Selasa, 12 Agustus 2008

Jari Tangan Siapakah Ini?



Ruangan Humas Pemkab Garut di Jalan Pahlawan mendadak ramai sore tadi. Cerita Kemal (Tribun Jabar) saat meliput di Desa Sarimukti, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut bersama Boi (TPI) menjadi bahan perbincangan serius antarsesama wartawan. Sore itu, bapak satu anak yang sama-sama merantau di Kabupaten Garut ini tiba-tiba memperlihatkan hasil jepretan foto dari kameranya sendiri saat berada di sebuah perkebunan kol. Sekilas tak ada yang aneh dalam foto tersebut. Di sana terlihat foto Kemal sedang berpose dengan latar belakang hamparan kebun kol. Namun, empat jari kecil tiba-tiba terlihat muncul di belakang kepalanya. Awalnya, Kemal mengira jari tersebut milik Boi yang sama-sama berada di perkebunan kol. Namun saat ia menanyakan hasil fotonya kepada Boi, wartawan TPI itu mengelak. Kontan saja, keduanya mengaku langsung meninggalkan lokasi perkebunan tersebut.


“Tadinya saya pikir itu jari Boi yang jahil. Karena biasanya, dia mah suka jahil kalau lihat orang difoto. Ternyata, Boi mengelak dan malah langsung mengajak saya pergi,” cerita Kemal kepada sejumlah wartawan yang ada di ruang humas sore tadi. Akal sehat Kemal pun berputar keras. Kalau pun memang Boi yang sengaja jahil, pikir Kemal, sungguh tidak mungkin. Sebab, posisi Boi berada cukup jauh dari tempat dia berdiri atau berjarak sekitar 3 meter. Selain itu, Boi pun saat itu sedang duduk di atas motor sambil mengambil gambar suasana perkebunan kol. Saking gugupnya, ujar Kemal, Boi lupa menyalakan stater sepeda motornya saat bermaksud pergi jauh dari perkebunan tersebut. “Saya mah gak takut. Si Boi yang tiba-tiba ngajak pergi, sampai lupa menyalakan stater motor,” kata Kemal.

Akhirnya diskusi pun menghangat. Beberapa wartawan mengaku tidak percaya dengan cerita Kemal dan bersikukuh menyangka jari itu milik Boi. Namun, Kemal yang mengalami sendiri pengalaman tersebut tetap ngotot dengan pendiriannya. “Tidak mungkin itu jari Boi. Jarak dia dengan saya cukup jauh, dan saat itu, Boi juga sedang sibuk mengambil gambar suasana perkebunan,” tandas Kemal. Mang Anang dari Priangan menyambar pernyataan Kemal dan meminta penyuka lagu-lagu Beattles itu merekonstruksi kejadian yang dialaminya. “Secara logika pun tidak mungkin jari Boi sampai ke belakang kepala saya. Jaraknya juga jauh,” bantah Kemal yang menolak rekonstruksi. “Jadi ente keukeuh itu foto hantu?” tanya Aep. “Saya tidak tahu, tapi kejadiannya jelas seperti itu,” kata Kemal. Abah Janur Antv ikut urun rembug. Ia mengambil kamera Kemal dan meneliti hasil foto tersebut.

“Wah mang, bener ieu mah jurig. Kameranya harus buru-buru dilepas. Sok ku Abah dibeuli Rp200 ribu. Daripada nanti ikut ke Bandung,” ujar Abah sambil memperhatikan dengan seksama foto Kemal bersama penampakannya itu. Mendengar perkataan Abah, Kemal hanya tersenyum. “Kalau tidak, mending sekarang mere kifarat untuk 10 orang miskin. Cukup we Rp1.000 saurang,” Abah terus memberikan usul gilanya. Mang Anang yang juga dikenal jahil, menimpali omongan Abah. Menurut Mang Anang, keanehan seperti itu memang kerap terjadi di Kecamatan Pasirwangi. “Biasanya, penampakan itu ikut. Makanya, ini mah hanya saran, jangan pulang ke Bandung malam-malam. Bayangkan saat melintas di Leuweung Tiis,” ujar Mang Anang. Perkataan dua wartawan asli asal Kabupaten Garut itu membuat Kemal terlihat mesem-mesem. Entah percaya atau tidak dengan semua pembicaraan itu, yang jelas saat itu Kemal hanya tersenyum sambil meneruskan pekerjaannya menulis berita.

Selama Kemal mengetik berita, semua wartawan yang ada di ruang humas tak henti-hentinya menasihati Kemal agar tidak menganggap main-main peristiwa tersebut. Abah tetap keukeuh dengan keinginannya agar Kemal segera menjual kamera tersebut dan dia siap menampungnya. Usul Mang Anang lain lagi. Ia meminta Kemal mencetak hasil foto tersebut dan memeriksanya. “Kalau hasilnya tetap sama, berarti itu bukan penampakan. Tapi kalau sudah dicetak hasilnya berbeda dan bayangan jari tersebut tidak ada, berarti foto itu memang ada penampakkannya,” ujar Mang Anang. Kemal sendiri bergeming dan tidak menanggapi usulan teman-temannya. Ia tetap asyik mengetik berita karena jam deadline sudah semakin dekat. “Jadi Mal, setan mah tidak kenal orang. Mau itu penyuka beattles atau penyuka dangdut. Geus datang mah, datang we,” seloroh Abah Janur. Begitulah, sore itu perbincangan soal foto hasil jepretan Kemal terus bergulir.

Menjelang malam ruang humas mulai sepi. Tinggal aku, Abah Janur, Inul Galamedia, Indra Trans TV, Ukas Reks Radio, dan Kemal yang masih bertahan. Inul yang penasaran, memperhatikan foto itu dari komputer dengan seksama. Ia berpikir keras menganalisa jari yang muncul di belakang kepala Kemal dalam foto tersebut. Menurut pengakuan Kemal, saat mengambil foto, dia berdiri di depan sebuah tebing pendek yang menghubungkan kebun kol tersebut dengan jalan. Dilihat dari kulitnya, jari tersebut tampak membelakangi kepala Kemal. “Kemungkinan sosok itu muncul dan berdiri membelakangi Kemal persis saat Kemal mengambil foto,” kata Inul. Aku mengiyakan kesimpulan Inul sambil dan membayangkan kemunculan sosok itu bawah tebing. “Kemungkinan, sosok itu muncul membelakangi Kemal sambil mengangkat kedua tangannya. Cuma yang terekam hanya sebagian,” aku menimpali. Ah, percaya atau tidak, lihat saja sendiri foto jari tangan yang muncul di belakang kepala Kemal.

Read more »

Senin, 04 Agustus 2008

Menembus Malam Mengejar Ambulan





Malam makin larut di Kabupaten Garut, Minggu (3/8). Jalanan sudah sepi dan cuaca betul-betul dingin saat itu. Gerimis tiba-tiba menghantam wajahku saat memacu motor di kawasan Jalan Raya Garut-Bayongbong. Temanku Kemal (Tribun Jabar) yang duduk di jok belakang, menggigil kedinginan. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Tiga motor di depan yang dikemudikan Tasdik (Elshinta), Boi (TPI) berdua dengan Abah Janur (Antv), dan Indra (Trans TV), terlihat semakin kecil. Sementara satu motor di belakang yang ditumpangi Ahmad (TVRI) dan Ibu Niknik (Medikom/SCTV) masih belum tampak. Menaiki lima motor, malam itu kami berencana mengejar ambulan yang membawa 6 jenazah pekerja bendungan Cimangah I Kampung Urug, Desa Cikedokan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, setelah diautopsi di RS Hasan Sadikin Bandung. Diduga, seluruh korban yang ditemukan di tenda berukuran sekitar 4x5 meter itu tewas keracunan. Berdasarkan informasi dari Bandung, seluruh korban akan dimakamkan malam itu juga. Dari enam korban yang akan dimakamkan, kami memutuskan mengambil lokasi pemakaman terdekat. Namun, lantaran lokasi pasti pemakaman masih belum diketahui, kami pun berniat menanyakannya ke petugas Kantor Kecamatan Bayongbong. Sekadar informasi, Camat Bayongbong merupakan mertua Tasdik, sehingga wartawan Elshinta itu pun didaulat menjadi pemandu jalan. “Camat Bayongbong teh mertua Tasdik mang. Keur si Tasdik mah, anugerah, tapi keur camat mah musibah,” seloroh Abah Janur pada suatu hari.

