Selasa, 20 Februari 2007

Rumah Si Pitung Jadi Kafe

SIAPA tak kenal Si Pitung, pendekar asal Betawi yang melegenda. Konon, Si Pitung pernah tinggal di Kota Depok, tepatnya di salah satu gedung milik bangsawan asal Belanda, Cornelis Chastelein. Warga Depok lebih sering menyebut gedung tersebut rumah tua pondok Cina karena letaknya yang berada di Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji.

Sayangnya, sejak satu tahun yang lalu, bangunan tua yang berada di Jalan Margonda Raya tersebut sudah tidak ada. Gedung yang menjadi saksi sejarah Kota Depok sudah terkepung oleh sebuah mal megah bernama Margonda City. Memang, proyek pembangunan Margonda City tidak sampai menggusur gedung tersebut. Meski begitu, fungsi bangunan sudah berubah menjadi sebuah kafe.

“Sudah satu tahun yang lalu gedung tua ini berubah menjadi kafe, bertepatan dengan berdirinya Margonda City. Soal izin, kami sudah mengantonginya. Selain itu, kami juga sama sekali tidak mengubah arsitektur gedung, hanya ada sedikit renovasi di depan dan dalam ruangan,” kata Hafid, salah seorang pengelola kafe tersebut.

Menurut Hafid, gedung tua tersebut memang dikenal sebagai rumah Si Pitung. Tapi, kata Hafid, kebanyakan orang mengenalnya sebagai tempat main Si Pitung. Seiring berjalannya waktu, kata dia, gedung tua itu jadi sering dipakai lokasi syuting, termasuk film Si Pitung.

“Kita tidak menghilangkan aspek peninggalan zaman dulu. Tapi kita merevitalisasinya menjadi seperti ini. Selain itu, di dinding kafe juga terpampang sejumlah foto-foto gedung sejak zaman dulu, sehingga pengunjung kafe bisa mengetahui sejauh mana sejarah perkembangan gedung tua ini,” kata Hafid.

Memang, sejauh mata memangdang, di beberapa sudut kafe terlihat sejumlah foto-foto gedung sebelum berubah menjadi kafe. Selain itu, di beberapa tembok mal, terdapat pula sejumlah poster yang berisi penjelasan mengenai bangunan tua di Kota Depok, lengkap dengan cerita Depok Lama.

Nama Pondok Cina sendiri muncul lantaran daerah tersebut kerap dijadikan tempat berniaga salah satu etnis. Sebelumnya, Pondok Cina penuh denan pohon karet. Namun, daerah tersebut kemudian ditata ulang sehingga sebagian besar fungsi tata ruang lahan sepanjang Jalan Margonda Raya lebih mengarah pada komersialisasi.

Salah seorang warga yang tinggal di belakang Margo City, Edwin (56) mengatakan, saat ini peninggalan sejarah berupa bangunan tua memang sudah tidak ada. Yang masih tertinggal, lanjut Edwin, hanyalah hamparan kuburan Cina yang berada persis di belakang Margo City.

“Wah, sekarang bangunan tua itu sudah tidak ada lagi. Habis sama pembangunan Margo City. Sekarang yang tersisa tinggal hamparan kuburan Cina. Memang ada juga beberapa bangunan yang terbilang tua di daerah ini. Saya tidak tahu persis sebelumnya dipakai apa gedung tersebut. Tapi konon memang gedung tua ini pernah jadi tempat tinggal Si Pitung,” kata Edwin. (PK-5)

Read more »

Selasa, 13 Februari 2007

Situ di Kota Depok Kritis

APA manfaat situ atau danau bagi sebuah wilayah? Tentu bukan sekadar sebagai tempat rekreasi atau pacaran anak-anak muda. Bukan pula sekadar tempat pemancingan bagi warga sekitar. Sebuah situ, jelas memiliki fungsi sebagai penampung hujan, konservasi, dan daerah resapan air. Dengan adanya situ, ancaman banjir yang terjadi jika hujan deras turun, bisa diminimalisir.

Sebagai wilayah penyangga ibukota, Kota Depok memiliki 26 situ yang tersebar di enam kecamatan. Dari 20.029 hektare luas wilayah Kota Depok, luas keseluruhan situ
mencapai 157,85 hektare. Sayangnya, kondisi situ-situ tersebut 80 persen kritis. Bahkan, saat ini, sudah banyak situ yang beralih fungsi menjadi pemukiman penduduk, lapangan bola, dan pembuangan limbah atau sampah.

