Jumat, 03 Maret 2006

Sunan Diduga Korban Salah Obat (4-Habis)

Bukan Salah Pengobatan

WAKIL Direktur RSUD Cianjur, dr Suranto membantah jika kematian Sunan Rival Aulia (6) disebabkan salah pengobatan yang dilakukan dr Abdurrahman. Menurut Suranto, Sunan meninggal akibat penyakit sindrom Stevens-Johnson atau alergi terhadap jenis obat tertentu. Suranto menambahkan, penyakit tersebut sulit terdeteksi dan bisa menyerang siapa saja tanpa memedulikan usia.

“Jadi bukan salah pengobatan. Pihak medis yang ditangani dr Abdurrahman sudah melakukan pengobatan sesuai prosedur yang benar. Pasien menderita sindrom Stevens-Johnson atau alergi terhadap obat jenis tertentu. Karena pasien menderita penyakit paru, dokter kemudian memberinya beberapa jenis obat. Pasien kemungkinan tak kuat menerima jenis obat tersebut meski sudah sesuai dosis,” kata Suranto kepada wartawan, Jumat (3/3).

Dikatakan Suranto, sindrom Stevens-Johnson merupakan suatu penyakit sistemik yang menyerang kulit bahkan sampai ke seluruh organ tubuh termasuk usus. Akibatnya, kata Suranto, pasien sudah tidak bisa lagi mendapat asupan makanan apa pun karena ususnya sudah terbakar. Di Kabupaten Cianjur, kata Suranto, sudah ada dua pasien yang menderita sindrom tersebut termasuk Sunan Rival Aulia. Namun, kata Suranto, pasien sebelumnya berhasil ditangani dan bisa disembuhkan.

“Di dunia juga penyakit ini sangat jarang ditemukan. Penyebabnya sendiri bisa berbeda-beda. Tapi biasanya, penyakit sindrom ini muncul akibat bawaan anak. Anak yang terkena sindrom ini kulitnya akan melepuh. Makanya, untuk penanganannya, harus dilakukan secepat mungkin. Pihak rumah sakit sudah menangani pasien sejak masuk ke RSUD Cianjur dengan menghentikan pemberian obat dan menggantinya dengan obat lain yang lebih ringan,” kata Suranto.

Suranto menambahkan, karena kondisinya sudah parah dan sindrom tersebut sudah menyerang bagian dalam tubuh termasuk usus, Sunan tidak bisa diselamatkan. Ia pun meminta keluarga Sunan datang ke rumah sakit jika ingin menanyakan apa penyebab kematian Sunan. Suranto juga mempersilakan keluarga korban menempuh jalur hukum jika memang langkah itu diinginkan.

“Itu hak keluarga mereka jika memang ingin membawa kasus ini ke jalur hukum. Hanya saja, nantinya akan ada saksi ahli yang akan menilai. Selain itu, kasus ini juga akan ditangani majelis kode etik jika memang akan dibawa ke jalur hukum. Soal permintaan keluarga untuk membebaskan biaya pengobatan, kami akan pertimbangkan dan bicarakan dengan direktur,” kata Suranto.

Sementara itu, dr Abdurrahman sendiri masih sulit ditemui wartawan. Namun saat dikonfirmasi wartawan via telepon, Abdurrahman mengatakan, dirinya sudah menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus ini ke pihak RSUD Cianjur. “Semuanya telah diserahkan kepada Public Relations pihak rumah sakit,” ujar Abdurrahman singkat, saat dihubungi via telepon rumahnya, Jumat (3/3). (tig/nn)

Read more »

Sunan Diduga Korban Salah Obat (3)

Sempat Minta Beli Komputer

KEDUA mata Budi Kusnadi (36) masih terlihat sembab, Jumat (3/3) pagi. Duka yang mendalam masih tampak jelas di raut wajahnya. Pria itu kemudian duduk di teras rumah dan berbincang-bincang dengan sejumlah tetangga. Sementara Fitri Widi Astuti (28) istrinya, terlihat duduk di ruang tamu dengan kepala tertunduk. Sejumlah keluarga dan kerabat tampak menyalami Fitri dan memeluknya erat-erat.