Jarak dari ruang Humas Pemkab Garut di Jalan Patriot menuju Kantor Kecamatan Bayongbong sekitar 12 Km. Dengan kecepatan yang cukup tinggi, kami tiba di kantor kecamatan sekitar pukul 22.15 WIB. Tasdik masuk lebih awal dan bertemu dengan salah seorang petugas kecamatan. Sialnya, ternyata mobil ambulan yang kami cari sudah tiba di rumah duka masing-masing korban sejak tadi. “Udah dari tadi mobil ambulan datang,” kata petugas tersebut kepada Tasdik. Mendengar informasi tersebut, kami saling berpandangan. Belum sempat berpikir, tiba-tiba terdengar raungan sirine mobil ambulan di Jalan Raya Garut-Bayongbong. “Tuh mang, sirine ambulan,” teriak Indra. Tanpa banyak berdiskusi, kami pun bergegas menyalakan motor dan memacunya menuju Jalan Raya Garut-Bayongbong setelah terlebih dulu pamit ke petugas kecamatan. Benar saja. Begitu sampai di Jalan Raya Garut-Bayongbong, sebuah mobil ambulan melintas. Tanpa pikir panjang, Indra yang melajukan motor terlebih dulu langsung menghentikan mobil ambulan tersebut. Entah sudah mengenal supir ambulan tersebut atau belum, yang jelas setelah sempat terlihat berbincang serius, Indra turun dari motor diikuti teman-teman wartawan TV lainnya. Rupanya, mobil ambulan tersebut membawa jenazah salah satu korban bernama Ahmad, 50, warga Kampung Warubengkung, Desa Kadongdong, Kecamatan Banjarwangi yang cukup jauh dari Kecamatan Bayongbong. Teman-teman wartawan TV kemudian terlihat asyik mengambil gambar jenazah Ahmad dan mobil ambulan. Aku hanya duduk di atas motor menyaksikan kesibukan mereka. Kemal berdiri di dekatku.

Proses pengambilan gambar ambulan dan wawancara petugas yang dilakukan teman-teman wartawan TV selesai. Satu lagi tugas kami adalah mengambil liputan suasana pemakaman korban lainnya karena tidak mungkin mengikuti ambulan menuju Kecamatan Banjarwangi mengingat lokasinya yang cukup jauh. Petugas ambulan menyarankan kami menuju Kecamatan Cisurupan yang berjarak sekitar 9 Km dari Kecamatan Bayongbong. Di sana, ada tiga korban yang akan dimakamkan malam itu juga yaitu Ayip, Tatang, dan Aca. Kami pun bergegas menuju Kecamatan Cisurupan. Kali ini motor Ahmad berada di depan memandu rombongan. Dengan jarak yang berdekatan satu sama lain, kami kembali menembus malam. Cuaca terus bertambah dingin. Aku terus menggigil, demikian pula Kemal yang saat itu lupa mengenakan helm. Sejenak aku memikirkan kelakuan teman-teman wartawan TV saat menghentikan ambulan yang membawa jenazah Ahmad. Bayangkan saja, menjelang larut malam, lima motor mendadak memepet ambulan seperti rombongan begal yang sedang beraksi. Wajar saja, begitu kami berhenti mengelilingi ambulan, beberapa orang yang sedang mengemudikan motor juga ikut berhenti. Mereka sempat menanyakan maksud kami menghentikan ambulan tersebut. “Aya naon ieu teh?” tanya salah seorang pengemudi motor. Dengan bahasa diplomatis, Indra sempat menjawab pertanyaan mereka. “Ini kang, korban yang meninggal di lokasi bendungan,” jawab Indra. “Ooh,” jawab pengemudi motor tadi sambil menjalankan kembali motor RX King-nya.

Ibu Niknik melambaikan tangan kanan, memberi isyarat agar kami membelokkan motor ke kanan. Sebuah jalan desa yang tidak terlalu lebar kami lintasi. Jalan tersebut kadang terlihat terang, kadang terlihat gelap diwarnai sejumlah tanjakan, turunan, dan lubang-lubang kecil. Sebuah motor yang dikemudikan tukang ojek tampak melintas buru-buru. Seperti saat menghentikan ambulan, Ahmad dan Ibu Niknik kemudian meminta tukang ojek tersebut menghentikan motornya untuk menanyakan keberadaan rumah tiga korban tewas yang akan dimakamkan. Dipandu tukang ojek, kami melanjutkan perjalanan, menyusuri jalan yang lama-lama semakin gelap, sempit dan berbatu. Di kiri-kanan jalan, kami hanya bisa melihat hamparan sawah membentang luas. Kami tiba di sebuah tanjakan yang cukup terjal dan tukang ojek pun meminta kami berhati-hati. Ahmad dan Ibu Niknik melaju terlebih dahulu menembus kegelapan malam. Tukang ojek menunggu di tanjakan. Tiba-tiba, motor yang dikemudikan Ahmad jumping. Akibatnya, Ibu Niknik yang duduk di belakang jatuh terjerembab di atas aspal. Rupanya, saat menaiki jalan menanjak, Ahmad lupa memindahkan gigi motor sehingga kembali ke posisi netral. Saat gigi motor dalam posisi netral, adik kandung Tasdik itu menginjak gigi motor ke posisi satu sementara tangan kanannya masih menarik gas motor hingga ban depan motor naik 45 derajat. Trauma dengan kejadian tadi, Ibu Niknik akhirnya memutuskan berjalan kaki menaiki tanjakan. Selang beberapa saat kemudian, ia terlihat menaiki motor ojek menyusul kami menembus jalan kecil yang hanya bisa dilalui satu mobil. Sebelum sampai ke rumah duka, kami berpapasan dengan dua mobil ambulan. Setelah melalui jalan kecil menanjak dan berkelok-kelok, kami tiba di rumah duka Kampung Sindang Daun, Desa Pakuwon, Kecamatan Cisurupan sekitar pukul 23.30 WIB. Tiga jenazah tampak disalatkan di mesjid, sebelum dimakamkan di tempat pemakaman warga, tidak jauh dari rumah korban. Suasana malam itu semakin mencekam saat keluarga korban terlihat menangis. Saat sejumlah warga menggali tiga kuburan untuk 3 jenazah korban, kami berbincang dengan Kepala Desa Pakuwon Asep Roohiyat. Lama kami berbincang seputar kasus kematian para pekerja tersebut. Tak terasa, hari sudah berganti. Senin (4/8), sekitar pukul 01.00 WIB, tiga jenazah dikuburkan dengan posisi berdampingan.

Berbekal petromak dan lampu neon, satu persatu jenazah dimasukkan ke liang lahat. Udara semakin dingin. Gema takbir dan tahlil langsung berkumandang memecahkan keheningan. Aku yang hanya memakai selembar jaket tipis terus menggigil. Untuk mengusir rasa dingin yang terus menusuk hingga pori-pori, sebatang rokok kuisap dalam-dalam. Setengah jam berlalu, kami akhirnya memutuskan pulang kembali ke ruang humas. Tasdik yang menaiki motor Mio kembali berada di depan rombongan. Ia mengaku tidak bisa mengemudikan motor dengan cepat dalam kondisi jalan menurun. Atas permintaan Ibu Niknik, motor yang aku kemudikan berboncengan dengan Kemal berada posisi paling belakang. Meski berjalan beriringan, menyusuri jalan gelap di perkampungan di posisi paling belakang cukup membuat bulu kuduk berdiri. Beberapa kali Kemal menengok ke belakang dan melihat jalan yang kami lalui sangat gelap. Terbayang kembali prosesi pemakaman tiga korban di tengah malam gulita dan cuaca dingin. “Mang, buru, poek (gelap),” ujar Kemal. Kami kembali melintasi jalan yang sama. Sesekali aku memacu motor agar berada di posisi depan. Namun teman-teman juga berpikiran sama dan enggan berada di posisi belakang. Tasdik pamit pulang. Kami kembali melanjutkan perjalanan. Ah, hidup dan mati memang di tangan Tuhan. Lagi-lagi aku ingat sebuah lirik lagu Iwan Abdurrahman tentang kematian.

