Kamis, 11 Desember 2008

Pelajaran di Balik Kasus Mamin

Ketua Majelis Hakim I Nyoman Adi Juliansah tampaknya memang pandai melontarkan pertanyaan kepada saksi maupun terdakwa kasus dugaan korupsi dana makan minum (mamin) APBD Kabupaten Garut sebesar Rp4,5 miliar. Tadi siang, dalam sidang lanjutan kasus korupsi yang melibatkan empat mantan pejabat di Pemkab Garut tersebut, ia bertanya kepada saksi Anton Heryanto, mantan Kasi Anggaran pada Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Garut yang mengaku bersahabat dengan salah satu terdakwa, Erlan Rivan (mantan Kasi Perbendaharaan BPKD). Pertanyaannya sangat sederhana. Nyoman yang juga menjabat sebagai Ketua Pengadilan Negeri (PN) Garut itu bertanya kenapa Anton tidak pernah mengingatkan tindakan Erlan menggelapkan uang negara, dalam hal ini anggaran mamin. Sementara tindakan Erlan tersebut, kata Nyoman, terkait dengan permintaan Anton atas nama Bupati Garut saat itu, Agus Supriadi.

“Saudara saksi berkawan dekat dengan terdakwa Erlan Rivan. Saudara saksi juga yang meminta terdakwa mencairkan uang untuk kepentingan Bupati Garut Agus Supriadi. Tapi saudara saksi tidak pernah bertanya dari mana Erlan mendapatkan uang. Apakah saudara saksi merasa ikut andil menjerumuskan kawan hingga menjadi terdakwa?” tanya Nyoman kepada Anton. Tak ada jawaban dari mulut Anton yang menurut para wartawan di Garut memiliki pengaruh kuat di kalangan pejabat ini. Ia sempat terdiam sebelum Nyoman mengulangi pertanyaannya. “Saya ulangi lagi, apakah saudara saksi merasa ikut andil menjerumuskan kawan hingga menjadi terdakwa seperti sekarang?” tanya Nyoman lagi. Setelah beberapa saat terdiam, Anton akhirnya menjawab. “Saya prihatin pak,” kata lelaki bertubuh kurus itu. Nyoman tersenyum. “Ya, ya, jadi saudara saksi merasa prihatin,” ujar Nyoman mengulang perkataan Anton.

Anton memang mengaku berkawan dekat dengan Erlan hingga akhirnya dia seperti kesulitan membedakan urusan yang terkait pekerjaan dengan pribadi. Namun dalam persidangan, ia justru lebih banyak memojokkan Erlan. Setiap pertanyaan hakim, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan kuasa hukum terdakwa yang menjurus pada tindakan Erlan, ia jawab tidak tahu. Termasuk soal uang yang diperoleh Erlan untuk kepentingan bupati melalui tangan Anton. “Waah, saya tidak tahu dari mana Erlan mendapat uang itu. Saya hanya mendapat amanat dari Bupati Garut untuk meminta uang pada Erlan. Saat itu, saya tidak berani menolak meski permintaan yang salah sekali pun. Kalau menolak, saya bisa kena marah bupati,” kata Anton saat JPU menanyakan apakah dirinya tahu soal penyelewengan dana mamin. ‘Saya tahunya justru setelah tidak menjabat sebagai Kasi Anggaran dan saya sempat kaget,” tambahnya lagi. Jawaban Anton kontan membuat JPU bereaksi. “Sebagai sahabat, masa Anda tidak tahu? Anda kan mengaku sangat dekat dengan Erlan? Masa Erlan tidak pernah cerita?” JPU kembali bertanya. “Erlan tidak begitu terbuka soal keuangan,” kilah Anton.

Terkait kegiatan dugem yang disebut-sebut menggunakan dana mamin, Anton juga mengaku tidak tahu. Ia memang sempat ikut ke tempat dugem di Bandung bersama pejabat BPKD lainnya karena ditraktir oleh Erlan. “Saya ikut ya karena ditraktir Erlan. Soal uangnya dari mana, saya tidak tahu. Saya kan ditraktir,” ujar Anton. Uniknya, Erlan justru membantah beberapa pernyataan Anton. Di akhir sidang, ia sempat bertanya pada Anton dengan nada gusar. “Saya mau bertanya kepada saudara saksi. Apakah saudara saksi benar-benar tidak tahu soal penyimpangan dana mamin?” tanya Erlan kepada Anton. Jawaban Anton tetap sama. “Iya, saya tidak tahu,” ujar Anton. Mendengar jawaban kawan dekatnya itu, Erlan tampak menghela napas. “Boleh saya luruskan Pak Hakim?” tanya Erlan disambut anggukan Nyoman. “Sebenarnya saudara saksi mengetahui penyelewengan dana mamin karena sebelumnya kita sudah pernah membicarakan hal itu. Selain itu, setiap selesai pencairan dana, saya selalu lapor kepada saudara saksi,” sanggah Erlan. Lagi-lagi Anton bergeming dengan keterangannya. “Saya tidak akan mengubah keterangan,” tandas Anton.

Di balik persidangan tadi memang ada beberapa pelajaran soal persahabatan yang bisa diambil. Mungkin di mata Anton, tak ada istilah kawan dalam kasus korupsi meski dirinya sempat disebut-sebut sebagai aktor intelektual penyelewengan dana mamin oleh beberapa saksi. Ia seolah lepas tangan melihat kawan dekatnya menjadi terdakwa dan harus berada di tahanan. Padahal, berdasarkan pengakuan Erlan, Anton juga ikut menikmati hasil korupsi dana mamin. Pertanyaan hakim pun seolah mengingatkan kembali arti sebuah persahabatan. Bagaimana seorang sahabat harus bisa saling mengingatkan ketika salah satunya berbuat salah. Kata prihatin saja yang keluar dari mulut Anton melihat Erlan menjadi terdakwa tampaknya cukup membuktikan seperti apa wajah pertemanan mereka. Hmmm, mungkin Anton menganut paham pertemanan: senangmu,senangku juga. Sedihmu, senangku juga.

Read more »

Selasa, 09 Desember 2008

Selamat Datang Haji Gisavo!!



