Senin, 17 November 2008

Kuda Mati Meninggalkan.....

Liputan di Kabupaten Garut bersama kawan-kawan adalah tertawa. Setidaknya, itulah yang aku rasakan sejak berada di wilayah yang terkenal dengan dodolnya itu pada akhir Mei 2008 lalu. Tertawa karena begitu banyak hari-hari yang dilalui dengan canda. Pun begitu banyak kejadian-kejadian aneh yang ditemukan saat liputan ataupun saat kehilangan ide liputan. Salah satu kasus yang sampai saat ini kerap membuatku tertawa adalah saat Abah Janur Antv menerima sebuah SMS dari nomor tak dikenal pada suatu malam. Tulisan SMS itu berbahasa sunda. Isinya sebuah informasi mengenai kecelakaan. Dengan suara lantang, Abah lantas membacakan isi SMS itu di ruang humas yang masih dipenuhi kawan-kawan wartawan baik cetak maupun elektronik. “Bah, bieu aya tabrakan angkot 07 jeung delman di pilar sukaraja karangpawitan sampe paeh kudana bakat ku tarik bari poek listrik tapi euweuh polisi,” teriak Abah membacakan SMS. Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia, SMS itu berbunyi: Bah, barusan ada tabrakan angkot 07 dengan delman di pilar Sukaraja Karangpawitan. Saking kerasnya tabrakan, kudanya sampai mati. Tidak ada penerangan dan belum ada polisi.

Abah tertawa. Dia pun mengontak nomor si pengirim SMS karena ingin tahu kelanjutan informasi itu. Ternyata SMS itu dikirim oleh seorang wartawan yang kebetulan melintas di lokasi kejadian. “Jadi kumaha? Kudana dibawa ka mana? Geus dievakuasi ka kamar mayat can?” tanya Abah kepada si pengirim SMS setengah bercanda. “Gimana bah?” aku bertanya. Berdasarkan laporan dari pengirim SMS, Abah kemudian menerangkan bahwa di lokasi kejadian masih banyak kerumunan orang. Selain itu, mayat kuda juga belum dievakuasi. Beberapa saat kami terdiam. Tiba-tiba Abah berinisiatif berangkat ke lokasi kejadian karena kebetulan saat itu Boi TPI membawa mobil. “Saya ngecek heula mang. Kana mobil!” kata Abah. Aku yang sudah bebas tugas mengikuti langkah Abah. “Bah, urang milu!!” seruku. Akhirnya, dengan menaiki mobil boi yang dikemudikan sopir, kami berangkat menuju lokasi kejadian. Tak kurang dari setengah jam, kami sampai di jalan yang disebutkan si pengirim SMS tadi. Jalan di sana memang gelap. Tak ada lampu penerangan sama sekali. Wajar saja kalau di daerah tersebut kerap terjadi kecelakaan.

Kami terus menelusuri jalan tersebut mencari lokasi kejadian. Tak ditemukan kerumunan orang. Padahal biasanya sebuah kecelakaan akan menarik orang banyak. “Sigana mah lokasi kejadian geus diberesan mang,” kata Abah sambil terus memperhatikan keadaan sekitar. Tiba-tiba, kami melihat bangkai delman teronggok di pinggir jalan. Kondisinya betul-betul rusak parah. “Tah mang, eta meureun!” kata Abah. Sayangnya, kami tidak berhasil menemukan bangkai kuda. Akhirnya, Abah memutuskan kembali lagi ke markas di ruang humas dan urung mengambil gambar. “Hayu mang, gambarna goreng. Mun aya keneh kudana mah, bisa dicokot gambarna,” kata Abah. Di perjalanan, telepon genggam Abah berbunyi. Sepertinya, telepon itu berasal dari kawan wartawan lain. Sebab, dari pembicaraannya, Abah tampak menerangkan kondisi di lokasi kejadian. “Kudana geus euweuh, coba cek ka UGD RSU dr Slamet. Sigana mah kudana geus dibawa ka rumah sakit,” ujar Abah kepada si penelepon. Aku tertawa mendengar percakapan tersebut.

“Saha bah?” tanyaku. “Si Ahmad (TVRI) mang,” jawab Abah menjelaskan identitas si penelepon. Menurut Abah, Ahmad bermaksud menyusul ke TKP untuk mengambil gambar kecelakaan. “Manehna nanyakeun kondisi TKP. Ceuk saya, kudana geus euweuh. Kalau mau ngambil gambar kuda, ke UGD RS dr Slamet we,” terang Abah sambil tertawa. “Terus si Ahmad kumaha?” aku kembali bertanya. Tadinya, kata Abah, Ahmad berencana ke UGD RSU dr Slamet, tapi urung karena tidak memiliki gambar TKP. “Dasar si eta mah. Pas ku urang disebutkeun kudana di UGD, siga nu serius. Tapi manehna moal nyokot dan teu meunang gambar TKP,” ujar Abah sambil tertawa. Hahaha, kebayang kalau si kuda benar-benar ada di UGD RSU dr Slamet. Berita itu dipastikan bakal mengisi halaman depan seluruh surat kabar dan menjadi berita utama di televisi keesokan harinya.

Read more »

Minggu, 16 November 2008

Gaji PRT di Hongkong Rp4 Juta

Kemarin petang, di sebuah warnet, aku chatting dengan seorang perempuan yang sama sekali tak dikenal. Aku iseng-iseng menyapanya di yahoo messenger (YM) sambil menyelesaikan tugas mengetik berita. Yah, hitung-hitung hiburan daripada bete nulis berita terus. Rupanya dia membalas sapaanku. Perbincangan pun mengalir. Seperti seorang reporter yang tengah menjalankan tugas liputan, aku mulai bertanya asal usul perempuan itu. Dia menjawab dengan jujur (setidaknya aku percaya dengan jawabannya), mulai dari status, asal daerah, sampai tempatnya bekerja. Aku pun menceritakan statusku yang sudah berkeluarga dan memiliki satu anak. Rupanya, perempuan itu orang Indramayu dan sempat tinggal di Bandung, tepatnya di daerah Kopo. Namun, sejak menjanda 8 tahun lalu, perempuan yang mengaku sudah berusia 40 tahun ini hijrah ke Hongkong, bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW). Dia sendiri punya 3 anak yang sudah besar. Anak paling kecil sudah duduk di bangku SMA. Sementara anak tertua, sudah berusia sekitar 20 tahun.

“Saya sudah 8 tahun menjanda,” tulis perempuan itu menjawab pertanyaanku di YM. Aku tak bertanya alasan dia menjanda. Namun, aku penasaran dengan alasan dia pergi ke Hongkong dan bekerja menjadi TKW mengingat nasib TKW Indonesia kerap menderita di negeri orang. “Di sini, saya jadi pembantu rumah tangga (PRT),” jawabnya. “Ada berapa orang TKW Indonesia di Hongkong mbak?” tanyaku. Dia tidak bisa menjawab pasti. "Jumlahnya mencapai ratusan ribu," katanya. Menurut perempuan itu, menjadi PRT di Hongkong jelas lebih menguntungkan ketimbang jadi pembantu di Indonesia. “Kalau di Indonesia mah, jadi pembantu gajinya kecil. Mending jadi pembantu di sini (Hongkong). Gajinya lebih besar dari pegawai negeri sipil (PNS). Hahahaha,” perempuan itu menerangkan.

