. Dia betul-betul penyuka binatang. Tak hanya belalang, serangga pun tak luput dimainkannya. Kalau ikan, waah, jangan ditanya lagi. Kucing, hmmmm, itu binatang favoritnya. Seandainya tak dilarang, Gisavo juga sempat mengaku ingin memelihara ular. Di kebun binatang, hampir seluruh binatang ingin ia pegang. Untung, sebelum hal itu dilakukannya, Gisavo selalu bertanya apakah hewan yang didekatinya termasuk buas atau jinak. Kalau disebut buas ia urung mendekati binatang itu. Tapi kalau binatang itu dibilang jinak, Gisavo langsung memburunya. Begitulah Gisavo Si Bolang, bocah pencari belalang. Bagi bocah yang sebentar lagi berusia 5 tahun itu, sepertinya tiada hari tanpa binatang. Apalagi yang namanya belalang. “Bolang si bolang, si bocah pencari belalang…” senandung Gisavo mengubah syair lagu Si bolang.

Read more »

Minggu, 14 Juni 2009

Jam Publik Nasibmu Kini

Idealnya jam publik dipasang sebagai petunjuk waktu bagi masyarakat di suatu daerah. Namun di Kota Bandung lain lagi. Saat ini, keberadaan jam publik seolah hanya sebatas pajangan, mati segan hidup tak mau. Padahal, sebuah jam bisa menjadi ikon kota. Sebut saja di Bukitinggi dengan jam gadangnya. Atau di London, dengan menara jam setinggi 96 meter yang diberi nama “Big Ben”.


Nah, di Jalan Abdul Rivai Kota Bandung, jam publik berbentuk tugu dengan ukuran lebih dari lima meter tersebut tampak selalu mati. Dari empat buah jam dinding di setiap sisinya, tak satu pun yang aktif sesuai waktu. Logika kerjanya sama, putaran sempurna. Sebagai informasi, jam publik di taman itu masih analog yang masih menggunakan jarum jam panjang dan pendek.

Kemarin, jam publik itu masing-masing menunjukkan waktu yang berbeda. Jam ke-1 menunjukkan pukul 10.34, jam ke-2 dan ke-3 menunjukkan arah pukul 10.36 dan 10.30, sedangkan jam ke-4 menunjukkan pukul 10.13. Padahal, saat mengambil foto jam publik itu, waktu menunjukkan pukul 10.54. Kendati sama-sama menunjukkan pukul 10, keempat jam itu berjalan tidak kompak sebagaimana seharusnya pedoman waktu untuk publik kota kembang.

Nasib serupa dialami jam di dua sudut menara Gedung Bank Mandiri Jalan Asia Afrika yang didesain oleh orang Belanda. Menara jam yang berdiri kokoh di bangunan bekas bagian penjara Banceuy itu juga mati. Menurut Rusmiati (42), seorang penjual ketupat yang biasa mangkal di seputar Jalan Banceuy, jam dinding itu sudah mati sejak puluhan tahun silam. "Saumur teteh, jam nu di gedong eta teh tara pernah bener, tos puluhan taun," jelas Rusmiati sambil menunjukkan jam di menara itu.

Selain di kedua lokasi itu, dulu di persimpangan Jalan Cikapayang, persis di bawah Jalan Layang Pasupati itu ada jam digital yang menunjukkan waktu di daerah Bandung. Namun kini di lokasi yang sama berdiri kokoh tugu provokatif Bandung Emerging Creative City (BECC). Pada tugu itu terdapat sebuah patung yang berpose menunduk di atas kedua lututnya. Di belakangnya terdapat empat pilar bertuliskan "bdg" ukuran besar dan tulisan "bandung emerging creative city" dengan warna kontras. Tempat itu sering menjadi tempat berkumpulnya anak muda untuk bergaul di tengah kota Parijs van Java.

