Selasa, 08 Juli 2008

Hari yang Melelahkan

Barangkali inilah kali pertama aku liputan jauh sejak berada di Kabupaten Garut hampir dua bulan yang lalu. Itu pun aku lakukan secara tidak sengaja dan tanpa perencanaan matang terlebih dulu. Awalnya, Selasa (8/7) sekitar pukul 10.00 WIB, Indra Trans TV tiba-tiba mengajak teman-teman wartawan berangkat Desa Karangsari, Kecamatan Pakenjeng, yang berjarak sekitar 80 Km dari Garut Kota. Menurut kabar dari April Parlindungan, seorang aktivis lingkungan yang sudah berada di Pakenjeng, kawasan tersebut mulai mencekam menyusul kehadiran pasukan Brimob terkait pencarian 10 tersangka kasus perusakan kebun kelapa sawit milik PT Condong. “Hayu urang ka Condong, rame!!” ajak Indra kepada teman-teman media elektronik dan cetak.

Berbeda dengan hari sebelumnya saat Abah Janur Anteve mengajak wartawan berunjukrasa, ajakan Indra tidak berjalan mulus. Beberapa teman-teman, termasuk aku, tidak terlalu bersemangat menerima ajakan tersebut. Alasannya, jarak tempuh dari Garut Kota menuju Pakenjeng yang konon memakan waktu 3 jam. Jika dihitung-hitung dengan waktu liputan sekitar satu jam, aku tidak mungkin bisa kembali ke kota dalam waktu singkat. Terlebih lagi, jadwal deadline di koran tempatku bekerja yang ketat. “Urang moal kaburu sigana. Deadline jam 5. Sok wae lah,” ujarku menolak ajakan Indra. Teman-teman media cetak lainnya juga bersikap sama, termasuk Kemal Tribun Jabar. Satu-satunya wartawan cetak yang agak semangat ikut barangkali Aep Priangan.

“Geus urang kana motor,” ajak Indra lagi. Namun, beberapa teman lain mengusulkan tawaran menggunakan mobil. Salah satunya dilontarkan Abah Janur. “Ke urang nginjeum mobil heula,” kata Abah. Walhasil, semua teman-teman menunggu kabar mobil yang akan dipinjam Abah. Aku, Kemal, dan Inul Galamedia, berbincang-bincang membicarakan ikut tidaknya kami ke Pakenjeng. “Kira-kira, nyampe ngga jam 3 kita sudah ke ruang humas lagi?” tanyaku kepada Deni Meungeung Indosiar. Deni pun menghitung waktu. Secara logika, ia berpikir tidak mungkin bisa kembali ke ruang humas pada sore hari mengingat jarak tempuh yang jauh, dan jalan menuju lokasi yang rusak. “Paling juga malam baru sampai di humas,” ujar Deni. Akhirnya, aku kembali mengurungkan niat ikut, setelah sebelumnya sempat pikir-pikir.

Mobil yang dijanjikan Abah Janur belum juga muncul sementara waktu terus bergulir hingga menunjukkan pukul 11.00 WIB. Indra terlihat mulai gelisah. “Ceuk aing oge kana motor, deukeut da, moal leuwih ti sajam. Sore ge nepi deui ka ruang humas,” kata Indra. Matanya melirik ke arahku sebagai tanda ajakan. Mendengar perkataan Indra, niatku untuk tidak ikut kembali goyah. “Geus kana motor lah, milu jeung urang,” ajak Indra. Aku kemudian meminta jaminan agar bisa sampai ke ruang humas sekitar pukul 15.00 WIB, atau paling telat pukul 16.00 WIB. Dengan penuh keyakinan, Indra menyanggupinya. “Paling ge urang bisa nepi ka humas jam 3-an. Kalau pake mobil memang lama. Pake motor mah, cepet. Paling satu jam juga udah nyampe. Serius mang,” kata Indra dengan wajah penuh keyakinan. Aku pun tergiur tawarannya. “Jam 4 geus nepi ka humas kan?” tanyaku memastikan. “Nepi mang, dijamin, matakna kana motor, dibonceng ku urang,” jawab Indra.

Aku melirik ke arah Kemal. “Geus milu we mang,” kata Kemal. Akhirnya, aku menerima ajakan Indra. “Bawa tas urang atuh,” kata Indra. Dengan bayangan bisa kembali ke ruang humas pukul 16.00 WIB, aku pun duduk di belakang jok motor New Yamaha Vega milik Indra. Sementara teman-teman lain memutuskan untuk pergi dengan menaiki mobil dewan. “Barudak aya di dewan mang. Urang ka dewan heula nya,” kata Indra. Kami pun meluncur ke gedung dewan, tidak jauh dari ruang humas. Benar saja. Teman-teman masih terlihat duduk-duduk di halaman dewan menunggu pinjaman mobil. “Urang tiheula jeung si gin2 kana motor nya!!” teriak Indra sambil melajukan motornya. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB. Hmm, kalau berdasarkan perhitungan Indra, aku bakal sampai ke lokasi sekitar pukul 12.00 WIB. “Kita lihat saja nanti,” pikirku dalam hati.

Indra pun mulai memacu motor Yamaha Vega-nya dengan cepat. Wuss, wuss, kendaraan di depannya terus disalip. Aku sempat melihat speedo meter motornya. Wuih, kecepatan rata-rata mencapai 80 Km. Kalau lagi sepi, kecepatan bisa sampai 100 Km. Pantas saja Indra berani menjanjikan sampai ke lokasi selama satu jam. Dia mengendarai motor layaknya Valentino Rossi, meski lebih tepat disebut tukang ojek. Jalur pertama yang dilalui adalah Kecamatan Samarang, kemudian berlanjut menuju Bayongbong, Cisurupan, Cikajang, dan Pamulihan. “Geus deukeut mang, sakeudeung deui pakenjeng,” ujar Indra sambil terus memutar gas motornya kuat-kuat. “Oh kitu?” tanyaku. Aku menghela napas panjang. “Akhirnya, penderitaan ini segera berakhir,” gumamku. Benar saja, setengah jam kemudian kami sampai di Kecamatan Pakenjeng. “Ke heula mang, urang telepon si April,” kata Indra sambil menghentikan motor tepat di depan warung kopi. Kebetulan, aku pun berniat mengisi batere HP yang sudah habis. Indra kemudian menelepon April. Usai menelepon, ia duduk memesan kopi. “Ke si April ngajemput di daerah Tegal Gede. Da urang ge teu apal lokasina. Geus ayeuna mah nyantai heula,” ujar Indra.