Setiap hari, perempuan itu mengaku bekerja selama 24 jam. Seluruh biaya sehari-hari, ditanggung oleh majikannya, termasuk makan. Hari Minggu adalah hari santai buat dia. Biasanya, waktu santai tersebut dia gunakan untuk berkumpul bersama pembantu lainnya di warnet, atau berlibur. “Harga warnet di sana berapa per jamnya?” tanyaku. “Sembilan dolar,” jawabnya. “Atau setara dengan Rp9.000,” katanya lagi. Wah, ternyata harga warnet di Hongkong mahal. “Emang mbak digaji berapa sebagai pembantu rumah tangga?” aku semakin penasaran. “Yah, sekitar Rp4 juta per bulan,” jawabnya. Aku tertegun dengan nilai uang yang disebutkannya. Gila, seorang PRT di Hongkong mendapat gaji sebesar Rp4 juta. Nyaris 3 kali lipat dari gajiku sebagai wartawan. Pantas saja, orang Indonesia banyak yang berlomba-lomba jadi TKW karena ingin mendapat gaji yang layak. Selain itu, perempuan itu mengaku merasa nyaman berada di Hongkong sehingga banyak TKW yang betah berlama-lama berada di sana.

Coba bandingkan gaji pembantu rumah tangga di Hongkong dengan Indonesia. Rata-rata, pembantu di Indonesia digaji sekitar Rp300 sampai 500 ribu per bulan. Itu pun atas persetujuan dan kebaikan sang majikan setelah terjadi tawar menawar harga. Menurut perempuan itu lagi, penegakan hukum mengenai upah TKW di Hongkong betul-betul diatur oleh negara dan ditegakkan aparat hukum. Majikan dan pekerja bisa dihukum jika melanggar aturan tersebut. Di Hongkong, negara juga melindungi hak-hak TKW untuk mendapat jatah libur. Mereka bisa refreshing sesuka hati menikmati hari bebas. Sementara di Indonesia, pembantu rumah tangga kebanyakan tidak punya waktu libur setiap minggunya. “Mbak, boleh tahu uangnya ke mana?” tanyaku. Perempuan itu menjelaskan bahwa uang hasil keringatnya sebagian ditabung, sebagian lagi dikirimkan buat anak-anak dan orangtuanya. Luar biasa! Anak pertamanya bahkan kuliah di Politeknik Institut Teknologi Bandung (ITB).

Selepas maghrib, perempuan itu pamit hendak off dari YM. Aku mempersilakannya. Namun, aku masih berharap bisa berbincang lagi dengannya mengenai suka duka bekerja sebagai PRT di Hongkong. “Mbak, kapan-kapan bisa ngobrol lagi? Aku tertarik dengan cerita mbak jadi TKW di Hongkong,” tanyaku. Dia menjawab singkat. “Ok,” ujarnya lantas mengucap salam. "Jangan lupa mbak, kalau ada yang informasi menarik soal TKW di Hongkong, kasih kabar. Via YM aja lagi," tulisku menutup pembicaraan.

Read more »

Apa Kabar Pakuan?

Seminggu lalu, atau Jumat (7/11), saat baru saja keluar dari ruang Kabag Humas Pemkab Garut Dikdik Hendrajaya untuk menyerahkan charger HP, seorang pria setengah baya tiba-tiba berteriak memanggilku. “Gin!” seru pria yang memang sedari tadi sudah ada di ruang kabag humas itu. Aku kaget dan kembali memasuki ruang kabag humas. “Iya pak?” jawabku heran, karena tidak tahu siapa sosok pria yang memanggilku. “Ini Gin2 bukan?” tanya pria tadi. “Muhun pak, Gin2,” jawabku masih keheranan. “Waah, masak lupa sama akang Gin?” seolah kecewa karena aku tidak mengenalnya, pria tadi kembali bertanya. “Muhun pak, hilap,” jawabku jujur. Pria itu langsung mengenalkan diri. “Ini Wawan. Wawan Pakuan, Pikiran Rakyat,” terangnya. Ya ampun, aku benar-benar lupa dengan sosok pria tadi. Seandainya dia tidak mengenalkan dirinya kembali, sampai pembicaraan usai pun aku pasti lupa. “Punteeen pisan kang, abdi hilap,” kataku sambil menyalami pria tersebut. “Teu nanaon Gin,” jawabnya santai. Aku pun duduk dan berbincang dengan Kang Wawan.

Ingatan kemudian melayang pada bulan Februari 2007 lalu. Kang Wawan, begitu aku menyapa pria tadi saat terlibat bekerja di suplemen Pakuan, salah satu suplemen grup Pikiran Rakyat di wilayah Bogor, Depok, Cianjur, dan Sukabumi. Hanya dua bulan aku bergelut di media tersebut, tepatnya Februari dan Maret, setelah keluar dari koran lokal grup Kompas, sebelum akhirnya bergabung dengan koran nasional grup MNC, akhir Maret 2007 lalu. Aku pun hanya sekali bertemu dengan Kang Wawan di kantor perwakilan Pikiran Rakyat Cianjur. Saat itu, dia sengaja datang untuk memimpin rapat evaluasi kinerja awak Pakuan setelah dua bulan berjalan sejak Januari 2007. Kebetulan, aku ditugaskan di wilayah Kabupaten Bogor dan Kota Depok, bersama Depe, seorang kawan yang sebelumnya pernah menjadi redaktur Pakuan. Dalam pertemuan itu, Kang Wawan banyak memuji kinerja kami, meski ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Aku menyimak seluruh perkataannya dengan seksama. Pertemuan berlangsung tidak terlalu lama, namun cukup membuatku terkesan. Kang Wawan berharap awak Pakuan tidak berubah karena sudah solid. Ia juga berharap aku bisa bertahan di suplemen tersebut.

Awalnya, aku bergabung dengan suplemen Pakuan karena ditawari seorang kawan lama di Cianjur yang sempat bekerja satu media. Saat bekerja satu media, aku menganggapnya sebagai mentor yang baik, karena tulisannya rapi, dan pengalamannya di lapangan. Tak perlu kusebutkan alasan kenapa aku bergabung dengan suplemen Pakuan dan meninggalkan harian lokal grup Kompas yang aku masuki sejak 2002 lalu. Yang jelas, lepas dari harian tersebut, aku langsung berangkat ke Bogor dengan menaiki sepeda motor. Setelah sedikit diberi arahan, aku ditugaskan di wilayah Kabupaten Bogor dan Depok, sementara kawanku, Depe, bertugas di Kota Bogor. Dalam peliputan, aku ditemani seorang wartawan olahraga bernama Iman. Jarak tempuh yang jauh dan menanjak, membuat aku harus membetulkan rantai sepeda motor setiap tiga hari sekali. Ah, betul-betul pengalaman berharga. Di suplemen Pakuan, aku jadi mengenal Kabupaten Bogor dan Depok meski beberapa kali nyasar. Beberapa kali juga aku menemui cuaca yang berbeda di dua wilayah tersebut. Saat di Bogor hujan lebat, di Depok ternyata panas terik. Begitu pun sebaliknya. Saat di Depok hujan, ternyata di Bogor panas. Yang paling berkesan adalah saat aku pergi dari Bogor menuju Cianjur menaiki motor bersama Depe, tengah malam gulita. Bagaimana saat itu kami berdua melintasi kawasan Puncak yang berkabut dan dingin tanpa mengenakan jaket tebal. Luar biasa. Aku juga jadi mengenal banyak tempat-tempat baru, seperti masjid berkubah emas di Depok, atau rumah peninggalan si pitung di Jalan Margonda Raya.