“Detik-detik berlalu dalam hidup ini. Perlahan tapi pasti menuju mati. Kerap datang rasa takut menyusup di hati. Takut hidup ini terisi oleh sia-sia. Pada hening dan sepi aku bertanya. Dengan apa kuisi detikku ini. Tuhan kemana kami setelah ini. Adakah engkau dengar doaku ini.

Read more »

Rabu, 30 Juli 2008

Senja di Pantai Santolo

Namanya Pantai Santolo. Berada di Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Garut, atau sekitar 88 Km dari Garut kota. Seperti pantai lainnya di wilayah Selatan Jawa Barat, laut di Pantai Santolo tidak pernah tenang. Ombaknya juga tak pernah tidur dan selalu berusaha menyapa setiap orang yang datang. Jika menaiki mobil, waktu tempuh menuju Pantai Santolo dari Garut kota mencapai sekitar 3,5 jam dengan kecepatan normal atau rata-rata 60 Km per jam. Tapi versi Indra Trans TV, waktu tempuh Garut kota-Pantai Santolo bisa dipersingkat menjadi 2 jam, atau paling lama 2,5 jam. Perhitungan yang wajar memang, mengingat hobby Indra yang suka kebut-kebutan di jalanan.

Selasa (29/7) lalu, aku pun berkesempatan melongok keindahan Pantai Santolo bersama Kemal (Tribun Jabar), Boi (TPI), Abah Janur (Anteve), Ibu Niknik (Medikom/SCTV), dan Indra (Trans TV). Kebetulan, Kabag Humas Pemkab Garut, Dikdik Hendrajaya mengajak kami pergi bareng ke Pameungpeuk untuk melihat fenomena ikan "hejo tonggong" yang terdampar di pesisir setiap senja, dan kekeringan di wilayah paling ujung di Kabupaten Garut tersebut. Dengan menaiki mobil Kijang biru yang dikemudikan Agus, kami berangkat sekitar pukul 10.00 WIB. Karena terlambat masuk mobil, aku, Kemal, dan Boi terpaksa duduk di jok paling belakang. Abah Janur, Indra, dan Ibu Niknik lebih dulu mengambil posisi duduk di jok tengah, sementara Pak Dikdik sudah pasti duduk di depan. Saat itu, aku sudah membayangkan bagaimana sulitnya perjalanan menyusuri jalan berliku selama 3,5 jam dengan duduk di jok belakang. Huh, membayangkannya saja, perut sudah mulai terasa mual.

Sepanjang perjalanan menuju Pantai Santolo Kecamatan Pameungpeuk, Boi berceloteh, menyampaikan keterangan seputar tempat yang dilalui. Satu jam berlalu, kami melintasi sebuah lembah yang indah di Kecamatan Cikajang. Tanpa ditanya, Boi kembali bercerita mengenai tempat yang akan kita lalui. "Nanti di depan ada tempat bernama Batu Tumpang yang biasa digunakan panjat tebing," kata Boi. Benar saja. Beberapa menit kemudian, kami melintasi sebuah tebing setinggi sekitar 50 meter. Menurut Boi, kontur dan ketinggian tebing di Batu Tumpang cukup menantang para pemanjat tebing di Indonesia. "Saya pernah ke sini bersama crew MNC. Tapi, ogah naik karena tebingnya sangat curam," ujar wartawan TPI yang mengaku pernah bekerja di Epson ini. Boi kemudian melanjutkan ceritanya. "Dulu jam 2 siang, saya dan crew MNC pernah istirahat di sebuah warung kosong. Tiba-tiba ada yang teriak dari warung: minta karung-minta karung!!" ujar Boi. Mendengar teriakan tersebut, Boi dan crew MNC lainnya mengaku langsung pergi karena dikira suara setan. Aku dan Kemal tertawa dan membayangkan wajah Boi saat itu. Tiba-tiba, Abah Janur yang duduk di jok tengah nyeletuk. "Heueuh we, da warung itu tempat ngumpul orang gila!!" ujar Abah. "Oh kitu Bah?" tanya Boi. "Heueuh sampeu!!!" sambar Abah. Kami pun kembali tertawa.

Ruas jalan sudah mulai terus berliku. Tak ada jalan lurus sama sekali. Seperti yang dibayangkan sebelumnya, perut terasa mual. Boi dan Kemal pun tampaknya merasakan hal yang sama. Wajah keduanya sudah tak karuan. Aku berusaha menahan mual dengan terus minum Pocari Sweat. "Sebentar lagi kita sampai di kawasan Gunung Gelap," kembali Boi menerangkan daerah yang akan dilalui. Semakin lama, jalan yang dilalui memang semakin sepi dari rumah penduduk. Pepohonan di kiri-kanan jalan juga semakin rimbun. "Nah, ini sudah masuk kawasan Gunung Gelap," kata Boi. Gunung itu memang pantas disebut Gunung Gelap. Pohon-pohon rimbun tinggi menjulang. Saat melintasi Gunung Gelap, hari terasa sore, padahal waktu baru menunjukkan pukul 01.00 WIB. Aku lupa, berapa meter kami melintasi kawasan Gunung Gelap dan perkebunan teh. Yang jelas, lepas dari kawasan tersebut, kami berhenti dulu di sebuah warung di Kecamatan Cihurip. Pak Dikdik sempat berbincang dengan Camat dan Kapolsek Cihurip sebelum akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Pameungpeuk.

Kami tiba di Kantor Kecamatan Pameungpeuk sekitar pukul 14.00 WIB. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pantai Santolo yang berjarak sekitar 2 Km dari kantor kecamatan, beristirahat di sana seraya berbincang dengan Camat Pameungpeuk, Juju Juhana. Menurut Juju, fenomena ikan "hejo tonggong" biasanya muncul sore menjelang malam. Mendengar informasi Camat Pameungpeuk, aku dan Kemal berpikir keras bagaimana mengirim berita untuk terbit di koran keesokan harinya, Rabu (30/7). Pasalnya, meski Rabu merupakan tanggal merah, koran tempatku dan Kemal bekerja sama-sama terbit. "Wah Mal, kayaknya sulit nih kirim berita," kataku kepada Kemal yang terlihat mengantuk saat berada di ruang Camat Pameungpeuk. Kemal pun mengiyakan perkataanku. "Kumaha nya Gin?" tanya dia. Aku tak segera memikirkan jawaban atas pertanyaan tadi. Saat itu, bayanganku hanya satu, segera sampai di Pantai Santolo dan menyaksikan keindahannya. "Soal kirim berita, gimana entar aja lah," ujarku. Satu per satu, kami keluar ruangan camat karena merasa sumpek dan ingin menikmati udara di luar kantor. Di dalam ruangan, hanya tinggal Pak Dikdik dan Camat Pameungpeuk masih berbincang serius. Sambil menunggu Pak Dikdik keluar ruangan camat, kami berfoto depan kantor kecamatan. Pak Dikdik pun akhirnya keluar dan bergabung bersama kami. Sekitar pukul 14.30 WIB, kami berangkat menuju Pantai Santolo.

