Senin, 05 Agustus 2013

Sore Menjelang Senja

Setiap sore begini, saya menjelma menjadi kepasrahan. Lemah layaknya tanah tanpa substansi, berserah diri kepada keadaan. Bukan apa-apa, kemacetan jadi ujung pangkalnya. Melintasi sore di Kota Bandung, ibarat makan terlalu kenyang, sulit bergerak ke mana-mana. Kemacetan menggila, polusi udara, tak terhindarkan. Kantor saya letaknya di pintu gerbang Kota Bandung. Namanya Jalan Pasteur. Di sana, nyaris setiap hari kemacetan menyergap. Tak peduli pagi, siang, sore, bahkan malam sekali pun. Matahari belum sepenggalah saja, macet di Pasteur sudah luar biasa. Pun menjelang senja. Itu baru Jalan Pasteur. Belum yang lainnya macam Buahbatu, Alun-alun, dan Kapatihan. Saya tak bermobil. Sebatas menaiki motor andalan yang jam terbangnya sudah tinggi. Tapi saya terjebak macet. Bayangkan, seperti apa lalu lintas saat itu. Lantaran tak bermobil, sepanjang menanti kemacetan, telinga saya praktis hanya dijejali kebisingan deru mesin dan klakson. Suara musik? Boro-boro. Saat itu, saya hanya berusaha mencari peluang lolos dari bebalnya kemacetan. Ah, Bandung sore hari, bukan kota yang menjanjikan. Lalu lintas sungguh tak bersahabat lagi. Kemiskinan seolah terpatri di setiap perempatan, trotoar, dan kawasan padat penduduk. Entahlah, saya mendadak kehilangan optimisme menatap kota kelahiran. Bandung seperti punya segudang masalah yang tak pernah terurai.

Read more »

Kamis, 25 Juli 2013

Antara Clark Kent, Peter Parker, dan Tintin

Capuccino dingin menemani pertemuan sore itu. Di sebuah kafe Jalan Talagabodas, obrolan santai mengalir deras. Tak bertema, namun penuh makna. Tak terstruktur, tapi sarat arti. Yang dibicarakan pun bukan persoalan berat. Mungkin jauh lebih ringan dari kapas.

Tiga orang di sana membawa cerita berbeda. Tentu saja, sebab kehidupan masing-masing toh berbeda juga. Bisa dibilang, inilah ajang curahan hati yang tak mendalam. Sekadar permukaan, lantaran dikemas dengan kalimat-kalimat konyol. Warna canda lebih kental ketimbang keseriusan.

Semua berawal saat masing-masing bicara pekerjaan. Dengan latar belakang sama, cerita pun jadi kait mengait. Itulah yang namanya pekerjaan sama, nasib berbeda. Sama-sama jadi jurnalis, tapi punya problem berbeda. Meski pengharapan sepertinya tetap sama: penghasilan tinggi.

Tiga tokoh komik lantas jadi bahan intermezo: Superman, Spider-Man, dan Tintin. Kenapa? Sebab tiga pahlawan itu digambarkan sebagai seorang jurnalis. Entah sekadar menyamarkan jatidiri atau nyata, mereka punya pekerjaan mencari berita dan foto menarik untuk dimuat di media masing-masing.

Maka, persamuhan pun seolah mengerucut, membahas satu per satu karakter masing-masing tokoh komik. Yang jadi pembicaraan pertama adalah Superman. Sosok superhero yang lahir di Planet Krypton dengan nama Kal-El. Ayahnya, Jor-El, meluncurkan Ka-El ke Bumi melalui roket, sebelum Planet Krypton hancur.

Di bumi, Kal-El kecil diadopsi pasangan Kent, Jonathan Kent dan Martha Kent. Namanya berganti jadi Clark Kent. Sepanjang hidupnya, Clark Kent menyembunyikan jatidiri. Dia hidup sebagai manusia biasa berwatak halus yang bekerja menjadi reporter di The Daily Planet.

Sore beranjak. Langit mulai gelap. Kafe pun kian ramai. Topik mengenai Clark Kent dan Superman sementara ditutup. Yang jadi penggantinya Spider-Man, si manusia laba-laba, pahlawan super dari Marvel Comics. Nama asli Spider-Man adalah Peter Parker. Dia tinggal bersama paman dan bibinya di apartemen Queens, Manhattan.