Setiap Jumat, aku pulang ke Bandung. Hari Minggu aku kembali berangkat dibekali sejumlah uang oleh istri untuk hidup sehari-hari di Bogor dari Senin sampai Jumat. Untuk menghemat biaya, aku menginap di Mes PR, di kawasan Bogor Baru. Sementara biaya makan, kadang-kadang, aku mengandalkan ajakan seorang wartawan PR yang biasa meliput di Bogor. Hehehe, lumayan, ngirit pengeluaran. Tugas di suplemen Pakuan biasanya hanya dilakukan dua hari dan maksimal 3 hari. Sebab, meski suplemen Pakuan terbit setiap Sabtu, seluruh tulisan harus terkumpul pada hari Rabu. Sisa hari menuju akhir pekan biasanya aku habiskan di Cianjur, sekadar berkumpul dengan kawan lama yang banyak kukenal di daerah penghasil beras itu. Saat berada di Bogor, aku juga sempat ditawari bergabung dengan media nasional Tempo. Kabarnya, wartawan Tempo di Bogor membutuhkan satu lagi untuk mengisi wilayah Kabupaten Bogor yang luas. Tawaran itu aku pertimbangkan. Aku pun mengirimkan lamaran via email. Namun, aku urung bergabung dengan media tersebut karena keburu dipanggil ke Bandung oleh seorang teman untuk bergabung dengan media grup MNC.

“Ayeuna di Garut Gin?” tanya Kang Wawan, memecahkan ingatanku di masa silam. Aku mengiyakannya. “Atuh sama aja Gin, jauh ti keluarga,” ujar Kang Wawan karena sebelumnya aku mengatakan alasan keluar dari Pakuan karena ingin dekat dengan keluarga. Aku kemudian menerangkan bahwa alasan keluar dari Pakuan bukan semata-mata karena ingin dekat dengan keluarga. Saat itu, aku sangat merindukan pekerjaan sebagai wartawan harian yang setiap hari selalu disibukkan mencari berita. Kang Wawan mengangguk. Ia mungkin paham alasanku. “Gimana sekarang Pakuan Kang?” aku balik bertanya. “Masih jalan Gin,” jawabnya. Ia tak bercerita panjang lebar tentang kondisi Pakuan saat ini. “Tidur di mana Gin?” Kang Wawan kembali bertanya. “Di sini kang,” jawabku. “Di humas?” tanya Kang Wawan memastikan. Aku mengangguk. Pak Dikdik mengiyakan bahwa aku setiap hari tidur di ruang humas Pemkab Garut. “Daripada harus kos kang, mending tidur di sini,” ujarku. Kang Wawan tersenyum. Setelah sekian lama berbincang, aku pamit. “Kang, dikantun heula, abdi aya padamelan deui,” ujarku pamit. Kang Wawan mempersilakan aku pergi meninggalkan ruang Kabag Humas. Ah, sebuah pertemuan singkat yang cukup berkesan karena aku jadi ingat masa-masa sulit saat berada di Bogor. Apa kabar Pakuan sekarang?

Read more »

Rabu, 05 November 2008

Korban Flu Burung Itu Warga Garut



Hari Senin (3/11) pagi lalu, aku melihat sebuah berita di salah satu media online di Bandung. Judul beritanya: RSHS Kembali Terima Pasien Suspect Flu Burung. "Wah, jangan-jangan korban warga Garut?" pikirku saat itu, sambil membaca berita itu dengan seksama. Terbayang kalau pasien suspect itu warga Garut terus gagal diselamatkan, mau tidak mau aku harus meliput keluarga korban. Mending kalau deket, gimana kalau jauh? Beruntung, setelah berita itu dibaca sampai selesai, si pasien ternyata tinggal di Jalan Inhoftank Bandung. "Ada korban flu burung Ded!" seruku pada Dedi Radar Garut yang saat itu ada di sebelahku. Dedi menoleh. "Tapi di Bandung," candaku.

Aku lantas menutup internet dan mencari materi liputan hari itu. Kebetulan, Dedi mendapat kabar terjadi longsor di Kecamatan Cigedug, sekitar 35 Km dari Garutkota. Informasi beredar dengan cepat ke beberapa wartawan, termasuk wartawan televisi. Akhirnya, aku, Dedi, Kemal Tribun Jabar, Abah Janur Anteve, Boi TPI, Cecep PR, Slamet KBR 68 H, dan Kabag Humas Dikdik Hendrajaya, berangkat ke lokasi longsor. Ternyata longsor di Kecamatan Cigedug tidak terlalu menarik. Abah dan Boi bahkan urung mengambil peristiwa tersebut menjadi bahan liputan. Singkat cerita, setelah hampir dua jam berada di lokasi longsor, kami kembali ke ruang humas. Tentu saja sebelumnya kami terlebih dulu menyantap makan siang.

Meski materi liputan tidak terlalu menarik, aku, Kemal, dan Dedi, tetap akan memberitakannya. Pokoknya, yang namanya longsor, sekecil apa pun pasti menjadi berita buat media cetak. Kebetulan, warga 7 desa di Kecamatan Bungbulang saat itu dilanda keresahan menyusul kondisi tanah di sana yang retak-retak dan rawan longsor. Akhirnya, berita longsor di Cigedug, kami gabungkan dengan informasi warga Bungbulang yang mengungsi. Hari semakin sore, dan seluruh berita yang diliput belum sepenuhnya selesai. Tiba-tiba saja, Abah berteriak. "Pasien suspect flu burung di RSHS meninggal. Jenazah akan dibawa ke Garut karena dia warga Kampung Hujung, Desa Cipancar, Kecamatan Leles," ujar Abah. Celaka! Ternyata korban flu burung yang beritanya baru dibaca pagi hari adalah warga Garut. Aku menghela napas. Meski belum ada instruksi dari kantor, pemakaman korban flu burung harus tetap diliput. "Urang tadi isuk2 geus maca berita soal flu burung. Sugan teh lain warga Garut," kataku kepada Kemal sambil terus mengetik berita. "Nya, kudu berangkat mang," tandas Kemal.

Abah dan beberapa teman wartawan lainnya, Boi TPI, Indra Trans TV, Ary Radar Garut, Aep Priangan, Deni Indosiar, dan Tasdik Elshinta, sepakat menumpang mobil Kabag Humas Dikdik Hendrajaya untuk berangkat ke lokasi pemakaman korban karena saat itu hujan turun cukup deras. Indra mendadak jadi sopir tembak. Lantaran belum rampung menulis berita, aku dan Kemal berencana menyusul menaiki motor. "Ke urang nyusul naik motor!!" teriak Kemal sambil melirik ke arahku. Aku mengangguk. Sekitar pukul 18.30 WIB, aku dan Kemal berangkat ke Kecamatan Leles yang berjarak sekitar 15 Km dari Garut Kota dengan menaiki dua motor. Hujan rintik-rintik mengiringi perjalanan kami. Dingin menusuk paru-paru. Sepanjang jalan, perut juga mulai keroncongan karena dari siang, aku ternyata belum makan. Tiba di Kecamatan Leles, aku mengontak Tasdik Elshinta menanyakan lokasi pasti pemakaman. Ternyata lokasi pemakaman cukup jauh dari Jalan Raya Leles. Jalanan yang dilalui juga dalam kondisi rusak. Beberapa kali kami melewati jalan gelap karena di kiri kanan hanya ada pepohonan dan semak belukar. Setelah sempat bertanya ke sejumlah warga, kami tiba di Kampung Hujung, Desa Cipancar, yang merupakan rumah orang tua korban. Aku menghampiri sekelompok ibu-ibu di sebuah makam dan menanyakan rumah keluarga korban. "Wah, jauh sekali pak," jawab ibu tadi. "Di mana persisnya bu?" tanyaku lagi. "Pokona mah jauh, abdi oge keluargana," ibu itu sama sekali tidak mau menyebutkan lokasi rumah korban.