Anak-anak yang menimba ilmu di Taman Kanak-kanak (TK) Al Muhajir tampaknya memang harus selalu siap mengikuti berbagai kegiatan. Setelah sebelumnya belajar mengenal alam di lokasi outbond Natural Hill Lembang, mereka kemudian mengikuti kegiatan manasik haji di halaman TK Al Muhajir, Sabtu (6/12) lalu. Anakku Gisavo tak mau ketinggalan. Bersama teman-teman dari TK lain, ia pun rela mengenakan pakaian ihram meski sempat mengaku kedinginan. Dalam kegiatan tersebut, dia belajar bagaimana cara menunaikan ibadah haji, di antaranya melempar jumrah Aqabah dan mengelilingi miniatur kabah. Namanya anak TK yang rata-rata berusia 4 sampai 5 tahun, saat mengikuti manasik haji, tingkah laku mereka tentu bermacam-macam. Ada yang berlari sambil tertawa, ada yang saling dorong, ada yang muntah, ada mogok, dan banyak lagi. Aku sendiri tak tahu apakah anakku mengerti apa yang disampaikan dalam materi manasik haji. Aku yakin dia tidak paham. Namun dari wajahnya, ia tampak menikmati kegiatan tersebut.

Pagi-pagi sekali anakku sudah bangun. Seperti biasa, ia minum segelas susu, mandi pagi, dan sarapan. Karena hari itu istriku bekerja mengajar di Purwacaraka Cimahi, seluruh tugas yang berkaitan dengan anak aku ambil alih, termasuk menemaninya mengikuti kegiatan manasik haji. Dalam kegiatan itu, anakku diharuskan mengenakan pakaian ihram. Lewat bantuan tangan mertua, pagi itu anakku mengenakan pakaian yang biasa digunakan para jamaah haji dan siap mengikuti manasik haji. Layaknya seorang calon haji, ia juga dikalungi sebuah tas kecil bertuliskan TK Al Muhajir. Tas kecil itu kemudian diisi biji lengkeng untuk melempar jumrah Aqabah. Ada 10 biji lengkeng di tas tersebut. “Pokoknya nanti Gisavo harus ikut apa kata guru. Jangan nakal. Kan mau jadi haji,” pesanku pada Gisavo sebelum dia berangkat sekolah. Anakku mengangguk. Setelah pamit, kami berdua berangkat menuju TK. Aku sempat mengantar istri ke Leuwipanjang sebelum kembali ke TK untuk mengawal kegiatan anakku.

Awalnya, seluruh anak-anak TK dikumpulkan dan dibagi dalam beberapa kloter. Anakku kebagian kloter pertama. Sebelum dimulai, berbagai acara seremonial digelar. Saat itulah, anak-anak terlihat asyik dengan dunia mereka sendiri. Belum juga acara dimulai, pakaian ihram berwarna putih sudah kotor. Bagaimana tidak, saat acara seremonial berlangsung, banyak anak-anak yang berlarian atau berguling di halaman TK. Teriakan guru yang meminta mereka diam dan mendengarkan petunjuk dari penyelenggara manasik haji tak digubris. Beberapa orangtua siswa yang ikut menjadi pembimbing juga tak kalah sibuk. Mereka berlari mengejar anak-anak agar tetap tertib dan berada di barisan. Acara seremonial diakhiri dengan pemukulan beduk tanda kegiatan manasik haji dimulai. Anak-anak bersorak. Mereka mulai berjalan mengikuti petunjuk dari para guru yang tak henti-hentinya berteriak melalui pengeras suara. “Labaik Allahuma Labaik,” begitu teriak anak-anak TK mengikuti suara guru.

Acara mengelilingi miniatur kabah sempat sedikit terganggu dengan ulah Fadlan, salah seorang siswa kelas A1 TK Al Muhajir yang tiba-tiba muntah persis di depan miniatur kabah. Panitia langsung bertindak. Miniatur kabah segera dipindahkan agar anak-anak lain tidak terganggu dengan insiden tersebut. Usai mengelilingi kabah, anak-anak kembali berjalan dan meminum susu cokelat yang diibaratkan sebagai air zamzam. Rasa air susu yang enak sempat membuat anak-anak ketagihan. Banyak di antara mereka yang tidak mau beranjak karena masih ingin menikmati susu cokelat tersebut. Walhasil, para guru lagi-lagi sibuk mengatur barisan agar tidak tercecer. Tuntas mengikuti seluruh kegiatan manasik haji, anak-anak dibagi konsumsi berupa nasi dus. Saat itu, seluruh anak harus makan di kelas dan tidak boleh berkeliaran. Aku pun terpaksa berada di kelas bergabung dengan ibu-ibu untuk menjalankan tugas menyuapi Gisavo.

Sebelum pulang, seluruh anak-anak berfoto bersama para guru di depan miniatur kabah. Hahahaha, sudah kuduga sebelumnya, gaya anakku saat difoto pasti standar yaitu menempelkan kedua telunjuk ke arah pipi sambil tersenyum. Pukul 11.00 WIB, seluruh kegiatan manasik haji selesai. Anakku berlari memburu tukang mainan yang sejak pagi berada di halaman TK. Aku sempat berpikir bagaimana kalau anakku betul-betul menjadi haji. Sepertinya lucu ketika menyebut nama Haji Gisavo. Kok jadi terdengar asing di telinga ya? Hmmm, selamat datang Haji Gisavo!!

Read more »

Kamis, 04 Desember 2008

Gila! Dugem Habis Rp27 Juta Semalam!



Meliput sidang kasus dugaan korupsi dana makan minum (mamin) APBD Kabupaten Garut tahun 2007 di Pengadilan Negeri (PN) Garut memang boleh dibilang melelahkan sekaligus juga menyenangkan. Melelahkan karena proses sidang memakan waktu cukup lama, apalagi saat mendengarkan keterangan saksi. Ini diperparah dengan ketiadaan fasilitas pengeras suara di PN Garut sehingga dalam setiap persidangan, aku dan beberapa wartawan lainnya harus betul-betul memasang telinga lebar-lebar saat mendengar keterangan saksi. Masih mending kalau saksi yang dihadirkan menjawab pertanyaan hakim, JPU, dan pengacara dengan keras. Banyak pula saksi yang dihadirkan menjawab pertanyaan dengan pelan, nyaris tak terdengar. Huh, sudah tidak ada pengeras suara, saksi yang dihadirkan malah menjawab pertanyaan dengan suara pelan.