Semoga saja matinya jam publik di Kota Bandung bukan sebuah simbol budaya jam karet para pejabat di kembang.

Read more »

Jumat, 05 Juni 2009

Atim Idola Baru Kebun Binatang Bandung

Atim berjalan mengelilingi Kebun Binatang Bandung Jalan Tamansari, Sabtu (30/5) lalu. Sesekali ia berhenti di tengah keramaian pengunjung. Tingkahnya yang terkadang menggelikan menyedot perhatian massa. Dalam waktu singkat, Atim dikerubuti banyak orang. Bak seorang selebritas, ia mendadak menjadi idola. Sejumlah orang berebut minta berfoto bersama. Tidak sedikit pula yang berusaha menyentuh, bahkan merangkul bahunya.


Kehadiran Atim rupanya tak luput dari perhatian Gisavo, anakku yang saat itu kebetulan berada di Kebun Binatang. Ia pun meminta aku membawanya ke dekat Atim. Tanpa banyak berdebat, aku dan istriku mengiyakan permintaannya. Dengan wajah sumringah, Gisavo duduk di sebelah Atim. Layaknya dua bersaudara, mereka saling merangkul bahu. Aku pun tak lupa mengabadikan momen istimewa itu.

Usia Atim baru 3,2 tahun, terpaut sekitar 1 tahun dengan usia anakku. Saat berjalan mengelilingi Kebun Binatang Bandung, ia dipapah dua orang dewasa. “Ayo, siapa yang mau difoto sama Atim. Bayar seikhlasnya saja,” kata seorang pria yang tampak menuntun Atim. Ya, Atim memang idola baru di kebun binatang. Anak orang utan itu setidaknya berhasil menghibur pengunjung yang tampak mulai bosan melihat hewan di Kebun Binatang Bandung. Wajar saja pengunjung bosan mengingat jumlah hewan yang ada sepertinya tidak bertambah.

Anakku senang menyentuh binatang. Sebelum difoto bersama Atim, ia juga sempat difoto sambil memegang ular piton yang dikalungkan di lehernya. Iseng aku juga menawarinya difoto bersama buaya. Namun istriku malah menimpali. “Kalau mau foto sama buaya gak usah jauh-jauh, sama bapak aja Gi,” seloroh istriku. “Iya, buaya darat,” timpalku sambil tertawa. Meski bingung, Gisavo tetap ikut tertawa. “Hahahaha…. Bapak buaya,” ujarnya.

Hari itu memang harinya Gisavo. Aku dan istriku berusaha memuaskan keinginannya bermain di kebun binatang, setelah sekian lama kami tidak pernah lagi pergi ke sarana hiburan yang cukup murah itu. Semua kandang kami didatangi. Hampir seluruh binatang ia pelototi. Tak hanya itu, hewan tunggang pun tak luput kami naiki seperti gajah dan unta. Usai makan siang, Gisavo berlari memburu salah satu permainan yang sangat ia senangi yaitu flying fox. Seperti biasa, ia menjadi orang pertama yang bermain flying fox. Beberapa orang tua yang melihat keberanian anakku menaiki flying fox lantas meminta anaknya naik. “Tuh, masak kalah sama anak kecil,” ucap seorang bapak kepada anak perempuannya yang sudah remaja.

Remaja putri itu menuruti kemauan bapaknya. Satu per satu ia meniti tangga bambu. Namun, begitu sampai di tengah, ia mogok naik. “Bapak, takut, ayo sama bapak,” rengeknya. Gisavo tertawa. Rasa percaya dirinya timbul. “Bapak, Gisa mah hebat ya, gak takut,” katanya. Orang tua remaja putri itu tetap mengabaikan keinginan anaknya. Dengan susah payah, remaja putri itu berhasil mencapai puncak. Lagi-lagi ia mogok meluncur di flying fox. Sambil terus berteriak memanggil bapaknya, ia enggan meluncur. Hujan deras tiba-tiba mengguyur Kebun Binatang Bandung. Remaja putri itu pun akhirnya urung meluncur. Ia kembali menuruni tangga.