Menurut Kepala Bagian Pembangunan Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok, Ir Welman Naipospos MM, hampir seluruh situ di Kota Depok mengalami penyusutan luas. Padahal, kata Welman, situ di Kota Depok cukup potensial menjaga wilayah ibukota dari sergapan banjir.

“Kota Depok memiliki 26 situ. Namun sayangnya, 80 persen situ-situ tersebut kondisinya sudah kritis. Artinya sudah tidak berfungsi lagi sebagai daerah resapan air, atau penampung hujan. Hampir seluruh situ berkurang luasnya. Selain itu, kedalaman air juga semakin menyusut,” kata Welman saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu.

Welman lantas mencontohkan kondisi Situ Bojongsari/Sawangan Lama di Kelurahan Sawangan, Kecamatan Sawangan, yang merupakan situ terbesar di Kota Depok. Saat ini, kata dia, kondisi situ sudah dipenuhi limbah rumah tangga, dan sampah. Otomatis,
lanjutnya, situ tersebut mengalami pendangkalan. Belum lagi sumber mata air yang sudah tertutupi sedimen dan sampah.

“Secara umum kondisi Situ Bojongsari memang terlihat masih bagus. Namun, situ tersebut sudah mengalami pendangkalan karena banyaknya sampah. Selain itu, luas situ juga mulai menyusut dengan banyaknya pemukiman penduduk dan kolam pemancingan ikan atau empang,” kata Welman.

Kondisi situ lainnya lebih parah lagi. Bahkan, ada beberapa situ yang sudah tidak digenangi air. Misalnya, kata Welman, Situ Pasir Putih di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan. Saat ini, lanjut Welman, situ tersebut hanya tinggal nama. Seluruh situ kini tinggal hamparan daratan luas.

“Hal yang sama juga terlihat di Situ Krukut, Kelurahan Krukut, Kecamatan Limo. Meski tidak separah Situ Pasir Putih, kondisi Situ Krukut juga hampir tidak ada airnya. Pendangkalan situ sudah sedemikian parah karena sedimen dan sampah. Sebagian situ kini sudah menjadi fasilitas umum dan fasilitas sosial masyarakat,” kata Welman.

Lebih jauh Welman mengatakan, revitalisasi situ-situ di Kota Depok tentu bukan perkara mudah. Selain membutuhkan dana yang besar, revitalisasi tersebut memakan waktu yang cukup lama. Menurut Welman, dibutuhkan sedikitnya biaya sebesar Rp 5 sampai 8 miliar untuk merevitalisasi situ.

“Kami tentu saja berharap dari perhatian pemerintah pusat dan pemerintah provinsi, baik Provinsi Jabar maupun DKI. Sebab, mencegah banjir di Jakarta bukan hanya dengan membuat kanal-kanal banjir raksasa, tetapi juga merevitalisasi situ-situ yang ada di Kota Depok agar banjir bisa diminimalisir,” kata Welman.

Welman menambahkan, anggaran yang ada di bagian SDA, tak akan cukup untuk merevitalisasi situ. Saat ini, lanjut Welman, bagian SDA hanya memiliki dana Rp 26 miliar. Dana itu pun, kata Welman, bukan untuk revitalisasi situ, melainkan seluruh program di SDA.

“Secara bertahap, saat ini kita tengah mendata kembali jumlah situ di Kota Depok lengkap dengan luas dan kedalamannya. Diharapkan, dengan adanya data tersebut, luas situ tidak akan menyusut, dan tidak akan terjadi pendangkalan. Di Kota Depok sendiri, dari 26 situ, hanya ada 3 situ yang menjadi objek wisata, yaitu Situ Pengasinan, Bojong Sari, dan Citayam,” kata Welman. (PK-5)

Read more »

Senin, 25 Desember 2006

Benteng Penahan Tebing Roboh

PARONGPONG, TRIBUN - Benteng penahan tebing di Kampung Panyairan Jompo RT 2/3, Desa Cigugur Girang, Kecamatan Parongpong, roboh dan menimpa rumah warga, Minggu (24/12) malam. Akibatnya, dua kakak beradik yaitu Sinta (17) dan Cahyani (2) yang tinggal di
rumah tersebut tewas tertimbun batu dan tanah.

