Minggu, 17 Mei 2009

Satu Lagu Dua Panggung (2)

Perjalanan dari Margahayu Raya menuju Karawitan sungguh terasa lama. Seperti sudah kuduga, di atas motor Gisavo mulai tertidur. Meski setiap ditanya dia selalu membantah tertidur, aku bisa melihat sorot matanya yang lelah. Di tengah perjalanan, aku kembali mengajukan satu pertanyaan. “Gisa masih mau nyanyi ga?” tanyaku. “Masih pak. Kan nanti sore, Gisa nyanyi lagi,” jawabnya semangat. Syukurlah, dalam keadaan mengantuk, anakku masih bersemangat tampil di panggung.

Kami tiba di Karawitan sekitar pukul 13.45 WIB. Turun dari motor, Gisavo langsung memburu kursi panjang di ruang tengah. “Pak, boleh ga Gisa tidur dulu. Ngantuk,” pintanya. Melihat kondisinya yang sudah lemah, aku pun mengiyakan permintaan Gisavo, meski seharusnya siang itu adalah waktu makan siangnya. Ketimbang nanti tidak bisa mentas karena mengantuk, mending mengikuti permintaannya untuk tidur. Melihat Gisavo terbaring, aku pun ikut berbaring. Namun, baru saja mata terpejam, Gisavo membangunkanku. “Pak, tidurnya nanti aja. Kita berangkat sekarang aja yuk!” ajaknya. Aku bangun lantas memperhatikan jam dinding. Wah, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Khawatir terlambat tiba di Riau Junction, aku mengiyakan ajakan Gisavo.

Mesin Mazda silver kunyalakan. Gisavo tampak senang. Duduk di jok depan, ia menyandarkan tubuhnya. Sesekali ia bernyanyi. “Gisa bener masih mau nyanyi?” aku kembali bertanya. “Masih pak, Gisa mau ketemu sama Oom Deni,” jawabnya. Oom Deni adalah guru vokal Gisavo di Purwa Caraka Music Studio (PCMS) Jalan Sriwijaya. Seperti biasa, setiap akhir pekan Jalan Riau kerap dilanda macet. Meski begitu, kami tiba di Riau Junction lebih cepat dari waktu yang ditetapkan. Sekitar pukul 15.00 WIB, kami tiba di lokasi tersebut. “Pak, Gisa ngantuk lagi…” ucapnya begitu mobil sampai di tempat parkir. Wah, celaka. “Jangan tidur dulu Gi, nanti aja abis nyanyi. Katanya Gisa masih mau nyanyi?” aku berusaha membujuknya. Mata kanak-kanak Gisa menerawang, seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku berdebar menunggu jawabannya. “Eh, gak jadi pak. Ngantuknya udah hilang,” jawabnya. Fiuhh, aku kembali tenang mendengar jawabannya.

Kami bergegas berjalan ke lantai II Riau Junction, tepatnya ke Toko Yogya. Di sana, tampak sebuah panggung kecil yang dipasang di pusat keramaian. Seorang staf PCMS Jalan Sriwijaya, Teh Uci terlihat menunggu di dekat panggung sambil berbincang dengan seseorang. Aku mendekatinya untuk memberitahu kedatangan kami. “Nanti, nyanyinya sekitar jam 4-an,” kata Teh Uci. Hmmm, ternyata acaranya baru dimulai sekitar pukul 16.00 WIB. Berarti aku masih harus bekerja keras membuat Gisavo tetap segar dan tidak mengantuk. Sambil menunggu acara dimulai, aku ajak Gisavo mengelilingi Riau Junction, meski lama-lama dia bosan juga. Setengah jam berlalu. Istriku tiba-tiba telepon. Ia memberi kabar akan menyusul ke Riau Junction dari PCMS Cimahi dengan menumpang ojek. “Tuh Gi, mamah barusan telepon, katanya mau dateng ke sini. Makanya Gisa jangan tidur dulu ya,” ujarku. “Iya pak, Gisa mau nunggu mamah,” jawab anakku.

Kami duduk di dekat panggung. Kebetulan, lokasi panggung berada di lingkungan mainan anak-anak. Untungnya lagi, ada satu mainan yang bebas dipakai siapa saja. Sambil menunggu pentas, anakku bermain di tempat tersebut. Istriku tiba beberapa saat sebelum Gisa naik panggung. Ia terpaksa harus merelakan uang Rp25 ribu buat bayar ojek dari Cimahi ke Riau Junction. Gisavo kebagian pentas nomor dua. Ia duduk di belakang panggung bersama siswa PCMS yang saat itu juga terpilih menyanyi di Riau Junction. Lucu juga melihat dia duduk di antara beberapa kawannya yang sudah besar. Memang, di lingkungan PCMS, anakku merupakan siswa paling kecil baik dari usia, maupun perawakan.