Kekeringan di wilayah Kecamatan Pameungpeuk rupanya sudah sangat parah. Hamparan sawah yang terbentang sepanjang jalan menuju Pantai Santolo, terlihat mengering. Sayangnya, kami tak sempat mengabadikan kekeringan tersebut, karena ingin segera sampai di Pantai Santolo. Tak sampai setengah jam, birunya laut Pantai Santolo sudah terlihat dari kejauhan. Hawa panas pantai pun mulai terasa. Aroma ikan laut juga tercium jelas. Aku dan Kemal yang sudah sedari pagi menantikan suasana ini bergegas turun begitu mobil berhenti tidak jauh dari bibir pantai. Terik matahari yang menyengat tidak kami rasakan. Yang ada di benak kami saat itu hanya satu, mengabadikan keindahan Pantai Santolo. Teman-teman lain mulai menyusul. Masing-masing bergaya di depan kamera. Kami pun larut dalam kegembiraan setelah menyaksikan birunya laut Pantai Santolo. Tak terasa perut mulai keroncongan. Setelah puas berfoto di bibir Pantai Santolo, kami berjalan menuju sebuah tempat makan. Pak Dikdik dan Camat Pameungpeuk sudah menunggu. Ternyata, mereka sudah menyiapkan makan siang ala Pantai Santolo yaitu ikan kakap bakar. Hmmmm, sudah terbayang betapa nikmatnya menyantap ikan Kakap di pinggir pantai.

Makan siang yang dimulai kesore-sorean selesai. Dua buah ikan kakap ukuran besar ludes tak berbekas. Menjelang senja, aku, Abah, dan Kemal kembali berjalan menuju bibir pantai. Kali ini, kami berfoto di bebatuan penahan ombak. Sejauh mata memandang, hamparan laut terlihat begitu luas. Perahu-perahu kecil nelayan mulai berangkat menerjang ombak yang lama-lama semakin buas. Laut semakin indah saat terik matahari sore memantulkan cahaya keemasan di permukaannya. Sementara bayangan hitam perahu kecil tampak kian menjauh hingga berada di tengah laut. Hmmm, laut dan senja mengingatkanku pada seseorang yang mengaku sangat mencintai perubahan waktu menjelang malam ini. Meski tidak begitu sempurna, pemandangan laut menjelang sore ini tampaknya akan berkesan buat dia. "Hayu Gin," ajak Kemal, karena saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB dan angin pantai mulai terasa dingin. "Nanti nyusul, saya masih menunggu senja," aku menyuruh Kemal berangkat lebih dulu. Kemal pun berjalan meninggalkanku bersama Abah yang ternyata sudah pergi. Mereka sempat berpapasan dengan Ibu Niknik, Boi, dan Indra. Dari kejauhan, aku melihat Kemal kembali duduk di bebatuan bersama Boi, dan Ibu Niknik, sementara Abah, kembali ke tempat makan. Indra yang awalnya duduk bersama mereka, terlihat mendekatiku. Tidak seperti teman-teman lainnya, Indra sadar untuk terus berada di dekatku. Selain Kemal, selama ini, dia yang paling setia menjadi modelku dalam setiap kesempatan. "Foto mang," kata Indra sambil bergaya menghadap samping dengan latar belakang matahari yang mulai turun menuju kaki langit.

Indra kemudian pergi meninggalkanku sendiri setelah puas berfoto. Saat itu, aku masih punya keinginan yang belum tercapai yaitu berteriak sekuat-kuatnya menghadap laut dan mengabadikan senja di Pantai Santolo sebelum batere kameraku habis. Niat awal mengabadikan fenomena ikan "hejo tonggong" tak dihiraukan lagi. Begitu orang-orang yang duduk di bebatuan pergi, aku berteriak keras-keras menghadap batas langit dan laut yang mulai berwarna kekuningan-kuningan. Setidaknya, teriakan ini membuat beban yang selama ini menggelayuti pikiranku sedikit hilang. Matahari pun semakin tenggelam. Sesaat, aku mengabadikan momen itu karena segaris awan hitam tampak mulai melintas sedikit di atas kaki langit. “Wah, sepertinya senja tak akan muncul dengan sempurna,” pikirku. Benar saja, sebelum sampai ke kaki langit, matahari mulai hilang. Meski begitu, warna langit masih sempat terlihat kemerahan. Ah, senja memang selalu terlihat indah saat berada di laut. Angin mulai bertiup kencang dan ombak semakin meninggi. Bebatuan tempatku berdiri tampak sepi. Namun, bibir pantai tampak dipenuhi orang-orang, termasuk teman-teman wartawan lain. Inilah mungkin saatnya menantikan fenomena kemunculan ikan “hejo tonggong”.

Sebuah fenomena yang unik memang. Puluhan warga berdiri memandang laut sambil membawa jaring, ember besar, dan lampu neon. Setiap ombak datang, mereka turun ke laut sambil membentangkan jaring. Hasilnya memang luar biasa. Ribuan Ikan hejo tonggong atau lebih dikenal sebagai sarden langsung tertangkap jaring. Warga lainnya berteriak gembira sambil berlari memburu ikan tangkapan kerabatnya. Setiap ada warga yang berlari membawa hasil tangkapan ikan, kami pun ikut berlari dan mengabadikan momen tersebut. Semakin malam, warga yang datang semakin banyak. Sayang, teman-teman wartawan televisi lupa membawa lampu. Meski Abah sempat meminjam lampu neon salah satu warga hendak menangkap ikan, suasana riuh di bibir pantai tetap tidak tertangkap dengan baik. “Uing poho mawa lampu,” keluh Abah sambil terus berusaha menyorot ikan-ikan yang terjaring. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB. Karena peralatan yang dibawa terbatas, kami akhirnya menghentikan liputan. “Sudah cukup ah, gambar moal kaudag,” kata Indra. Dengan membawa hasil liputan yang kurang maksimal, kami berjalan menuju tempat istirahat di sebuah warung tidak jauh dari pantai.

Malam semakin larut. Cahaya lampu petromak dari perahu nelayan di tengah laut terlihat dengan jelas mirip kunang-kunang yang terbang di kegelapan. Sebelum benar-benar kembali ke Garut kota dan melintasi jalan berliku, aku sempat memandang keindahan pemandangan laut di waktu malam. “Hari yang cukup istimewa,” ujarku dalam hati. “Kumaha berita Gin?” tanya Kemal, membuyarkan lamunanku. “Ah, kumaha deui mal, udah lah, sekali ini gak kirim berita, gak apa-apa,” jawabku sambil berjalan menuju mobil. Teman-teman sudah menunggu di dalam mobil. “Gus, ku saya we disupiranna,” tawar Indra kepada Agus. Mendapat tawaran tersebut, Agus hanya tersenyum. Ia sadar maksud Indra, sehingga tidak mau memberikan kunci kepadanya. Aku kembali duduk di posisi semula bersama Boi dan Kemal. Terbayang lagi perjalanan berliku yang memakan waktu panjang dan membuat perut mual. “Ada jalan lain lagi gak?” tanya Kemal. Kontan saja Indra menjawab. “Euweuh deui mang,” jawab Indra. “Sudah siap?” tanya Pak Dikdik. Serempak kami menjawab siap. Mobil pun melaju kembali menyusuri jalan yang sama. Begitulah. Kami pun meninggalkan Pantai Santolo yang selalu gelisah. Sebelum perut mual, aku masih sempat membayangkan saat indah memandang matahari tenggelam di laut Santolo. Sinar matahari memang indah menjelang sore. Ia membuat orang-orang di sekitar merasa nyaman. Tiba-tiba aku teringat sebuah lagu Iwan Abdurrahman alias Abah Iwan berjudul mentari.

“Mentari bernyala di sini, di sini di dalam hatiku. Gemuruh apinya di sini, di sini di urat darahku. Meskipun tembok yang tinggi mengurungku. Berlapis pagar duri sekitarku. Tak satu pun yang sanggup menghalangimu, bernyala di dalam hatiku. Hari ini hari milikku. Juga esok masih terbentang. Dan mentari kan tetap bernyala di sini di urat darahku.“

Read more »

Kamis, 24 Juli 2008

Sebuah Kado Buat Irwan Kuir


Tiga hari lalu, Selasa (22/7), barangkali merupakan hari yang istimewa buat Irwan Rudiawan atau akrab disapa Irwan Kuir. Wartawan RRI yang bertugas di wilayah Kabupaten Garut ini melepas masa lajangnya dengan menikahi Windi Citrani, seorang staf protokol di bagian humas Pemkab Garut. Pernikahan berlangsung sederhana di sebuah rumah di Jalan Perum Cempaka, Kampung Cimasuk Kidul RT 01/09 Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut.