Selain merenggut dua nyawa, reruntuhan tebing juga membuat tiga orang lainnya menderita luka. Mereka adalah Usin (40) dan Yati (31) orangtua korban, serta Pian (20) anak pertama pasangan tersebut. Usin bahkan harus dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung karena tulang rusuknya patah.

Informasi yang dihimpun tribun, Senin (25/12),longsor terjadi sekitar pukul 23.00. Hujan cukup lebat yang mengguyur wilayah Parongpong sejak pukul 14.30 membuat benteng penahan tebing setinggi 8 meter roboh dan menimpa rumah pasangan Usin-Yati yang berada persis di bawah benteng.

Tak pelak, Sinta dan Cahyani yang tengah berada di kamar belakang bersama Usin, langsung tertimbun batu dan tanah. Keduanya tewas di tempat, sementara Usin menderita luka berat dan dilarikan ke RSHS Bandung. Yati sendiri saat itu tengah menonton televisi di ruang lainnya sedangkan Pian, berada di kamar sebelah.

Meski tertimbun reruntuhan batu dan tanah dari kaki hingga pinggang, luka yang diderita Yati tidak terlalu parah. Ibu empat anak ini kini dirawat di rumah tetangganya setelah sempat dilarikan ke RSHS bersama Usin, suaminya. Sedangkan Pian, hanya menderita luka lecet dan sudah bisa beraktivitas kembali.

Menurut Rohman (42), saksi mata kejadian, dirinya mendengar suara gemuruh cukup keras sekitar pukul 23.00 malam. Saat itu, Rohman berada di rumah tetangganya yang tengah menggelar pesta perkawinan, tidak jauh dari rumah Usin. Mendengar suara tersebut, Rohman langsung berlari menuju arah suara.

"Saya kaget begitu melihat benteng yang berada di bawah kandang sapi milik Hj Azizah sudah runtuh dan menimpa rumah Usin yang berada di bawah benteng. Bersama 4 warga lainnya, saya langsung menolong korban yang tertimbun batu sebesar kepala dan tanah,"
kata Rohman kepada wartawan, Senin (25/12).

Rohman menuturkan, pertama kali ia mengangkat tubuh Cahyani dari reruntuhan. Saat diangkat, kata Rohman, kondisi Cahyani cukup mengenaskan dan sudah tidak bernyawa. Selang beberapa menit kemudian, Rohman mengangkat tubuh Sinta yang juga sudah tidak
bernyawa, persis di sebelah jasad Cahyani.

"Baru setelah keduanya diangkat, sejumlah warga lainnya mulai berdatangan dan mengangkat Usin serta Yati. Kondisi Usin saat diangkat boleh dibilang sekarat, sementara Yati yang ditemukan di ruangan lain juga pingsan. Setelah sempat dibawa ke rumah tetangga, Usin dan Yati dilarikan ke RSHS," kata Rohman.

Pantauan Tribun di lokasi kejadian sekitar pukul 10.30, reruntuhan benteng masih tampak menutupi rumah Usin. Hampir seluruh bagian benteng sepanjang 48 meter tersebut runtuh. Sementara puluhan warga tampak berkerumun di sekitar lokasi kejadian. Selain menimpa rumah Usin, sebuah kandang sapi juga tak luput dari runtuhan batu dan tanah. (tig/rry)

Read more »

Senin, 06 Maret 2006

Siswa Belajar di Kelas Bocor

CIANJUR, TRIBUN – Sebanyak 118 dari 236 siswa SDN Sukawening Jalan Cikarethilir Desa Sukamaju Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur terpaksa harus belajar di ruang kelas yang rusak. Kondisi itu membuat proses belajar mengajar di sekolah yang berada di kawasan Cianjur Kota tersebut terganggu. Satu kelas bahkan kerap bocor jika hujan turun lantaran langit-langitnya banyak yang sudah berlubang.