Waktu pentas akhirnya tiba. Lantaran siswa PCMS yang kebagian nomor 1 belum datang, Gisavo dipanggil pertama oleh pembawa acara. Dengan wajah polos, ia menaiki panggung. Penampilannya lagi-lagi menarik perhatian dua pembawa acara. Mereka sempat berceloteh, meragukan kemampuan anakku bernyayi. “Waah, kecil banget. Bisa ga ya nyanyi?” tanyanya. Saat itu, penonton masih sepi karena pengunjung sibuk berbelanja. “Mau nyanyi apa dek?” tanya pembawa acara. “Cinta untuk mama,” jawab Gisa sambil memegang pelantang dengan kedua tangannya. Musik sudah terdengar. Anakku melangkah maju. Suara kanak-kanaknya terdengar keras, membuat pengunjung Toko Yogya sejenak mengalihkan pandangannya ke arah panggung. “Apa yang kuberikan untuk mama.. untuk mama… tersayang…” begitu bait pertama lagu itu terdengar, pengunjung pun bertepuk. Ya, hari itu tugasku sebagai “manajer” tuntas sudah. Terima kasih anakku, meski lelah, kamu masih mampu menyanyikan satu lagu panjang di atas dua panggung dalam satu hari. (tamat)

Read more »

Kamis, 07 Mei 2009

Satu Lagu Dua Panggung (1)

Sabtu (25/4) lalu barangkali merupakan hari yang cukup melelahkan bagi Gisavo Lembayung Lelaki Akbar. Bocah yang pada 30 Agustus mendatang baru berusia 5 tahun itu mengikuti dua kegiatan menyanyi sekaligus dalam satu hari. Siang hari ia harus mengikuti lomba nyanyi di Taman Kanak-kanak Lestari, sementara sore hari ia diminta melantunkan suara emasnya di Riau Junction Jalan Riau bersama kawan-kawan sesama anak didik Purwa Caraka Music Studio (PCMS). Hmmm, betul-betul hari yang melelahkan buat anak seumuran dia.

Yang ketiban pulung tentu saja orang tuanya, terutama aku. Lantaran setiap Sabtu istriku bekerja dari pagi hingga sore di Kota Cimahi, akulah yang harus menjaga Gisavo agar bisa tampil prima di dua kegiatan sekaligus dalam satu hari. Beruntung, sebelumnya, istriku sudah menyiapkan segala keperluan Gisavo seperti dua baju untuk pentas dan makan siang. Aku pun diberi sedikit bekal buat jaga-jaga, khawatir sang artis ingin membeli mainan di sela-sela pentas. “Titip Gisa. Jangan sampai dia bete. Nanti penampilannya keganggu,” begitu pesan istriku sebelum dia berangkat kerja sekitar pukul 07.30 WIB. Tapi lihatlah Gisavo. Di saat kami berdua sibuk, dia masih tertidur pulas memeluk guling.

Hari itu Gisavo memang dianjurkan tidak sekolah. Namun, Bu Ira, guru TK Islam Al Muhajir –tempat Gisavo sekolah- menyuruh anakku datang sekitar pukul 10.00 WIB untuk berlatih sebelum naik panggung. Di TK Islam Al Muhajir, Bu Ira memang dikenal paling aktif mengajak anak didiknya tampil di acara kesenian. Ia juga tampak paling bersemangat mengajarkan anakku bernyanyi sambil bergaya, diiringi permainan keyboard Kak Irwan. Nah, tidak seperti anak-anak lainnya yang mengikuti lomba nyanyi dengan diiringi keyboard Kak Irwan, Gisavo diminta membawakan lagu “Cinta untuk Mama”. Lagu itu pernah dia nyanyikan waktu konser kecil di PCMS Jalan Bungur yang digelar guru vokalnya, Kang Deni. Walhasil, dia diminta membawa minus one lagu “Cinta untuk Mama” saat tampil. Lagu itu terbilang sulit dinyanyikan untuk ukuran anak-anak seusia Gisavo. Selain syairnya panjang, musik yang mengiringinya juga turun naik. Lantaran anakku sukses menyanyikan lagu itu saat konser mini di PCMS Jalan Bungur, Bu Ira pun memintanya menyanyikan lagu itu di perlombaan antar-TK.

Sekitar pukul 10.00 WIB, aku dan Gisavo tiba di TK Islam Al Muhajir yang jaraknya dekat dengan rumah mertua. Di sana, anak-anak yang hendak mengikuti lomba sudah berkumpul. Untuk mengikuti lomba di TK Lestari, istriku menyuruh aku memakaikan Gisavo baju batik dengan bahan kain yang cukup tebal. Sementara untuk tampil di Riau Junction, istriku menyiapkan kemeja dan rompi. Tak urung, baru saja tiba di TK Islam Al Muhajir, anakku sudah kegerahan. Namanya anak-anak, saat menunggu giliran latihan, Gisavo sibuk bermain bola. Begitu giliran latihan, keringat mengucur deras dari keningnya. Beruntung, latihan berjalan sempurna. Anakku masih hapal betul lagu “Cinta untuk Mama”. Tapi, usai latihan, dia merajuk minta ganti baju. “Pak, bajunya gatel,” ujarnya. Yah, ketimbang bete saat manggung, akhirnya kami kembali pulang ke rumah mertua. Dengan terpaksa, aku memakaikannya baju untuk pentas di Riau Junction.

Setelah ganti baju, aku dan Gisavo kembali ke TK. Ternyata, berdasarkan informasi, perlombaan baru dimulai siang. Sekitar pukul 11.00 WIB, rombongan "artis cilik" dari TK Islam Al Muhajir berangkat ke TK Lestari yang jaraknya tidak jauh dari Al Muhajir. Begitu tiba di TK Lestari, Bu Ira langsung sibuk membawa anak didiknya ke belakang panggung, termasuk Gisavo. Beberapa saat kemudian, ia membawa nomor peserta. Anakku ternyata kebagian nomor 22. Berdasarkan hitungan waktu, kemungkinan ia baru naik panggung setelah Azan Zuhur. Duuuh, lama juga aku harus bersabar membuatnya tetap merasa nyaman dan tidak bete sebelum naik panggung. Sampai Azan Duhur usai, aku berhasil membuatnya tetap nyaman. Namun, peserta yang tampil, belum sampai belasan. Kemungkinan anakku baru tampil sekitar pukul 13.00 WIB. Benar saja, sekitar pukul 13.00 WIB, Gisavo dipanggil ke atas panggung. Seperti biasa, ia disambut tepukan ibu-ibu TK, terutama Bu Ira. Kak Irwan yang sebelumnya mengiringi anak-anak TK menyanyi, turun dari panggung, karena saat tampil, Gisavo diiringi musik dari minus one.