Cukup lama kami terjebak hujan di sebuah shelter. Karena hujan tak kunjung berhenti, kami nekat berlari menerobos hujan ke pelataran parkir menuju mobil. Aku berlari terlebih dulu sambil menggendong Gisavo yang ditutupi jaket. Istriku menyusul di belakang. Gisavo tertawa melihat istriku basah kuyup kehujanan. Sepertinya ia menikmati acara menerobos hujan deras itu. “Gisa seneng hujan-hujanan pak,” ujarnya begitu tiba di mobil. “Kamu seneng ujan-ujanan, bapak capek lari,” timpalku. Gisavo tertawa. Sorot mata kanak-kanaknya seolah mengatakan kalau ia betul-betul menikmati harinya di Kebun Binatang Bandung.

Read more »

Minggu, 17 Mei 2009

Satu Lagu Dua Panggung (2)

Perjalanan dari Margahayu Raya menuju Karawitan sungguh terasa lama. Seperti sudah kuduga, di atas motor Gisavo mulai tertidur. Meski setiap ditanya dia selalu membantah tertidur, aku bisa melihat sorot matanya yang lelah. Di tengah perjalanan, aku kembali mengajukan satu pertanyaan. “Gisa masih mau nyanyi ga?” tanyaku. “Masih pak. Kan nanti sore, Gisa nyanyi lagi,” jawabnya semangat. Syukurlah, dalam keadaan mengantuk, anakku masih bersemangat tampil di panggung.

Kami tiba di Karawitan sekitar pukul 13.45 WIB. Turun dari motor, Gisavo langsung memburu kursi panjang di ruang tengah. “Pak, boleh ga Gisa tidur dulu. Ngantuk,” pintanya. Melihat kondisinya yang sudah lemah, aku pun mengiyakan permintaan Gisavo, meski seharusnya siang itu adalah waktu makan siangnya. Ketimbang nanti tidak bisa mentas karena mengantuk, mending mengikuti permintaannya untuk tidur. Melihat Gisavo terbaring, aku pun ikut berbaring. Namun, baru saja mata terpejam, Gisavo membangunkanku. “Pak, tidurnya nanti aja. Kita berangkat sekarang aja yuk!” ajaknya. Aku bangun lantas memperhatikan jam dinding. Wah, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Khawatir terlambat tiba di Riau Junction, aku mengiyakan ajakan Gisavo.

Mesin Mazda silver kunyalakan. Gisavo tampak senang. Duduk di jok depan, ia menyandarkan tubuhnya. Sesekali ia bernyanyi. “Gisa bener masih mau nyanyi?” aku kembali bertanya. “Masih pak, Gisa mau ketemu sama Oom Deni,” jawabnya. Oom Deni adalah guru vokal Gisavo di Purwa Caraka Music Studio (PCMS) Jalan Sriwijaya. Seperti biasa, setiap akhir pekan Jalan Riau kerap dilanda macet. Meski begitu, kami tiba di Riau Junction lebih cepat dari waktu yang ditetapkan. Sekitar pukul 15.00 WIB, kami tiba di lokasi tersebut. “Pak, Gisa ngantuk lagi…” ucapnya begitu mobil sampai di tempat parkir. Wah, celaka. “Jangan tidur dulu Gi, nanti aja abis nyanyi. Katanya Gisa masih mau nyanyi?” aku berusaha membujuknya. Mata kanak-kanak Gisa menerawang, seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku berdebar menunggu jawabannya. “Eh, gak jadi pak. Ngantuknya udah hilang,” jawabnya. Fiuhh, aku kembali tenang mendengar jawabannya.