Kemal menelepon Tasdik, menanyakan keberadaan rombongan wartawan yang sudah lebih dulu datang. Ternyata, mereka sedang berada di rumah Lurah Cipancar. Kami menyusul ke rumah lurah, tidak jauh dari lokasi kami berada saat itu. Benar saja, teman-teman tampak berkumpul di depan rumah lurah. Mereka bersiap-siap menjemput jenazah yang sudah berada di kawasan Nagreg. Rombongan kemudian berangkat menaiki mobil ke lokasi awal kami tiba. Aku dan Kemal mengikuti mobil dari belakang. Tiba di lokasi Kampung Hujung, kami berjalan di gang kecil menuju Masjid Al Furqon yang akan dijadikan tempat disemayamkannya jenazah. Lantaran perut makin keroncongan, aku membeli bakso tahu yang dijual persis di depan masjid, disusul Ary dan Kemal. "Lumayan mal, keur ngaganjel beuteung!" kataku. Puas menyantap bakso tahu, kami bergabung dengan rombongan. Jenazah yang dimasukkan dalam peti mati kemudian tiba sekitar pukul 20.15 WIB dan disemayamkan di Masjid Al Furqon. Teman-teman wartawan TV sibuk mengambil gambar. Selesai mengambil gambar kedatangan jenazah, kami kembali duduk, menunggu jenazah dimakamkan sambil menikmati hembusan angin malam.

"Gin, neangan warung yuk, lapar euy," ajak Deni Indosiar. Aku mengiyakan ajakan Deni. Setelah bertanya di mana warung yang buka, kami berjalan menjauhi masjid. Gang yang kami lalui gelap dan warung yang ditunjukkan warga belum ditemukan. "Di mana Gin?" tanya Deni. "Teuing atuh," jawabku. Karena warung tak kunjung ditemukan sementara gang yang dilalui makin gelap, kami akhirnya urung meneruskan perjalanan dan kembali ke rombongan. Waktu terus merayap, dan hari semakin malam. Tiba-tiba, Indra mengajakku berjalan keluar gang. "Hayu mang, neangan warung. Pasti aya," ajak Indra. Daripada diam tak jelas, aku mengikuti langkah Indra. Ternyata Deni menyusul di belakang. Seorang warga menunjukkan sebuah warung yang sudah tutup. "Digedor aja," kata dia. Dibantu warga tadi, kami menggedor warung tersebut. Seorang ibu kemudian keluar dari warung.

Persoalan kami yang saat itu dilanda lapar yang sangat ternyata tidak selesai. Warung itu tidak menjual makanan apa pun. Kami pun hanya menyantap makanan ringan. Aku membeli segelas kopi. Dalam keadaan gelap, kami terpaksa menikmati keadaan. Jenazah belum juga dimakamkan, sementara malam semakin larut. Sekitar setengah jam berada di warung, Deni mengajak kami pergi. Katanya, teman-teman wartawan lain sedang membeli nasi goreng. Kabar itu tentu saja kami sambut dingin, karena biasanya, mereka hanya bercanda. Setelah membayar makanan dari warung, kami berangkat ke lokasi rombongan. Benar saja, tidak ada nasi goreng di sana. Mereka sedang berada di sebuah rumah, menikmati kopi dan sejumlah makanan ringan. "Ceuk urang oge tipu," ujarku kepada Deni dan Indra. Tanpa diminta, aku langsung menyambar makanan ringan yang ada di atas meja.

Pukul 22.30 WIB, kami mendapat kabar jenazah akan dimakamkan. Setelah pamit kepada pemilik rumah, kami berangkat menuju masjid. Aku dan Kemal menaiki motor menuju lokasi pemakaman. Sementara teman-teman wartawan lain, berjalan mengikuti rombongan. Lokasi pemakaman berada sekitar 1,5 Km dari Masjid Al Furqon. Karena gang yang dilalui kecil, aku dan Kemal memarkir motor, tidak jauh dari gang. Seperti biasa, gang yang dilalui sangat gelap. Beberapa kali aku hampir terjatuh. Suara anjing menggonggong mengiringi perjalanan rombongan menuju lokasi pemakaman yang hanya diterangi obor dan sebuah lampu neon. Beberapa kali aku terpaksa melangkahi makam, sekadar mencari lokasi yang tepat untuk mengambil foto. Beberapa warga tampak mengenakan masker mengingat jenazah korban merupakan korban suspect flu burung. Seolah melupakan kondisi itu, aku dan teman-teman lainnya terus mendekati liang lahat tanpa mengenakan masker. Begitu jenazah dikubur, peti mati langsung dibakar. Di sela-sela pemakaman, kami sempat berfoto di dekat obor. Hasilnya lumayan bagus. "Mang tingali hasil fotona, bisi aya penampakan," ujar Tasdik. Aku tersenyum sambil melihat hasil foto. "Euweuh mang," jawabku.

Sebelum prosesi pemakaman selesai, aku, Aep, Abah, Kemal, Boi, dan Indra, meninggalkan makam terlebih dulu. Dalam kondisi gelap, aku berjalan paling belakang. Selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba saja, aku merasa tidak nyaman berada di posisi itu dan berusaha menyalip Abah yang ada di depanku. "Gancang euy!" ujarku setengah berlari. Kami akhirnya tiba di mulut gang. Aku langsung mendekati motor. Teman-teman lantas menyuruh Indra mengambil mobil. Indra sepertinya enggan berangkat sendiri mengambil mobil. "Baturan euy. Embung urang sorangan mah, poek. Ke aya nu milu dina mobil," kata Indra. Kemal pun menawarkan diri mendampingi Indra mengambil mobil. "Hayu, ku urang dibaturan," kata Kemal. Rombongan pengantar jenazah sudah bubar. Setelah Indra datang membawa mobil, kami beranjak pergi kembali ke Garut Kota. "Mang, motorna abuskeun ka mobil lah," candaku karena agak malas harus menempuh perjalanan menuju Garut Kota dengan menaiki motor. Teman-teman tertawa. Aku dan Kemal menyalakan motor dan melaju di kegelapan malam. "Ente di hareup, ke ku urang dikawal," seru Indra. "Siap mang!!" jawabku. Di kawasan Leles, rombongan berhenti sejenak karena Pak Dikdik mengajak kami membeli nasi goreng. Akhirnya, penderitaan kami berakhir di tempat nasi goreng.

"Cintailah pekerjaanmu, tapi jangan pernah jatuh cinta kepada perusahaanmu, karena kamu tidak pernah tahu kapan perusahaanmu berhenti mencintaimu"

Read more »

Kamis, 23 Oktober 2008

Pilkada Oh Pilkada........