Penampilan Gisavo di panggung cukup menarik perhatian penonton. Wajar memang, mengingat lagu yang dibawakannya terbilang sulit. Terlebih lagi, 21 anak TK yang tampil sebelumnya, hanya menyanyikan lagu anak-anak yang standar. Bait demi bait syair berhasil ia lantunkan. Termasuk saat harus mengambil nada tinggi. Aku yang saat itu memegang handycam sempat merinding melihatnya tampil dan melantunkan bait demi bait syair lagu tanpa cacat sedikit pun. Bu Ira yang berdiri tepat di depan panggung, terlihat bahagia. Selesai bernyanyi, Kak Irwan mengangkat tubuh kecil anakku tinggi-tinggi, seolah sudah menjadi juara. Ah, aku tak terlalu berharap dia juara. Melihat penampilan Gisavo di atas panggung yang mengundang aplaus penonton saja sudah cukup.

Gisavo kemudian turun dari panggung. Bu Ira sudah menyambutnya dengan pelukan dan ciuman. Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB lebih. “Sepertinya aku tak bisa lama-lama lagi berada di sini,” ujarku dalam hati. Maka, begitu Gisavo selesai mengikuti lomba, aku pamit. Panggung lain masih menunggu anakku. Meski jadwal pentas di Riau Junction sekitar pukul 15.30 WIB, tetap saja aku harus bergegas karena berencana mengambil mobil di Karawitan, rumah orangtuaku. Hmmm, tugas masih belum selesai. Aku juga belum memberi makan Gisavo. “Gisa, nanti sebelum pergi, makan dulu di Karawitan yaa,” kataku. Gisavo mengangguk. Kami berdua berangkat menaiki motor. Seperti biasa, Gisavo duduk di depan. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.15 WIB. Hmmmm, seharusnya siang ini adalah jadwal tidur anakku. Sepanjang jalan, aku khawatir dia tertidur. Kalau sampai tertidur, dia pasti gagal pentas di Riau Junction. (bersambung)

Read more »

Rabu, 04 Februari 2009

Selamat Tinggal Kawan.......

Awan hitam masih saja menggulung di langit Kantor Biro SINDO Jabar Jalan Aceh 62 hingga menelan sebagian bulan. Sesekali gulungannya bergerak ditiup angin kencang. Dingin menusuk pori-pori. “Sepertinya ini malam terakhir aku di sini,” pikirku sembari menatap bulan yang makin tertutup awan. Sejenak aku pergi menaiki motor. Menghela napas panjang di depan sebuah kios Jalan Lombok, tidak jauh dari kantor biro. Sebatang garam filter dinyalakan. Diisap dalam-dalam lalu asapnya dikeluarkan perlahan. Terlihat jelas membentuk huruf O karena tersorot lampu Kijang Silver yang hendak melintas di depanku. Lima menit berlalu. “Saatnya bicara,” ujarku sambil menyalakan motor Vega oranye yang sudah menjadi teman setiaku bekerja.

Kursi di belakang kantor mengajakku duduk. Tak ada lampu penerang. Aku menelepon Yogi yang berada di ruang redaksi dan memintanya datang. “Mang sibuk?” tanyaku. “Henteu mang,” sahut Yogi. “Saya hayang ngobrol. Ditunggu di kursi belakang,” jawabku. “Oke mang,” jawab Yogi lagi. Entahlah, tiba-tiba detak jantung berubah begitu saat Yogi datang memenuhi permintaanku. Saat itu, aku merasa sangat kesulitan merangkai kata. “Ada apa mang?” tanya Yogi. Ah, betul-betul saat yang sulit. Jari tanganku menjelajah mencari lagi sebatang rokok. “Mang, mulai besok saya sigana cabut. Moal aya di dieu deui,” kataku, kembali sambil menyalakan rokok. Yogi tak banyak mengeluarkan kata. Dia memilih diam, menunggu aku selesai bicara. “Di sini status saya masih belum jelas Gi, jadi mendingan mencari kesempatan di tempat baru,” aku berusaha menerangkan.

Seolah sudah terbiasa dengan ucapan itu, Yogi hanya mengangguk. Ia mengaku tak bisa melarang aku pergi di tengah kondisi kantor yang tidak pasti. Kami tak banyak bicara. “Saya teu bisa ngomong nanaon deui mang. Mudah-mudahan sukses di tempat baru. Mungkin, secara formal harus ada surat pengunduran diri,” kata Yogi datar. Sejenak aku terdiam. “Ah, sepertinya tidak perlu Gi. Kontrak saya kan sudah habis tanggal 31 Desember kemarin? Terus belum ada lagi perpanjangan kontrak,” jawabku. Yogi terdiam. Tapi dalam hati, aku tetap akan menyampaikan surat pengunduran resmi kepada kantor keesokan harinya. “Hampura mang, ini memang pilihan sulit, tapi mau bagimana lagi?” ucapku. “Teu nanaon mang. Mudah-mudahan sukses di tempat baru,” kata Yogi. “Besok semua proses administrasi akan diurus Gi,” kataku lagi. “Oke mang, ditunggu,” jawab Yogi.