"Jangan lupa Gin, datang nya," ujar Irwan, seminggu lalu sambil menyampaikan undangan pernikahan di ruang humas Pemkab Garut, tempat mangkalnya teman-teman wartawan Garut. Sebuah undangan ukuran sekitar 20 x 10 Cm dengan nuansa warna hitam putih pun aku terima. Hmmm, undangan yang cukup menarik. Di sebelah kiri depan, terpasang foto Irwan berdua dengan Windi dalam pose serius tapi santai. Sementara di belakang undangan, terdapat pula foto Irwan tengah mewawancarai Windi, layaknya seorang wartawan radio yang sedang berhadapan dengan narasumber. "Insya Allah mang, paling jeung barudak datangna," jawabku sambil memasukkan undangan ke dalam ransel.

Aku memang belum lama mengenal Irwan. Awal menginjakkan kaki di ruang humas Pemkab Garut, ia bahkan jarang sekali mengajakku bicara. Di antara teman-teman wartawan lain, pria kelahiran Garut ini kerap terlihat sibuk sendiri menyiapkan laporan untuk disiarkan di RRI. Kedekatanku dengan Irwan mungkin berawal saat kita menggelar "konser" dangdut di ruang humas Pemkab Garut bersama Indra Trans TV, Aep Priangan, Ukas Radio Reks, dan Irwan Oke. Sebuah "konser" yang kemudian terekam kamera dan di-upload oleh Kemal Tribun Jabar ke dalam situs internet You tube. "Konser" itu oleh Kemal diberi judul "Dangdut Kuir". Aku ingat betul, saat itu dengan suara lantang Irwan bernyanyi dangdut bersama Aep, diiringi alat musik gitar yang sengaja dibawanya dari rumah. Kami pun dibuat tertawa melihat tingkahnya yang konyol. Meski suaranya lebih banyak gak nyambung dengan musik, Irwan tetap pede menyanyikan beberapa lagu dangdut.

Sejak saat itulah, aku dan Irwan mulai akrab. Aku mengenalnya sebagai pribadi yang meledak-ledak. Tak jarang, Irwan kerap berbicara dengan suara keras, meski topik yang dibicarakan biasa saja. Suatu hari, aku mengajak Irwan kembali menggelar "konser" di ruang humas Pemkab Garut. Dengan semangat, Irwan pun menyetujuinya. Tidak hanya gitar yang dibawa, ia juga membawa sebuah keyboard. Seperti biasa, hiburan ala rakyat itu dihadiri personel tetap, minus Irwan Oke. Namun, kali ini konser terasa lengkap lantaran Kemal yang piawai memainakan berbagai jenis alat musik bersedia memainkan keyboard. Hahahahaha, betul-betul malam yang luar biasa. Sebagian ruang humas kami sulap menjadi sebuah arena konser, bahkan mirip sebuah tempat karaoke. Kami bernyanyi hingga pagi. Saat itu, aku tidak menyangka kalau Irwan sebentar lagi ternyata akan menikah dengan Windi.

“Dek ka kawinan si Irwan euy?” tanya Mang Anang, wartawan Priangan saat tiba di ruang humas, Selasa (22/7) pagi. Aku dan Kemal yang baru bangun, mengiyakan pertanyaan Mang Anang. “Bareng nya, urang rame-rame,” seru Mang Anang lagi. Tentu saja, kami berdua memang berniat sama-sama berangkat ke pernikahan Irwan karena belum mengenal betul ruas jalan di Kabupaten Garut. “Siap mang, mending sebelum liputan, biar tenang,” jawabku sambil melontarkan usulan. Kebetulan, pada hari yang sama Kejaksaan Negeri (Kejari) Garut menggelar acara Hari Bhakti Adhyaksa ke 48 di Kantor Kejari Garut. Awalnya aku dan Kemal berniat mengajak teman-teman menghadiri pernikahan Irwan, sebelum liputan di kejaksaan. “Sok atuh siapkeun kado buat Irwan,” Abah Janur Anteve tiba-tiba datang dan memberikan saran. “Urang aya kondom nu ti BKKBN keur hadiah si Irwan. Boga VCD kosong teu? Urang copy film-film bokep,” ajak Abah. Begitulah, lama-lama ruang humas penuh sesak dengan para wartawan yang berkumpul menyiapkan kado buat Irwan. Entah kado apalagi yang akan disiapkan saat itu, yang jelas aku, Kemal, Indra Trans TV, Ibu Niknik Medikom, dan Ukas Radio Reks lantas meninggalkan ruang humas untuk meliput aktivitas pelukis Iwan Ridwan yang kabarnya berencana memecahkan rekor MURI.

Hampir satu jam kami berada di sebuah sanggar lukis milik Iwan Ridwan. Setelah semua data lengkap, kami pun kembali ke ruang humas. Rencananya, kami akan mengajak teman-teman berangkat ke pernikahan Irwan sebelum mendatangi Kejari Garut. Rupanya, teman-teman lain memiliki rencana berbeda. Mereka ternyata sudah ada di Kejari Garut, dan baru akan pergi ke pernikahan Irwan setelah meliput kegiatan Hari Bhakti Adhyaksa. Mau tidak mau, kami pun akhirnya mengikuti kehendak teman-teman lain agar bisa berangkat bersama-sama ke pernikahan Irwan. “Urang mah geus lapar,” ujar Kemal. “Sarua mal,” jawabku. Terbayang sejumlah makanan enak di pernikahan Irwan. “Geus lah, kumaha barudak we,” ujar Kemal. Aku pun mengiyakan. Akhirnya kami memutuskan datang ke Kejari Garut diikuti Indra, Ukas, dan Ibu Niknik.

Acara di Kejari Garut sudah berlangsung sejak pagi. Benar saja, semua wartawan tumplek di lantai III Kantor Kejari Garut. Aku menengok sebuah ruangan di lantai III. Ternyata, ruangan itu adalah tempat makan. Tanpa pikir panjang, aku yang sudah lapar akhirnya mengambil nasi serta lauk-pauknya. Ternyata, teman-teman lain seperti Kemal, Indra, Ibu Niknik, dan Kang Slamet radio Antares juga mengikutiku. “Cepat, Kepala Kejari sudah menunggu di ruangannya,” ajak teman-teman wartawan lain. Baru saja selesai makan dan belum menenggak segelas minuman pun, kami turun dari lantai III menuju ruang Kajari Garut. Wawancara dengan Kajari Garut, Agus Trihandoko didampingi Kasi Intel sudah setengah jalan. Materi yang disampaikan masih berkutat pada persoalan yang sama, yaitu kinerja kejari. Lama-lama, wawancara berubah menjadi arena diskusi yang membosankan. Aku hanya melontarkan satu pertanyaan terakhir sebelum akhirnya pertemuan dengan Kajari Garut usai.

“Ayo, urang ka si Irwan,” ajak Aep Priangan. Sebagian wartawan ternyata sudah berangkat. Kami yang biasa mangkal di ruang humas, berkumpul terlebih dulu di depan Kantor Kejari. Deni wartawan Bandung Raya lantas mencari bungkus kado bersama Ibu Niknik karena ternyata kondom, VCD BF dan barang-barang lainnya yang akan diberikan kepada Irwan sama sekali belum dibungkus. Selesai membungkus kado di depan Kantor Kejari Garut, Deni kemudian meminta teman-teman mengumpulkan uang sebagai angpaw pernikahan Irwan. Lagaknya persis seorang calo stasiun yang sedang mengambil jatah setoran. Uang terkumpul dan kami berangkat dengan menaiki belasan motor, mirip geng motor yang sempat meresahkan warga Jawa Barat. Limabelas menit menyusuri jalan dengan berkonvoi, rombongan pun tiba di Jalan Perum Cempaka, Kampung Cimasuk Kidul RT 01/09 Kecamatan Karangpawitan, tempat pernikahan berlangsung. Sebelum memasuki rumah, kami sempat berfoto di lahan parkir berdebu.