Indra memang tidak menepati janjinya. Kami sampai di Pakenjeng sekitar pukul 12.30 WIB. Berarti ada selisih lebih setengah jam dari waktu yang dijanjikannya. Tapi, melihat hari masih siang, aku yakin bisa tiba kembali di ruang humas pada sore harinya. Apalagi dengan kecepatan seperti tadi. Limabelas menit berlalu. Setelah berusaha mengontak teman-teman lain namun gagal, kami akhirnya melanjutkan perjalanan. “Hayu mang, lanjut,” ajak Indra. “Siap,” jawabku. Indra kembali memacu motornya dengan cepat. Setengah jam berlalu, Desa Karangsari belum juga ditemukan. “Mana si April, telepon deui. Ieu geus di Tegal Gede,” kata Indra. Aku kemudian mengontak April. Rupanya, si April tidak jadi menjemput kami di Tegal Gede. Ia mengaku sibuk mengkondisikan warga Karangsari. “Tanyakeun we Desa Karangsari,” kata April dari balik telepon. Tanpa bantuan April, kami pun menanyakan lokasi Desa Karangsari ke sejumlah warga. Sudah satu jam berada di motor, belum ada satu pun warga yang kami temui. Ruas jalan sudah mulai rusak, sementara Indra tetap bersikukuh memacu motornya. Akhirnya, kami berhasil menemui warga sekitar. Saat ditanya lokasi Desa Karangsari, dia menganjurkan agar kami terus lurus hingga menemui perempatan. “Cilaka Ndra. Jauh keneh ieu mah,” kataku. “Enya mang,” jawab Indra.

Hampir 15 Km kami melalui jalan rusak hingga tiba di perempatan yang disebutkan warga tadi. Di sana, terlihat kerumunan warga yang sedang duduk di sebuah pos. “Kang, ka Karangsari ka mana?” teriak Indra. “Terus wae lurus,” jawab salah seorang pemuda. “Masih jauh?” tanya Indra lagi. “Paling ge 15 menit deui,” kembali pemuda itu menjawab. Huh, 15 menit versi warga pasti berbeda dengan versi kami. Apalagi, jalan yang akan dilalui hanya berlapis batu. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 WIB. “Ah, alamat tidak bisa pulang ke Garut Kota sore hari nih,” gumamku. Indra memang betul-betul gila. Dalam kondisi jalan berbatu, ia masih memacu motornya dengan cepat. Jalanan semakin sepi. Di kiri-kanan, kami hanya melihat kebun rindang. Di pertigaan jalan, aku sempat menanyakan kembali lokasi Desa Karangsari kepada seorang pegawai PT Condong. Ia menunjukkan jalan agar kami terus lurus mengikuti jalan berbatu. Di sebuah tempat, kami melihat ribuan pohon kelapa sawit yang habis terbakar. “Tah mang, ieu teh kalapa sawit nu dibakar warga,” kata Indra seperti seorang guide yang sedang memandu wisatawan.

Puas melintasi jalan rusak, akhirnya kami tiba di Desa Karangsari. Rupanya, dari desa tersebut kami bisa melihat keindahan Pantai Pameungpeuk. Sepanjang perjalanan di ruas jalan desa, kami melihat sejumlah anggota Brimob yang berjaga-jaga di sekitar jalan, dan rumah warga. Mereka tampak membawa senjata laras panjang. “Urang nelepon si April heula mang,” kata Indra. Rupanya April tidak ada di tempat. Ia sedang berada di Taman Manalusu. Tidak jelas apa yang dia kerjakan di sana. Kami hanya diminta menunggu dijemput salah seorang teman April di kantor desa. “Tungguan di dieu, ke aya nu ngajemput,” kata Indra. Sambil menikmati minuman dingin, kami pun menunggu jemputan. Selang beberapa menit kemudian, jemputan datang. Kami dipandu ke sebuah rumah di tempat bernama Munjul. Di sana sudah menunggu beberapa warga yang hendak memberikan keterangan seputar kehadiran Brimob di Desa Karangsari. Tiba di Munjul, Abah menelepon. Ia menanyakan posisi kami. Karena sulit menjelaskan, warga yang tadi menjemput kami kembali merelakan diri menjemput Abah bersama rombongan. Setengah jam kemudian, rombongan Abah yang terdiri dari Ibu Niknik Medikom, Boi TPI, Deni Indosiar, Tasdik Elshinta, Aep Priangan, Irwan Kuir RRI dan Ukas Rex Radio, tiba di Munjul.

Seorang warga yang belakangan diketahui bernama Maman, 32, kemudian angkat bicara. Ia mengeluhkan kondisi warga Desa Karangsari yang resah atas keberadaan anggota Brimob di desa tersebut. Hampir setiap hari, kata Maman, seluruh pasukan Brimob menyisir rumah warga untuk mencari provokator pembakaran kebun kelapa sawit. Beberapa anggota Brimob di antaranya, lanjut Maman, bahkan sempat mengeluarkan kata-kata ancaman kepada warga. “Bayangkan saja. Sejak satu bulan yang lalu, aktivitas warga diawasi oleh pasukan Brimob. Setiap hari, mereka melakukan patroli ke rumah warga untuk mencari 10 orang yang menurut mereka menjadi tersangka kasus pembakaran kebun kelapa sawit milik PT Condong,” kata Maman.

Cerita pun mengalir. Tasdik dan Ukas, menyalakan tape, merekam seluruh pembicaraan Maman. Akhirnya, karena data sudah dirasa cukup dan waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB, aku dan Indra berinisiatif keluar rumah untuk mengambil gambar aktivitas anggota Brimob di Desa Karangsari. Teman-teman lain mengikuti dengan menaiki mobil. Sayangnya, jumlah personel Brimob yang kami temui sudah mulai menyusut, tidak seperti saat kami baru memasuki Desa Karangsari. Berdua saja kami mengambil gambar aktivitas Brimob, dan beberapa warga setempat. Sementara Abah dan rombongan tertinggal di belakang. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. “Hayu ah, geus sore. Urang geus deadline,” aku mengajak Indra pulang. Indra mengiyakan ajakanku dan kami pun berangkat menuju Garut Kota. “Gak ada jalan lain lagi?” tanyaku karena membayangkan jalur yang akan dilalui nanti masih sama dengan jalur yang tadi. “Euweuh deui mang,” jawab Indra.

Yahh, dasar nasib. Kami pun terpaksa harus kembali menyusuri jalan yang sama. Hanya saja, kali ini kami tak lupa mengabadikan diri di beberapa tempat yang dirasa indah. “Lumayan mang, itung-itung ulin,” Indra berseloroh. Usai berfoto, perjalanan dilanjutkan. Saat tengah berfoto dengan latar belakang Pantai Pameungpeuk, HP-ku berbunyi. Jakarta menelepon minta listing. Mengetahui posisiku di Garut Selatan, asisten redaktur memberi keringanan deadline hingga pukul 19.00 WIB. Seperti saat berangkat, Indra tetap memacu motornya dengan kencang. Kabut mulai turun di perkebunan teh. “Lapar mang, dari pagi belum nemu nasi,” kata Indra. Aku pun menimpali. “Sarua mang, saya ge can makan ti isuk,” jawabku. Kami sepakat berhenti jika menemukan warung nasi. Di Pamulihan, kami mampir di warung nasi. Saking laparnya, aku malah merasa kenyang sehingga makan pun tidak begitu nikmat.