Hari semakin malam dan awan hitam masih saja menggulung di langit Kantor Biro SINDO Jabar. Malam itu sebuah pertemuan kecil digelar. Ya, hanya pertemuan kecil yang terdiri dari aku, Rudini, Wisnoe, Rohmat, Kris, dan Dasir. Mereka menanyakan alasan kepergianku. Aku menjelaskan apa adanya. Wisnu terdiam. Dia tidak banyak mengeluarkan kata-kata. “Sorry kawan, aku tak pernah bermaksud meninggalkan kalian. Tapi, ketidakjelasan ini membuatku gelisah,” kataku menjawab pertanyaan mereka. “Kenapa baru cerita sekarang mang?” tanya Wisnoe. “Maaf Noe, aku akan bicara kalau sudah pasti,” sesalku. Wisnoe memaklumi. Dia hanya menyesalkan kepergian kawan-kawan yang selalu mendadak. “Kenapa semua selalu mendadak,” sesalnya. Aku merangkul Wisnoe. Setelah cukup lama berbincang, aku pun pamit. Kali ini betul-betul pamit meninggalkan mereka. Sayang, Epoy bonsai kecilku tak hadir dalam pertemuan kecil itu karena sakit. “Doakan aku kawan,” pintaku. Aku memeluk mereka satu persatu. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.45 WIB. Sepanjang jalan menuju rumah, masih terbayang wajah kawan-kawan di biro saat bergelut dengan kesibukan mengejar deadline. Ah, wajah-wajah yang selalu membuatku tertawa sedih. “Bismillah, mudah-mudahan ini jalan terbaik. Selamat tinggal kawan,” ucapku dalam hati.

Read more »

Selasa, 03 Februari 2009

Memecahkan Misteri Rumah Gurita (2)


Tepat di depan rumah Jalan Sukadamai No 6 kami berhenti. Aku menekan bel yang terpasang di tembok sebelah kanan pagar. Baban berteriak mengucapkan salam. Tak ada jawaban. Sekali lagi Baban berteriak dan kali ini pintu garasi terbuka. Seorang lelaki tua keluar menyapa kami dari balik pagar. Ia tidak mau membuka pagar. “Kami wartawan pak, mau tanya-tanya soal rumah gurita,” aku membuka pembicaraan. Baban menimpali. “Iya pak, mungkin kita bisa masuk melihat-lihat rumah,” kata Baban. Lelaki itu menolak dengan halus. Dia mengaku tidak bisa mengizinkan kami masuk karena pemilik rumah sedang tidak ada. “Kebetulan yang punya rumah tidak ada,” jawab lelaki itu. Pintu pagar masih tertutup rapat. “Ga apa-apa pak, kami mengerti. Bisa ngobrol sebentar? Kita mau tahu soal rumah itu, sekalian meluruskan isu yang beredar tentang adanya kegiatan ajaran sesat di rumah itu,” kata Baban. “Ah, tidak benar. Memang, saya juga dengar kalau rumah ini ramai dibicarakan di internet. Katanya rumah setan lah, atau angker. Tapi semua tidak benar,” jawab lelaki berambut pendek itu.

Menurut dia, rumah tersebut memang milik Frans. Dulu, kata dia, Frans berprofesi sebagai pelaut. Itulah alasannya, kenapa di rumah tersebut bertengger patung gurita. “Pak Frans itu pelaut dan lebih banyak menghabiskan waktu di lepas pantai. Patung gurita itu dibangun menutupi rumah karena beliau senang gurita. Selain gurita juga ada patung ular, dan kumang,” terang lelaki itu. Lelaki itu menambahkan, patung gurita itu juga berfungsi sebagai tempat makan. “Kalau ada acara, Pak Frans dan teman-temannya, berkumpul di bawah patung gurita itu,” katanya. Di tengah pembicaraan, seorang lelaki lagi, kali ini tampak berusia lebih tua, keluar dari garasi. Ia memperhatikan kami bertiga namun tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya sejenak, ia kembali masuk. Tak berapa lama kemudian, lelaki yang berbincang dengan kami dipanggil masuk. “Wah sial, kita tak sempat menanyakan namanya,” sesal Baban. “Iya Ban, soalnya keburu dipanggil masuk,” jawabku. Karena belum sempat pamit dan menutup pembicaraan, kami berharap lelaki itu keluar lagi. Aku bergeser agak menjauhi Baban, kembali memperhatikan kondisi rumah. Baban masih berada di depan pagar. Dari luar, aku mendengar percakapan di dalam garasi. Namun tidak begitu jelas. “Wah Ban, kayaknya si bapak tadi lagi diceramahin, gara-gara banyak ngomong,” ujarku. “Iya Kang, sigana mah,” timpal Baban.

Kami masih menanti lelaki itu keluar lagi dan bisa melanjutkan pembicaraan. Penantian berujung baik. Lelaki tadi keluar, kali ini bersama tiga penghuni lainnya. Satu lelaki tua yang memperhatikan kami tadi, dan dua wanita. Baban tersenyum, bermaksud mendekati lelaki tadi. Di luar dugaan, lelaki tua itu marah. Dengan nada tinggi, dia meminta kami pergi. Suaranya bergetar. Ia juga berusaha mendekati Baban. “Rek naon deui ieu teh? Geus, euweuh nanaon!!” teriak lelaki tadi sambil mendekati Baban dengan menaiki motor. Kontan saja, sejumlah warga keluar mengerumuni kami, termasuk seorang pedagang kupat tahu yang sedang mangkal di depan Kantor Pos Cabang Cipedes. Baban sedikit mundur. “Ngga Pak, sudah, kita juga mau pulang,” kata Baban. Aku mendekati Baban dan berusaha menjelaskan maksud kedatangan kami ke rumah tersebut. “Kita kan sudah tanya sama bapak, siapa yang bisa diajak bicara soal rumah gurita. Kalau bapak keberatan tidak apa-apa,” aku mencoba menjelaskan. “Iya!! Tapi semua tidak benar. Tidak ada apa-apa di rumah ini,” kata lelaki itu, masih dengan nada tinggi. Tiga penghuni rumah lainnya berusaha menenangkan. Bahkan, lelaki tua lain yang belakangan diketahui bernama Adun, menyuruh temannya itu pergi. “Geus indit maneh!!” teriak dia. Beberapa warga merangkul kami berdua agar menjauh dari rumah. Namun, kami masih ingin menjelaskan maksud kedatangan ke rumah tersebut.

