Selasa, 09 Juli 2013

Ini Dia Jadwal Puasa 2013

Suryadharma Ali tak terlihat gundah sama sekali. Di hadapan kamera wartawan, Menteri Agama itu lugas menyatakan kesimpulan mulainya puasa. Pemerintah pun akhirnya menetapkan Rabu (10/7/2013) sebagai awal Ramadan. “Atas masukan dan hasil hisab, pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1434 Hijriah jatuh pada hari Rabu 10 Juli 2013,” ujar Suryadharma dalam sidang Isbat di Kantor Kementerian Agama, Jakarta.





Read more »

Jumat, 21 Juni 2013

Menanti Sepak Bola Indonesia Damai

Layaknya negara lain, kompetisi sepak bola Indonesia penuh warna. Ada sejumlah laga bertensi tinggi, rawan kerusuhan, dan sarat gengsi. Sebutannya bisa macam-macam. Duel klasik, big match, super big match, bahkan laga panas.

Hari ini pun, atmosfer Jakarta akan makin memanas. Di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Persija Jakarta bakal menjamu Persib Bandung. Tak ada yang menyangkal laga itu sarat dendam dan emosi. Sejak era perserikatan, keduanya kerap bersaing menjadi yang terbaik.

Fanatisme suporter dua tim mewarnai persaingan. Maka tak heran, laga Persib vs Persija selalu menyita perhatian banyak pencinta sepak bola di Tanah Air. Aparat keamanan bahkan harus berjibaku mengerahkan ribuan anggotanya untuk mengamankan laga tersebut.

Parahnya, imbas laga itu membuat kenyamanan warga, entah di mana pun terganggu. Sampai-sampai ada imbauan, jika Persib vs Persija main di Bandung, kendaraan pelat B dilarang melintas. Pun sebaliknya, main di Jakarta, kendaraan pelat D tak boleh berkeliaran di sekitar stadion.

Sepak bola memang kini menjelma bak candu. Efek adiktifnya membuat para pendukung terlena. Ujung-ujungnya bisa macam-macam dan mengarah ke hal negatif. Perseteruan suporter Persib dan Persija, bisa jadi contoh. Fanatisme keduanya kerap berujung bentrok fisik.

Seolah sudah mengakar, budaya bentrok membuat para suporter fanatik merasa besar. Sepak bola pun jadi tak sekadar 11 melawan 11, tapi berkembang menjadi aksi massa. Padahal, sepak bola bukan persoalan hidup dan mati.

Siapa yang rugi? Tentu suporter masing-masing dan pencinta indahnya sepak bola. Demi keamanan, laga Persija vs Persib di SUGBK sore ini, akhirnya digelar tanpa penonton. Polda Metro Jaya tak mengizinkan suporter kedua tim hadir di stadion.

Polisi berkaca pada laga Persib vs Persija di tempat yang sama, Mei 2012 silam. Kericuhan terjadi seusai laga. Suporter Persib meninggal dunia setelah dikeroyok penonton beratribut The Jakmania. Maka, wajar kiranya polisi mengeluarkan kebijakan tersebut.

Tak ada yang bisa mengubah kebijakan. Bahkan, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo pun terpaksa gigit jari. Niatnya menonton laga klasik sarat gengsi, tak kesampaian. Namun, dia hanya pasrah. Pria yang akrab disapa Jokowi itu memahami pertimbangan polisi.

Maka, keputusan polisi bisa jadi pelajaran bagi pencinta sepak bola di Indonesia. Fanatisme boleh-boleh saja, namun tidak berlebihan. Bentrokan fisik, jangan jadi budaya. Sebab, imbasnya bisa ke mana-mana. Tak hanya pribadi dan tim, tapi komisi hukum tertinggi sepak bola.

Read more »

Rabu, 01 Mei 2013

Siapa Bilang Belajar Musik Mahal?

"Where words fail, music speaks". Ketika kata tidak lagi berguna, maka musiklah yang berbicara. Begitu kutipan penulis kenamaan dunia Hans Christian Anderson. Tak sebatas kutipan, orang-orang yang memilih musik sebagai jalan hidup kini telah membuktikannya. Musik menjelma menjadi bahasa universal, melepas simpul-simpul perbedaan. Pun menebas sekat dan prasangka.