Kemarin pagi sekitar pukul 09.00, jenasah Sunan Rival Aulia (6) putra kedua mereka dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pangeran Hidayatullah. Sunan meninggal diduga akibat salah pengobatan dokter. Isak tangis keluarga dan tetangga mengiringi kepergian Sunan ke liang lahat. Fitri bahkan terlihat berkali-kali pingsan, terlebih lagi saat jenasah Sunan mulai diturunkan ke liang lahat.

“Terakhir saya bicara dengan Sunan pada hari Minggu (26/2) lalu sebelum Sunan dibawa ke rumah sakit. Saat itu, dalam kondisi tubuh yang mulai lemah, Sunan meminta saya membelikan komputer. Saya memang bermaksud membelinya, tapi terlebih dulu menjual Play Station (PS). Ia memang belum sekolah, tapi sudah punya banyak teman. Anaknya periang dan cukup disayang sama teman-teman sebayanya,” kata Budi menceritakan keseharian Sunan semasa hidupnya.

Seingat Budi, dirinya menghabiskan sekitar Rp 1,7 juta untuk pengobatan Sunan dari awal ia berobat. Belum lagi, lanjut Budi, biaya membeli obat yang sudah tak terhitung lagi. Terakhir, kata Budi, ia menerima kuitansi dari pihak RSUD Cianjur sebesar Rp 950 ribu untuk biaya pengobatan dan perawatan Sunan selama di rumah sakit. Namun, kata Sunan, hingga saat ini ia masih belum membayar biaya perawatan dan pengobatan selama di rumah sakit.

“Saya justru ingin seluruh biaya administrasi pengobatan anak saya di rumah sakit dibebaskan. Makanya, saya juga berencana menanyakan hal ini kepada pihak rumah sakit apakah biaya pengobatan bisa dibebaskan. Sebab, anak saya meninggal karena masalah salah pengobatan. Harapan saya, jangan sampai kejadian ini terulang kepada keluarga lain dan menjadi pelajaran bagi para dokter,” kata Budi.

Dikatakan Budi, sebenarnya dr Abdurrahman yang mengobati anaknya dari awal cukup baik dan perhatian. Malah, kata Budi, dokter tersebut selalu siap ditelepon kapan saja, meski tengah malam sekali pun. “Sebenarnya hubungan kami dengan dr Abdurrahman cukup baik. Yang saya inginkan sekarang adalah perhatian dan penjelasan dari dokter,” kata Budi. (tig/nn)

Read more »

Sunan Diduga Korban Salah Obat (2)

Trauma Bawa Anak ke Dokter

SUASANA duka masih menyelimuti keluarga pasangan Budi Kusnadi (36)-Fitri Widi Astuti (28) di Kampung Joglo RT 02/05 Kelurahan Sawahgede Kecamatan Cianjur, Kamis (2/3) sekitar pukul 23.30. Budi bahkan tak kuasa menahan tangis setiap melihat jasad Sunan Rival Aulia (6) putra keduanya, terbujur kaku di ruang tamu berukuran sekitar 6x3 meter. Ia masih tak percaya kalau anaknya pergi begitu cepat.

“Saya tidak tega melihatnya. Tak terbayangkan bagaimana rasa sakit yang diderita Sunan dengan tubuh melepuh seperti itu. Makan saja dia sudah sulit, bahkan menangis pun dia merasakan sakit. Saya tidak menuntut apa-apa selain meminta dokter memberi penjelasan pasti dan mempertanggungjawabkan hasil pengobatannya. Yang saya tak mengerti, kenapa anak saya meninggal dengan cara seperti ini,” kata Budi kepada wartawan.

Dikatakan Budi, Sunan adalah anak lelaki satu-satunya. Karena itu, lanjut Budi, ia dan Fitri istrinya sangat menyayangi Sunan. Apa pun yang diminta oleh anaknya itu, kata Budi, pasti ia penuhi. Selain Sunan, Budi juga memiliki dua anak perempuan masing-masing Nadia Audina (9) dan Fidia Ayundira (2). Malam saat Sunan meninggal, Fidia tak pernah bisa berhenti menangis. Bahkan, tangisnya terdengar sampai keluar rumah.

“Kejadian ini membuat saya trauma membawa anak-anak saya ke dokter. Apalagi kalau harus ke dr Abdurrahman. Bahkan, istri saya bilang, kalau anak sakit ngga perlu diberi obat dan dibawa ke dokter. Saya juga tidak berniat menemui dr Abdurrahman. Entah sampai kapan saya tidak mau membawa anak saya ke dokter. Barangkali ini cobaan buat keluarga kami,” kata Budi masih sambil terisak.