“Sebentar pak. Kita bukan ingin memperburuk keadaan, tapi justru ingin meluruskan pemberitaan miring soal rumah gurita yang banyak dibahas di internet,” kata Baban. Aku mengiyakannya. “Iya pak, kami juga datang ke sini baik-baik dan meminta izin terlebih dulu. Jadi bapak tidak perlu marah-marah,” aku menimpali omongan Baban. Lelaki itu tidak menjawab. Wajahnya agak memerah. Napasnya juga tersengal-sengal. Di atas motor, dia menatap kami. Penjelasan kami kemudian ditanggapi oleh seorang wanita bernama Leni yang keluar bersama lelaki tadi. “Silakan saja orang menilai macam-macam, itu hak mereka. Tapi tidak ada apa-apa di sini. Ini hanya rumah biasa,” kata dia. Selang beberapa menit kemudian, lelaki yang memarahi kami pergi. “Maaf, ibu penunggu rumah ini,” tanyaku. “Iya, saya kerabatnya,” jawab dia. Aku dan Baban lantas menyampaikan maaf jika dianggap mengganggu ketenangan penghuni rumah. “Oke bu, kalau memang kami tidak bisa masuk, tidak apa-apa. Maaf kalau kami mengganggu ketenangan ibu,” ujarku sekalian pamit. Kami bersalaman. Ibu Leni pun mengucapkan maaf atas kejadian tadi dan menggembok pagar rumah.

Sejenak, kami kemudian berbincang dengan warga. Niat memecahkan misteri rumah gurita langsung dari sumbernya gagal. Baban mengajak pergi mencari rumah RT setempat. Setelah bertanya kepada sejumlah warga, kami menemukan rumah RT 5 RW 5 Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Sukajadi. Namanya Ibu Afnizar, 57. Dengan ramah, Afnizar menceritakan soal rumah gurita tersebut. Menurut Afnizar, kabar di internet yang menyatakan di dalam rumah gurita terdapat aktivitas sekte terlarang tidak dapat dibuktikan. “Saya memang pernah mendapat kabar dari internet bahwa di rumah tersebut ada sebuah sekte atau kelompok, tapi sepengetahuan saya tidak ada aktivitas seperti di internet di tempat tersebut,” kata Afnizar. Dia lantas membuka buku data penghuni rumah di RT 5. Data itu menyebutkan, pemilik rumah gurita bernama Frans Halimawan, 62, dan istrinya bernama Leni Sudrajat. Afnizar menambahkan, selama ini, rumah tersebut ditempati oleh tiga orang, dua perempuan dan seorang laki-laki. “Selama ini yang saya kenal pemilik rumah cukup baik,” tutur Afnizar.

Afnizar kemudian mengatakan, pemilik rumah tersebut memang tinggal di Jakarta bersama kedua anaknya masing-masing David dan Daniel. “Empat tahun menjabat sebagai ketua RT, saya tidak pernah mendapatkan laporan warganya terkait dengan isu yang beredar di internet tentang rumah gurita,” kata dia. Pencarian data selesai. Setelah merasa cukup mendapatkan data pelengkap, kami pamit. Meski tidak puas dengan hasil liputan, kami tetap akan menuliskan misteri rumah gurita menjadi sebuah berita lewat sumber-sumber lain. Siang itu pukul 12.00 WIB. Hujan masih juga belum reda. Melintasi Jalan Pasteur, butirannya kembali menerpa wajah kami. Hmmmm, berusaha memecahkan misteri rumah gurita bersama Baban cukup menyenangkan juga. Sama halnya saat dua tahun lalu berusaha memecahkan misteri mobil wilis yang konon masih terkubur di Pasar Kosambi, juga bersama seorang teman. (Tamat)

Read more »

Senin, 02 Februari 2009

Memecahkan Misteri Rumah Gurita (1)


Butiran air hujan menerpa wajahku saat melintas di Jalan Layang Paspati dengan menaiki motor tadi pagi. Ini terjadi lantaran kaca helm tidak ditutup. Cukup merepotkan memang, dan tentunya membuat mata perih. Tapi kalau kaca helm ditutup, lebih merepotkan lagi karena pemandangan jadi terhalang. Baban, wartawan tangguh dari detikbandung.com sudah berada di depan dengan motor Shogun kesayangannya. Sepertinya dia juga mengalami hal yang sama, tertimpa butiran hujan yang tampak kurang bersahabat. Jaket yang dipakainya sedikit berkibar, pertanda angin begitu kencang. Hari itu, meski diguyur hujan gerimis, kami bertekad berangkat menuju Komplek Perumahan Sukadamai di kawasan Pasteur untuk mengungkap misteri rumah Gurita yang kembali ramai dibicarakan di jagat maya.