Semua berawal 2010 lalu. Saat itu, Irawan Zulhidayat gundah. Tinggal di wilayah timur Kota Bandung, dia tak menemukan tempat kursus musik yang komplet. Jika pun ada, biayanya cukup mahal. Padahal, banyak warga di daerahnya yang berminat mendalami musik.

Maka, pria yang akrab disapa Wawan itu pun memutar otak. Dia punya obsesi mendirikan sebuah kelas musik yang harganya terjangkau. Demi mewujudkan impiannya itu, Wawan pun mulai kasak-kusuk mencari lokasi. Tak mudah memang, hingga akhirnya dia menjatuhkan pilihan.

Sebuah rumah di Kompleks Margahayu Raya, dia sulap jadi lokasi kursus. Kamar-kamarnya, berubah jadi kelas musik. Tepat 1 November 2010, Rumah Nada Music School resmi berdiri. Lokasi persisnya, di Jalan Mars Selatan No 49 Metro Margahayu Raya Kota Bandung.

“Sebetulnya Rumah Nada didirikan karena di wilayah Bandung timur tak ada tempat kursus musik yang harganya terjangkau. Banyak peminat musik, tapi celakanya tempat kursusnya jauh dan mahal,” kata pria yang aktif mengajar di Purwacaraka Music Studio itu, beberapa waktu lalu.

Resmi berdiri, Rumah Nada Music School sempat sepi peminat. Padahal sebelumnya, Wawan sempat sounding ke sejumlah teman-temannya hendak mendirikan tempat kursus. Dari hasil pembicaraan bersama teman-teman, tercatat 40 murid siap mengikuti kursus musik di tempatnya.

“Saya sounding ke teman-teman akan mendirikan kursus musik. Banyak yang menyambut baik. Total, 40 murid siap ikut kurus. Tapi pada kenyataannya, ternyata yang kursus tak sampai segitu. Awal-awal berdiri, kami hanya punya 10 murid,” terang Wawan.

Wawan tak patah semangat. Dia tetap yakin dengan niatnya membangun sekolah musik dengan harga terjangkau. Tiga tahun berlalu, kesabarannya berbuah hasil. Kini, jumlah siswa yang mengikuti kursus di Rumah Nada Music School sudah mencapai 100.

“Sekarang, yang kurus di Rumah Nada tak hanya warga Kompleks Margahayu Raya, tapi dari berbagai kompleks di Kota Bandung. Malah, ada juga yang dari Ciparay. Total murid sudah mencapai 100 orang,” tutur pria kelahiran Tebing Tinggi, 27 Februari 1970 itu.

Sejumlah promo pun dilakukan. Dalam tiga tahun ini, tercatat Rumah Nada Music School menggelar dua kali konser. Promo itu sekaligus jadi ajang siswa-siswa tampil berani di depan umum. Hasilnya cukup positif. Siswa yang awalnya malu-malu, berani tampil di atas panggung.

“Meski harganya relatif terjangkau, kita tetap mengedepankan kualitas. Di Rumah Nada Music School, siswa-siswanya dididik oleh guru musik yang profesional,” pungkas pria yang sudah mendalami musik usia 8 tahun itu. (gin gin t ginulur)

Read more »

Sabtu, 23 Februari 2013

Suara Rakyat, Suara Tuhan

Tanggal sakral itu akhirnya tiba juga. Hari ini, 24 Februari 2013, rakyat Jabar menentukan siapa pemimpin mereka lima tahun ke depan. Perang jargon lewat spanduk, atau pun orasi usai sudah. Lima pasangan Cagub-Cawagub Jabar, kini tinggal bertarung dalam sebuah pemilihan langsung.

Dikdik Mulyana-Cecep Nana ST, Irianto MS Syaifuddin-Tatang Farhanulhakim, Dede Yusuf-Lex Laksamana, Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar, dan Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki, boleh jadi harap-harap cemas. Saat ini, mereka bersiap menanti suara rakyat.

Ya, rakyatlah yang menentukan. Berbagai survei yang dirilis jauh-jauh hari, boleh jadi tak berguna andai suara rakyat berkata lain. Kini, semua terserah kepada 32,5 juta pemilih yang tersebar dari ujung Selatan, hingga pesisir Pakidulan sepanjang Jalur Pantura.