Pukul 18.00 WIB, setelah menghabiskan makan dan sebatang rokok, kami berangkat. Langit gelap, jalan sempit, tapi Indra tetap memacu motornya. Yah, namanya numpang, jangan sekali-kali protes terhadap supir. Meski cukup khawatir dengan kecepatan motor, aku tetap diam. “Yang penting bisa sampai di humas sebelum jam 7 dan langsung ngetik berita,” ujarku. Kecamatan Pamulihan, Cikajang, Cisurupan, Bayongbong, dan Samarang akhirnya terlewati. Kami tiba di ruang humas pukul 19.00 WIB. Baru saja duduk di depan komputer, Jakarta sudah menelepon minta berita segera dikirim. Wuiih, hari yang betul-betul melelahkan.

Read more »

Senin, 07 Juli 2008

15 Menit Merancang Aksi

Pagi itu, seperti biasa, ruang humas Pemkab Garut dipenuhi wartawan baik cetak maupun elektronik. Aktivitas yang dilakukan mereka beragam. Ada yang sekadar duduk-duduk sambil menikmati kopi hangat, ada pula yang berdiskusi merencanakan agenda liputan. Waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB. Janur M Bagus, wartawan Anteve tiba-tiba melayangkan ide liputan. “Demo yuk. Urang aksi solidaritas terkait kekerasan yang dilakukan marinir terhadap wartawan Indosiar di Indramayu,” ajak Janur, yang akrab disapa Abah tersebut, kepada sejumlah wartawan. “Hayu!! di Bandung geus rame, engke beritana digabung-gabung jeung nu lain,” teriak Abah lagi.

Ide Abah dipicu oleh kekerasan yang menimpa Agus Suci Iswahyudi, stringer Indosiar, Jumat (4/7) malam lalu. Ia ditendang oknum TNI Angkatan Laut (AL) Korp Marinir Cilandak asal Yon Howitzer-2, bernama Praka Shafrudin, saat tengah meliput razia pekat yang digelar Polres Indramayu. Persoalannya sederhana, Praka Shafrudin tidak terima dirinya diliput karena sedang mabuk di sebuah diskotik. Akibat tendangan tersebut, Agus sempat menderita sesak napas dan dibawa ke rumah sakit untuk divisum. Kejadian ini pun mendapat kecaman dari sejumlah wartawan di Indonesia.

Gayung pun bersambut. Sejumlah wartawan mengamini ide Abah. Tasdik dari Elshinta bahkan langsung duduk di depan komputer dan menulis berita aksi yang akan dilakukan wartawan Garut. Kontan saja, kelakuan Tasdik diprotes Abah. “Ke heula, ulah waka ditulis. Demona oge acan. Urang nyieun pernyataan sikap heula,” kata Abah. Saat Tasdik menuliskan pernyataan sikap, sejumlah wartawan lain wara-wiri mencari logistik aksi seperti toa, dan poster. Beberapa wartawan lainnya juga terlihat mulai menghubungi wartawan lain melalui SMS, atau menelepon langsung. Deni Meungeung dari Indosiar, membuka email. “Ieu aya bahan kronologisna langsung ti korban,” ujar Deni.

Irwan Kuir dari RRI bergegas mencari toa ke sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang biasa berunjukrasa di Kabupaten Garut. Dengan menaiki motor, ia ditemani Erfan, wartawan dari Garoet Pos mendatangi sejumlah LSM. Tak ayal lagi, suasana ruang humas Pemkab Garut pun mendadak ramai. “Mana kartonna, mana spidol, urang nyieun poster,” teriak Dedi dari Radar Garut. Layaknya aksi yang biasa dilakukan mahasiswa atau LSM, Abah pun mengontak aparat kepolisian, di antaranya Kabag Ops Polres Garut, Kompol Ade Najmulloh sekadar meminta izin. “Izin komandan, kita mau aksi. Siapkan dalmas. Nanti surat izinnya menyusul,” ujar Abah. Dipandu Abah dan wartawan lainnya, Tasdik membuat pernyataan sikap. Lantaran kekerasan menimpa wartawan Indosiar, Deni Meungeung yang sama-sama dari Indosiar merelakan diri menjadi koordinator aksi.

Semangat teman-teman menggelar aksi solidaritas sangat terasa saat itu. Aku pun bergegas menelepon Uyi, rekanku di Indosiar yang biasa meliput di wilayah Cirebon dan mengabarkan rencana aksi ini. “Bos, Garut juga bergerak. Kita juga menggelar aksi solidaritas,” ujarku melalui telepon. Uyi pun menyampaikan rasa terima kasih kepada wartawan di Garut. “Oke bos terima kasih, aku sampaikan ke rekan teman-teman di Cirebon,” jawab Uyi. Sayup-sayup terdengar suara orasi dari balik telepon. Rupanya, wartawan Cirebon sudah menggelar aksi solidaritas sejak pagi hari. “Buru euy, barudak Cirebon geus aksi,” aku mengingatkan teman-teman.

Selebaran pernyataan sikap pun sudah siap, berikut kronologisnya. Poster sudah dibuat meski bukan dari karton baru. Irwan Kuir pun tiba sambil menenteng toa yang dia pinjam dari LSM Gerakan Masyarkat Bawah Indonesia (LSM). Sekitar pukul 10.15 WIB, kami pun bergerak menuju Gedung DPRD Garut. Sebelumnya, aku mampir di tempat fotocopy tidak jauh dari ruang humas Pemkab Garut untuk memperbanyak selebaran pernyataan sikap. “Jumlah wartawan di Garut teh nyampe 400-an euy. Kamarana nu lain? Ari pas aksi mani saeutik euy,” teriak Aep dari Priangan. Sepanjang perjalanan menuju Gedung DPRD Garut, Abah Janur berorasi. Lama-lama, jumlah wartawan yang mengikuti aksi semakin banyak hingga mencapai 50 orang. Tanpa pengawalan dari aparat kepolisian atau pun satpol PP, kami mulai melancarkan aksi di depan Gedung DPRD Garut. “Mana euy dalmasna? Teu rame euweuh dalmas mah,” ujar Abah. Begitulah, orasi kebanyakan didominasi Abah. Sesekali Irwan Kuir ikut menyampaikan orasinya. Sementara Indra Trans TV, Boi MNC, dan Deni Meungeung, sibuk mengabadikan aksi tersebut.

Setelah berunjukrasa di depan Gedung DPRD Garut, kami berencana melakukan long march menuju Simpang Lima yang berjarak sekitar 500 meter. Namun, sebelum berangkat, Aep mengusulkan agar perwakilan dewan keluar dan ikut menyatakan aksi keprihatinan. “Ke heula euy, dewan harus ngomong dulu!!” ujar Aep. Walhasil, para wartawan pun berteriak meminta dewan keluar. “Kami minta anggota dewan yang terhormat keluar dari ruangan dan menyatakan keprihatinan atas kekerasan yang menimpa kawan kami di Indramayu. Jika tidak, maka kami menganggap para anggota dewan pun tidak lagi memiliki keberpihakan terhadap kawan-kawan media,” teriak Abah.