Ide mengungkap misteri rumah Gurita memang dilontarkan Baban hari Minggu (1/2) lalu usai meliput ekspos kasus kejahatan jalanan selama 10 hari di Polresta Bandung Barat. Mantan aktivis kampus yang fotonya pernah nampang di Harian Metro Bandung (sekarang Tribun Jabar) tahun 2003 silam itu mengaku penasaran dengan keberadaan rumah gurita. Konon, berdasarkan hasil pencariannya di sejumlah blog, rumah tersebut terbilang angker. Bahkan, ada juga yang menyebut rumah gurita sebagai tempat ibadah aliran sesat. “Kang, saya besok menulusuri rumah gurita. Kantor sudah setuju. Akang mau ikut?” ajak Baban. Penasaran dengan cerita misteri di balik rumah gurita, aku pun mengamini ajakannya. “Saya pagi-pagi kang. Bagusnya jam berapa?” tanya Baban mempertimbangkan waktu. “Bagusnya jam 9 aja Ban. Kalau jam 8, saya nganter anak dulu,” jawabku diiyakan Baban. “Besok kita kontak-kontak lagi,” ujar Baban.

Tadi pagi, pukul 08.00 WIB aku mengontak Baban, memastikan waktu dan tempat janjian. Baban memberi usul agar kita bertemu di Gedung Sate, tepatnya di sekitar bakso Cuankie tempat biasa mangkal kawan-kawan wartawan. Aku menyepakatinya. Setelah mengantar anak ke TK, aku langsung menyalakan motor dan meluncur ke Gedung Sate. Sial, gara-gara terjebak macet di kawasan Samsat perempatan Soekarno-Hatta, aku terlambat 10 menit tiba di Gedung Sate. Baban sudah menunggu. Sejenak mengisap rokok, kami akhirnya berangkat karena khawatir hujan keburu turun. Benar saja, baru saja beranjak hujan sudah mengguyur. Tidak begitu deras memang, tapi cukup mengganggu. Sedikit kuyup, kami tiba di Komplek Perumahan Sukadamai tidak jauh dari Hotel Grand Aquila. Tanpa mengalami banyak kesulitan, kami sampai di seberang rumah tersebut. Sepi. Tak ada aktivitas di rumah megah namun terlihat tak terurus itu. Baban mengeluarkan kamera HP, aku mengikuti langkahnya. Setelah mengambil beberapa gambar rumah gurita dari depan, kami bertanya pada seorang ibu yang sedang menyapu mengenai riwayat rumah tersebut. Tidak banyak data yang diperoleh. Ia hanya mengatakan, rumah gurita tersebut berada di belakang rumah di Jalan Sukadamai No 6 dan 47. Sementara pintu masuknya dari rumah No 6. Ibu itu lantas menyarankan kami bertanya kepada pemilik kios, tidak jauh dari tempat kami berdiri.

Sebelum beranjak, kami memperhatikan terlebih dulu detail rumah itu. Disebut rumah gurita, karena di atas rumah bertengger patung gurita menutupi hampir seluruh atapnya. Patung gurita itu berwarna gelap, sangat kontras dengan dinding rumah yang berwarna putih kusam. Bisa terlihat dari kejauhan, karena bentuk rumahnya yang megah dan tinggi, lebih tinggi dari rumah utama. Dua buah kaca besar bergambar kartu King dan Queen sekop, menghiasi bagian depan rumah tersebut. Di sebelah kaca utama terdapat gambar lelaki berjanggut. Tak jauh dari situ, terpasang lagi dua kaca yang masih bergambar kartu King dan Queen, kali ini dalam ukuran lebih kecil. Kaca bergambar kartu King dan Queen itu dikelilingi lukisan 8 wajah, 6 di atas dan 2 di bawah. Entah lukisan wajah siapa yang terpasang di kaca itu. Yang jelas, lukisan masing-masing wajah berbeda satu sama lain. Tidak hanya bisa dilihat dari Jalan Sukadamai, rumah gurita juga bisa dilihat dari Jalan Sukagalih. Dari sana, terlihat bagian belakang rumah dan patung gurita yang lebih jelas. Sementara dari Jalan Cipedes Selatan, terlihat bagian kaca pinggir rumah bergambar orang sedang menaiki kereta kuda.

“Rumah itu kepunyaan Pak Frans. Tapi orangnya jarang datang. Kalau tidak salah, sebelum Hotel Grand Aquilla dibangun, rumah itu sudah ada,” kata Yana, 37, pemilik kios yang ditunjukkan ibu tadi. Menurut Yana, karena bentuknya yang aneh, banyak orang yang bertanya-tanya mengenai rumah tersebut. “Banyak yang datang. Terus nanya yang aneh-aneh. Katanya dibilang rumah setan. Tapi, sejak saya buka kios tahun 1991, belum pernah ada sekelompok orang datang ke rumah itu,” kata Yana. Sebelum berbincang, kami memesan dua gelas kopi. Visto, 40, seorang house keeping Hotel Grand Aquilla yang kebetulan sedang berada di kios mengatakan, rumah tersebut memang menjadi perhatian banyak orang, terutama warga luar Bandung. “Warga Jakarta banyak yang sengaja menginap di Hotel Aquilla untuk melihat rumah gurita. Mereka nanya keberadaan rumah itu,” katanya. Cukup lama kami berbincang dengan Yana dan Visto. Namun, misteri rumah gurita itu sama sekali belum terbuka. Baik Yana maupun Visto mengaku hanya mendengar selentingan saja mengenai keberadaan rumah tersebut. Akhirnya, kami memutuskan mendatangi rumah Jalan Sukadamai No 6 yang disebut satu-satunya pintu masuk rumah gurita. Hujan masih terus mengguyur dan kopi pun sudah habis diminum.(bersambung)