Tak mudah memang. Sebab, selama masa kampanye, lima pasangan calon itu sudah berlomba meraih simpati rakyat. Menebar janji manis, semanis gula. Blusukan ke pasar-pasar tradisional. Pun berorasi di hadapan massa, menumbuhkan asa demi kesejahteraan Jabar ke depan.

Jabar boleh dibilang indikator peta Indonesia. Dia merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Dengan jumlah pemilih sebesar itu, betapa mahalnya harga pesta demokrasi lima tahunan itu. Betapa hebatnya Pemilukada Jawa Barat.

Yang juga patut dicermati adalah golongan putih (golput). ‘Hantu’ itu kerap bergentayangan pada setiap pemilukada. Tren pemilih golput, kerap meningkat di beberapa pemilukada. Banyak faktor memang. Kekecewaan, pesimistis, rasa jenuh berkepanjangan, bisa jadi pemicu.

Belum lagi kondisi masyarakat pedesaan yang tak sempat tersentuh para calon. Informasi terbatas, membuat mereka kurang mengenal para calon. Mereka mungkin hanya tahu calon yang mendapat jatah iklan terbanyak di televisi. Maka, mereka memilih untuk tidak memilih.

Kini, saatnya menanti sejarah. Pemilukada Jabar tercatat sebagai pesta demokrasi yang berlangsung aman, dan damai. Tak ada konflik berkepanjangan. Tak ada pertikaian antarpendukung. Semua pihak, saling legawa menghargai hasil akhir Pemilukada Jabar.

Siapapun yang terpilih nanti, tentunya harus betul-betul bisa berbuat yang terbaik bagi Jawa Barat. Karena dia adalah cerminan rakyat Jawa Barat. Seperti sebuah kata-kata bijak, pemimpin adalah cerminan rakyat. Pemimpin yang jujur, akan menumbuhkan kepercayaan rakyat.

Semoga Pemilukada Jabar menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Vox Populi, Vox Dei. “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan”. Begitu sebuah pepatah kuno dalam bahasa Latin. Maka, mari kita tunggu seperti apa suara Tuhan untuk Jabar lima tahun ke depan.

Read more »

Jumat, 15 Juni 2012

Piala Eropa dan Sepak Bola Indonesia

Seperti candu, hari-hari ini pengaruh sepak bola begitu kuat. Efek adiktifnya membuat jutaan pasang mata di dunia terjaga. Bak terdorong sebuah kekuatan revolusioner, bapak-bapak, pemuda, dan para remaja, mendadak jadi pengikut ajaran ‘footballisme’.

Ya, perhelatan akbar Piala Eropa bulan ini memang membuat pola hidup berubah. Di Kota Bandung, malam-malam menjelang pagi masih tampak ramai. Kafe-kafe menyediakan ruang kumpul bareng. Sejumlah stasiun TV menayangkan ulasan dan prediksi pertandingan.
Bursa taruhan? Jangan ditanya. Di mana-mana, selalu saja ada kelompok orang yang memanfaatkan momentum olah raga sebagai ajang taruhan. Mereka rela merogoh kocek dalam-dalam, demi mempertaruhkan tim jagoannya.

Meski masih bulan Syaban, sepak bola memang membuat hiruk pikuknya sudah seperti Ramadan. Orang-orang melek sampai pagi demi menonton sebuah laga. Sebagian orang bahkan sengaja merevisi siklus tidur agar energinya tak habis saat menonton tayangan sepak bola.

Seorang teman pernah bertanya. Dia mengaku penasaran dengan sepak bola yang seolah mampu ‘menguasai’ dunia. Di matanya, sepak bola adalah olahraga aneh. Ada 22 orang berlari memperebutkan satu bola. Belum lagi tackling keras yang tak jarang membikin tulang patah. Lebih gila lagi penontonnya. Tak kurang dari lima menit, mereka bisa saja bersorak dan menangis.

Belum urusan aksesori yang tak kalah edan. Kepala dicat, badan ditato, atau mengenakan kostum aneh bak seorang makhluk asing dari planet lain. Itulah sepak bola. Sihirnya tak hanya mampu menghipnotis alam pikir manusia. Lebih dari itu, sepak bola bisa menguasai tatanan hidup masyarakat, dari arus bawah hingga kalangan atas, tak terkecuali seorang presiden.