Selang beberapa menit kemudian, toa beralih ke tangan Irwan Kuir. Abah pun masuk ke gedung dewan dan mencari sejumah anggota dewan. Pencarian Abah berbuah hasil. Ia membawa keluar Ketua Komisi C DPRD Garut, Luki Lukmansyah. Ditodong wartawan agar memberikan pernyataan keprihatinan terkait kekerasan terhadap wartawan, Luki pun angkat bicara. “Saya secara pribadi maupun lembaga menyatakan turut prihatin atas kekerasan yang menimpa wartawan. Negara kita negara hukum, sehingga tidak pantas jika penyelesaian persoalan dilakukan dengan cara premanisme,” kata Luki disambut tepukan dan teriakan para wartawan.

Gedung dewan akhirnya kami tinggalkan. Saat itu, tujuan kami adalah kawasan Simpang Lima yang biasanya dijadikan lokasi aksi. Sebelum sampai di Simpang Lima, kami memasuki halaman Gedung Pemkab Garut dan berorasi di depan ruang rapat Sekretariat Daerah (Setda) Garut. Mendadak, beberapa wartawan menanggalkan ID Card dan tape recorder diikuti rekan-rekan lainnya. “Ini sekadar wujud protes kami terkait kekerasan terhadap wartawan yang sering terjadi,” ujar Abah. Hanya beberapa menit, aksi berlangsung di depan ruang rapat Setda Garut. Kami kemudian melanjutkan perjalanan. Tak terasa, dahaga menyerang. “Mana logistikna euy, haus yeuh,” teriak salah seorang wartawan. Lagi-lagi perjalanan terhenti tepat di depan Gedung PWI Garut. Zamzam dari Radar Garut berinisiatif masuk ke Gedung PWI dan mengambil air mineral gelas bergambar salah seorang bakal calon (balon) bupati independen yang tersimpan dalam kardus. Kontan saja, sejumlah wartawan berseloroh. “Wah, hati-hati, aksi ini ditunggangi oleh salah satu balon,” ujarnya sambil tertawa. “Hati2!! Hati2!! Hati2!! Provokasi!!” teriak wartawan lain.

Di gedung tersebut, Ketua PWI Garut Asep Sudradjat, ikut menyatakan prihatin atas kekerasan yang menimpa wartawan Indramayu. Setelah terhenti di Gedung PWI Garut, kami melanjutkan aksi menuju Simpang Lima. Abah masih berceloteh di depan toa. Lantaran kehabisan kata-kata, materi orasi yang disampaikan tidak berubah sejak berunjukrasa di gedung dewan. “Gantian euy, capek yeuh,” ujar Abah. Di bawah terik matahari siang, unjukrasa pun berlanjut di kawasan Simpang Lima. Sepuluh menit berlalu, akhirnya kami memutuskan menyelesaikan aksi dan berjalan kembali menuju ruang humas Pemkab Garut. Hmmm, 15 menit merancang aksi ternyata berbuah hasil cukup memuaskan.

Read more »

Rabu, 02 Juli 2008

Mang Aep vs wakil ketua dewan



Seorang Wakil Ketua DPRD Kabupaten Garut tiba-tiba marah-marah di depan enam wartawan, Selasa (1/7) sore. Dia tidak terima dengan pemberitaan di koran SINDO dan Tribun Jabar tentang laporan dugaan penyimpangan dana jaring aspirasi masyarakat (jaring asmara) senilai Rp72 miliar yang diduga melibatkan 20 legislator Garut. Padahal, berita itu sama sekali tidak menyebutkan satu pun anggota dewan dan hanya berkisar tentang rencana pemanggilan 20 legislator Garut tersebut oleh Polda Jabar. Entahlah, tiba-tiba Wakil ketua dewan dari dari Fraksi PDIP itu menuding wartawan terlalu mengada-ada dan membesar-besarkan kasus jaring asmara. Sementara kasus lain seperti ijazah palsu wakil bupati, tidak diungkit.

“SINDO mah nya, teu bisa diajak kompromi. Kenapa sih wartawan ini terlalu membesar-besarkan masalah jaring asmara yang kasusnya sendiri tidak jelas. Sementara kasus lainnya semacam pemalsuan ijazah saja tak pernah diungkit-ungkit. Padahal hal itu sudah jelas pelanggaran hukumnya. Di mana moral wartawan,” ujarnya dengan nada tinggi. Saat itu, wajah putihnya berubah merah. Sejumlah asistennya juga tampak menyingkir, khawatir kena semprot atasannya itu.

Aep, wartawan SK Priangan perlahan mundur dari pertemuan itu. Sementara wakil ketua dewan tersebut terus menumpahkan kekesalannya. Layaknya penyair yang tengah membaca puisi, dia terus berteriak di halaman parkir Gedung DPRD Kabupaten Garut. Aku yang kebetulan menulis berita itu di SINDO diam menyaksikan tingkahnya. Begitu pun Kemal dari Tribun Jabar dan Slamet dari radio Antares. Sementara Tasdik Elshinta serta Ukas Radio Rex, tampak terlibat perbincangan serius, sekitar 2 meter dari posisi kami.

“Saya tahu yang dijadikan sasaran pelapor terkait kasus Jaring Asmara ini adalah saya dan saya tahu pasti siapa yang menjadi pelapornya. Kasih tahu sama dia, berkelahi saja sekalian dengan saya,” teriaknya dengan nada tinggi sambil menyebutkan nama pejabat teras di Pemkab Garut. Tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi sambil mengacungkan telunjuk. Saat itu, kami seperti mendengarkan kuliah tujuh menit (kultum) dari seorang ustad di mesjid setiap menjelang adzan Maghrib pada bulan ramadan.

Lama-lama, Aep mulai menghilang. Ia mengambil sikap mundur dari pertemuan karena merasa jengah dengan sikap wakil rakyat itu. Tinggal aku, Kemal, dan Slamet yang berada persis di hadapan pengusaha berkulit putih itu. Sementara Tasdik dan Ukas, masih terlihat serius berbincang. Perlahan, nada suaranya mulai melemah. Dia menatap kami lekat-lekat. “Saya tak akan mengomentari hal itu (rencana Polda memanggil 20 anggota dewan). Jika dikomentari hal itu akan menjadi semakin besar. Yang jelas saya tahu siapa yang ada di balik ini dan sekali lagi tolong sampaikan jika saya mengajaknya untuk berkelahi,” tandasnya.