Menurut Juartiningsih (47), seorang guru di sekolah tersebut, SDN Sukawening memiliki dua unit bangunan yang masing-masing terdiri atas 3 kelas. Dari dua unit bangunan tersebut, lanjut Juartiningsih, satu bangunan yang digunakan siswa kelas 1 sampai kelas 3 kondisinya sudah rusak. Juartiningsih mengatakan, sejak awal berdiri pada tahun 1980, bangunan tersebut memang belum pernah direhab.
“Memang sudah pernah ada rehab bangunan pada tahun 1984 dan tahun 2003 lalu. Tapi, hanya untuk satu unit bangunan sekolah yang digunakan siswa kelas 4 sampai kelas 6. Sementara satu unit bangunan lagi yang digunakan siswa kelas 1 sampai kelas 3 belum pernah direhab. Setiap ada kesempatan, kami selalu mengusulkan perbaikan satu unit bangunan sekolah ke pemerintah, tapi belum pernah disetujui,” kata Juartiningsih kepada wartawan, Senin (6/3).
Dikatakan Juartiningsih, meski kondisi bangunan sudah rusak, pihak sekolah tetap memaksakan proses belajar mengajar kelas 1 sampai 3 lantaran bangunan lainnya tidak sanggup menampung seluruh siswa di SDN Sukawening. Akibatnya, tambah guru yang sudah mengabdi sejak tahun 1984 itu, konsentrasi siswa dalam menangkap mata pelajaran menjadi terganggu. Terlebih lagi, lanjut Juartingingsih, jika hujan mulai turun.
“Ya, kalau hujan turun proses belajar mengajar memang tidak dihentikan. Tapi, ada beberapa kelas yang bocor karena langit-langitnya sudah banyak yang berlubang. Kalau musim kemarau juga tetap saja proses belajar mengajar terganggu karena ruang kelas jadi berdebu. Kami sebagai tenaga pengajar mengharapkan agar realisasi rehabilitasi bangunan sekolah bisa segera dilakukan,” harap Juartiningsih.
Hal yang sama dikatakan Enok Sunarti (29), guru lainnya di sekolah tersebut. Menurut Enok, pihaknya memang sudah pernah mengajukan permintaan rehab bangunan sekolah ke pihak Pemkab Cianjur. Namun, lanjutnya, hingga saat ini, pengajuan tersebut belum digubris oleh pemerintah. Kabarnya, tambah Enok, rehabilitasi bangunan sekolah yang rusak di SDN Sukawening baru akan dilakukan pada Maret ini.
“Yang saya dengar, realisasi rehab sekolah baru akan dilakukan pada Maret ini. Tapi, ternyata hingga saat ini masih belum ada lampu hijau dari pihak pemerintah menyoal rehab bangunan tersebut. Mudah-mudahan saja proyek rehab bisa dilakukan pada tahun ini sesuai dengan janji. Informasi yang beredar, SDN Sukawening memang jadi prioritas untuk direhab,” kata Enok. (tig/nn)

Read more »

Minggu, 05 Maret 2006

TKW Asal Cianjur Disiksa Majikan (3-Habis)

SEBUAH rumah kecil milik keluarga Makmur Junaedi (57) di Kampung Depok Desa Sukaluyu Kecamatan Cijati wilayah Cianjur Selatan tampak sepi, Sabtu (4/3) lalu. Tak terlihat kehidupan di rumah milik ayah Muflihat (37) tersebut. Sejumlah warga mengatakan Makmur tengah pergi ke Cianjur kota untuk menengok anaknya yang sakit setelah pulang dari Arab Saudi.

“Yang punya rumah sedang pergi ke Cianjur, katanya nengok Muflihat anaknya yang sakit setelah pulang dari Arab Saudi. Sejak pergi dari kampung ini lima tahun lalu, Muflihat memang seperti orang hilang, tak pernah terdengar kabar beritanya. Sekarang, orang di sini tahunya Muflihat pulang karena disiksa majikannya di Arab Saudi,” kata Cucum (40), kerabat Muflihat di Kampung Depok.

Kampung Depok sendiri berada jauh di pelosok wilayah Selatan Cianjur, sekitar 100 Km dari wilayah Cianjur kota . Untuk mencapai kampung tersebut, pengemudi kendaraan terlebih dahulu harus melalui jalan rusak dipenuhi lumpur sepanjang 15 Km dari Kecamatan Tanggeung. Jalan tersebut juga hanya bisa dilalui satu kendaraan roda empat, itu pun jenis kendaraan jeep.

“Sejak kembali dari Arab Saudi, Muflihat juga belum kembali ke kampungnya, sehingga saya tidak tahu persis bagaimana kondisi kesehatannya. Yang jelas, warga di sini tahunya Muflihat disiksa majikannya di Arab Saudi. Memang banyak sekali TKW yang berasal dari Kecamatan Cijati. Kebanyakan, keluarga tidak pernah tahu di mana keberadaan mereka,” kata Cucum.