Itu hanya sebagian kecil hal yang melelahkan. Di balik rasa lelah, ada pula hal yang menyenangkan saat meliput sidang mamin. Dari persidangan tersebut, aku jadi mengetahui informasi di balik penyimpangan dana miliaran rupiah itu, termasuk alur penyimpangan dana. Beberapa saksi bahkan ada yang secara terbuka menyatakan ke mana saja aliran dana hasil korupsi tersebut, termasuk digunakan untuk biaya hiburan alias dugem pejabat Garut. Aku juga jadi mengetahui siapa sebetulnya aktor intelektual korupsi tersebut yang hingga saat ini seolah sama sekali tidak tersentuh aparat hukum. Sementara di luar materi sidang, ada pula beberapa hal yang unik dan membuatku tak kuat menahan senyum. Misalnya saat dua kuasa hukum terdakwa tertidur dalam persidangan ketika JPU tengah serius mendengarkan keterangan saksi, atau saksi yang menjawab pertanyaan berbelit-belit. Semuanya terasa menyenangkan di tengah liputan kasus mamin yang centang-perenang.

Kasus korupsi mamin sendiri menyeret empat mantan pejabat di Kabupaten Garut. Keempatnya masing-masing, Achmad Muttaqien (mantan sekda), Kuparman (mantan Asda III), Yaya Zakaria (Kabid Belanja pada BPKD), serta Erlan Rivan (Kasi Perbendaharaan pada BPKD). Data dan alat bukti yang diperoleh tim penyelidikan menunjukkan ada penyimpangan dalam prosedur pengajuan dan pencairan dana anggaran untuk kegiatan penydiaan makan dan minum (mamin) pada Bagian Umum di lingkungan Setda Garut. Pengelolaan keuangan daerah pada Bagian Umum dan BPKD Garut dari Januari 2007-Juni 2007 tidak dilaksanakan sesuai dengan ketentuan, sehingga melebihi pagu anggaran yang ditetapkan untuk kegiatan mamin tahun anggaran 2007 sebesar Rp 4,8 miliar. Dalam kenyataannya, pada kurun waktu Januari-Juni 2007, dana mamin yang digunakan mencapai Rp6,3 miliar.

Nah, dari sekian banyak sidang kasus dugaan korupsi dana mamin yang aku liput sejak 9 Oktober lalu, persidangan tadi siang tampaknya paling menarik. Sidang itu menghadirkan tiga saksi bagi terdakwa Erlan Rivan dan Yaya Zakaria. Mereka adalah Venty (istri mantan Kasi Anggaran BPKD, Anton Heryanto), Dedi Kartiwa dan Aa Kustaman, keduanya mantan staf kasi anggaran pada BPKD. Kesaksian istri Anton rupanya menguatkan keterangan saksi sebelumnya, Teddy Kartono, seorang delaer di Kabupaten Garut. Pada persidangan sebelumnya, Teddy mengatakan bahwa Erlan sempat membeli mobil Nissan X-Traill untuk Anton Heryanto dalam kurun waktu Januari sampai Juni 2007. Harga mobil Nissan X Trail sendiri, kata Teddy, saat itu mencapai Rp337 juta. Meski Venty mengaku uang pembelian X-Traill itu berasal dari kocek pribadi, Erlan justru membantahnya. Ia menyebutkan pembelian mobil mewah itu berasal dari dana mamin.

Keterangan dua saksi yang dihadirkan setelah Venty yaitu Dedi Kartiwa dan Aa Kustaman tak kalah menarik. Pengunjung sidang bahkan beberapa kali dibuat tertawa mendengar keterangan dari kedua mantan staf Anton Heryanto itu. Kenapa? Karena keterangan mereka telah membuka aib para pejabat di BPKD tersebut yang ternyata doyan pergi ke Bandung untuk dugem dengan menghabiskan dana puluhan juta rupiah. Parahnya, dana dugem itu diambil dari uang pemerintah alias dana mamin tadi. Luar biasa!!! Awalnya, Dedi memberi keterangan bahwa dirinya dua kali mengantar Aa ke Bandung tepatnya ke Hotel Imperium dan Grand Aquila. Sebelumnya, Dedi yang juga sering menjadi sopir pribadi Anton sempat melihat Aa mengambil uang puluhan juta rupiah dari meja bendahara BPKD atas perintah Erlan. Namun dia mengaku tidak tahu untuk apa uang itu diambil. Yang jelas, Dedi mengaku mengantar Aa ke Hotel Imperium dan Grand Aquilla tapi tidak ikut masuk. “Saya tidak ikut masuk. Karena saya berpikir, kalau saya ikut hiburan, saya harus nyetir dan saya bawa nyawa,” kata Dedi disambut tawa pengunjung sidang.

Rupanya Aa pun mengamini keterangan Dedi. Dia mengaku memang sempat dua kali diperintahkan Erlan untuk mengambil uang dan dibawa ke Bandung. Uang itu diambilnya malam hari di Kantor BPKD . Dia kemudian berangkat ke Hotel Imperium dan Grand Aquila Bandung bersama Dedi dengan menaiki mobil dinas. Rupanya, begitu tiba di Imperium dan Grand Aquilla, Aa bertugas menjadi juru bayar atasannya di BPKD, yang saat itu sedang asyik dugem. Dalam persidangan, Aa mengaku tidak tahu siapa saja yang ada di lokasi dugem tersebut, selain Erlan, Anton Heryanto, dan Kuparman. Rata-rata kegiatan dugem itu menghabiskan dana hingga puluhan juta rupiah. “Pernah kita bayarnya kurang. Waktu itu, saya bawa uang Rp20 juta, sementara tagihan biaya dugem mencapai Rp27 juta. Akhirnya kita ngutang. Saya tidak tahu siapa yang bayar sisanya,” kata Aa lagi-lagi disambut tawa pengunjung sidang. Lucunya, Aa mengaku tidak pernah menyimpan bon pembayaran biaya dugem karena takut ketahuan istri. Hahahahahaha, mau nakal kok tanggung, masih takut sama istri. Meski berbelit-belit, jawaban Aa cukup mengundang tawa sampai ketua majelis hakim sempat mengingatkan pengunjung agar menghargai proses sidang.