Irwan dan Windi tampak berdiri di pelaminan. Melihat kedatangan kami, Irwan tersenyum dan melambaikan tangan. Satu persatu, kami menyalami Irwan yang tampak sumringah saat itu. Usai berfoto dengan berbagai gaya, Abah Janur memberikan kado istimewa. “Mudah-mudahan bermanfaat,” ujar Abah disambut senyum lebar Irwan. Lantaran sudah makan di Kantor Kejari Garut, rombongan tidak lagi menyantap makanan yang tersedia di pernikahan Irwan. Kami hanya menyantap buah-buahan, dan sedikit minuman sambil menikmati alunan lagu dangdut. Singkat saja kami berada di pernikahan Irwan karena hari sudah mulai menjelang sore. Rombongan pun kembali berangkat setelah sebelumnya pamit kepada Irwan dengan cara melambaikan tangan. Hmm, selamat ya Wan. Terimalah kado istimewa kami sebagai bentuk penghargaan terhadap sebuah pertemanan yang luar biasa.

Read more »

Senin, 21 Juli 2008

Berlarilah Anakku....


Lima hari sudah Gisavo anakku, mengisi sebagian harinya dengan mengikuti pelajaran di Taman Kanak-kanak (TK) Al Muhajir sejak Senin (14/7) lalu. Banyak cerita yang kuperoleh seputar kelakuannya di kelas, mulai menangis, berteriak memanggil ibunya, sampai tertawa menyaksikan temannya jatuh saat bermain. Hari keenam atau Sabtu (19/7) lalu, aku pun menyempatkan diri menemaninya sekolah karena kebetulan mendapat jatah libur dari kantor. Ajakan Abah Janur wartawan Anteve menginap di kawasan danau Cibeureum Kabupaten Garut sehari sebelumnya aku abaikan. Hanya satu keinginanku saat itu, pulang dan kembali mengantar Gisavo sekolah keesokan paginya.

Hari Sabtu (19/7) pukul 06.30 WIB, anakku sudah bangun. Ia kemudian menjalankan rutinitas sehari-hari dengan meminum segelas susu, mandi pagi, dan sarapan. Semua kegiatan itu selesai sekitar pukul 07.45 WIB sementara jam pelajaran sekolah dimulai pukul 08.00 WIB. "Ayo Gi, sebentar lagi masuk. Mau sekolah ngga?" tanyaku melihat tingkah Gisavo yang terlihat masih berleha-leha di kursi depan. "Iya pak, sebentar lagi. Bapak mau anter Gisa kan?" anakku menjawab sekaligus mengajukan pertanyaan. "Iya, sekarang bapak yang anter Gisa sekolah, makanya cepetan!!" aku berteriak. Teriakanku membuat Gisavo bangkit dan segera menyiapkan diri. Ransel bergambar batman langsung diambilnya. Sepasang sepatu kecilnya lantas dipakai dengan agak tergesa-gesa. “Pak, bantuin,” pintanya karena kesulitan memakai sepatu.

Berdua kami akhirnya melintasi ruas jalan di pinggir rumah mertuaku menuju TK Al Muhajir karena istriku berencana menyusul kemudian. Langkah anakku tampak pasti. Ranselnya yang kebetulan memiliki dua roda, ditariknya di belakang. Setelah lima menit kami berjalan menuju TK, anakku kemudian berbaur dengan teman-temannya bermain sebelum berbaris. Saat bermain, sesekali matanya melirik ke arahku, memastikan kalau aku masih bersamanya. Teng, teng, teng!!! Bel berbunyi pukul 08.00 WIB tepat, tanda anak-anak harus berbaris sesuai dengan kelasnya. Tiba-tiba, wajah anakku berubah. Ia tidak mau masuk barisan dan malah terus mendekatiku. “Pak, jangan pergi ya,” ujarnya sambil menahan tangis. Rupanya, anakku masih panik, khawatir ditinggal sendiri di sekolah. Kepercayaan dirinya belum tumbuh. “Bapak gak pergi, tapi gak ikut baris. Sekarang Gisa baris, harus nurut sama Ibu guru,” jawabku.

Lama anakku enggan masuk barisan sebelum akhirnya ikut berbaris setelah seorang guru membawanya. Anakku memang menuruti perintah guru dan berdiri di barisan belakang. Tapi matanya terus melihat ke arahku. Hari itu ternyata seluruh anak-anak TK mendapat pelajaran olahraga. Selama 15 menit anak-anak berolahraga, tak satu pun gerakan guru yang diikuti Gisavo. Akhirnya, seluruh anak-anak diminta memegang tangan teman di sebelahnya. “Sekarang kita jalan-jalan. Ayo, pegang tangan temannya,” teriak guru yang belakangan diketahui bernama Ibu Ira. Anakku memang menuruti peritah guru, tapi matanya lagi-lagi tak mau lepas melihatku. Sebelum berjalan, Gisavo sempat berlari ke arahku. “Bapak jangan ke mana-mana ya,” katanya. Aku mengangguk. Gisavo lantas kembali ke barisan, ditemani seorang guru bernama Ibu Tri.

Anak-anak rupanya dibawa mengelilingi sekolah. Aku tidak tahu seperti apa sikap Gisavo saat berkeliling karena hanya menunggu di halaman sekolah. Beberapa saat kemudian, mereka sudah kembali. Wajah anakku tidak terlihat panik. Ia kemudian menghampiriku sebelum waktu istirahat. “Bapak, tadi Gisa ngga nangis,” katanya menceritakan kegiatan tadi. Aku tersenyum. “Tadi dibawa keliling ke mana?” tanyaku. “Keliling sekolah pak,” jawabnya. Suara Ibu Ira memecahkan pertemuanku dengan Gisavo. “Ayo anak-anak, sekarang bermain. Gisa, mau main apa?” tanya Ibu Ira, sambil memanggil anakku. Anakku memilih bermain bola. “Pak Gisa main bola dulu yaa,” ujarnya sambil berlari menghampiri teman-temannya. Hahaha, lucu juga melihat anakku bermain bola. Di antara anak-anak yang bermain bola, tubuh Gisavo paling kecil. Beberapa kali ia terjatuh karena berbenturan dengan teman sekelasnya. Tapi, dia kembali bangun dan berlari mengejar bola. Sesekali Gisavo tertawa saat melihat temannya jatuh.

Teng, teng, teng!!! Bel tanda istirahat selesai berbunyi. Lagi-lagi wajah anakku berubah panik. Sebelum masuk, ia memintaku berdiri di dekat jendela. “Bapak nanti berdiri di dekat jendela,” pintanya. Aku tidak mengiyakan dan juga tidak menolaknya. Gisavo kemudian mengikuti guru dan mencuci tangan sebelum masuk kelas. “Bapak!!” kembali Gisavo berteriak memanggilku. Aku pun berjalan mendekati jendela kelas. Keberadaanku di dekat jendela ternyata mengganggu konsentrasi anakku. Ia terus menerus melihat jendela memastikan apakah aku ada di sana atau sudah pergi. “Wah, kalau begini terus, repot juga,” pikirku. Perlahan aku meninggalkan jendela dan hanya mengintip aktivitas anakku. Dia mulai terlihat panik saat mengetahui aku sudah tidak ada di dekat jendela. Beberapa kali ia terlihat menghampiri guru. “Bu guru, bapaknya ke mana?” tanya Gisavo sambil menangis. Selain Gisavo, ternyata ada lagi satu anak perempuan yang terus menangis di kelas. Bahkan, ia kerap terlihat mengamuk memanggil ibunya. “Gisavo masih bisa diatur,” ujarku sambil terus mengintip kepanikannya di kelas.