Dia kemudian menceritakan kronologis pencairan dana jaring asmara tersebut, namun tidak untuk dikutip. Kami pun mendengarkan dengan seksama penjelasan tersebut. Kali ini, Ukas dan Tasdik sudah ikut bergabung. Karena konfirmasi dari dia sebagai pimpinan dewan cukup diperlukan, kami mencoba membujuknya agar penjelasannya bisa dikutip. Dia pun luluh. Seluruh penjelasannya kemudian dikutip. Nada bicaranya pun terdengar lebih santai ketimbang saat berteriak-teriak tak karuan. Keterangan dari dia sudah terangkum semua. Kami pun berencana pamit. Tiba-tiba, dia menghampiri kami lebih dekat. “Hampura nya tadi. Bukan bermaksud marah. Maklum, masih darah muda. Tadi mah, saya ngan ngaluarkeun unek-unek. Soalna, saya keur aya hajatan rek nyalon (jadi Garut I),” ujarnya sambil menyalami kami.

Kami pun pamit dan berjalan menuju ruang Humas Pemkab Garut, tidak jauh dari halaman parkir gedung dewan. Begitu sampai di ruang humas, Aep sudah ada di depan komputer. “Aing mah keuheul. Ngambek mamawa profesi. Mending indit we, dari pada keuheul. Kumaha akhirna?” tanya Aep. Aku lantas menceritakan akhir pertemuan kami. “Dia sudah minta maaf, karena marah-marah kepada wartawan,” ujarku menceritakan akhir pertemuan.

Tampaknya kekesalan Aep masih belum mereda. Dia tetap berniat menuliskan kemarahan wakil ketua dewan itu untuk diterbitkan di SK Priangan. “Ah, aing mah dek ditulis we. Da teu nyaho geus menta maaf. Aing mah nyahona manehna nyarekan urang-urang we,” ujar Aep. Niat Aep tidak main-main. Dia menuliskan judul “Tantang Pelapor Berkelahi. Ditanya Kasus Jaring Asmara, Wakil Ketua DPRD Berang”. Isi tulisannya pun menceritakan kemarahan wakil ketua dewan itu. Bahkan, perkataan menantang berkelahi salah seorang pejabat teras di Garut juga dikutipnya.

Benar saja. Keesokan harinya, di SK Priangan halaman 4, berita Aep muncul. Foto wakil ketua dewan itu juga terpasang, termasuk kutipannya saat menantang salah satu pejabat teras di Garut.
Hahaha, luar biasa Mang Aep… !!

Read more »

Rabu, 18 Juni 2008

Percakapan singkat via YM


Semalam aku berbincang dengan teman kantorku via YM. Dia menyatakan kegelisahannya mengenai situasi di kantor sekarang. “Bandung hangat-hangat tahi ayam,” ujarnya saat aku tanya kondisi markas SINDO di Jalan Aceh 62, pasca kepergianku, satu bulan yang lalu. “Bali yang lagi panas. Enam wartawan dipecat tanpa alasan yang jelas,” tanpa ditanya, ia bercerita. “Wah, nu bener?” aku balik bertanya. “Bener, aya dinu milis,” timpalnya.

Gila, ternyata sudah satu bulan aku tidak pernah lagi membaca milis sindo_jabar. Pantas aku tidak tahu perkembangan kantor di Jabar maupun nasional. Sebelum meneruskan pembicaraan, aku menyempatkan waktu membuka milis. Benar saja, pukul 4.59 Am, sebuah email mampir. NEED ADVOCACY: Wartawan SINDO Bali di PHK, begitu judul email tersebut. Sekilas aku sempat membaca isi email yang diposting dari mediacare. Hmmm, intinya ternyata tidak jauh berbeda dengan kasus yang pernah terjadi di tubuh SINDO Jabar tahun 2007 lalu yaitu masalah kontrak kerja dan mungkin like and dislike.

Aku kemudian berpikir, ternyata manajemen SINDO tidak belajar dari pengalaman sebelumnya. Entahlah bagaimana manajemen di SINDO Jawa Barat. Setahuku, sejak kasus pemutusan kontrak kerja sepihak seorang wartawan SINDO Jabar beberapa waktu lalu, pihak manajemen sudah mulai teratur. Meski begitu, rasa khawatir tetap saja ada. Kembali aku melanjutkan pembicaraan dengan temanku via YM. “Di SINDO Jabar geus aya kabar pemecatan massal?” tanyaku setengah bercanda. “Soalnya kalau pengangkatan massal tidak mungkin ada, baru ada tahun kuda,” kataku lagi. Lama dia tidak menjawab pertanyaanku hingga akhirnya muncul jawaban. “Boro-boro tahun kuda, moal aya nepi ka tahun iraha oge,” ujar dia dengan nada pesimistis.

Sebuah jawaban yang wajar memang, mengingat sampai saat ini, statusku, dia, dan beberapa teman lainnya di SINDO Jabar masih belum jelas. “Ada tawaran lain,” tiba-tiba dia mengganti topik pembicaraan dan menyebut nama sebuah media yang membutuhkan wartawan. “Sekarang di sana manajemennya sedang ditata,” ujarnya lagi. Aku kemudian mengingatkan agar dia tidak terburu-buru memutuskan pindah kerja karena di tempat pekerjaan yang baru itu pun, statusnya akan tetap sama. “Kita lihat saja nanti, aku sedang mencari informasi lebih jauh. Di sini atau di sana memang sama saja. Tapi di sana, mungkin aku bisa lebih dekat dengan keluarga,” ujarnya lagi.

Sepintas aku sempat berpikir akan kehilangan dia. Sebab, keputusan dia untuk mempertimbangkan tawaran itu cukup kuat. “Tenang Gin, kalau ada peluang buat dua orang, yang pertama saya ajak ente,” ujarnya. “Siap mang, ditunggu kabarnya,” jawabku. Hmm, sejak berada di SINDO tahun 2007 lalu, aku dan temanku yang satu ini memang kerap berjanji saling membantu jika suatu saat terlibat kesulitan. Mungkin faktor usia dan kedekatan karena sempat bekerja cukup lama di media yang sama sebelum bergabung di SINDO selama beberapa tahun, membuat kita bersikap seperti itu. Aku pun pamit dan menutup YM.

Malam perlahan mulai berganti pagi. Seorang teman liputanku di Garut yang sama-sama berasal dari Bandung mengajakku keluar mencari makanan. Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 WIB dinihari. Kami pun berjalan keluar dari ruang humas Pemkab Garut yang selama ini menjadi markas sekaligus tempat tidur, selain tentu saja kamar kos di Komplek Nusa Indah. Brrrr, udara sangat dingin. Berdua kami melangkah menyusuri jalanan Garut di bawah cahaya bulan dan germerlap bintang di langit. “Kenapa ya kita ada di sini? Rumah di Bandung, keluarga di Bandung, cari uang kok jauh-jauh ke Garut,” ujarnya sambil berjalan. Aku hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaannya.

Read more »

Ukas Sumringah, Irwan Terpuruk

Sihir sepakbola Piala Eropa memang betul-betul luar biasa. Setiap hari, demi menonton tayangan ajang sepakbola paling bergengsi di Eropa ini, para pecinta sepak bola di Indonesia rela begadang di depan televisi, termasuk warga Kabupaten Garut. Tidak sedikit pula orang yang memanfaatkan momen tersebut sebagai arena taruhan, seperti ulah sejumlah wartawan di Garut.