Entah kenapa selama berada di Kabupaten Garut sejak akhir Mei lalu, aku betul-betul malas meliput kegiatan pemilihan kepala daerah (pilkada) Kabupaten Garut, mulai dari persiapan, hingga masa kampanye. Padahal, banyak teman-teman wartawan di Bandung yang memberiku gelar “wartawan spesialis pilkada” karena aku sering meliput pesta demokrasi lima tahunan itu. Ternyata ungkapan tersebut tidak seluruhnya benar. Terbukti, saat diminta mengawal pilkada Garut, aku seperti kehilangan gairah. Tidak seperti pilkada-pilkada sebelumnya yang aku liput, semangatku untuk memberitakan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Garut seolah-olah luntur. Asisten redaktur (asred) pemegang halaman pilkada di koran tempatku bekerja saat ini bahkan sempat beberapa kali melayangkan teguran karena aku jarang menyetorkan berita pilkada Garut. Padahal dari sisi jumlah, pasangan calon yang mengikuti pilkada Kabupaten Garut cukup banyak yaitu 7 pasangan calon. Dengan jumlah sebanyak itu, pesta demokrasi di Kabupaten Garut diprediksi bakal ramai. Toh prediksi itu meleset. Selain aku sendiri betul-betul kehilangan roh liputan pilkada, sosialisasi pasangan calon sepertinya gagal. Sempat ramai saat calon wakil bupati dari independen yang juga artis sinetron, Diki Candra, mendaftarkan diri ke KPU bersama pasangannya, cabup Aceng Fikri. Setelah itu, kembali tenggelam tanpa ada yang tahu penyebabnya. Aku sempat mengungkapkan kegundahanku ini pada seorang teman liputan di Garut beberapa hari lalu.

“Mang, kunaon nya hoream teuing ngaliput pilkada Garut,” tanyaku kepada Inul, wartawan Galamedia pada suatu hari. Inul pun rupanya merasakan hal yang sama. Ia juga mengaku tak tertarik sama sekali meliput pilkada Kabupaten Garut. “Enya. Mungkin karena KPU-nya tidak begitu terbuka, dan calon juga seolah asyik sendiri tanpa melibatkan media,” jawab Inul. Jawaban Inul bisa jadi benar. Di Kabupaten Garut, KPU tampaknya tidak terlalu terbuka kepada wartawan. Jarang sekali mereka mengabarkan kegiatan lewat SMS atau telepon. Aku juga tidak terlalu dekat dengan ketua dan anggotanya, karena hanya sesekali memasuki kantor KPU. “Masyarakat juga sepertinya sudah jenuh,” kata Inul lagi. Hmmm, tampaknya jawaban kedua juga masuk akal. Tidak hanya masyarkat, aku sepertinya juga mulai merasa jenuh meliput pilkada. “Bener mang. Sigana mah masyarakat sudah jenuh, plus KPU dan calonnya yang tidak terlalu gembar-gembor. Saya ge sigana mah geus bosen ngaliput pilkada,” aku mengiyakan dan mulai memikirkan cara mengusir kejenuhan ini karena mau tidak mau, aku harus tetap meliput pilkada Kabupaten Garut. Inul tersenyum dan melanjutkan tugasnya menulis berita.

Sejak berkecimpung di dunia jurnalistik tahun 1999 lalu, aku memang kerap ditempatkan di pos liputan yang berbau politik. Saat bekerja pada sebuah tabloid di Bandung, aku gencar meliput pemilu tahun 1999 yang memunculkan 48 partai dan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjadi Presiden RI. Bahkan, Juli 2001 aku sempat hendak berangkat ke Jakarta meliput Sidang Istimewa MPR terkait pergantian tampuk kepemimpinan. Namun, karena sesuatu hal, aku tidak jadi berangkat dan sidang istimewa memunculkan Megawati menjadi presiden menggantikan Gus Dur. Kemudian ketika bekerja di sebuah harian lokal grup Kompas Gramedia, aku sempat diperbantukan meliput kegiatan pemilihan Gubernur Jabar yang masih dipilih oleh DPRD Jabar, tahun 2003 lalu. Hanya dua pasangan calon yang ikut bertarung dalam pesta demokrasi yang hanya melibatkan segelintir orang itu. Kedua pasangan itu adalah Danny Setiawan-Nu’man Abdul Hakim yang diusung Golkar-PPP, dan Tayo Tarmadi-Rudy Harsa Tanaya dari PKB plus-PDI Perjuangan. Berita Pilgub Jabar saat itu diblow up habis-habisan oleh koran tempat saya bekerja. Di halaman satu, setiap hari harus selalu ada berita pilgub. Bersama dua teman, aku juga harus mengisi satu halaman penuh laporan khusus (lapsus) mengenai pilgub. Pilgub Jabar 2003 yang digelar pada 13 Mei 2003 akhirnya dimenangkan pasangan Danny-Nu’man. Tugasku memberitakan pesta demokrasi itu pun usai. Berturut-turut, aku kemudian ditempatkan di Kabupaten Bandung, wilayah Timur Bandung, dan Kota Cimahi.

Awal Februari 2004, aku ditarik ke Gedung Sate dan KPU Jabar. Saat itu, aku diminta meliput persiapan pemilu legislatif Jabar plus pemilu presiden. Bersama beberapa teman, hampir setiap hari aku rajin menyambangi Kantor KPU di Jalan Garut. Tidak hanya meliput, kami juga bahkan kerap menjadikan lapangan basket di Kantor KPU sebagai tempat bermain bola. Aku juga masih ingat, malam-malam berada di Kantor KPU Jabar untuk menghitung siapa saja yang masuk calon legislatif (caleg) yang menjadi anggota DPRD Jabar bersama seorang teman. Cukup lama aku menempati pos Gedung Sate dan KPU Jabar hingga 100 anggota DPRD Jabar yang baru dilantik, Senin (30/8) bertepatan dengan tanggal kelahiran anakku. Bulan Oktober 2004, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla (JK) terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI. Aku masih ingat beberapa kejadian saat pasangan tersebut berkampanye di Kota Bandung sebelum terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI. Bagaimana aku harus bangun pagi sekadar mengikuti kegiatan SBY di Pasar Caringin bersama istrinya, atau ribut dengan pengurus Partai Demokrat yang melarang kami meliput kampanye SBY di Lapangan Gasibu hingga berbuntut pemboikotan, dan banyak lagi hal-hal yang sulit dilupakan. Ah, betul-betul saat letih yang luar biasa. Hingga bulan Mei 2005 aku bertahan di Gedung Sate dan KPU Jabar. Aku kemudian ditugaskan di wilayah III Cirebon, selama lebih dari tiga bulan.