Kami bergegas berjalan ke lantai II Riau Junction, tepatnya ke Toko Yogya. Di sana, tampak sebuah panggung kecil yang dipasang di pusat keramaian. Seorang staf PCMS Jalan Sriwijaya, Teh Uci terlihat menunggu di dekat panggung sambil berbincang dengan seseorang. Aku mendekatinya untuk memberitahu kedatangan kami. “Nanti, nyanyinya sekitar jam 4-an,” kata Teh Uci. Hmmm, ternyata acaranya baru dimulai sekitar pukul 16.00 WIB. Berarti aku masih harus bekerja keras membuat Gisavo tetap segar dan tidak mengantuk. Sambil menunggu acara dimulai, aku ajak Gisavo mengelilingi Riau Junction, meski lama-lama dia bosan juga. Setengah jam berlalu. Istriku tiba-tiba telepon. Ia memberi kabar akan menyusul ke Riau Junction dari PCMS Cimahi dengan menumpang ojek. “Tuh Gi, mamah barusan telepon, katanya mau dateng ke sini. Makanya Gisa jangan tidur dulu ya,” ujarku. “Iya pak, Gisa mau nunggu mamah,” jawab anakku.

Kami duduk di dekat panggung. Kebetulan, lokasi panggung berada di lingkungan mainan anak-anak. Untungnya lagi, ada satu mainan yang bebas dipakai siapa saja. Sambil menunggu pentas, anakku bermain di tempat tersebut. Istriku tiba beberapa saat sebelum Gisa naik panggung. Ia terpaksa harus merelakan uang Rp25 ribu buat bayar ojek dari Cimahi ke Riau Junction. Gisavo kebagian pentas nomor dua. Ia duduk di belakang panggung bersama siswa PCMS yang saat itu juga terpilih menyanyi di Riau Junction. Lucu juga melihat dia duduk di antara beberapa kawannya yang sudah besar. Memang, di lingkungan PCMS, anakku merupakan siswa paling kecil baik dari usia, maupun perawakan.

Waktu pentas akhirnya tiba. Lantaran siswa PCMS yang kebagian nomor 1 belum datang, Gisavo dipanggil pertama oleh pembawa acara. Dengan wajah polos, ia menaiki panggung. Penampilannya lagi-lagi menarik perhatian dua pembawa acara. Mereka sempat berceloteh, meragukan kemampuan anakku bernyayi. “Waah, kecil banget. Bisa ga ya nyanyi?” tanyanya. Saat itu, penonton masih sepi karena pengunjung sibuk berbelanja. “Mau nyanyi apa dek?” tanya pembawa acara. “Cinta untuk mama,” jawab Gisa sambil memegang pelantang dengan kedua tangannya. Musik sudah terdengar. Anakku melangkah maju. Suara kanak-kanaknya terdengar keras, membuat pengunjung Toko Yogya sejenak mengalihkan pandangannya ke arah panggung. “Apa yang kuberikan untuk mama.. untuk mama… tersayang…” begitu bait pertama lagu itu terdengar, pengunjung pun bertepuk. Ya, hari itu tugasku sebagai “manajer” tuntas sudah. Terima kasih anakku, meski lelah, kamu masih mampu menyanyikan satu lagu panjang di atas dua panggung dalam satu hari. (tamat)

Read more »

Kamis, 07 Mei 2009

Satu Lagu Dua Panggung (1)

Sabtu (25/4) lalu barangkali merupakan hari yang cukup melelahkan bagi Gisavo Lembayung Lelaki Akbar. Bocah yang pada 30 Agustus mendatang baru berusia 5 tahun itu mengikuti dua kegiatan menyanyi sekaligus dalam satu hari. Siang hari ia harus mengikuti lomba nyanyi di Taman Kanak-kanak Lestari, sementara sore hari ia diminta melantunkan suara emasnya di Riau Junction Jalan Riau bersama kawan-kawan sesama anak didik Purwa Caraka Music Studio (PCMS). Hmmm, betul-betul hari yang melelahkan buat anak seumuran dia.