Erlan lagi-lagi menyanggah beberapa keterangan Aa. Dia mengaku tidak pernah menyuruh Aa mengambil uang untuk dibawa ke Bandung, tepatnya Imperium dan Grand Aquilla. Selain itu, Erlan juga mengatakan, Aa tidak hanya dua kali mampir ke Bandung tetapi sampai berkali-kali. Gila! seandainya dalam semalam biaya dugem mencapai Rp27 juta, berapa dana rakyat yang dihabiskan para pejabat di lingkungan BPKD untuk dugem berkali-kali. Sebelumnya JPU sempat bertanya kepada Aa rincian pembayaran biaya dugem tersebut hingga menghabiskan dana Rp27 juta. Sayangnya, Aa tidak bisa merinci secara pasti karena mengaku lupa. Tapi, namanya dugem, tentu tak akan sempurna jika tidak diwarnai dengan acara minum-minum dan nyanyi dengan PL yang cantik. “Bener mang. Dana mamin teh memang dipakai buat minum. Tapi minum yang laen,” celoteh Aep Priangan yang saat itu duduk di sebelahku, sama-sama meliput jalannya sidang. Hmmm, dana mamin memang betul-betul digunakan untuk anggaran makan minum. Sayangnya, mereka salah beli minuman sehingga terpaksa harus menjalani hukuman dan mengikuti persidangan yang melelahkan.

Read more »

Jumat, 28 November 2008

Menikmati Malam Jahanam


Tengah malam jahanam di Kabupaten Garut. Nyaris saja aku melihat orang dipukuli di Jalan Ahmad Yani Garut Kota tidak jauh dari Kafe Cikuray, dinihari kemarin sekitar pukul 01.00 WIB. Saat itu, aku, Ukas Reks Radio, dan Agung kawan Ukas, berniat membeli nasi goreng usai menikmati alunan musik dangdut di Kafe Cikuray dan bermain biliar di Kafe Fortune. Baru saja duduk dan memesan tiga porsi nasi goreng, seorang pemuda mabuk mendatangi tempat kami makan. Dia ditemani beberapa kawan pria dan seorang perempuan. Setengah sempoyongan, pemuda itu mendekati si penjual nasi goreng yang memang sudah sering didatangi rombongan wartawan sehabis lelah menjalani aktivitas malam. Kalau tidak salah, kawan-kawan wartawan biasa memanggilnya Awan. Dalam keadaan mabuk, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Awan sambil mengumpat. Setiap kalimat umpatan, selalu diawali dan diakhiri dengan kata “Anjing”.

“Anjing, sia nu ngaranna Awan teh, anjing?” teriak pemuda mabuk itu. “Anjing, sia teh urang mana?” tandasnya lagi. Kami bertiga hanya diam menyaksikan ulah pemuda itu saat memarahi Awan. Namun, rasa kesal mulai menyelimuti perasaanku. Pasalnya, kedatangan pemuda mabuk itu, membuat Awan mengabaikan pesanan kami. Padahal, kami sudah memasuki fase kritis rasa lapar. Awan hanya terdiam. Sepertinya ia sadar dengan apa yang dihadapinya saat itu. Meladeni pemabuk pasti tak akan pernah ada habisnya. Selain itu, pemabuk yang sedang marah juga biasanya menanggalkan logika dan lebih memilih menggunakan otot. Wajah pemuda mabuk itu semakin dekat dengan wajah Awan. Tangan kanannya terus mengepal. “Anjing, aing hayang neunggeul beungeut sia anjing!!” teriaknya. Meski begitu, ia sama sekali tidak melayangkan pukulan ke wajah Awan. Sekian menit berlalu dengan kemarahan si pemuda mabuk itu, Awan tetap diam. Bahkan, dia meminta maaf jika membuat pemuda mabuk itu tersinggung. “Enggeus, hampura urang,” kata Awan.

Sepintas aku mendengar apa yang diucapkan pemuda itu kepada Awan. Persoalannya sederhana dan seputar masalah wanita. Rupanya pemuda mabuk itu tersinggung dengan sikap Awan yang dinilainya tidak menghargai wanita. Meski Awan membantahnya, pemuda itu bergeming dengan pendiriannya dan meminta Awan menjauhi wanita itu. Belakangan diketahui, wanita yang disebut-sebut pemuda itu adalah kerabatnya sendiri. “Anjing, Aing mah teu sieun lamun maehan sia oge!! Paling dipenjara 10 tahun anjing!!” pemuda itu terus melampiaskan kemarahannya tanpa menyentuh Awan. Semakin lama, perasaanku semakin kesal, karena nasi goreng yang dipesan, tak kunjung datang. Namun, sama dengan pikiran Awan, meladeni pemuda mabuk malah berujung masalah. “Kalau ada Indra (Trans TV), bakal lain ceritanya mang,” kata Ukas. Aku tersenyum. “Kalau ada yang memulai juga ceritanya bakal lain,” ujarku. Beberapa saat, pemuda itu pergi. Itu pun setelah tewan wanitanya meminta dia menghentikan ocehan. “Ingat A, jangan lagi mendekati dia (sambil menyebut nama seorang wanita). Si eta mah tidak main-main dengan ancamannya,” kata wanita itu. Awan mengangguk dan kembali menyelesaikan tugasnya menyiapkan nasi goreng untuk kami.

Tiga porsi nasi goreng sudah siap. Kami pun menyantapnya. Tiba-tiba, pemuda itu datang lagi dan menghampiri Awan. “Anjing, aing can puas hayang neunggeul beugeut sia anjing,” teriaknya lagi. Namun, lagi-lagi dia tidak melayangkan pukulan ke wajah Awan. Ah, dasar pemabuk. Tidak puas-puasnya menggangu kenikmatan kami makan. Beruntung, dua orang lelaki turun dari mobil dan meminta pemuda mabuk itu pergi. Aku tidak tahu siapa kedua lelaki itu. Yang jelas, sepertinya pemuda itu tunduk pada perintah mereka. “Siap komandan! Siap komandan!” ujarnya sambil memberi hormat. Kami tersenyum melihat tingkahnya yang tiba-tiba berubah. Bersama kawan-kawannya, pemuda itu kemudian pergi. Setelah rombongan pemuda itu pergi, Ukas berucap. “Mang, eta teh wartawan oge. Tapi “uka-uka” (tidak jelas medianya). Saya sering ningali manehna nangkring,” kata Ukas. Aku menggeleng dan kembali teringat kejadian saat oknum wartawan mengamuk di Kantor Satpol PP karena teman kencannya terjaring razia. Ah, ada-ada saja ulah wartawan “uka-uka” di Garut.