"Ayeuna saha lawan saha (sekarang siapa lawan siapa)?" tanya Ukas, wartawan Radio Reks kepada Irwan Oeke dari mingguan Tuntas, Selasa (17/6) malam, di ruang humas Pemkab Garut."Italia vs Prancis, jeung Belanda vs Rumania," jawab Irwan. Ya, partai Italia vs Prancis merupakan pertarungan hidup mati di grup C yang disebut pool neraka. Sebab, keduanya sama sekali belum memperoleh poin penuh, dan baru meraih poin 1.

"Gocapan (50 ribuan) ah. Urang nyekel Prancis (saya pegang Prancis)," ajak Irwan kepada Ukas. Kontan saja, Ukas merasa tertantang dan menaikkan taruhan menjadi Rp100 ribu. "Geus cepean lah (100 ribuan). Ieu mah lain soal skor, tapi saha we nu meunang," tantang Ukas. Namun, Irwan menolak tawaran Ukas, dan tetap mempertaruhkan uang Rp50 ribu karena dia juga hendak bertaruh pertandingan Belanda vs Rumania dengan teman lainnya.

"Geus lah deal, gocapan," Irwan kembali ke tawaran semula. Kedua wartawan itu kemudian bersalaman tanda sepakat. Uang dipegang oleh Irwan. Untuk pertandingan Italia vs Prancis, Ukas rupanya tidak hanya bertaruh dengan Irwan tetapi juga dengan Yogi salah seorang staf di bagian humas Pemkab Garut. Pria berwajah hitam itu tetap memegang tim Italia, dengan nilai taruhannya sama, Rp50 ribu.

Malam semakin larut. Bulan mulai menampakkan cahayanya. Ruangan humas Pemkab Garut penuh sesak oleh sejumlah wartawan yang berniat menonton pertandingan Piala Eropa. Sejumlah wartawan lain berdatangan. Irwan Kuir dari RRI, datang dengan membawa gitar. Aep dari harian Priangan (grup PR) menyusul kemudian dan bernyanyi. Sementara Indra dari Trans TV duduk menghadap laptop. Meski duduk di hadapan laptop, tangannya sama sekali tidak menyentuh keyboard laptop, tapi malah keypad HP.

Pukul 02.00 WIB hari Rabu, pertandingan dimulai. Wajah Ukas dan Irwan mulai tegang. Keduanya saling ledek, setiap tim pilihan mereka berbuat kesalahan. Sial bagi Irwan. Gara-gara melakukan pelanggaran terhadap Luca Toni di kotak 12 pas pada menit ke 25, Erik Abidal pemain belakang Prancis mendapat kartu merah. Italia pun mendapat hadiah penalti. Andrea Pirlo yang menjadi eksekutor, menyelesaikan tugas dengan baik, 1-0 untuk Italia.

Wajah Ukas betul-betul sumringan saat itu. Terbayang uang Rp100 ribu dari Irwan dan staf humas yang diajaknya bertaruh. Sepanjang pertandingan babak pertama, Ukas tak henti-hentinya meledek Irwan. Baru saat jeda, keduanya terdiam. "Tingali babak kadua (lihat babak kedua)," kata Irwan kepada Ukas menghibur diri. Ketegangan Irwan ternyata bukan hanya lantaran tim Prancis kalah dari Italia pada babak pertama, tetapi juga karena Belanda belum mencetak satu pun gol ke gawang Rumania. Padahal, dia bertaruh skor dengan teman lainnya, minimal 2-0 untuk Belanda.

"Urang ngepur hiji jeung babaturan nyekel Belanda. Jadi Belanda minimal kudu meunang 2-0," kata Irwan. Ukas tertawa. "Nya enggeus lah, Belanda pasti meunang," hibur Ukas. Babak kedua dimulai. Berbeda dengan saat menonton pertandingan babak pertama, pada babak kedua tersebut, Irwan tidak terlalu bersemangat nonton. Ia lebih banyak tidur di sofa. Dia sudah pesimistis, timnya bakal kalah dari Italia. "Wan, hudang atuh, geus maen yeuh," teriak Ukas membangunkan Irwan. "Pek lah cokot we ku maneh ayeuna duitna," timpal Irwan dengan poisisi tidur di sofa.

Prediksi Irwan benar-benar terjadi. Italia menambah gol lewat tendangan bebas Danielle De Rossi di menit ke 62 yang sempat membentur kaki striker Thierry Henry. Begitu skor 2-0, Irwan langsung menyerahkan uang kepada Ukas karena harapan timnya bakal menang, sangat tipis. Beruntung, Belanda berhasil mencetak 2 gol ke gawang Rumania sehingga dia masih mendapat untung dari taruhan bersama teman lainnya. Ukas betul-betul senang. Ia berhasil mendapatkan uang Rp100 ribu hanya dalam waktu 90 menit, tanpa bekerja. "Kas, duit haram mah kudu dibagi-bagi. Mun henteu, belikeun nu haram deui!!" sedikit bercanda, aku memberi saran kepada Ukas.

Read more »

Senin, 16 Juni 2008

Anakku dan Puri Misteri


Janjiku mengajak si kecil ke rumah hantu akhirnya terwujud juga Sabtu (14/6) lalu. Di mal Yogya Jalan Kepatihan lantai paling atas, dahaga anakku melihat “hantu” terpuaskan setelah menyusuri lorong gelap arena permainan bernama Puri Misteri. Ah, di usia yang hampir empat tahun, tingkat kepenasaran Gisavo anakku, memang sangat tinggi. Dia belum mau menyentuh permainan lain, sebelum betul-betul masuk ke rumah hantu. Padahal, di lantai paling atas mal Yogya, banyak sekali arena permainan anak-anak, mulai dari komidi putar, bombom car, sampai permainan mobil koin yang cuma bisa goyang. Aku sendiri heran, darimana ia mendapat ide mengajakku ke rumah hantu.

Niat anakku melihat hantu memang sudah disampaikan seminggu sebelumnya, saat aku masih berada di Garut. Suatu malam, ia meneleponku dan mengutarakan keinginannya itu. Entah apa yang terbayang dalam pikirannya tentang sosok hantu. Yang jelas, ajakannya lewat telepon terdengar begitu serius. “Bapak, pulangnya kapan? Kalau pulang, kita ke rumah hantu yuk?” ajak anakku. Karena libur hari Sabtu, aku pun hanya bisa mengajaknya pergi ke rumah hantu pada hari Sabtu. Hampir setiap malam, pembicaraanku lewat telepon dengannya selalu berkisar tentang hantu. Sampai akhirnya aku pulang Jumat (13/6) malam, dia masih mengingatkanku soal rencananya pergi ke rumah hantu. “Pak, besok-besok jadi kan ke rumah hantu?” tanyanya. Aku mengiyakannya. “Iya, besok kita pasti ke rumah hantu, berdua aja,” jawabku.