Saya termasuk korban sihir sepak bola itu. Laga-laga favorit Piala Eropa saya lahap meski harus begadang sampai subuh. Sejak gong Piala Eropa dimulai, saya pun jadi pecandu olahraga massal itu. Berbagai prediksi saya cermati sebagai bahan masukan.

Namun, memelototi laga Piala Eropa di layar televisi membuat pikiran saya melayang ke sepak bola tanah air, entah itu IPL atau ISL. Sungguh indah menyaksikan sepak bola Piala Eropa tanpa kekerasan di lapangan. Betapa eloknya melihat sosok wasit yang begitu berwibawa dan dihargai pemain.

Coba tengok laga sepak bola di tanah air. Banyak drama yang terjadi hingga membuat sepak bola seolah sebuah telenovela. Tiba-tiba saja wasit jadi bulan-bulanan pemain. Dia jadi korban kebrutalan pemain. Dicaci maki, didorong-dorong, bahkan dipukuli, terlebih jika sudah menunjuk titik putih.

Parahnya, pemeran utama sepak bola tanah air tak hanya pemain yang berjibaku di lapangan. Penonton pun bukan lagi sekadar figuran. Mereka bisa ada di lapangan dan membuat gaduh. Mewarnai udara di sekitar lapangan dengan asap pekat kembang api. Belum lagi kerusuhan seusai nonton laga.

Kematian tiga suporter seusai laga Persija vs Persib Bandung contohnya. Di lapangan, pemain bisa bersikap dewasa, membangun persaudaraan. Tapi di luar lapangan, penonton mengubah suasana jadi mencekam.

Tapi ya sudahlah. Lupakan persoalan sepak bola tanah air. Saya ingin membiarkan raga ini hanyut, menjadi pecandu sepak bola Piala Eropa. Toh obatnya pun tak sulit. Tak perlu masuk pusat rehabilitasi, cukup melihat tim favorit jagoan saya juara.

Read more »

Senin, 15 Agustus 2011

Papandayan Kini dan 9 Tahun Lalu

Ketenangan warga Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut kembali terusik Ramadan tahun ini. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi mengubah status Gunung Papandayan menjadi Siaga atau level III pada Sabtu (13/8/2011) lalu. Sebelumnya, sejak 2008 lalu, gunung dengan ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut itu berstatus waspada atau level II.





Perubahan status itu mengingatkan warga pada letusan Gunung Papandayan 9 tahun lalu. Ya, tepatnya 11 November 2002, Papandayan yang dikenal sebagai salah satu objek wisata terpopuler di Garut meletus. Warga yang saat itu juga tengah menjalankan ibadah puasa kaget. Mereka tak menyangka gunung yang lebih dari 70 tahun tenang tiba-tiba mengamuk.



Tak hanya meletus, Papandayan juga memuntahkan lahar dingin ke Sungai Cibeureum Gede. Belasan rumah penduduk di bantaran Sungai Cibeureum tertimbun longsor. Warga panik. Mereka berlarian ke tempat aman. Ada pula yang terpaksa hijrah ke rumah kerabatnya di Garut. Anak-anak menangis bingung. Sekejap saja, Kantor Kecamatan Cisurupan dipenuhi para pengungsi.



Saya sempat merasakan kepanikan warga sekitar Gunung Papandayan saat meletus 11 November 2002 lalu. Kebetulan sehari sebelumnya saya bersama dua teman masing-masing Machmud Mubarok dan Gani Kurniawan ditugaskan kantor meliput kondisi Gunung Papandayan yang terus menunjukkan aktivitasnya dalam satu minggu terakhir.



Menjelang tengah malam, kami meluncur ke Kabupaten Garut menaiki mobil. Saya bertugas menyetir lantaran dua teman lainnya belum mahir mengemudikan mobil. Tak banyak bekal yang saya bawa, termasuk baju ganti. Saya bahkan lupa membawa sepatu dan hanya beralaskan sandal jepit. Demi memburu berita, kami terpaksa sahur di jalan dan sempat beristirahat di Masjid Agung Garut.