Read more »

Selasa, 25 November 2008

Senangnya Melihat Anakku Ikut Outbond



Hari yang dinantikan itu datang juga. Akhir pekan lalu atau Sabtu (22/11), Gisavo anakku, mengikuti kegiatan outbond bersama seluruh anak-anak TK Islam Al Muhajir, tempat dia sekolah sejak bulan Juli lalu. Tidak tanggung-tanggung, lokasi outbond yang dipilih oleh para pengajar di TK tersebut cukup jauh dan masih terbilang asri. Namanya Natural Hill. Lokasinya, di Km 7 Jalan Kolonel Masturi (Kolmas) Lembang, tidak jauh dari Rumah Sakit Jiwa Cisarua. Sebuah lokasi outbond yang masih dikelilingi jurang, sawah, serta peternakan. Betul-betul pengalaman menarik! Di sana, anak-anak TK mendapat pelajaran berharga mulai dari bagaimana menghargai alam, mempertahankan diri, sampai tes keberanian ala pasukan kopassus. Aku ikut menyaksikan kegiatan tersebut bersama istri dari awal sampai akhir. Beberapa kali, kami menghela napas melihat materi yang diberikan para pemandu outbond karena cukup membahayakan dan melelahkan bagi anak-anak seusia Gisavo.

Seminggu sebelum kegiatan berlangsung, istriku berkali-kali mengingatkan agar aku menemaninya mengantar Gisavo mengikuti kegiatan tersebut. Aku pun menyanggupinya karena kebetulan hari Sabtu adalah jatah liburku. Maka sehari sebelumnya, aku sudah mengontak bapak di rumah untuk meminjam mobil agar bisa pergi ke lokasi outbond tanpa khawatir kehujanan atau kepanasan. Pada hari H kegiatan, aku dan istri memutuskan pergi menaiki mobil ke lokasi outbond, sementara Gisavo menumpang bus yang disediakan pihak TK. Dia ngotot ingin menaiki bus karena penasaran seperti apa rasanya duduk di sebuah mobil besar. “Gisavo mau naik bus ya pak,” katanya. Aku dan istri tersenyum. Sebelum berpisah, kami mencium kening Gisavo. Ia tampak bahagia. “Pak, busnya ada TV-nya!!” teriak Gisavo sebelum rombongan pergi. Bus yang berangkat ke lokasi outbond berjumlah empat unit. Dua bus diisi oleh anak-anak TK, sementara dua bus lainnya diisi oleh orangtua siswa yang tidak membawa kendaraan. Rombongan berangkat dari TK Al Muhajir sekitar pukul 08.00 WIB. Setelah sempat mengikuti bus dari belakang, aku memutuskan tiba di lokasi outbond terlebih dahulu agar bisa mengambil foto dan merekam kedatangan anak-anak TK.

Rombongan bus tiba sekitar pukul 09.00 WIB. Anakku menaiki bus nomor 1 dan tiba paling awal. Bersama seluruh teman-temannya ia turun dari bus. Wajahnya tampak kebingungan. Aku tersenyum melihat mimik wajahnya. Baru setelah kupanggil, dia menoleh dan menghampiriku. “Kenapa Gi?” tanyaku. “Bingung Pak,” jawabnya singkat. Hahaha, mungkin karena baru kali pertama naik bus, begitu turun, anakku langsung limbung. “Ya udah, gak usah bingung, sekarang ikut sama temen-temen lain dan jangan jauh-jauh dari bu guru,” jawabku. Ia mengangguk dan mulai bergabung dengan teman-teman sekelasnya, membuat sebuah barisan. Kalau tidak salah hitung, seluruh anak-anak TK dibagi dalam empat kelompok. Masing-masing kelompok dipimpin oleh seorang pemandu dari Natural Hill, di samping tentu saja dua orang guru TK Al Muhajir. Setiap kelompok, terdiri dari sekitar 10 anak-anak TK. Aku tak hapal seluruh teman satu kelompok Gisavo. Hanya beberapa saja yang kukenal karena cukup dekat dan sering bermain dengan anakku seperti Gifar, Ginggi, Fauzan, dan Noval.

Lokasi awal yang didatangi oleh kelompok Gisavo adalah sebuah kebun. Di sana, anak-anak diajarkan bagaimana membuat lubang di atas lahan kebun untuk diisi dengan sebuah biji jagung. Macam-macam gaya anak-anak saat membuat lubang. Gisavo tampak canggung. Beberapa kali ia berusaha membersihkan kedua tangannya dari tanah basah. “Ga apa-apa Gi. Sekarang boleh kotor-kotoran. Kalau di rumah ga boleh,” teriakku. Tetap saja, ia sangat berhati-hati ketika diminta guru menutup lubang yang sudah ditanami biji jagung. “Bu guru!! Udah!!” teriaknya sambil membersihkan kedua telapak tangannya ke baju teman sebelah. Setelah materi pertama yaitu menanam biji jagung selesai, pemandu kelompok membawa rombongan ke lokasi lain. Di sana, ada tiga buah jembatan. Masing-masing jembatan, memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Jembatan pertama hanya terdiri dari seutas tambang untuk pijakan kaki dan dua tambang untuk pegangan tangan. Jembatan kedua terdiri dari dua tambang untuk pegangan tangan dan beberapa balok yang terpasang berjarak untuk pijakan kaki. Jembatan terakhir hanya berupa seutas tambang untuk pijakan dan pegangan tangan.