Sementara itu Syahiroh (68) nenek Muflihat mengaku kaget begitu melihat cucunya tiba-tiba datang ke rumahnya Sabtu (25/2) malam sekitar pukul 23.00. Terlebih lagi setelah melihat kondisi Muflihat yang memprihatinkan dengan wajah dipenuhi luka lebam. Sebab, kata Syahiroh, keluarga sudah menganggap Muflihat hilang karena tak pernah mendengar kabar sama sekali.

“Saya dan Makmur ayah Muflihat beberapa kali pernah mendatangi PT Citra di Jakarta mempertanyakan alamat Muflihat di Mekah. Hanya saja pihak PT tidak pernah memberitahukannya. Bahkan kami pernah mendatangi paranormal untuk mengetahui keberadaan Muflihat. Akhirnya kami hanya bisa pasrah dan sempat menganggap Muflihat hilang,” kata Syahiroh. (tig/nn)

Read more »

TKW Asal Cianjur Disiksa Majikan (2)

Sempat Terjun dari Lantai 3

LANTARAN tak kuat menahan siksaan demi siksaan yang dilakukan majikan wanitanya, Muflihat (37) sempat terjun dari lantai 3 rumah majikannya pada 1 Februari 2006 lalu. Saat itu, sekitar pukul 24.00 waktu Arab Saudi atau 12.00 waktu Indonesia, kedua majikan Muflihat tengah tertidur pulas. Muflihat kemudian naik ke lantai 3 rumah dan menyambungkan sejumlah kerudung, gamis, serta sorban hingga membentuk sebuah tali panjang.

Dengan pakaian yang disambung itulah, Muflihat terjun dari lantai 3 rumah. Namun, sambungan sorban, kerudung, dan gamis hanya mencapai lantai dua rumah majikannya. Lantaran tekadnya untuk kabur sudah bulat, Muflihat pun melompat dari lantai dua hingga kaki kirinya terkilir. Ia kemudian berlari sambil menahan sakit di kaki kirinya selama 1,5 jam. Langkahnya baru terhenti setelah sejumlah lelaki tak dikenal menemukan Muflihat tengah berjalan di kegelapan malam Kota Abha.

“Pria itu kemudian menelepon polisi dan membawa saya ke Rumah Sakit Al-Madani. Di sana , saya sempat dirawat selama 16 hari sebelum akhirnya kembali dibawa ke rumah majikan. Meski menderita sakit, majikan saya tak pernah berhenti menyuruh saya bekerja hingga akhirnya saya diperbolehkan pulang. Majikan saya juga mengantarkan sampai Bandara Riyadh,” kata Muflihat. Sesaat setelah menceritakan pengalamannya, ia mengerang kesakitan.

Syahiroh (68) nenek Muflihat, mengaku prihatin dengan peristiwa yang dialami cucunya. Dua hari setelah Muflihat pulang atau Selasa (28/2), ia pun membawa Muflihat ke RSUD Cianjur untuk diperiksa. Dikatakan Syahiroh, Muflihat harus dirawat inap karena menderita patah tulang iga. Namun, kata Syahiroh, lantaran tidak punya uang untuk biaya rumah sakit, Muflihat akhirnya kembali dibawa pulang. “Saya tidak punya uang untuk biaya berobat. Demikian pula dengan Makmur, ayah Muflihat,” kata Syahiroh.

Menurut Syahiroh, saat tiba di rumahnya, Muflihat sama sekali tidak membawa apa-apa selain baju pemberian majikan yang dipakainya saat itu. Tidak hanya itu, kata Syahiroh, cucunya itu hanya mengantongi uang sebesar Rp 200 ribu. Padahal, kata Syahiroh, Muflihat bekerja sudah lima tahun di Arab Saudi. “Jangankan uang, baju saja tidak ada,” kata Syahiroh. (tig/nn)

Read more »

TKW Asal Cianjur Disiksa Majikan (1)

CIANJUR, TRIBUN – Nasib buruk menimpa Muflihat Binti Makmur (37), Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kabupaten Cianjur yang bekerja di Arab Saudi. Ia terpaksa pulang dengan luka lebam di mata kiri dan tulang iga patah akibat dianiaya majikannya sendiri. Tidak hanya itu, selama 5 tahun bekerja di Arab Saudi, warga Kampung Depok RT 02/05 Desa Sukaluyu Kecamatan Cijati ini hanya menerima upah Rp 200 ribu.