Sekitar pukul 24.00, jasad Sunan mulai dikafani setelah selesai dimandikan. Budi yang awalnya berada di teras rumah, langsung masuk ke ruang tamu dan menatap tubuh Sunan lekat-lekat. Tangisnya kembali pecah begitu bagian tubuh Sunan satu persatu mulai dikafani. Sementara Fitri istrinya, muncul dari dapur diapit sejumlah kerabat dan keluarganya. Langkahnya terlihat gontai sementara buliran air mata tampak terus mengalir. (tig/nn)

Read more »

Sunan Diduga Korban Salah Obat (1)

CIANJUR, TRIBUN – Sunan Rival Aulia (6) meninggal dengan kondisi mengenaskan di Ruang Aromanis RSUD Cianjur, Kamis (2/3) malam. Sekujur tubuh warga Kampung Joglo RT 02/05 Kelurahan Sawahgede Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur ini melepuh seperti bekas luka bakar. Diduga, Sunan meninggal karena salah pengobatan pihak medis setelah selama 3 hari dirawat di rumah sakit.

Meski tidak berniat membawa kasus ini ke jalur hukum, keluarga korban meminta dokter yang menangani Sunan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mereka menilai, kematian Sunan tidak wajar karena sebelumnya putra kedua pasangan Budi Kusnadi (36)-Fitri Widi Astuti (28) ini hanya menderita batuk-batuk. Selain itu, pihak keluarga juga meminta seluruh biaya pengobatan Sunan dibebaskan.

Kematian Sunan berawal saat ia dirawat di Ruang Aromanis RSUD Cianjur, Senin (27/2) malam lalu sekitar pukul 22.00. Ia dilarikan ke RSUD Cianjur karena menderita muntah-muntah disertai buang air besar. Sunan pun nyaris tak sadarkan diri ketika memasuki Ruang Aromanis. Selama dua hari dirawat di rumah sakit, kondisi kesehatan Sunan semakin menurun. Wajah dan sekujur tubuhnya mulai dipenuhi bercak-bercak merah.

Lama-lama, bercak merah di wajah dan tubuh Sunan berubah menjadi hitam, seperti bekas luka bakar. Setiap disentuh, kulit tubuhnya terus mengelupas dan mengeluarkan cairan. Kondisi kesehatan Sunan pun terus memburuk dan mengalami puncaknya pada Rabu (1/3) lalu. Bocah periang itu sudah tidak sadarkan diri dan tidak bisa mendapat asupan makanan apa pun. Ia pun meninggal keesokan harinya sekitar pukul 21.15.

“Saya tidak tega melihat kondisi anak saya seperti itu. Wajah dan sekujur tubuhnya melepuh seperti bekas luka bakar. Padahal sebelumnya, ia hanya menderita batuk-batuk. Untuk itu, saya minta pihak medis yang menangani Sunan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Saya ini orang awam, dan tidak mengerti apa-apa tentang kedokteran,” kata Budi, ayah Sunan, dengan mata sembab, Kamis (2/3) malam.

Seingat Budi, anaknya mulai dibawa ke dokter sebelum disunat pada Minggu (15/1) lalu karena menderita batuk-batuk. Saat itu, kata Budi, Sunan dibawa ke dokter spesialis anak di kawasan Selakopi yaitu dr Abdurrahman Eman SPa. Oleh dokter, kata Budi, Sunan diberi beberapa jenis obat dan diperbolehkan pulang. Karena merasa anaknya sudah cukup sehat, kata Budi, Sunan pun disunat pada Minggu (15/1).

“Setelah disunat, kondisi kesehatan Sunan memang baik. Tapi, beberapa hari kemudian, ia kembali menderita batuk-batuk. Hampir sebulan Sunan terus menderita batuk, sehingga kami akhirnya kembali berobat ke dr Abdurrahman pada Minggu (12/2) lalu. Dokter kembali memberi kami beberapa jenis obat, termasuk antibiotik,” kata Budi sambil terisak.

Empat hari setelah dibawa ke dr Abdurrahman, kesehatan Sunan bukannya membaik malah terus menurun. Batuknya juga tak kunjung sembuh. Budi pun kembali membawa Sunan ke dr Abdurrahman. Lantaran penyakit batuk Sunan tak kunjung sembuh, kata Budi, dr Abdurrahman lantas menyuruhnya membawa Sunan ke RSUD Cianjur untuk dirontgen. Saat itu, kata Budi, dr Abdurrahman menduga Sunan menderita penyakit paru.