Pertengahan Agustus 2005, masih di tahun dan koran yang sama, aku ditarik kembali ke Bandung. Lagi-lagi untuk urusan pilkada. Saat itu, aku dan seorang teman diminta mengawal pilkada Kabupaten Bandung. Sama seperti saat mengawal Pilgub Jabar 2003, kantor memberi porsi khusus untuk pesta demokrasi yang kali ini melibatkan rakyat itu. Dua pasangan calon pun ikut bertarung yaitu Obar Sobarna-Yadi Sri Mulyadi dan Dudin Sadudin-Ridho Budiman. Redaktur kemudian meminta aku meliput setiap kegiatan pasangan Obar-Yadi, sementara temanku meliput kegiatan pasangan Dudin-Ridho. Terpincut ingin mendapatkan berita ekslusif, redaktur bahkan meminta aku meliput kegiatan sahur calon Bupati Obar Sobarna dan keluarganya karena saat itu bertepatan dengan bulan ramadan. Temanku juga terpaksa meliput kegiatan sahur Dudin. Obar sendiri saat itu merupakan calon incumbent karena masih menjabat sebagai Bupati Bandung periode sebelumnya. Masih bulan ramadan, pilkada Kabupaten Bandung digelar 22 Oktober 2005 dan seperti sudah diduga sebelumnya, pasangan Obar-Yadi terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Bandung periode 2005-2010. Ketidakpuasan pun muncul dari pasangan Dudin-Ridho yang berbuntut pada sidang gugatan pilkada di Pengadilan Tinggi (PT) Jabar. Hasilnya, KPU Kabupaten Bandung memenangkan sidang, dan pasangan Obar-Yadi tak tergoyahkan memimpin Kabupaten Bandung lima tahun ke depan.

Sebelum Obar-Yadi dilantik tanggal 5 Desember 2005, seorang redaktur tiba-tiba memanggilku. Ia meminta aku berangkat ke Kabupaten Cianjur, dan mengawal pilkada di sana. Sesuai surat keputusan (SK) aku diminta meliput di Cianjur mulai tanggal 1 Desember. Namun, kantor memberiku kompensasi untuk berangkat ke Cianjur setelah pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Bandung terpilih. Tanggal 6 Desember 2005, aku berangkat ke Cianjur dan langsung menemui Ketua KPU Kabupaten Cianjur saat itu, Yudi Junadi. Tidak disangka, kiprahku meliput di Kabupaten Cianjur, terutama pemilihan bupati membuat namaku sempat jadi perbincangan di wilayah penghasil beras tersebut. Bersama beberapa teman di Cianjur, aku seolah membuat sebuah komunitas wartawan baru. Hehehehe, kembali ke pilkada, saat itu, ada dua pasang calon Bupati-Wakil Bupati Cianjur yang akan bertarung, yaitu pasangan Tjetjep Muchtar Soleh-Dadang Sufianto yang diusung Partai Demokrat dan PKS, serta pasangan incumbent Wasidi Swastomo-Ade Barkah yang dicalonkan Partai Golongan Karya dan 17 partai politik lainnya. Pasangan Tjetjep-Dadang memenangkan pilkada Kabupaten Cianjur yang digelar 30 Januari 2006. Dua bulan kemudian, aku kembali ditarik ke Bandung dan kembali menempati Gedung Sate.

Karena sesuatu hal, awal Februari 2007, aku keluar dari media yang membawaku meliput tiga kali pilkada dan satu pemilu itu dan berangkat ke Bogor. Setelah dua bulan menjelahi Bogor-Depok karena aku bergabung dengan salah satu suplemen grup koran terbesar di Jawa Barat, aku bergabung dengan koran grup MNC, akhir Maret 2007. Di koran yang lahir tahun 2005 ini, aku ditempatkan di pos ploting, kejaksaan, kehakiman, dan kepolisian (kejakimpol). Entah karena pengalaman meliput beberapa pilkada, Januari 2008 kantor tempatku bekerja kemudian memindahkan posisi liputanku dari kriminal ke Gedung Sate, DPRD Jabar, dan KPU Jabar. Redaktur juga memintaku fokus meliput pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar. Tiga pasangan calon bertarung, yaitu Danny Setiawan-Iwan Sulandjana, Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim, dan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf. Aku kebagian menguntit kegiatan pasangan Agum-Nu’man. Saking semangatnya meliput pilgub Jabar, aku bahkan sempat mengikuti sosialisasi cagub Agum Gumelar sebelum masa kampanye dimulai ke wilayah Jabar Selatan. Pada saat pencoblosan, Minggu (13/4) lalu, aku juga mengikuti seluruh kegiatan pasangan Agum-Nu’man, hingga dinyatakan kalah dalam pilkada. Akhirnya, Pilgub Jabar usai dan melahirkan pemimpin baru yang tidak disangka-sangka sebelumnya yaitu Ahmad Heryawan-Dede Yusuf. Tidak sampai pelantikan, akhir Mei 2008 aku ditugaskan ke Kabupaten Garut yang juga akan menggelar pilkada 26 Oktober ini. Ah, lagi-lagi aku dihadapkan pada pesta demokrasi yang membosankan. Jangan-jangan, tahun depan juga aku ditempatkan kembali di KPU Jabar untuk mengawal pemilihan legislatif dan pemilu presiden?

Read more »

Rabu, 17 September 2008

Berburu Masjid Saat Ramadan



Ada tugas baru dari asisten redaktur (asred) selama bulan Ramadan ini. Aku wajib mencari masjid unik atau memiliki sejarah khusus di wilayah liputan. Selama itu pula, dari awal Ramadan, selain mendapat instruksi langsung dari asred, aku berburu masjid-masjid di wilayah Kabupaten Garut. Sesekali aku mengajak Inul, teman wartawan dari Galamedia, berdiskusi mengenai masjid yang layak diliput dan diekspos di media tempatku bekerja. Beberapa masjid memang sudah masuk list perburuan. Di antaranya Masjid Syekh Jafar Shidik di Kecamatan Cibiuk, Masjid Cipari di Kecamatan Pangatikan, Masjid Harun Arrasyid di Kecamatan Cikajang, dan Masjid Agung Garut. Dari seluruh list masjid yang rencananya aku buru, baru dua yang berhasil diliput. Satu masjid yaitu Masjid Cikajang bahkan diliput tidak sengaja pada Jumat (12/9) lalu, saat aku bersama sejumlah wartawan bermaksud pergi ke Gunung Papandayan untuk melihat aktivitas penambangan belerang liar.

Informasi mengenai suasana di kawasan Gunung Papandayan yang mencekam menyusul penangkapan para penambang liar rupanya membawaku sampai ke Masjid Harun Arrasyid di Kampung Giriwaras, Desa Cibodas, Kecamatan Cikajang, Jumat (12/9) lalu. Saat itu, aku, Dedi Radar Garut, Abah Antv, Ibu Niknik (SCTV), Boi TPI, dan Kemal Tribun Jabar, mengalihkan liputan dari Gunung Papandayan menuju Kecamatan Cikajang, karena informasi mengenai perlawanan warga di Gunung Papandayan Kecamatan Cisurupan, meleset. Kami bersama-sama menaiki mobil sedan milik Dedi. “Mendingan urang teruskeun ka Masjid Cikajang. Kagok udah sampai sini,” kata Dedi, begitu sampai di Polsek Cisurupan. Kami pun menyetujuinya. Selain sudah urunan bensin Rp10 ribu perorang (aku terpaksa pinjam dulu dari Kemal uang urunan), jarak dari Kecamatan Cisurupan menuju Cikajang sudah dekat. Akhirnya, selang 30 menit dari Polsek Cisurupan, kami tiba di Masjid Harun Arrasyid yang cukup megah.