Setiap akhir pekan, saat libur, aku memang selalu menyempatkan bermain berdua dengan Gisavo. Tapi, Sabtu kali ini terasa berbeda. Tiba-tiba saja, dia terasa begitu ingin dekat denganku. Sejak bangun tidur sampai akhirnya kita pergi, pandangan Gisavo seolah tak mau lepas melihatku. Aku menangkap kekhawatiran di wajahnya. Khawatir aku membatalkan rencananya pergi ke rumah hantu. “Tenang Gi, bapak libur. Kita jadi ke rumah hantu,” aku mengelus kepala kecilnya. Anakku tersenyum. Ia mengerti apa yang kukatakan. “Sekarang mending Gisa tunggu di depan. Bapak manasin motor dulu,” ujarku. Ia menuruti perintahku dan duduk manis di kursi depan. Hanya saja, matanya tetap mengawasi gerak-gerikku. “Bapak, jangan lama-lama ya,” teriaknya.

Pukul 10.00 WIB, kami berangkat menaiki motor. Anakku duduk di depan. Dia mengenakan helm hitam dengan kaca yang sudah pecah dua. Tujuan kami hanya satu, Yogya Jalan Kepatihan. Sepanjang perjalanan, kita berbincang-bincang seputar masalah hantu. Nada bicaranya terdengar berapi-api. “Hmm, dia mungkin belum tahu apa yang disebut hantu,” kataku dalam hati. Aku mengemudikan motor dengan pelan hingga kami baru tiba di mal Yogya Jl Kepatihan sekitar pukul 10.45 WIB. Begitu turun dari motor, anakku sempat kaget, karena tempat yang dituju tidak seperti yang dibayangkan. “Bapak, ini bukan rumah hantu, Gisa kan mau ke rumah hantu,” tanyanya. Memang, saat itu aku parkir tepat di sebelah lokasi pameran. Anakku tahu betul, apa itu pameran karena kerap ikut eyangnya melihat pameran di Metro Trade Center (MTC). “Nanti, kita naik. Rumah hantunya ada di paling atas,” jawabku. Kami akhirnya naik ke lantai paling atas.

“Gisa, bapak mau tanya lagi, Gisa bener mau masuk rumah hantu?” aku sempat meyakinkan si kecil mengenai keinginannya melihat hantu begitu tiba di arena permainan anak-anak mal Yogya. Dengan lantang dia menjawab. “Iya pak. Kan Bapak janji mau bawa Gisa ke rumah hantu. Katanya di rumah hantu banyak hantunya pak,” jawab anakku. “Gisa mah gak takut sama hantu, kalau ada hantu, berdoa aja,” kembali anakku berceloteh. Tanpa bertanya lagi, aku pun mengajak si kecil membeli koin. Harga satu koin Rp1.250, sementara untuk masuk Puri Misteri, satu orang harus membeli 2 koin. Aku pun memutuskan membeli 10 koin.

“Jadi pak masuk rumah hantu?” tanya anakku setelah koin kubeli. “Jadi…. Tenang aja, kalau Gisa takut, peluk aja bapak,” jawabku. Anakku mengangguk. Sebelum koin dimasukkan, wajah anakku terlihat sumringah. Aku sempat melihat ke kiri dan ke kanan. Rupanya, tidak ada lagi yang berminat masuk Puri Misteri kecuali kami berdua. “Gisa duluan aja, bapak di belakang,” aku menyuruh anakku berjalan di depan. Anakku berjalan di depan. Namun, sekitar empat langkah orang dewasa, wajahnya tiba-tiba berubah. “Bapaaaaaaakkk,” ia berteriak dan berlari berbalik arah. Rupanya, hantu pertama membuat dia kaget. “Tenang aja, kan ada bapak. Kalau hantunya ngagetin, Gisa kagetin lagi aja,” aku menenangkan anakku yang terlihat mulai mogok berjalan. “Gisa berani kan sama hantu?” tanyaku. Anakku mengangguk. “Berani pak,” jawab anakku sambil melepaskan pelukannya.

Gisavo kemudian melanjutkan langkahnya. Ia betul-betul mengikuti perintahku. Meski terlihat masih dibalut rasa takut, dia selalu berusaha membuat kaget setiap hantu yang dilihatnya. Namun, di pertengahan jalan, dia kembali menghentikan langkahnya karena lorong sudah mulai gelap dan suara-suara mengerikan mulai terdengar. Aku sadar, kali ini dia sudah mulai betul-betul takut. “Gisa takut?” tanyaku. Dalam gelap, aku bisa melihat wajah kanak-kanaknya gelisah. Matanya sudah mulai sendu. “Iya pak, Gisa takut,” nada suaranya bergetar. Aku pun memeluknya erat-erat dan menggendongnya melalui lorong-lorong gelap dan sempit. Wah, lumayan mengerikan juga. Wajar sekali kalau anakku ketakutan. Dalam pelukan, aku mendengar suara anakku berdoa. Saat itu, ia mungkin mengingat pesanku agar setiap melihat hantu berdoa. “Bismillah, Bismillah,” begitu ucap anakku setiap kali melihat hantu-hantuan yang ada di balik jeruji.

Aku sempat kebingungan ketika sama sekali tidak menemukan jalan keluar. Ternyata lorong yang kulalui bersama anakku salah, hingga kami berdua malah berjalan memutar ke lorong yang sama. Tentu saja, anakku yang sudah dibalut rasa takut, tahu persis kalau aku salah jalan. Dia hapal betul hantu-hantu yang sudah dilihatnya. “Bapak, kok jalannya muter-muter aja. Gisa pengen pulang aja,” anakku mulai panik. Mendengar suaranya, aku jadi ikut panik. “Iya, tenang, nanti juga pulang. Bapaknya salah jalan,” kembali aku menenangkan anakku. Benar saja, bukannya menemukan jalan keluar, aku malah kembali menuju pintu masuk yang tidak bisa dibuka dari dalam. “Bapak salah jalan, seharusnya tadi belok kiri. Jadi mendingan muter lagi aja pak,” kata salah seorang penjaga. Tawaran penjaga itu aku sampaikan pada anakku. Kontan saja, anakku menolaknya karena sudah malas melalui lorong itu lagi. “Ya udah, kalau mau lewat sini, bapak loncat aja,” ujar penjaga itu lagi. Kami akhirnya terpaksa menaiki pintu masuk. Anakku lebih dulu, aku menyusul di belakangnya.