“Kami pun mengikuti perintah dr Abdurrahman dan membawa Sunan pada Senin (20/2) ke RSUD Cianjur untuk dirontgen karena khawatir Sunan memang menderita penyakit paru. Keesokan harinya (Selasa pagi, Red) kami kembali ke dr Abdurrahman untuk berobat penyakit paru. Dokter kemudian memberi sekitar 3 jenis obat penyakit paru,” kata Budi.

Sayangnya, lanjut Budi, 3 hari setelah diberi obat penyakit paru tepatnya Jumat (24/2), kondisi kesehatan Sunan semakin memburuk. Bahkan, tambahnya, Sunan malah menderita muntah-muntah dan terus buang air besar. Lantaran penyakit Sunan semakin parah, Budi pun kembali menanyakan hal itu ke dr Abdurrahman pada Sabtu (25/2). Saat itu, kata Budi, dokter menyuruh Budi menghentikan pemberian obat penyakit paru.

“Dokter Abdurrahman memberi obat lain untuk penyembuhan Sunan. Tapi malamnya muntah-muntah dan buang air besarnya malah semakin parah. Saya kembali membawa Sunan ke dokter pada Minggu (26/2). Minggu malam, penderitaan Sunan makin menjadi-jadi. Bicaranya pun sudah ngelantur. Akhirnya, Senin (27/2) malam, saya bawa Sunan ke RSUD Cianjur dalam kondisi yang sudah hampir tak sadarkan diri,” kata Budi. (tig/nn)

Read more »

Kamis, 02 Maret 2006

Muslihat Nekat Bakar Diri

CIANJUR, TRIBUN – Diduga stres tak bisa mendalami salah satu aliran kepercayaan, Muslihat (20) nekat membakar diri di dapur rumahnya Kamis (2/3) pagi. Beruntung, warga Kampung Cicariang RT 02/07 Desa Jambudipa Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur ini bisa diselamatkan. Namun, gara-gara aksi nekatnya itu, hampir sekujur tubuh Muslihat hangus terbakar.

Informasi yang dihimpun Tribun, aksi bakar diri tersebut terjadi sekitar pukul 09.30. Saat itu, Idil (64) ayah korban, tengah bekerja di kebun sementara Rohmah (52) ibunya, tertidur di kamar karena sakit. Muslihat yang sehari-hari kerap melamun kemudian memasuki dapur dan menyiramkan minyak tanah ke sekujur tubuhnya. Selang beberapa saat kemudian, ia menyalakan korek api dan membakar tubuhnya.

Jilatan api langsung membakar sekujur tubuh Muslihat, tak terkecuali rambutnya. Sambil menggelepar di lantai dapur, pemuda pengangguran itu berteriak-teriak menahan sakit. Teriakan Muslihat rupanya terdengar oleh Idil, yang baru saja pulang dari kebun. Lantaran pintu rumah terkunci dan Idil kesulitan membukanya, bapak 7 anak itu pun langsung mendobraknya.

“Setelah saya mendobrak rumah, saya langsung mencari sumber teriakan. Ternyata, itu adalah teriakan anak saya yang berada di dapur. Saya kaget setelah melihat sekujur tubuh Muslihat terbakar. Karena bingung, saya menyuruhnya berlari ke kolam yang berada tidak jauh dari rumah. Di dapur, saya juga sempat berusaha mematikan api, tapi tidak bisa,” kata Idil saat ditemui wartawan di RSUD Cianjur, Kamis (2/3).

Dalam keadaan tubuh terbakar, Muslihat berlari ke arah kolam mengikuti permintaan ayahnya. Namun, begitu sampai di kolam, ia tidak berani menceburkan diri sehingga Idil terpaksa harus mendorongnya. Baru setelah didorong, Muslihat akhirnya menceburkan diri ke kolam. Api yang membakar tubuhnya lambat laun padam. Setelah api padam, ia pun langsung dilarikan ke RSUD Cianjur.