Read more »

Rabu, 21 Januari 2009

Kembali ke Pulau Dewata

Setelah bercokol sejak April 2008 lalu di Biro SINDO Jabar, Putu Nova pulang ke tanah kelahirannya,Pulau Dewata Bali. Wartawan limpahan dari SINDO Bali ini akhirnya berhasil melepaskan keresahan yang menelikungnya selama ini dengan cara mengundurkan diri dari lingkungan kerja sejak hari ini. Hanya lewat sebuah SMS singkat, Putu menyampaikan kata perpisahan. “Teman, saya mohon maaf kalau selama tugas di Bandung punya kesalahan. Mulai hari ini saya undur diri dari SINDO sekaligus pamitan karena hari ini saya juga pulang ke Bali. Mari kita melangkah gapai sukses dari tempat yang berbeda. Trims teman,” begitu isi SMS yang mungkin dia kirim ke seluruh kawan-kawan. Aku tak sempat membalas SMS itu. Alasannya, apalagi kalau karena tidak punya pulsa. Ah, Putu, Putu, sejak balik lagi ke Bandung awal Januari lalu, aku memang tak sempat bicara banyak dengan wartawan yang satu ini. Terakhir, kita sempat piket sama-sama pada Senin (19/1) lalu dan seperti biasa Putu tidak banyak bicara kecuali menghabiskan segelas minuman.

Rencana kepergian Putu memang sudah aku dengar sebelumnya dari Yogi, sang kepala redaksi (kepred). Di tengah kesibukan menulis berita, Senin (19/1), Yogi menyapaku via Yahoo Messenger (YM). Katanya, dia ingin membicarakan sesuatu yang penting. Lantaran saat itu aku belum selesai mengetik berita, pembicaraan akhirnya berlangsung tengah malam setelah kantor sepi. Malam itu juga Yogi bercerita. Semua pembicaraan mengalir bagai air. Selain rencana keluarnya Putu, dia juga banyak bicara soal kondisi kantor, termasuk kedatangan pejabat SINDO Jakarta beberapa waktu lalu yang bikin resah wartawan di Biro Jabar khususnya Bandung. Tak ada kesimpulan. Pembicaraan terhenti dengan tetap masih menyisakan tanda tanya besar ditambah sebuah tanda seru di depannya. “Kita pikirkan lagi bagaimana rencana ke depan selanjutnya,” aku menutup pembicaraan dan Yogi pun mengiyakannya. Meski begitu, kerutan di dahinya tampak semakin meluas.

Malam ini, Krisiandi dan Rudini kebagian piket. Tapi di kantor, aku, Wisnoe, Yogi, dan Irvan masih bertahan di depan komputer. Yang lain sudah dari tadi pulang, termasuk Epoy si Bonsai kecil. Entahlah, hari ini dia tampak lebih banyak diam. Terpukul? Bisa jadi. Atau mungkin ia masih meratapi nasib karena belum juga naik gaji meski sudah diangkat. Irvan sibuk dengan pekerjaan sampingannya men-down load lagu dan Wisnoe chatting entah dengan siapa. Tidak jauh dari tempatku duduk, Krisiandi teriak-teriak tak karuan sambil mendengarkan musik lewat earphone. Sementara Yogi juga sibuk di depan komputer menikmati sebotol Coca cola. Rudini? Dia berada di ruangan lain, menunggu waktu yang semakin merayap menuju malam. Aku sendiri disibukkan dengan telepon dari redaktur Jakarta yang menanyakan berita mengenai korban salah tembak. Sebelumnya, Irvan yang selama ini berpasangan dengan Putu di ekonomi sempat bertanya pada Yogi. “Besok siapa yang garap ekonomi?” tanyanya karena besok, dia di-BKO-kan ke olahraga menyusul liburnya Taufik, wartawan sejati di dunia olahraga. Mendengar pertanyaan Irvan, Yogi menjawab sambil tersenyum. “Aing mang!!” serunya.

Putu sudah pergi, apakah ada yang akan menyusul kemudian? Entahlah. Yang jelas, kehilangan Putu tentu membuat kekuatan di Biro Jabar berkurang, dan secara pribadi, aku kehilangan teman piket. Tapi baiklah Putu, doaku pasti mengiringi kepergianmu dari ruang yang tak jelas ini untuk mencoba menganyam nasib menuju arah yang lebih baik lagi. Semoga jalan yang kau ambil membuahkan hasil yang manis. Selamat tinggal beli. Sampaikan kabar baik begitu kau tiba di Pulau Dewata nanti.

Read more »

Minggu, 18 Januari 2009

Meraih Mimpi Menjadi Afgan

Sudah 3 kali Sabtu, Gisavo anakku mengikuti les vokal di Purwacaraka Music Studio (PCMS) Jalan Sriwijaya. Di bawah bimbingan Oom Deni, seorang guru vokal PCMS, anakku belajar menyanyi, mulai dari olah vokal, sampai mengatur suara agar sesuai dengan nada dasar musik. Lantaran setiap Sabtu istriku bekerja mengajar keyboard di PCMS Cimahi, tugas mengantar Gisavo diserahkan kepadaku. Maka, setiap Sabtu pula sejak tanggal 3 Januari 2009, aku selalu mendengar lengkingan suara Gisavo saat berlatih menyanyi di salah satu ruangan dengan menggunakan pengeras suara, antara pukul 12.30 hingga 13.00 WIB. Logatnya yang masih cadel membuat dia sempat menjadi bahan tertawaan karyawan dan guru musik yang ada di lingkungan Kantor PCMS Sriwijaya . Bahkan, mereka pun sempat jadi ikut-ikutan cadel ketika bicara. Aku yang selalu menunggu di luar pintu masuk begitu Gisavo masuk salah satu ruangan, tertawa mendengar celotehan guru dan karyawan PCMS saat menirukan gaya cadelnya Gisavo. Hmm, ternyata keberadaan Gisavo di PCMS cukup menarik perhatian mereka. Sebab, dia satu-satunya murid vokal yang usianya belum sampai 5 tahun.