Seperti biasa setiap kali liputan ke wilayah baru, kami selalu menyempatkan diri berfoto. Setelah itu, baru mengambil beberapa foto masjid dari berbagai sudut untuk menuntaskan tugas liputan. Selang beberapa menit kemudian, rombongan wartawan lain menyusul menaiki mobil Kijang Kabag Humas Dikdik Hendrajaya. Mereka masing-masing Irwan Kuir RRI, Indra Trans TV, dan Aep Priangan. Kami pun bergabung dan bersama-sama menelisik seluruh sudut masjid. “Wah, sejuk sekali ya di sini,” kata Irwan. “Saya mah hayang ngaletakan kubah kecil yang jadi gerbang masjid,” kata Aep sambil menunjuk kubah-kubah kecil di pintu gerbang masjid yang berwarna-warni mirip sebuah permen. “Gin, foto urang euy!” teriak Kemal. Kami akhirnya larut dalam kesibukan masing-masing dan mencoba menyamankan diri di masjid tersebut. Data-data sama sekali belum diperoleh sementara waktu terus mengalir hingga menunjukkan pukul 14.30 WIB. Beruntung, belum sempat kami berangkat mencari narasumber, sebuah mobil melintas di komplek masjid, dan mendatangi kami. Seorang lelaki setengah baya turun dari mobil dan menanyai kami. Akhirnya, Abah Janur memulai pembicaraan. Ia menjelaskan maksud kedatangan kami ke masjid tersebut yaitu untuk melakukan liputan.

“Kami datang mau meliput kegiatan di masjid ini pak,” kata Abah. Lelaki yang belakangan diketahui bernama Uban Subarna, pemilik masjid, tampak enggan memberi keterangan. “Saya tidak mau masjid ini diekspose. Selain belum selesai, saya juga takut disangka riya (sombong),” kata Uban. Namun, bukan Abah namanya kalau gagal membujuk narasumber. Sambil sedikit membual, Abah menjelaskan kalau peliputan ini ini akan membuat masjid semakin banyak didatangi orang yang akan beribadah. Uban luluh. Ia akhirnya mau diwawancarai wartawan, meski keterangan yang disampaikannya sangat minim. Aku dan Dedi sempat tersenyum saat dia menceritakan proses pembangunan mesjid dan biaya yang dikeluarkan. Pasalnya, penjelasan Uban bertolak belakang dengan alasan penolakannya memberi keterangan karena khawatir disebut riya. “Total biaya yang dikeluarkan mencapai Rp14 miliar,” kata Uban enteng. “Saya juga sengaja membuat jalur kendaraan berbentuk huruf U, sesuai dengan huruf awal nama saya,” katanya lagi.

Areal masjid tersebut memang tergolong luas hingga mencapai 6 hektare. Kapasitas masjid, mampu menampung hingga 500 jamaah. “Awalnya, saya memang ingin membangun sebuah masjid di Kecamatan Cikajang, karena saya asli orang Cikajang. Ide ini sudah tercetus sejak 10 tahun yang lalu, dan pembangunannya baru terlaksana pada 9 September 2007 lalu. Pembangunan mesjid ini murni dana pribadi dan sumbangan-sumbangan masyarakat lain,” terang Uban. Lokasi masjid yang berada di dekat Gunung Cikuray membuat udara di sekitar masjid terasa sejuk. Sebuah kolam ikan yang berada di pinggir masjid menambah sejuknya suasana masjid. Di pinggir Masjid Harun Arrasyid, berdiri sebuah beduk berdiameter 1,8 meter dan kohkol setinggi sekitar 3 meter. Menurut Uban, kohkol tersebut berusia ratusan tahun peninggalan almarhum kakeknya.“Kohkol ini berasal dari pohon nangka warisan almarhum kakek saya. Usia pohon sudah ratusan tahun. Sengaja saya pasang beduk dan kohkol besar ini karena dari dulu saya ingin membangun masjid yang memiliki beduk besar. Sebab, masjid zaman dulu selalu ditandai dengan keberadaan kohkol dan beduk besar. Kan dulu belum ada sound system, jadi pake beduk besar,” katanya.

Meski data yang diperoleh minim karena Uban pamit hendak pergi ke Garut Kota, kami tetap puas. Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Kami pun memutuskan kembali ke base camp. Sepanjang perjalanan, cerita Uban yang takut disebut riya menjadi topi pembahasan. “Lucu, takut disebut riya, tapi pas ditanya biaya masjid langsung menyebutkan angka Rp14 miliar,” celetuk Dedi sambil mengemudikan mobil sedannya. Di sebuah rumah makan Ciburial, kami berhenti. Tentu saja bukan hendak menyantap makan sore, tapi meliput sebuah area permainan sepeda air di dekat rumah makan tersebut. Indra, Abah, dan Ibu Niknik, sempat mencoba menaiki sepeda air. Sementara aku hanya menyaksikan mereka bermain sambil melihat sekumpulan ikan mas berebut mengambil makanan. “Mal, berita naon nya?” tanyaku. Kemal terdiam. “Ya, penangkapan penambang belerang. Terus feature masjid. Ku urang geus dilisting,” kata Kemal. “Oh iya. Itu aja ya?” jawabku. Puas bermain sambil mencari data seputar arena permainan sepeda air, kami kembali ke kawasan Garut Kota.

Di depan komputer, rasa malas menghantuiku hingga akhirnya aku enggan menuliskan liputan Masjid Harun Arrasyid. Kemal berseru. “Gin, nu masjid dibikin?” tanya dia. Aku menggeleng. “Wah, urang geus ngalisting!” serunya lagi. “Nanti saja mal, buat stok,” kataku lagi. Kemal pun akhirnya sama-sama tidak menulis hasil liputan masjid. Ia sedikit bergumam. “Wah, listing sama berita yang dikirim jadi beda!” selorohnya. Aku tersenyum sambil tetap mengetik.

Read more »

Kamis, 11 September 2008

Kereta Anjlok, Nenek Meninggal, dan Kontrak Kerja



“Mang, kereta anjlok di Cibatu!! Buru ditungguan ku urang di ruang humas!!" Indra Trans TV tiba-tiba meneleponku kemarin malam sekitar pukul 20.00 WIB. Kontan saja, aku dan Kemal Tribun Jabar yang tengah melaju menuju Bandung dengan menaiki dua motor berhenti di sekitar kawasan rumah makan Pujasega. "Urang balik deui Mal. Kereta anjlok!!" ajakku. Kemal setuju. Kami berdua langsung membalikkan arah motor kembali menuju ruang humas di Jalan Pahlawan. Semua rencana yang sejak sore dibicarakan dengan kemal buyar. Tadinya, aku berencana pergi ke kantor menemui dua teman karib, Epoy si bonsai kecil dan Mas Eko sang fotografer sebelum memberi kejutan kepada istriku. Kami berencana membicarakan banyak hal, termasuk soal kantor. Sementara Kemal, bermaksud mengambil motornya yang mogok di bengkel kawasan Nagreg. Dengan agak terburu-buru karena khawatir ditinggalkan teman lainnya, kami memacu motor ke ruang humas. Rasa lapar karena belum menyantap nasi setelah seharian puasa tak dihiraukan.