“Anak saya menderita stres karena sejak bulan ramadhan lalu menderita sakit. Sebenarnya, Muslihat itu belajar ngaji di pesantren dan ingin mendalami salah satu ilmu kepercayaan. Tapi karena sakit, ia tidak bisa belajar lagi. Pernah suatu hari Muslihat bicara sama saya kalau ia ingin mati saja. Tapi saya bilang mati itu urusan Tuhan,” kata Idil didampingi Rohmah istrinya.

Kemarin, Muslihat tampak terbaring di salah satu tempat tidur Ruang Anggur RSUD Cianjur. Seluruh tubuhnya kecuali kaki kiri, tertutup perban. Ia juga belum bisa diajak bicara. Saat Tribun mencoba mewawancarainya, Muslihat hanya terdiam dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Sesekali ia mengerang kesakitan. Lantaran menderita luka bakar serius, Muslihat pun akhirnya dirujuk ke RSHS Bandung. (tig/nn)

Read more »

Selasa, 28 Februari 2006

Kisah Iwan Si Pembunuh Sadis (4-Habis)

Keluarga Iwan Misterius

TAK ada yang tahu persis di mana rumah keluarga Iwan Setiadi (23), pelaku pembunuhan sadis di Kecamatan Warungkondang Senin (27/2) lalu. Meski Iwan mengaku tinggal di Kampung Balakang Desa Sindanglaya Kecamatan Cipanas, sejumlah warga setempat mengaku tak mengenal sosok Iwan ataupun Ceceng, ayahnya. Iwan pun tak pernah memberikan alamat jelas kepada pihak kepolisian.

“Ini memang Kampung Balakang. Desanya juga Desa Sindanglaya. Tapi kalau nama Iwan atau Ceceng, saya tidak tahu. Kampung ini kan luas sekali, jadi saya juga tidak tahu persis. Yang jelas, saya tidak tahu di mana itu rumah Iwan atau Ceceng,” kata Wawan (34), salah seorang warga setempat kepada wartawan, Rabu (1/3).

Warga Kampung Cicariang Kaler pun mengaku tidak tahu persis di mana rumah Iwan sesungguhnya. Meski Iwan sering berada di kampung tersebut dan tinggal di rumah kakeknya, pemuda itu jarang bergaul dengan warga. Kepergian Iwan dari rumah kakeknya beberapa bulan yang lalu juga sama sekali tidak diketahui warga.

“Saya tidak tahu di mana rumah Iwan. Soalnya, selama berada di kampung ini dan tinggal di rumah kakeknya juga Iwan jarang bergaul. Tidak ada wargayang tahu kepergian Iwan dari kampung ini beberapa bulan yang lalu. Tiba-tiba, Iwan kembali datang dan langsung menggegerkan warga sekampung karena membunuh Atin dengan sadis,” kata Yusuf (75), salah seorang tokoh Kampung Cicariang Kaler. (tig)

Read more »

Kisah Iwan Si Pembunuh Sadis (3)

Ditanya Wartawan Iwan Ngeloyor

ENTAH apa yang ada dalam pikiran Iwan Setiadi (23) ketika berada di ruang pemeriksaan Mapolres Cianjur, Rabu (1/3) siang. Saat sejumlah wartawan tengah berusaha mewawancarainya, Iwan tiba-tiba malah ngeloyor pergi ke luar ruangan. Sambil berjalan tertatih-tatih, Iwan terus keluar ruangan dan tak mengindahkan suara aparat kepolisian yang memanggil namanya.

Kontan saja, aksi tersebut sempat membuat heboh ruang pemeriksaan Mapolres Cianjur. Tak urung, sejumlah aparat kepolisian langsung menghadang Iwan yang tak bisa berjalan sempurna. Di luar ruangan pemeriksaan, Iwan sempat tak mau kembali masuk. Baru setelah aparat kepolisian menarik lengannya, Iwan pun masuk dan kembali duduk di ruang pemeriksaan.

Sebelum aksi itu dilakukannya, Iwan terlebih dulu memejamkan mata sambil menyilangkan kedua tangannya. Seluruh pertanyaan wartawan tak pernah dijawabnya dengan benar. Ketimbang menjawab pertanyaan wartawan, Iwan lebih memilih diam dan menundukkan kepala. Akhirnya, beberapa saat setelah melakukan aksi tutup mulut, Iwan beranjak dari kursi sambil mengeluarkan beberapa kalimat. “Ah… Rek kaluar heula (Ah, mau keluar dulu),” begitu ucap Iwan sebelum pergi keluar ruangan. (tig)

Read more »