Aku sempat berpikir, sepertinya Gisavo tidak sanggup melalui tiga jembatan itu dengan sempurna. Namun kenyataannya tidak. Ia tampak menikmati materi kedua tersebut. Seluruh rintangan dilaluinya dengan tawa dan canda. Bahkan, pada jembatan ketiga, dia bergeming di atas seutas tambang dengan dua tangan memegang seutas tambang lainnya. Rupanya, materi ini merupakan pelajaran menjaga keseimbangan. Pemandu pun dengan santainya menggoyang-goyangkan tambang sehingga anak-anak yang tak kuat menahan keseimbangan akan terjatuh. “Ayo, jangan sampai jatuh. Di bawah ada buaya!!!” teriak pemandu. Tak urung, teriakan pemandu itu membuat anak-anak kembali menaiki tambang dan berusaha sekuat tenaga mempertahankan keseimbangan agar tidak jatuh. “Bapak!! Mamah!! Di bawah ada buaya! Gisa gak boleh jatuh,” anakku berteriak sambil terus berpegangan pada seutas tambang.

Materi ketiga mengingatkanku pada Sungai Citarum. Sama dengan apa yang pernah aku alami di Sungai Citarum, anak-anak disuruh menyeberangi sungai dengan rakit yang terbuat dari beberapa bambu. Di atas rakit, melintas sebuah tambang. Agar bisa sampai ke seberang, anak-anak harus menarik tambang tersebut sehingga rakit akan melaju mengikuti alur tambang. Aku jadi teringat saat ditugaskan meliput rencana jalur alternatif dari Soreang menuju Bandung. Saat itu, bersama seorang kawan, aku menaiki rakit menyeberangi Sungai Citarum. Motor juga ikut disimpan di atas rakit. Si pemilik rakit kemudian menarik sebuah tambang di atasnya dan rakit yang kami tumpangi melaju ke seberang sungai. Ah, masa lalu yang menyenangkan. Di atas rakit, Gisavo duduk di depan. Tiga teman lainnya duduk di belakang. Dengan santai, mereka kemudian menarik seutas tambang sehingga rakit sampai ke seberang. Mereka melakukannya bolak-balik sampai rakit kembali ke posisi semula. Hahaha, lucu melihat tingkah mereka menarik rakit.

Inilah materi keempat yang disukai anakku. Apalagi kalau bukan flying fox. Ya, anakku betul-betul menyukai kegiatan yang cukup memacu adrenalin ini. Beberapa kali setiap bermain ke kebun binatang Bandung, dia kerap menaiki arena permainan tersebut. Bedanya, jika di kebun binatang flying fox yang ada tidak terlalu tinggi, sementara di lokasi outbond lokasi flying fox cukup tinggi. Agar cepat selesai, setiap anak menaiki flying fox berpasang-pasangan. Gisavo kebagian berpasangan dengan Gifar yang badannya lebih tinggi dan lebih besar. Karena badannya yang tinggi, dalam setiap kegiatan kesenian TK, Gifar kerap menjadi pembawa sisingaan. Gisavo dan Gifar sukses menaiki flying fox. “Pak, Gisa mau lagi naik flying fox,” kata dia. “Eh, jangan sekarang. Kalau sekarang, Gisa harus ikut kata Bu Guru dan kakak pemandu,” kataku diiyakan istri. Usai mengikuti permainan flyng fox, rombongan anakku kemudian berpindah ke lokasi permainan kelima. Aku tak ingat nama permainan itu. Namun, dalam permainan itu, anak-anak kembali harus melalui tiga rintangan, kali ini mirip latihan pasukan kopassus. Rintangan pertama adalah meniti sebuah balok yang dipasang berdiri dengan jarak yang berjauhan satu sama lain. Setelah itu, mereka disuruh memanjat dan menuruni sebuah balok yang dipasang bertingkat. Terakhir, anak-anak disuruh merayap di atas tanah menghindari rintangan di atasnya. Lagi-lagi anakku sukses melewati ketiga rintangan itu, meski rintangan pertama harus dibantu oleh Ibu guru.

Usai merayap, anak-anak TK kemudian masuk ke dalam sebuah labirin yang terdiri dari semak-semak. Mereka harus menemukan jalan keluar. Setelah keluar dari labirin, mereka juga dihadapkan pada rintangan lain yaitu sebuah tambang kecil yang dianyam persis jaring laba-laba. Beberapa kali anakku terjatuh karena terjerat tali yang membentuk jaring laba-laba itu. Namun, ia sukses melaluinya. Sebelum sampai pada materi terakhir, rombongan beristirahat. Materi terakhir rupanya sangat dinantikan oleh anakku. Anak-anak disuruh masuk ke kolam ikan, dan mencari ikan sebanyak-banyaknya. Dengan senang hati, Gisavo terjun ke kolam. Namun, bukannya mencari ikan, bersama teman-teman lainnya, ia sibuk bermain air. Aku berteriak-teriak agar dia tidak melupakan tugasnya menangkap ikan. Ingin rasanya ikut masuk ke kolam dan ikut menangkap ikan. Tapi, keinginan itu tak diwujudkan. Bukan karena malu, tapi karena aku tidak membawa baju dan celana ganti. Selama hampir satu jam, anak-anak berada di kolam ikan. Akhirnya, dibantu Mang Utis, salah seorang petugas di TK Al Muhajir, aku berhasil menangkap satu ikan. Begitu ikan tertangkap, aku lantas meminta anakku naik dan membersihkan diri. “Kalau ikannya belum ketangkep, anakku pasti tidak mau beranjak dari kolam,” pikirku. Di bawah pancuran yang dingin, anakku mandi. Aku dan istri membantunya membersihkan badan. Tubuh anakku menggigil kedinginan. “Brrrrr, dingin pak,” ujar Gisavo.

Selesai sudah kegiatan outbond yang mirip sebuah pesta bagi anak-anak TK itu. Setelah menyantap makan siang bersama rombongan, kami pulang. Tidak seperti saat awal berangkat, kali ini Gisavo tidak ikut rombongan bus, tetapi ikut menaiki mobil. Baru saja mobil melaju dari lokasi outbond, suara anakku tak terdengar. Ia tertidur pulas dengan kepala menempel di pintu mobil. Akhirnya, istriku membetulkan posisi tidur Gisavo. Dalam keadaan tertidur, Gisavo tampak tersenyum. Sepertinya ia masih menikmati saat-saat indah di lokasi outbond. Hmm, betul-betul hari yang melelahkan dan menyenangkan buat anakku.