Sebetulnya keinginan Gisavo untuk mengikuti les vokal di PCMS sudah lama diutarakan. Kalau tidak salah, sekitar 3 bulan yang lalu. Saat itu, dia sempat dibawa istriku ke Kantor PCMS Jalan Sriwijaya dan melihat beberapa orang berlatih menyanyi. Dari sanalah keinginan itu muncul. Selain itu sejak usia 6 bulan, Gisavo sering sekali mendendangkan sebuah nyanyian meski tidak begitu jelas, terutama saat hendak tidur. Kemudian menginjak usia satu tahun, dia mulai berusaha mengikuti lagu yang sedang dimainkan oleh salah satu artis baik di televisi, radio, atau tape recorder. Nah, bakat meniru lagu-lagu mulai terlihat saat dia berusia 3 tahun. Hampir setiap lagu yang sedang hit saat itu dia hapal atau setidaknya bisa menyanyikannya sampai tamat. Tentu saja syair yang dinyanyikannya hanya sebatas yang dia dengar dan terkadang tidak sesuai dengan lirik sebenarnya. Tapi menghapal lagu yang baru sekali didengar untuk ukuran anak seusia dia, cukup lumayan.

Awalnya, sejumlah guru vokal menolak mengajari Gisavo menyanyi, termasuk Oom Deni. Alasannya karena dia masih terlalu kecil. Lagipula guru-guru vokal di PCMS kebanyakan sudah mematok usia minimal anak saat mengikuti les vokal yaitu lima tahun. “Umurnya masih empat tahun? Waah, nanti saja kalau sudah lima tahun ya,” kata Oom Deni saat istriku memintanya mengajari Gisavo. Namun Oom Deni tiba-tiba luluh setelah mendengarkan Gisavo menyanyi. Rupanya dia tertegun dengan gaya dan suara anakku saat melantunkan sebuah lagu karena sudah bisa menyesuaikan nada. “Tune-nya udah bagus. Ya udah, nanti aja awal Januari mulai les vokalnya. Jadwalnya disesuaikan,” kata Oom Deni kepada istriku. Gisavo pun tersenyum begitu mengetahui dia bisa berlatih vokal bersama Oom Deni.

Latihan pertama, Gisavo diminta menyanyikan lagu-lagu yang dia hapal. Kemudian, pada sesi latihan kedua, dia diminta menyanyikan 3 lagu masing-masing Tik, tik, tik bunyi hujan, cicak-cicak di dinding, dan nina bobok diiringi musik dan direkam dalam kaset kosong. Sesi latihan ketiga pada Sabtu (17/1) lalu, dia mulai mengenal nada dasar. Materi latihannya berupa menyanyi satu lagu diiringi musik yang terus naik hingga 3 oktaf. Pada oktaf yang ketiga, suaranya terdengar keras melengking. Hahaha, tampaknya Gisavo betul-betul berusaha maksimal ingin menunjukkan kemampuannya menyanyi keras-keras. Oh iya, di sesi latihan ketiga ini, dia terlambat masuk gara-gara aku sibuk mengurus mobil yang mati kabel accu-nya dicabut. Kami baru berangkat dari rumah orangtua di Karawitan sekitar pukul 12.20 WIB, atau 10 menit sebelum latihan dimulai. Aku sudah membayangkan jalan menuju PCMS Sriwijaya bakal macet. Benar saja, beberapa kali kami terjebak macet hingga akhirnya baru tiba di lokasi latihan pukul 12.45 WIB.

Sepanjang perjalanan menuju PCMS Jalan Sriwijaya beberapa kali Gisavo melontarkan pertanyaan. “Pak, Gisa kesiangan ya?” tanyanya. “Iya, makanya bapak ngebut,” jawabku sambil tetap fokus mengemudikan mobil. “Kalau kesiangan, ga apa-apa pak?” lagi-lagi Gisavo bertannya. “Ga apa-apa, nanti bapak bilang sama Oom Deni kalau kena macet di jalan,” ujarku. Begitu sampai di PCMS Jalan Sriwijaya, lagi-lagi masalah muncul. Aku tidak bisa memarkirkan mobil karena tak ada lahan parkir yang kosong. Dua kali bolak-balik melewati Kantor PCMS, Gisavo menyampaikan usul. “Pak, udah aja Gisa turun di sini, bapak cari parkir sendiri,” katanya. Kontan saja, aku menolak usulnya itu. “Nanti saja, sebentar lagi juga bapak dapat tempat parkir,” jawabku. Setengah memaksakan diri, aku berhasil mendapatkan lahan parkir, tidak jauh dari Kantor PCMS. Terburu-buru aku menyuruh Gisavo turun dari mobil dan menuntunnya memasuki PCMS. Di depan, Oom Deni sudah menunggu. Tanpa pamit dulu, Gisavo pun langsung masuk ke salah satu ruangan tempat dia berlatih. Sejauh ini, semangat Gisavo untuk mengikuti jejak Afgan memang masih tinggi. Mudah-mudahan saja dia masih terus semangat latihan vokal dan bisa ikut Idola Cilik.

Read more »