Yang ketiban pulung tentu saja orang tuanya, terutama aku. Lantaran setiap Sabtu istriku bekerja dari pagi hingga sore di Kota Cimahi, akulah yang harus menjaga Gisavo agar bisa tampil prima di dua kegiatan sekaligus dalam satu hari. Beruntung, sebelumnya, istriku sudah menyiapkan segala keperluan Gisavo seperti dua baju untuk pentas dan makan siang. Aku pun diberi sedikit bekal buat jaga-jaga, khawatir sang artis ingin membeli mainan di sela-sela pentas. “Titip Gisa. Jangan sampai dia bete. Nanti penampilannya keganggu,” begitu pesan istriku sebelum dia berangkat kerja sekitar pukul 07.30 WIB. Tapi lihatlah Gisavo. Di saat kami berdua sibuk, dia masih tertidur pulas memeluk guling.

Hari itu Gisavo memang dianjurkan tidak sekolah. Namun, Bu Ira, guru TK Islam Al Muhajir –tempat Gisavo sekolah- menyuruh anakku datang sekitar pukul 10.00 WIB untuk berlatih sebelum naik panggung. Di TK Islam Al Muhajir, Bu Ira memang dikenal paling aktif mengajak anak didiknya tampil di acara kesenian. Ia juga tampak paling bersemangat mengajarkan anakku bernyanyi sambil bergaya, diiringi permainan keyboard Kak Irwan. Nah, tidak seperti anak-anak lainnya yang mengikuti lomba nyanyi dengan diiringi keyboard Kak Irwan, Gisavo diminta membawakan lagu “Cinta untuk Mama”. Lagu itu pernah dia nyanyikan waktu konser kecil di PCMS Jalan Bungur yang digelar guru vokalnya, Kang Deni. Walhasil, dia diminta membawa minus one lagu “Cinta untuk Mama” saat tampil. Lagu itu terbilang sulit dinyanyikan untuk ukuran anak-anak seusia Gisavo. Selain syairnya panjang, musik yang mengiringinya juga turun naik. Lantaran anakku sukses menyanyikan lagu itu saat konser mini di PCMS Jalan Bungur, Bu Ira pun memintanya menyanyikan lagu itu di perlombaan antar-TK.

Sekitar pukul 10.00 WIB, aku dan Gisavo tiba di TK Islam Al Muhajir yang jaraknya dekat dengan rumah mertua. Di sana, anak-anak yang hendak mengikuti lomba sudah berkumpul. Untuk mengikuti lomba di TK Lestari, istriku menyuruh aku memakaikan Gisavo baju batik dengan bahan kain yang cukup tebal. Sementara untuk tampil di Riau Junction, istriku menyiapkan kemeja dan rompi. Tak urung, baru saja tiba di TK Islam Al Muhajir, anakku sudah kegerahan. Namanya anak-anak, saat menunggu giliran latihan, Gisavo sibuk bermain bola. Begitu giliran latihan, keringat mengucur deras dari keningnya. Beruntung, latihan berjalan sempurna. Anakku masih hapal betul lagu “Cinta untuk Mama”. Tapi, usai latihan, dia merajuk minta ganti baju. “Pak, bajunya gatel,” ujarnya. Yah, ketimbang bete saat manggung, akhirnya kami kembali pulang ke rumah mertua. Dengan terpaksa, aku memakaikannya baju untuk pentas di Riau Junction.