Ditemui wartawan di rumah Syahiroh (68) neneknya di Gang Harapan I Kelurahan Sawahgede Kecamatan Cianjur Sabtu (4/3) malam, Muflihat tampak terbaring lemah di atas tikar. Sejak pulang ke Cianjur Sabtu (25/2) malam lalu, ibu satu anak ini hanya bisa tidur terlentang di atas tikar akibat tulang iganya patah. Mata kirinya masih sulit melihat dengan jelas meski sudah tidak terlihat lebam.

“Saya kerap disiksa sama majikan wanita saya karena lambat mengerjakan tugas. Kadang-kadang punggung saya dipukul sapu. Malah, beberapa kali majikan wanita saya juga kerap membenturkan kepala saya ke tembok sampai saya sakit kepala. Pokoknya, selama lima tahun bekerja di sana , hampir setiap hari siksaan saya terima dari majikan,” kata Muflihat dengan tersendat. Saat itu, tatapan matanya terlihat kosong.

Menurut Muflihat, awal penyiksaan terjadi setelah ia baru bekerja 3 bulan di rumah 3 tingkat milik pasangan Mubarok-Badriah di Kota Abha Mekkah tahun 2001 lalu. Saat itu, kata Muflihat, Badriah terlihat marah dengan hasil pekerjaan yang dilakukannya. Ia pun langsung dipukuli dengan gagang sapu hingga nyaris sekujur tubuhnya lebam-lebam. Sejak saat itu, siksaan pun terus dialami Muflihat dari majikan wanitanya itu.

“Saya sempat menanyakan alamat rumah di Mekkah agar keluarga saya tahu di mana keberadaan saya. Namun, majikan saya malah marah dan balik menanyakan alamat rumah saya di Cianjur agar bisa mengirimi mereka surat . Saya kembali menanyakan surat untuk keluarga saya di Cianjur. Entah kesal dengan pertanyaan saya, sang majikan kembali memukulkan gagang sapu ke punggung saya dan kaki saya,” kata Muflihat.

Meski kerap minta pulang karena tak kuat menahan siksaan, kata Muflihat, majikannya tak pernah memberi izin. Setiap ditanya alasannya, majikannya tersebut kembali marah dan memukuli Muflihat. Akhirnya, hampir setiap hari Muflihat menjadi bulan-bulanan majikannya. Puncak penganiyaan dialami Muflihat setelah ia bekerja selama 2,5 tahun. Majikan wanitanya, kata Muflihat, tiba-tiba menancapkan pisau di punggungnya.

“Sudah banyak penyiksaan yang saya alami, alasannya selalu saja sama yaitu saya lambat menyelesaikan pekerjaan. Dua tahun setengah saya bekerja di sana , kemarahan majikan saya memuncak. Ia menancapkan pisau di punggung saya sehingga saya menderita luka cukup parah. Saya tidak ingat lagi kapan waktunya dan alasan kemarahannya karena sudah terlalu sering,” kata Muflihat. Sesaat ia berhenti berbicara karena sesak napas.

Muflihat sendiri berangkat ke Arab Saudi pada 6 Juni 2001 melalui jasa PT Citra Karya Semesta Klender Duren Sawit RT 08/08 Jakarta Timur. Data tersebut Tribun dari paspor hijau milik Muflihat, karena yang bersangkutan sudah tidak ingat lagi tanggal keberangkatan. Namun, dalam paspor tersebut, Muflihat tercatat lahir pada tahun 1907 sementara usia sebenarnya adalah 37 tahun.

“Kami masih belum bisa menentukan sikap apa-apa karena belum bermusyawarah dengan pihak PJTKI. Yang pasti sekarang tindakan kami adalah menyelamatkan Muflihat agar tidak sakit yang dideritanya sembuh. Soal tuntutan ke pihak PJTKI harus kami bicarakan dulu. Mudah-mudahan Muflihat bisa segera pulih,” kata Syahiroh nenek Muflihat saat ditanya mengenai langkah yang akan ditempuh menyikapi kasus cucunya itu. (tig/nn)

Read more »