Lepas dari Puri Misteri, kami duduk di dekat arena permainan bernama Rumah Kaca. Aku tanya kesan pertama dia melihat hantu. Saat itu, wajahnya sudah mulai normal dan tidak lagi terlihat takut. “Kalau hantu yang putih, Gisa gak takut, kalau hantu yang berwarna, Gisa takut,” jawab anakku. Mungkin yang dimaksud anakku dengan hantu berwarna adalah hantu yang berdarah-darah. “Mau masuk rumah hantu lagi?” tanyaku. Anakku terlihat berpikir. “Ngga ah, Gisa gak mau masuk rumah hantu lagi” jawabnya. Akhirnya, aku mengajaknya masuk ke rumah kaca, sebuah arena permainan yang dipenuhi cermin. Keluar dari rumah kaca, mata anakku kembali menatap Puri Misteri. “Pak, kalau banyakan, Gisa mau masuk rumah hantu lagi,” ujarnya tiba-tiba. Rupanya ia sempat melihat rombongan anak SMA masuk ke rumah hantu. “Ah, nanti kamu takut lagi,” aku kembali mencoba meyakinkan keinginannya. “Bener pak, nanti kalau banyakan, kita masuk rumah hantu lagi ya,” pinta anakku. Aku pun menuruti kemauannya. Sambil menunggu rombongan lain masuk, aku membeli 10 koin lagi.

Rombongan anak SMA tiba di Puri Misteri. Semuanya wanita. Anakku jeli melihatnya. Ia langsung berteriak. “Pak, itu udah ada yang banyakan. Kita masuk lagi yuk!!” teriaknya sambil berlari menuju pintu masuk Puri Misteri. “Ayo, jangan sampai ketinggalan,” teriakku sambil berlari mengejar si kecil. Bersama 5 anak SMA, kami kembali masuk Puri Misteri. Benar saja, kali ini, anakku lebih percaya diri. Dia lebih tenang menghadapi hantu-hantu yang dilihatnya, meski di pertengahan jalan, persis di lokasi yang sama, dia kembali minta digendong karena lorong kembali gelap. Tidak seperti sebelumnya, kali ini aku tidak salah jalan. Bersama rombongan anak SMA yang heboh-heboh, kami pun berhasil keluar dari lorong Puri Misteri. Wajah anakku terlihat tegang tapi senang. “Pak, besok-besok kita ke rumah hantu lagi yuk, tapi banyakan,” ujar anakku begitu keluar dari Puri Misteri. Tentu saja Gisavo. Aku akan selalu berusaha mewujudkan keinginanmu. “Iya, besok-besok kita ke rumah hantu lagi. Sekarang, kita cari makan,” aku menutup pembicaraan soal hantu, karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB dan anakku harus makan siang.

Read more »

Selasa, 06 Maret 2007

Apa Kabar Margonda Raya?

EDI Kurnia (47) tak kuasa menahan kesal. Siang itu, di depan kemudi mobil, ia terjebak kemacetan di Jalan Margonda Raya Kota Depok. Sumpah serapah pun terus terlontar dari mulutnya. Meski tak diburu waktu, kemacetan di Jalan Margonda Raya tak urung membuat Mazda Interplay yang dikemudikannya terpaksa melaju perlahan.

“Saya baru datang lagi ke Kota Depok setelah tiga tahun lalu saya mulai bekerja di Bandung . Ternyata, Jalan Margonda Raya masih belum berubah, tetap semrawut seperti dulu. Saya pikir ada yang salah dengan penataan Kota Depok,” kata warga Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok ini.

Kekesalan Edi cukup beralasan. Sejak Kota Depok berdiri tahun 1999, Jalan Margonda Raya boleh dibilang tak pernah lepas dari kemacetan. Pada jam-jam sibuk, jalan tersebut kerap dipenuhi berbagai jenis kendaraan, mulai dari mobil, motor, sampai angkutan umum. Ini terjadi lantaran ruas Jalan Margonda termasuk jalan arteri.

Meski hanya memiliki panjang 5 km, Jalan Margonda Raya seolah sudah identik dengan Kota Depok. Jalan tersebut tumbuh dan berkembang pesat. Tengok saja, hampir seluruh pusat kegiatan bertumpu di sepanjang jalan tersebut. Bukan hanya pusat pemerintahan, Jalan Margonda Raya juga menjelma menjadi pusat perekonomian Kota Depok.

Sayangnya, perkembangan pesat tersebut tidak dibarengi dengan konsep penataan kota yang jelas. Beban lalu lintas di Jalan Margonda Raya semakin lama semakin tinggi karena penduduk urban semakin bertambah. Tahun 2000 saja, Bapeda Kota Depok pernah menyatakan bahwa Jalan Margonda Raya sudah overload.

Toh ketidakjelasan penataan Jalan Margonda Raya dibantah Kabid Tata Kota Dinas Tata Kota dan Bangunan Kota Depok, Ir Diah Irwanto MT. Menurutnya, Jalan Margonda Raya akan dikembangkan menjadi kawasan multi-fungsi. Rencananya, kata Diah, jalan tersebut akan dibagi menjadi 3 segmen.

“Ketiga segmen itu adalah Segmen Utara, Tengah, dan Selatan. Segmen Utara akan dikembangkan menjadi Margonda Educational & Park, sementara Segmen Tengah akan dikembangkan menjadi Margonda Centre Of Business-Park. Terakhir Segmen Selatan akan dikembangkan menjadi Depok City Hall & Office Park,” kata Diah melalui Kasie Tata Ruang, Bambang Supoyo, beberapa waktu lalu.

Dikatakan Diah, penataan Jalan Margonda Raya menjadi kawasan multi-fungsi tersebut mengacu pada Perda No 12 Tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Depok. Dalam perda tersebut, lanjut Diah, juga diatur mengenai Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR) yang terbagi dalam 12 zona.

“Jalan Margonda Raya termasuk dalam zona tersebut. Intinya, kita ingin memberikan kemudahan kepada masyarakat Kota Depok dalam pelayanan berkaitan dengan fungsi-fungsi yang disediakan. Sebelum Depok berdiri, Jalan Margonda sudah seperti ini. Jadi kita menyesuaikan saja,” kata Diah.

Guna mencapai target penataan 3 segmen di Jalan Margonda, sejumlah langkah sudah disiapkan Dinas Tata Kota dan Bangunan. Salah satunya, lanjut Diah, melakukan pelebaran jalan yang saat ini masih beragam. Rencananya, ruas Jalan Margonda akan terbagi dalam jalur cepat dan jalur lambat.

“Saat ini lebar Jalan Margonda Raya beragam. Kita berencana melebarkannya menjadi 28 meter dan dilengkapi dengan jalur lambat dan jalur cepat. Memang ada sebagian jalan yang sudah mencapai lebar 28 meter, tapi belum semua. Ada beberapa ruas jalan yang masih memiliki lebar 15 meter,” kata Diah.

Sayangnya, Diah mengaku masih belum bisa menargetkan kapan penataan Jalan Raya Margonda rampung. Meski begitu, lanjutnya, penataan tersebut akan mulai dilakukan pada tahun 2007 ini dengan anggaran Rp 3 miliar. Sementara pelaksana program penataan akan dilakukan Dinas Pekerjaan Umum (PU).

"Kita akan menata kawasan tersebut dan Dinas Pekerjaan Umum akan menjadi pelaksana dari program penataan ini Diharapkan permasalahan yang selalu timbul di kawasan tersebut bisa teratasi. Karena masalah tersebut menimbulkan kesan kesemrawutan di kawasan Margonda,” kata Diah. (PK-5)

Read more »