Aku tak lagi berdiri di jendela dan betul-betul meninggalkan Gisavo bersama gurunya di dalam kelas. Dari kejauhan terdengar suara guru memanggil nama anakku. “Pasti dia rewel lagi. Tapi aku harus membiarkannya,” gumamku dalam hati. Sebatang rokok kunyalakan dan dihisap dalam-dalam. Lama aku tidak memperhatikan Gisavo di kelas, tidak terdengar lagi teriakan guru memanggil namanya. Aku penasaran dan kembali mengintip suasana kelas dari jendela. Ternyata Gisavo memang duduk rapi bersama teman-temannya. Tapi, dia malah melamun. Telapak tangan kanannya tampak menopang dagu sementara kedua bola matanya terlihat sayu. Di saat teman-temannya asyik mendengarkan cerita guru, pikiran anakku entah ada di mana. “Ya ampun Gisavo, apa yang kamu pikirkan? Belum saatnya kamu terlalu banyak berpikir. Biar bapak aja yang banyak pikiran,” ujarku dalam hati saat melihat tingkah Gisavo yang mirip denganku.

Waktu sudah menunjukkan pukul 09.55 WIB. Sebentar lagi kelas bubar. Istriku kemudian datang dan menanyakan keberadaan Gisavo. Aku bilang, Gisavo ditinggal sendiri di kelas. Sebelum pulang, Ibu guru memberikan dua lembar surat kepada masing-masing anak. Gisavo sempat terlihat panik karena sampai akhir pelajaran, aku tak muncul lagi di jendela. Namun, ia segera tenang setelah melihat aku dan istri berada di dekat pintu. “Tuh, bapaknya ada kan?” ujar Ibu Tri yang kerjaannya lebih banyak mengantar anak-anak ke kamar mandi ketimbang berada di kelas. Gisavo tersenyum. Setelah mencium tangan guru, ia mendekatiku. “Bapak, tadi Gisa nangis di kelas. Abis, bapaknya gak ada di jendela,” ujar Gisavo. Aku hanya tersenyum. “Pak, Gisa main ayunan dulu ya,” kata anakku sambil berlari ke arah ayunan. Aku pun mengiyakannya. Saat Gisavo bermain ayunan, aku mendekati Ibu Tri. “Gimana anak saya?” tanyaku. “Gisavo bagus. Dia masih nurut sama guru. Kalau nangis, itu karena panik, tapi lama-lama juga terbiasa. Makanya, kalau mau, jangan ditungguin,” jawab Ibu Tri.

Ah, ternyata sikap anakku di kelas masih wajar. Ibu Tri bahkan bilang, sebelumnya ada anak yang selama satu tahun tidak mau ditinggal orangtuanya. “Gisavo masih mending. Rewelnya gak lama. Cuma pas terakhir-terakhir dia panik lagi karena takut gak dijemput,” terang Ibu Tri. Hmmm, sekolah berikutnya, Gisavo sudah harus ditinggal. Aku yakin, dia anak berani dan bisa menjalani hari-harinya di kelas dengan nyaman. “Ayo Gisavo, pulang,” ajakku. Gisavo menolak ajakanku dan meminta waktu bermain bola bersama teman-temannya. “Boleh main bola dulu ya pak? Sebentaaaar aja,” pintanya. Aku mengangguk tanda setuju. Gisavo berlari menghampiri teman-temannya. Kemana pun bola pergi, ia terus mengejar. Meski keringat sudah mengucur di dahinya, Gisavo tak pernah berhenti berlari. “Waaaaah, jangan-jangan, dia ingin jadi pemain bola,” tiba-tiba aku membayangkan masa depannya. Jangan Gi, mendingan jadi penyanyi aja kayak Afgan. “Ayo, tendang bolanya Gi!!!” teriakku memberi semangat. Gisavo melihat ke arahku lantas menendang bola kuat-kuat. "Goooooolllll" teriak anakku sambil kembali berlari. Ayo, berlarilah anakku, buat dirimu bahagia!!!

Read more »

Rabu, 16 Juli 2008

Dilema Anakku


"Gisavo Lembayung Lelaki Akbar!" teriak seorang wanita berkerudung memanggil nama anakku dalam sebuah pertemuan di Mesjid Al Muhajir Komplek Margahayu Raya, Senin (14/7) pagi. Mendengar namanya dipanggil, anakku langsung mengangkat tangan kanannya dan mengacungkan jari telunjuk. "Wah, pinter yaaa," kata wanita itu lagi sambil tersenyum. Setelah memanggil nama anakku, wanita tadi kemudian memanggil nama anak-anak lain yang berkumpul di mesjid tersebut bersama para orangtuanya. Saat itu, mereka tengah menerima pembekalan dari pengurus Taman Kanak-kanak (TK) Al Muhajir, seputar kegiatan belajar mengajar di TK tersebut.

Ya, hari itu adalah saat pertama anakku masuk ke sekolah. Sejak lama ia memang sudah menyatakan keinginannya untuk menimba ilmu di TK Al Muhajir tidak jauh dari rumah mertua, meski usianya belum genap 4 tahun. Aku sempat ragu dengan keinginannya itu. Namun, semangat anakku meluluhkan keraguan itu. Dua hari sebelumnya bahkan dia terus-menerus menanyakan kapan waktu masuk sekolah. Sebuah ransel kecil bergambar Batman pemberian orangtuaku dipegangnya erat-erat. "Pak, Gisa mau sekolah," katanya dengan sorot mata kanak-kanaknya. Sorot mata yang mengingatkanku pada seseorang. "Ya, kan nanti hari Senin. Nanti bapak anter ya," kataku menjawab keinginannya.

Senin (14/7) pagi, hari yang dinantikan tiba. Tentu saja aku tidak mau melewatkan saat yang barangkali hanya akan datang satu kali seumur hidupku itu. Dengan menggendong ransel kecil di belakang dan membawa tempat bekal makanan di depan, anakku berjalan penuh semangat. Dia belum mengenakan seragam, tapi penampilannya tampak berbeda dari biasanya. Matanya menatap lurus ke depan. Tampaknya, bayangan tentang sekolah sudah betul-betul melekat di pikirannya. Sepanjang jalan menuju TK yang tidak jauh dari rumah mertuaku, Gisavo bernyanyi. "Slamat pagi pak, slamat pagi bu, slamat pagi semua," begitu dia bernyanyi dengan suara melengking. Hmmm, tidak percuma rasanya menghabiskan seluruh gajiku sebulan plus tambahan dari mertua sekadar menyekolahkan Gisavo ke TK jika melihat langkahnya yang pasti. Aku dan istri tersenyum melihat tingkah Gisavo yang lucu.

Begitu sampai di TK, pandangan anakku seolah tak mau lepas menyaksikan keadaan sekitar. Saat itu, banyak sekali anak-anak seusia dia yang berkumpul di halaman TK. Ada yang berlari-lari, ada yang menangis, ada pula yang bermanja-manja dengan orangtuanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Sebuah pengumuman yang disuarakan lewat pengeras suara terdengar. "Kepada orangtua dan anak-anak diharap berkumpul di Mesjid Al Muhajir," begitu isi pengumuman tersebut. Istriku membawa Gisavo masuk mesjid, berbaur dengan ibu-ibu dan anak-anak yang lain. Aku menunggu di luar karena saat itu, tak ada seorang pun pria yang ikut masuk ke mesjid. Aku sempat berbincang dengan seorang pria yang sama-sama sedang menunggu anaknya sekolah. Hanya saja, anaknya bukan termasuk siswa baru, melainkan pindahan dari TK lain. Kelasnya pun berbeda dengan kelas anakku karena usianya yang lebih tua.