Tiba di ruang humas, Indra sudah menunggu di depan. Ia terlihat sibuk memijit keypad handphone. "Kela mang, urang neangan lokasi pastina heula. Terus berangkat naik mobil," kata Indra. Di ruang humas, Mang Anang Priangan dan Inul Galamedia terlihat masih berkutat di depan komputer. Keduanya memutuskan tidak ikut ke lokasi karena ada keperluan lain. Kemal mulai kasak-kusuk berusaha menelepon Kepala Humas PT KA Daop 2 Bandung Mateta Rizalulhaq. Sempat nyambung namun kembali terputus karena sinyal yang buruk. Aku kemudian mengabarkan kejadian tersebut ke redaktur di Jakarta. Rupanya, berita kereta api anjlok itu diprioritaskan untuk halaman luar sehingga beritanya bakal ditunggu. Selang beberapa menit kemudian, aku menghubungi Epoy. Selain membatalkan rencana ke Bandung, saat itu aku meminta Epoy mencoba menghubungi Mateta. "Iya Kang, nanti aku hubungi," kata Epoy. Aku terdiam sejenak. Tiba-tiba, HP-ku berbunyi. Sebuah SMS dari bapak mampir. "Cep bapak sareng mamah ke Pandeglang. Ema pupus (meninggal) tadi jam 4 sore," begitu isi SMS tersebut. "Innalillahi wa innallilahi Rojiun," ucapku. Mang Anang yang mendengar ucapan itu langsung bertanya. "Kunaon Gin?" tanya Mang Anang. "Nini urang maot," jawabku lirih. Mendengar jawabanku, Mang Anang lantas mengucapkan doa yang sama. Saat itu, Pikiran jadi kalut. Aku bahkan tak sempat menelepon bapak untuk menyampaikan maaf karena tak bisa datang ke Pandeglang. Otakku masih memikirkan kereta anjlok. Selang beberapa menit kemudian, Abah Janur Antv dan Deni Indosiar datang. Mang Anang meminta kami menunggu Pak Cecep PR yang siap bergabung ke ruang humas dan ikut berangkat ke lokasi. "Hayu mang, lokasina di Cibatu-Cipeundeuy," ajak Indra. Setelah menunggu beberapa saat, Pak Cecep akhirnya datang. SMS dari bapak tak kuhiraukan lagi. Aku, Kemal, Deni, dan Pak Cecep ikut mobil Indra. Sementara Abah Janur menunggu Boi TPI yang juga hendak berangkat ke lokasi kejadian dengan menaiki mobil.

Seperti biasa, Indra melajukan mobil sedannya dengan kencang layaknya seorang pembalap formula 1. Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Lantaran informasi awal kejadian anjloknya kereta di kawasan Cibatu, tujuan kami saat itu tentu saja Kecamatan Cibatu tepatnya Polsek Cibatu. Melintasi malam-malam jahanam dengan kecepatan tinggi, kami akhirnya tiba di Mapolsek Cibatu. Pak Cecep dan Deni turun dari mobil menanyakan lokasi pasti kereta anjlok kepada petugas polsek yang sedang berada di depan. Petugas itu kemudian menyebutkan lokasi anjloknya kereta api di Kecamatan Malangbong, bukan di Cibatu. Setelah Pak Cecep dan Deni masuk mobil, Indra kembali memacu kendaraannya menuju Malangbong. Kami melintasi jalan sempit berbatu. Dalam perjalanan, Kabag Humas Dikdik Hendrajaya mengirimkan pesan. Isi pesan: Kembali kereta api mutiara selatan anjlok di Kampung
Cibangkrong, Desa Mekarmulya, Kecamatan Malangbong pukul 19.30 WIB. Sekian lama melintasi jalan sempit, mobil Kapolres Garut AKBP Rusdi Hartono tiba-tiba terlihat berada di belakang mobil kami. Indra lantas melambatkan mobil, memberi kesempatan mobil kapolres menyusul dan beralih ke depan. Ternyata, di belakang mobil kapolres, mobil Carry milik Boi menempel ketat. Di dalamnya terdapat gerombolan siberat masing-masing Abah Janur, Ahmad TVRI, Tasdik Elshinta, dan tentu saja Boi. Hanya saja, yang mengemudikan mobil bukan Boi, tapi seorang sopir.

Tiga kendaraan akhirnya melaju beriringan di Jalan Raya Malangbong. Mobil kapolres berada di depan, disusul mobil Boi. Mobil Indra berada di urutan terakhir. Di sebuah tikungan, Indra berhasil menyalip Carry milik Boi. Namun, mobil kapolres terhalang sebuah truk. Karena ingin menempel mobil kapolres, Indra pun mencoba menyalip truk tersebut. Tak urung, Deni sempat tercekat karena kaget melihat gaya Indra menyalip truk. Posisi pun beralih. Kini mobil Indra berada di belakang mobil kapolres sementara rombongan Boi tertinggal di belakang. Sebelum sampai di lokasi, kapolres sempat mendatangi Stasiun Cipeundeuy karena belum tahu lokasi pasti anjloknya kereta. Dipandu dua orang yang menaiki motor, kami tiba di sebuah Pesantren Annur dan memarkirkan mobil. Lokasi anjloknya kereta ternyata masih jauh dari tempat parkir mobil. Kami akhirnya berjalan naik turun bukit sepanjang sekitar 3 Km. Kedua mataku sempat berkunang-kunang karena tak kuat menahan lelah akibat perut kosong. Hanya diterangi cahaya lampu senter, kami berjalan tergopoh-gopoh. Sekitar 20 menit, kami tiba di lokasi kejadian. Di sana para teknisi dari PT Kereta Api terlihat sibuk membetulkan roda kereta api yang anjlok dengan menggunakan dongkrak hidrolik.

Hujan gerimis sempat mewarnai proses pembetulan roda kereta api yang anjlok. Aku dan Kemal sibuk mencari data. Karena tak mungkin mengirim berita lewat internet, aku memutuskan menyampaikan data via telepon. Redaktur meminta aku mengirim foto. Melihat waktu yang tidak mencukupi, aku menolak permintaan tersebut. Aku pun hanya berkonsetrasi mencari data selengkap-lengkapnya. Pukul 22.30 WIB, roda kereta api berhasil dibetulkan dan kami kembali berjalan menuju lokasi parkir mobil. Rasa lelah betul-betul menggulungku saat itu. Di dalam mobil, aku menghela napas panjang. Lapar sudah tak terasa namun dahaga menyergap. Ah, perjuangan malam itu memang cukup berat. Di tengah perjalanan menuju kawasan Garut Kota, kami memutuskan berhenti di sebuah warung. Aku menengguk sebotol Mizone. Teman-teman melakukan hal yang sama. Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. Malam semakin larut. Hujan deras tiba-tiba mengguyur. Sepertinya di luar mobil, langit betul-betul susut beku. Lantunan lagu "Tinggal Kenangan" Gabby terdengar dari tape mobil Indra.

Pukul 23.45 WIB, kami tiba di ruang humas. Aku sempat menelepon redaktur meminta petunjuk mengirim foto. Ternyata jam deadline sudah tutup sehingga foto tak bisa lagi dikirim. Tak terasa perut lagi-lagi mulai keroncongan. Dua piring gorengan menemani malam-malam kami menunggu waktu sahur di ruang humas. "Mal, sahur di mana? Maenya jeung cuankie deui?" tanyaku. Kemal yang sudah terlihat lelah hanya tersenyum. "Urang sare heula ah. Hudangkeun jam 3 pas sahur," kata Kemal sambil merebahkan tubuhnya di sofa ruang humas. Larut malam begini, aku sudah tak bisa tidur. Ingatanku melayang pada sebuah perbincangan dengan seorang teman di Bandung via YM kemarin sore mengenai kondisi kantor dan SMS dari bapak yang mengabarkan nenek meninggal. Hmmm, memang sudah saatnya aku menanyakan kembali kontrak kerja yang tak jelas. Terima kasih kawan, tunggu saja langkahku selanjutnya!!

Read more »