Read more »

Senin, 24 November 2008

Catatan buat Miftahul Ulum


Sebuah SMS mampir di HP-ku dinihari tadi. “Mang, Bandung bergejolak lagi. Bisa kunjungi: ruang-public.blogspot.com atau lentera-merah.blogspot.com. Barangkali punya saran untuk kita. Nuhun.” Begitu isi SMS yang dikirim sekitar pukul 00.53 WIB. Pengirimnya salah seorang teman kantor di Bandung yang tidak mempunyai pos liputan jelas. Setiap hari, dia selalu disibukkan mencari berita yang akan dijadikan head line halaman dalam koran tempat kami bekerja. Entahlah, akhir-akhir ini, aku merasa sangat dekat dengannya dan begitu peduli dengan masa depannya. Mungkin karena kami memiliki hobi dan gaya bercanda yang sama. Hmmmm, SMS yang aneh. Sesaat, aku tertegun dan berencana membuka kedua blog tersebut pada pagi harinya. Sepertinya, informasi ini betul-betul serius. Ah, ada apa dengan Bandung? Gejolak apalagi yang terjadi?

Tadi pagi, aku langsung membuka blog yang direkomendasikan temanku via SMS tersebut. Yang pertama kubuka adalah www.lentera-merah.blogspot.com. Baru membuka awalnya saja, aku sudah tertegun. Blog itu berjudul “korban media” dengan deskripsi tulisan “catatan melawan lupa”. Meski tak melihat profil terlebih dulu, aku tahu persis siapa pembuat blog tersebut. Ya, dia adalah Miftahul Ulum atau akrab disapa Ulum, pria asal Blitar yang dimutasi ke Bandung setelah sebelumnya sempat berada di Bali, merintis usaha koran tempat kami bekerja saat ini di surganya para wisatawan tersebut. Sebuah tulisan dia posting Sabtu (22/11) lalu. Judul tulisannya: (tak) adil sejak dalam pikiran. Aku membaca tulisan itu dengan seksama. Paragraf awal tulisan sudah cukup menyesakkan dada. “Rabu (19/11/08) sekitar pukul 20.00 WIB, redaktur Sindo Jabar Army, telpon. Dia bercerita dan tanya seputar tidak diperpanjang kontrak. Menurut penelurusan dia, setelah tanya Nevy dan Jaka, aku tidak diperpanjang akibat attitude,” begitu ungkap Ulum pada kalimat awal tulisan yang dia posting Sabtu (22/11) lalu. Ya ampun! Kontrak Ulum tidak diperpanjang hanya karena alasan attitude? Pada paragraf kedua, Ulum menulis: “Attitude yang dimaksud, saat muncul kasus Bali, aku termasuk salah satu yang vocal mengadvokasi keenam wartawan bali yang kontrak kerja tidak diperpanjang. Adapun standar semisal, penilaian berita, kemampuan dsb tidak menjadi pertimbangan tidak diperpanjangnya kontrak kerjaku.”

Miftahul Ulum memang korban media, seperti judul blog yang dia tulis. Kontrak kerjanya diputus, hanya karena dia dikenal vokal memperjuangkan nasib kawan-kawan di Jawa Barat. Sebelumnya dia juga memperjuangkan hak kawan-kawan wartawan dari media yang sama di Bali. Aku ingat betul bagaimana semangatnya Ulum ketika hendak membuat buku putih atau mempertanyakan gaji wartawan yang tidak layak seiring kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Aku juga ingat pertemuan di Punclut bersama Army dan beberapa kawan asisten redaktur (asred) lainnya saat dia berbicara lantang rencana gerakan kawan-kawan di biro memperjuangkan kenaikan gaji. Aku memang tak begitu mengenalnya. Tapi dalam beberapa kali pertemuan, aku sangat menghargai semangatnya memperjuangkan nasib kawan-kawan agar tidak melupakan hak. Aku juga tertegun dengan pengetahuannya soal media dan isu yang berkembang di sekitar tempat kami bekerja.

Awal pertemuan dengan Ulum dihabiskan di Kantor detikbandung, tidak jauh dari kantor tempat kami bekerja. Aku tak ingat persis kapan waktunya. Namun saat itu, selain Ulum, beberapa kawan lain juga ikut bergabung. Tidak banyak yang kami bicarakan saat itu. Yang aku ingat, kami sama-sama tertawa menikmati hidup dan nasib. Setelah itu, aku jarang bertemu dengan sosok pria yang ternyata usianya terpaut jauh denganku. Terakhir, kami sempat berbincang di kantor tentang banyak hal. Tapi terus terang, aku lupa apa yang kami bicarakan saat itu. Perbincangan kemudian berlanjut di YM. Dia menyapaku dan membicarakan sebuah blog yang isinya menghina Islam dan Nabi Muhammad. Perbincangan terakhir membicarakan rencana aksi terkait isi blog yang menghina Islam dan Nabi Muhammad tersebut. Meski aku kerap mengunjungi kantor biro, sosok Ulum jarang terlihat.

Miftahul Ulum, di manakah kamu sekarang? Apa yang kamu rasakan saat ini? Tak ada sepatah kata pun yang kau ucapkan menyikapi soal pemutusan kontrak yang dilakukan perusahaan tempat kita bekerja. Aku bahkan tak sempat menyimpan nomor telepon selularmu meski beberapa kali kita berbincang dalam sebuah pertemuan yang tak serius. Kita memang belum pernah bekerja bersama-sama, tapi napas kemerdekaanmu terasa hingga 60 Km dari Bandung. Kebebasan berpikirmu masih membekas di alam pikiranku. “Sepertinya, kalau ada pemutusan hubungan kerja (PHK), akulah orang pertama yang menjadi target,” begitu ucapmu suatu hari. Dugaanmu benar kawan! Tapi, perjuangan menuju kebenaran tak pernah akan ada habisnya. Selamat jalan kawan! Sampai saat ini, lentera merah tetap masih bernyala di sini, di urat darahku……

Read more »