Setelah ganti baju, aku dan Gisavo kembali ke TK. Ternyata, berdasarkan informasi, perlombaan baru dimulai siang. Sekitar pukul 11.00 WIB, rombongan "artis cilik" dari TK Islam Al Muhajir berangkat ke TK Lestari yang jaraknya tidak jauh dari Al Muhajir. Begitu tiba di TK Lestari, Bu Ira langsung sibuk membawa anak didiknya ke belakang panggung, termasuk Gisavo. Beberapa saat kemudian, ia membawa nomor peserta. Anakku ternyata kebagian nomor 22. Berdasarkan hitungan waktu, kemungkinan ia baru naik panggung setelah Azan Zuhur. Duuuh, lama juga aku harus bersabar membuatnya tetap merasa nyaman dan tidak bete sebelum naik panggung. Sampai Azan Duhur usai, aku berhasil membuatnya tetap nyaman. Namun, peserta yang tampil, belum sampai belasan. Kemungkinan anakku baru tampil sekitar pukul 13.00 WIB. Benar saja, sekitar pukul 13.00 WIB, Gisavo dipanggil ke atas panggung. Seperti biasa, ia disambut tepukan ibu-ibu TK, terutama Bu Ira. Kak Irwan yang sebelumnya mengiringi anak-anak TK menyanyi, turun dari panggung, karena saat tampil, Gisavo diiringi musik dari minus one.

Penampilan Gisavo di panggung cukup menarik perhatian penonton. Wajar memang, mengingat lagu yang dibawakannya terbilang sulit. Terlebih lagi, 21 anak TK yang tampil sebelumnya, hanya menyanyikan lagu anak-anak yang standar. Bait demi bait syair berhasil ia lantunkan. Termasuk saat harus mengambil nada tinggi. Aku yang saat itu memegang handycam sempat merinding melihatnya tampil dan melantunkan bait demi bait syair lagu tanpa cacat sedikit pun. Bu Ira yang berdiri tepat di depan panggung, terlihat bahagia. Selesai bernyanyi, Kak Irwan mengangkat tubuh kecil anakku tinggi-tinggi, seolah sudah menjadi juara. Ah, aku tak terlalu berharap dia juara. Melihat penampilan Gisavo di atas panggung yang mengundang aplaus penonton saja sudah cukup.

Gisavo kemudian turun dari panggung. Bu Ira sudah menyambutnya dengan pelukan dan ciuman. Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB lebih. “Sepertinya aku tak bisa lama-lama lagi berada di sini,” ujarku dalam hati. Maka, begitu Gisavo selesai mengikuti lomba, aku pamit. Panggung lain masih menunggu anakku. Meski jadwal pentas di Riau Junction sekitar pukul 15.30 WIB, tetap saja aku harus bergegas karena berencana mengambil mobil di Karawitan, rumah orangtuaku. Hmmm, tugas masih belum selesai. Aku juga belum memberi makan Gisavo. “Gisa, nanti sebelum pergi, makan dulu di Karawitan yaa,” kataku. Gisavo mengangguk. Kami berdua berangkat menaiki motor. Seperti biasa, Gisavo duduk di depan. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.15 WIB. Hmmmm, seharusnya siang ini adalah jadwal tidur anakku. Sepanjang jalan, aku khawatir dia tertidur. Kalau sampai tertidur, dia pasti gagal pentas di Riau Junction. (bersambung)

Read more »

Rabu, 04 Februari 2009

Selamat Tinggal Kawan.......

Awan hitam masih saja menggulung di langit Kantor Biro SINDO Jabar Jalan Aceh 62 hingga menelan sebagian bulan. Sesekali gulungannya bergerak ditiup angin kencang. Dingin menusuk pori-pori. “Sepertinya ini malam terakhir aku di sini,” pikirku sembari menatap bulan yang makin tertutup awan. Sejenak aku pergi menaiki motor. Menghela napas panjang di depan sebuah kios Jalan Lombok, tidak jauh dari kantor biro. Sebatang garam filter dinyalakan. Diisap dalam-dalam lalu asapnya dikeluarkan perlahan. Terlihat jelas membentuk huruf O karena tersorot lampu Kijang Silver yang hendak melintas di depanku. Lima menit berlalu. “Saatnya bicara,” ujarku sambil menyalakan motor Vega oranye yang sudah menjadi teman setiaku bekerja.