"Nganter anaknya pak?" tanya pria tersebut. Kebetulan, ia tengah mengisap sebatang rokok. "Iya Kang. Eh, boleh minta apinya kang?" jawabku sekalian meminta api karena sedari tadi aku ingin merokok. Pria itu langsung menyodorkan rokoknya yang menyala. "Nganter juga ya kang?" aku balik bertanya. "Iya, tapi pindahan. Sekarang masuk 0 besar. Waktu 0 kecil di TK yang lama, gak diajarin agama. Salat juga gak mau," kata dia menceritakan alasan memindahkan anaknya. "Hehehehe, iya kang. Kalau saya ngerasa kurang sama pendidikan agama, makanya saya suruh anak saya sekolah di TK Islam,biar jadi anak soleh," aku menimpali ceritanya. "Iya ya pak," ujarnya sambil tersenyum. "Gimana kalau kita cari kopi," ajaknya. Aku mengiyakan ajakannya. Namun, sebelum mencari kopi, aku menyempatkan diri melihat pertemuan di mesjid. "Nanti nyusul kang," ujarku.

Di Mesjid Al Muhajir, pertemuan masih berlangsung. Huh, tampaknya ini sebuah pertemuan yang membosankan. Orangtua saja sudah terlihat ngantuk mendengar celoteh kepala sekolah TK Al Muhajir yang menceritakan kelebihan tempat belajarnya, apalagi anak-anak. Terbukti, kedua mata anakku sudah mulai meredup karena ngantuk. Posisi duduknya pun berubah dengan kedua kaki diselonjorkan ke depan tanda dia sudah tidak lagi menikmati pertemuan itu. Tiba-tiba, Gisavo bertanya. "Bu guru, kapan masuk kelasnya?" tanya dia meski dengan suara kecil. Mendengar pertanyaan anakku, perempuan berkerudung yang tengah berkoar-koar menceritakan kelebihan TK Al Muhajir kontan tersenyum. "Nanti ya, sebentar lagi anak-anak masuk kelas," jawabnya sambil melihat anakku yang duduk di jajaran kedua dari depan.

Satu jam berlalu. Pertemuan di Mesjid Al Muhajir selesai. Para orang tua membubarkan diri, sementara anak-anak memasuki kelas didampingi gurunya masing-masing, termasuk anakku. Pertemuan yang terlalu lama rupanya membuat konsentrasi anakku buyar saat berada di dalam kelas. Ia terlihat lebih banyak melamun ketimbang mendengarkan perkataan guru. Tampaknya, anakku mengalami dilema antara keinginan mengikuti pelajaran di kelas dengan rasa kantuk yang mulai menggelayutinya. "Siapa yang pernah ke Griya??" suara guru di kelas tersebut membuyarkan lamunan anakku. Mendengar pertanyaan itu, anakku langsung berteriak lantang bersama anak-anak lainnya. "Sayaaaaa!" teriaknya dengan suara melengking. "Hahahaha, kalau ditanya soal Griya, anakku langsung ingat dan menghentikan lamunannya," gumamku dalam hati.

Pemandangan di kelas sungguh menyenangkan. Aku sampai lupa ajakan menikmati kopi yang ditawarkan pria tadi. Sesaat, aku beranjak menuju kantin. Rupanya, dia sudah pergi. Aku pun kembali melihat Gisavo dalam kelas. Sayang, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 WIB dan aku harus segera kembali ke Garut melanjutkan tugas. Setelah pamit, motor pun langsung kupacu ke arah Garut. Kabarnya, hari itu ada persidangan kasus dugaan korupsi dana bencana alam di Pengadilan Negeri (PN) Garut. Sepanjang jalan, bayangan anakku di dalam kelas terus membekas. Hidup ternyata begitu singkat. Seolah baru kemarin melihat anakku lahir, sekarang dia sudah masuk sekolah lagi. Hmmm, selamat memasuki dunia baru anakku. Ingat, jangan pernah bercita-cita menjadi wartawan.

Read more »

Rabu, 09 Juli 2008

Ketika Bonsai Kecilku Gelisah




Bonsai kecilku gelisah. Sekitar 60 Km dari tempatku duduk dinihari tadi, perempuan mungil yang keras kepala itu mengungkapkan unek-uneknya lewat dunia maya. Lagi-lagi seputar tempat kerja yang ia umpamakan sebagai negeri kurawa. Ah, kegelisahan yang mungkin berkepanjangan dan cukup mengganggu pikirannya. Bahkan beban itu membuatnya harus terjatuh dari motor saat melaksanakan tugas negara. “Makanya, jangan melamun,” ujarku memberi saran usai dia menceritakan kejadian malam tadi. “Abisan, lagi kesel,” jawabnya berargumen. Ia lantas menceritakan kegelisahannya. “Gara-gara nulis di blog tentang kondisi kantor, aku jadi diserang sama orang yang sama,” keluhnya.

Hmmm, persoalan itu rupanya. Aku memang sudah membaca isi blognya yang diposting belum lama ini. Sebuah tulisan tentang seorang manusia bodoh yang hidup di negeri Kurawa. Bagiku, tak ada yang salah dengan tulisan itu. Semua begitu terbuka. Aku sendiri tergugah membaca kalimatnya yang mengalir tak terkendali karena ikut merasakan kegelisahannya.“Dia malu karena ternyata (blog) banyak yang baca. Malu karena aku membuka aib kantor sendiri. Dia juga merasa kalau aku melebih-lebihkan kondisi, lebih dari keadaan sebenarnya,” kalimat demi kalimat pun meluncur tak terkendali. Betul bonsai kecilku. Tidak semua prajurit mau menerima apa yang kita lakukan meski tujuannya demi kebaikan. Di mana-mana, perjuangan tak pernah berjalan mulus. “Kamu kan hanya menceritakan apa yang sebenarnya,” ujarku. Dia mengamini ucapanku. “Jadi, ya udah, nyantai aja,” kataku lagi.

Aku jadi ingat, kegelisahan yang sama juga pernah aku sampaikan pada seorang teman. Dia selalu menjawab dengan satu kata: sabar. Sampai saat ini, kata itulah yang membuat aku tetap bertahan dan menikmati tugas sebagai prajurit siap tempur. Hanya saja, setiap orang tentu punya paham berbeda dalam memaknai sebuah kesabaran. Batas kesabaranku mungkin belum habis, sementara prajurit lain belum tentu seperti itu, termasuk bonsai kecilku yang hobbynya makan burger. Aku yakin, tulisan di blog itu hanya sebagian kecil dari unek-unek yang dipendamnya selama 22 bulan mengabdi. “Sekarang, kamu merasa sendirian ya?” tanyaku. Dia menjawab singkat. “Iya…..!” tandasnya. Percakapan terhenti saat ia meminta izin menerima telepon. Sesaat aku berpikir kenapa ia harus merasa sendirian di tengah hiruk pikuknya prajurit yang ditarik ke markas besar sejak aku berjuang di luar markas? Kenapa pula isi tulisannya di blog harus menjadi persoalan? Kebenaran tidak bisa ditutup-tutupi meski sebatas digoreskan lewat sebuah blog.

"Pokoknya mah, blog itu untuk free impresion, bukan good impresion," katanya sesaat setelah menerima telepon. Aku mengiyakan ucapannya. Tekanan kerja sebagai prajurit di negeri kurawa sudah sedemikian berat. Masak sih kita harus merasa tertekan saat menulis dalam blog. "Hehehehe, betul! Tidak ada redaktur dan asisten redaktur dalam blog," jawabku. "Hidup kebebasan!" tulisnya. Aku pun menimpali dengan huruf besar. "HIDUUUPPP!!" Waktu berlalu. Waah, sudah pukul 01.30 WIB. Bonsai kecilku pamit. "Aku pamit, besok mau liputan pagi," katanya. "Oke," jawabku singkat. Ah, semoga perbincangan ini bukan yang terakhir. Meminjam istilah seorang teman, diam tidak selamanya emas, tapi batu akan selamanya diam. Maka tetaplah berjuang bonsai kecilku, karena kamu tidak sendirian.

Read more »