Rabu, 19 November 2008

Komik Nabi dan Kegelisahanku


Sebuah komik Nabi Muhammad versi Indonesia yang dihosting di wordpress.com, salah satu blog yang cukup terkenal di Indonesia, mengusikku kemarin malam saat membuka internet di ruang humas Pemkab Garut. Betapa tidak, komik itu sangat menghina Islam dan Nabi Muhammad. Di sana, terdapat dua cerita dengan judul ‘Muhammad dan Zainab’ serta ‘Kartun Sex Muhammad dengan Budak’. Dalam blog tersebut juga digambarkan sosok Muhammad sebagai orang yang mengenakan jubah hijau, surban, dan berewokan. Sementara gambar-gambar wanita dalam blog tersebut ditampilkan dengan pakaian seksi dan menggoda. Tak perlu kuceritakan lebih detail, pokoknya blog tersebut menyebutkan Muhammad sebagai sosok yang tak pantas dan Islam merupakan ajaran menyesatkan. Huh, betul-betul sebuah penghinaan dan pelecehan!!

Kebetulan, saat itu Abah Janur Antv dan Ahmad TVRI tengah berada di ruang Humas untuk mengirim gambar dan naskah longsor di Jalan Raya Samarang. Aku lantas memperlihatkan blog tersebut dan mendiskusikannya bersama mereka. Tak urung, keduanya langsung merinding begitu melihat gambar dan isi blog tersebut. “Waah, ini mah jelas penghinaan mang. Bisa jadi rame,” kata Abah. Ahmad pun berpikiran sama. “Enya mang. Ieu mah blog kurang ajar,” ujarku. Abah mengangguk. Ia mengambil telepon genggam dan mengirimkan pesan singkat kepada sejumlah tokoh di Kabupaten Garut. Aku berbincang di YM dengan salah seorang kawan di Bandung yang juga sudah melihat isi blog tersebut. Ia mengaku enggan berkomentar, namun akan mengabarkannya kepada kawan-kawan lain via YM. Selain berbincang via YM, aku juga mengabarkan isi blog itu via SMS kepada salah seorang kawan wartawan lain di Bandung.

Diskusi di ruang humas bersama Abah dan Ahmad terus berlanjut. Intinya, kami ingin blog yang menyesatkan itu ditutup dan pelakunya diproses hukum. Meski tidak begitu taat, sebagai seorang muslim, amarahku terbakar. “Ini tidak boleh dibiarkan mang,” kata Abah. Aku mengiyakan perkataan Abah, namun masih merasa bingung harus berbuat apa. “Tunggu saja reaksi orang-orang yang di-SMS,” kata Abah sambil terus membaca isi blog itu dengan seksama. Sekitar pukul 22.00 WIB, Abah dan Ahmad pamit pulang. Seperti hari-hari sebelumnya, aku tetap berada di ruang humas yang selama ini menjadi tempat menginap. Sepanjang malam, aku tak bisa tidur. Bayangan komik itu terus melintas bersama bayangan-bayangan lain yang kerap muncul setiap malam. Baru pukul 05.00 WIB tadi pagi, aku baru terlelap dan bangun sekitar pukul 09.00 WIB.

Seolah menjadi rutinitas sehari-hari, setiap pagi, setelah mandi dan menikmati segelas kopi, aku selalu membuka internet terlebih dahulu sebelum menjalankan aktivitas. Yang pertama dibuka adalah YM, kemudian berlanjut membuka detikbandung, PR online, SINDO, dan Galamedia. Kawan-kawan wartawan lain sudah ada di ruang humas, termasuk Abah Janur. Aku sempat bertanya kepada Abah mengenai jawaban dari tokoh-tokoh ia kirimi pesan singkat mengenai komik nabi. Abah bilang, mereka belum meresponnya. Perbincangan mengenai komik itu kembali berlanjut dan didiskusikan dengan kawan-kawan wartawan yang ada di ruang humas. Agus, sopir Kabag Humas Pemkab Garut, Dikdik Hendrajaya, ikut mendegarkan apa yang kami bicarakan sambil membuka internet. Tiba-tiba, ia berseru dan membuyarkan diskusi kami. “Komik nu ieu lain? Beritana geus aya di detik.com,” kata Agus. Kami pun memburu internet dan membuka detik.com. Benar saja, berita tentang komik nabi Muhammad sudah muncul di media online tersebut pukul 10.05 WIB. Judulnya: Komik Menghina Nabi Muhammad Versi Indonesia Beredar. “Bah! Geus aya di detik!” aku memanggil Abah. “Waah, alus atuh. Keun we mang, ngarah rame!!” sahut Abah sambil berjalan menuju salah satu komputer.

Akhirnya, terjawab sudah kegelisahan kami. Dengan muncul di detik.com, harapan agar blog itu ditutup dan penyebar komik diusut menyeruak. “Aya razia preman di Polres Garut!!” teriak kawan-kawan. Aku pun beranjak dari tempat duduk dan pergi ke Polres Garut dengan menaiki motor Indra Trans TV. Bersama Indra yang duduk di belakang jok motor, aku mengemudikan motor diguyur hujan gerimis. Di Polres Garut, seorang kawan menyampaikan pesan singkat. “Detik running terus soal kartun,” begitu isi SMS yang dikirim pukul 12.58 WIB. Kabar itu pun aku sampaikan kepada kawan-kawan yang saat itu berada di Polres Garut. Maka, usai meliput razia preman dan kasus pemukulan guru oleh guru, aku langsung membuka detik.com begitu tiba warnet. Berita komik nabi memang terus bergulir. Semua pihak berbicara. Mabes Polri, MUI, Depkominfo, anggota dewan, pendeta, dan tokoh Islam bersuara lantang. Intinya, mereka meminta wordpress.com segera memblokir blog tersebut. Sore sekitar pukul 15.30 WIB, aku mengetik berita. Ada rasa puas setelah mengetahui pemerintah menindaklanjuti komik nabi yang sarat dengan pelecahan dan penghinaan tersebut. Mudah-mudahan pemerintah cukup bijak dengan hanya memblokir blog tersebut dan tidak menutup wordpress. “Mang, ari website anu pelecehan ka nabi Muhammad naon?” sebuah SMS dari Tasdik Elshinta membuyarkan konsentrasiku. Kamana wae atuh mang??

Read more »