Kursi di belakang kantor mengajakku duduk. Tak ada lampu penerang. Aku menelepon Yogi yang berada di ruang redaksi dan memintanya datang. “Mang sibuk?” tanyaku. “Henteu mang,” sahut Yogi. “Saya hayang ngobrol. Ditunggu di kursi belakang,” jawabku. “Oke mang,” jawab Yogi lagi. Entahlah, tiba-tiba detak jantung berubah begitu saat Yogi datang memenuhi permintaanku. Saat itu, aku merasa sangat kesulitan merangkai kata. “Ada apa mang?” tanya Yogi. Ah, betul-betul saat yang sulit. Jari tanganku menjelajah mencari lagi sebatang rokok. “Mang, mulai besok saya sigana cabut. Moal aya di dieu deui,” kataku, kembali sambil menyalakan rokok. Yogi tak banyak mengeluarkan kata. Dia memilih diam, menunggu aku selesai bicara. “Di sini status saya masih belum jelas Gi, jadi mendingan mencari kesempatan di tempat baru,” aku berusaha menerangkan.

Seolah sudah terbiasa dengan ucapan itu, Yogi hanya mengangguk. Ia mengaku tak bisa melarang aku pergi di tengah kondisi kantor yang tidak pasti. Kami tak banyak bicara. “Saya teu bisa ngomong nanaon deui mang. Mudah-mudahan sukses di tempat baru. Mungkin, secara formal harus ada surat pengunduran diri,” kata Yogi datar. Sejenak aku terdiam. “Ah, sepertinya tidak perlu Gi. Kontrak saya kan sudah habis tanggal 31 Desember kemarin? Terus belum ada lagi perpanjangan kontrak,” jawabku. Yogi terdiam. Tapi dalam hati, aku tetap akan menyampaikan surat pengunduran resmi kepada kantor keesokan harinya. “Hampura mang, ini memang pilihan sulit, tapi mau bagimana lagi?” ucapku. “Teu nanaon mang. Mudah-mudahan sukses di tempat baru,” kata Yogi. “Besok semua proses administrasi akan diurus Gi,” kataku lagi. “Oke mang, ditunggu,” jawab Yogi.

Hari semakin malam dan awan hitam masih saja menggulung di langit Kantor Biro SINDO Jabar. Malam itu sebuah pertemuan kecil digelar. Ya, hanya pertemuan kecil yang terdiri dari aku, Rudini, Wisnoe, Rohmat, Kris, dan Dasir. Mereka menanyakan alasan kepergianku. Aku menjelaskan apa adanya. Wisnu terdiam. Dia tidak banyak mengeluarkan kata-kata. “Sorry kawan, aku tak pernah bermaksud meninggalkan kalian. Tapi, ketidakjelasan ini membuatku gelisah,” kataku menjawab pertanyaan mereka. “Kenapa baru cerita sekarang mang?” tanya Wisnoe. “Maaf Noe, aku akan bicara kalau sudah pasti,” sesalku. Wisnoe memaklumi. Dia hanya menyesalkan kepergian kawan-kawan yang selalu mendadak. “Kenapa semua selalu mendadak,” sesalnya. Aku merangkul Wisnoe. Setelah cukup lama berbincang, aku pun pamit. Kali ini betul-betul pamit meninggalkan mereka. Sayang, Epoy bonsai kecilku tak hadir dalam pertemuan kecil itu karena sakit. “Doakan aku kawan,” pintaku. Aku memeluk mereka satu persatu. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.45 WIB. Sepanjang jalan menuju rumah, masih terbayang wajah kawan-kawan di biro saat bergelut dengan kesibukan mengejar deadline. Ah, wajah-wajah yang selalu membuatku tertawa sedih. “Bismillah, mudah-mudahan ini jalan terbaik. Selamat tinggal kawan,” ucapku dalam hati.

Read more »