Kami tiba di kawasan Gunung Papandayan Senin 11 November 2002 sekitar pukul 06.00 WIB. Saat itu warga sudah terlihat panik. Pascalongsor di puncak Gunung Papandayan, banyak warga yang sudah mengungsi. Mereka bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk Papandayan meletus. Kemacetan mulai terjadi. Warga tumplek ke jalan. Mereka berusaha menjauhi kawasan Gunung Papandayan.



Pos Pengamatan Gunung Api Papandayan pun riuh rendah. Tak hanya para ahli dan Muspida Kabupaten Garut, wartawan tumplek di sana. Mereka mengamati perkembangan kawah Papandayan. Senin 11 November 2002, sekitar pukul 15.30 WIB, Papandayan memulai menunjukkan aktivitasnya. Letusan freatik pertama terjadi pukul 16.03 WIB. Debu pekat menyembur dengan ketinggian sekitar 5 Km dari atas puncak. Warga makin panik. Sekejap saja, ruas jalan di kawasan Cisurupan macet.



Inilah letusan pertama yang menyebabkan terjadinya longsor dahsyat di sebagian dinding bukit Nangklak. Seluruh material longsor jatuh ke hulu Sungai Cibeureum Gede. Tercatat sedikitnya 12 rumah warga di Desa Pakuwon dan Naringgul tertimbun longsoran lumpur. Sebuah jembatan penyeberangan pun hancur diterjang banjir lumpur dan memutuskan akses dari Desa Cilimus ke Desa Sirnajaya.



Sialnya, di hari pertama letusan Papandayan itu kami gagal mendapat foto bagus lantaran terjebak di Pos Pengamatan Gunung Api Papandayan. Teguran pun melayang dari pejabat kantor. Kami pasrah, tak bisa memberikan alasan kuat.Terlebih lagi keesokan harinya seluruh foto HL halaman depan koran menggambarkan dahsyatnya letusan Gunung Papandayan. Hanya halaman koran kami yang tidak.



Hari kedua di Papandayan kami pun bertekad mengambil foto letusan dari jarak dekat. Di tengah rasa lapar karena puasa dan lupa sahur, kami mendaki Papandayan. Tak peduli orang-orang menjauh, kami malah mendekati kawah. Tanah bergetar. Beralaskan sandal, saya menaiki puncak berburu pemandangan indah letusan Papandayan. Ada rasa waswas di tengah keberanian mengamati semburan kawah Papandayan dari dekat. Namun semua terbayar setelah kami berhasil mengambil beberapa foto dahsyatnya letusan Papandayan dari jarak dekat. Betul-betul luar biasa!



Hanya tiga hari kami berada di Papandayan. Kantor meminta kami kembali dan bertukar tempat dengan tim lainnya. Ah, sungguh menakjubkan bisa melihat letusan gunung api dari dekat, merasakan tanah bergetar, dan menyaksikan debu pekat menyembur ke udara. Sungguh pengalaman luar biasa. Mungkinkan kejadian sama kembali berulang saat ini setelah aktivitas Papandayan meningkat? Tak ada yang bisa menduga. Saya hanya bersiap saja menanti kabar Gunung Papandayan selanjutnya.

Read more »

Rabu, 08 Juni 2011

Tentang Senja

Senja. Nama itu masih tersimpan di palung hati, tak kunjung terhapus. Sebuah nama yang kerap menghadirkan rindu, debar, dan sekelebat kenangan di masa silam. Entahlah, waktu ternyata tak bisa sedikitpun menghapus pesona alami yang terpancar tanpa alasan hingga aku akhirnya menolak lupa demi sebuah cerita yang pernah tercipta.


Senja. Nama itu masih tetap terdengar indah, selembut halimun terbawa angin. Sebuah nama yang sanggup membuatku bergeming di persimpangan, bingung memilih antara berjalan ke depan atau kembali ke belakang. Entahlah, kenangan itu begitu erat tergenggam meski aku kerap terhuyung menahan rindu tak terperi.

Senja. Nama itu membuatku belajar menerima rasa sakit ketika cinta sepertinya tak lagi butuh keberadaan, tertahan di padang tandus, kering tak tersirami. Entahlah apakah ini sebuah kebodohan hingga aku tak pernah sampai ke ujung perjalanan jiwa. Merasa letih menyimpan asa tak tersampaikan sekadar menatap bening matanya atau menyentuh hangat jemarinya.

Read more »