Tak perlu bercerita soal bagaimana Peter tiba-tiba menjelma menjadi sosok superhero. Toh, semua juga sudah mafhum. Yang jelas, Peter bekerja sampingan sebagai fotografer lepas di Daily Bugle. Dia memotret aksinya secara otomatis saat menjadi Spider-Man. Hasil fotonya kemudian dia serahkan ke redaksi Daily Bugle. Dari sana, Peter mendapat penghasilan.

Membahas dua sosok saja, tenggorokan sudah mulai terasa kering. Maka, mata melirik menu yang terus menggoda sedari tadi. Capuccino kembali jadi teman malam itu. Kali ini tanpa es di dalamnya. Asap rokok membalut ruangan, menyebar ke mana-mana. Satu tokoh lagi masih akan dibahas. Tintin, sang pemuda berjambul.

Tintin adalah tokoh rekaan karya komikus asal Belgia, Herge. Berbeda dengan Superman dan Spider-Man, Tintin bukan superhero yang punya kekuatan. Dia hanya seorang wartawan muda berjambul, yang kerap terjebak dalam petualangan memicu adrenalin. Dalam komiknya, Tintin digambarkan selalu sukses memecahkan misteri di banyak negara.

Meski bukan superhero, nyali dan keberanian Tintin tak diragukan. Dia bisa mengendarai tank, menaiki sepeda motor, hingga menerbangkan pesawat. Belum lagi menjinakkan beruang merah, mengunggangi kuda Arab, berenang, yoga, dan olahraga keras lainnya. Pokoknya, Herge betul-betul menggambarkan Tintin sebagai sosok serbabisa dan nyaris sempurna, menembus batas ruang dan waktu.

Tiga tokoh komik tuntas dibahas. Tiga orang di kafe sementara terdiam, sedikit menghela napas, atau sekadar menikmati minuman hangat plus rokok. Superman, Spider-Man, dan Tintin, tentu sekadar pembahasan mengawang-awang. Ya, namanya juga tokoh komik, tak perlu juga repot-repot memikirkan keberadaan mereka sebagai seorang jurnalis.

Namun akhirnya, semua bersepakat tentang label jurnalis yang melekat di ketiganya. Dua tokoh, sepertinya tak mewakili pekerjaan jurnalis: Clark Kent dan Tintin. Dalam setiap episodenya, Kent tak pernah terlihat sedang meliput sebuah peristiwa, atau mengetik naskah untuk diterbitkan besok. Dia tampak asyik dengan penyamarannya plus asmara satu kantor.

Begitu pun Tintin. Berteman Snowy anjingnya, sosok Tintin hanya digambarkan sebagai pria pemberani yang pintar memecahkan misteri dan kerap keliling dunia. Soal kapan dia punya waktu menulis berita, tak terceritakan. Bahkan media mana yang mempekerjakannya pun, tak jelas. Bisa dibilang, Tintin sosok wartawan tanpa surat kabar.

Yang lebih kentara sebenarnya Peter Park. Sebagai seorang fotografer lepas, dia terlihat kerap wira-wiri ke kantor redaksi Daily Bugle, menyerahkan hasil foto dan menerima honor. Meski tentu saja, semua foto yang dihasilkan hanya terkait dengan aksi Spider-Man. Toh, profil dia sebagai superhero yang berprofesi sebagai fotografer, masih tergambarkan lewat aksi-aksinya menghasilkan karya.

Intermezo soal komik tuntas sudah. Tapi tubuh tak mau beranjak. Tetap terduduk, meski gelas tak terisi. Yang muncul hanya kata-kata mengalir tak keruan, diselingi tawa lepas. Malam itu, malam minggu. Tiga orang di sebuah kafe, kembali menatap masa depan masing-masing. Masih sebagai jurnalis, belum terpikirkan banting setir.

Read more »

Selasa, 23 Juli 2013

Selamat Hari Anak Nasional

Arie Hanggara meregang nyawa. Tepat 8 November 1984 publik tanah air geger. Di tangan orang tuanya, bocah 8 tahun itu tak berdaya. Empat hari dia menerima siksaan. Pukulan, tamparan, dan benturan, jadi makanan sehari-hari putra pasangan Tino Ridwan-Santi binti Cecep. Empat hari, Arie berbalut duka hingga akhirnya tewas 8 November.

Kematian Arie menarik perhatian masyarakat tanah air. Setahun kemudian, pada 1985, kisah kekerasan terhadap anak itu difilmkan. Sutradara Frank Rorimpandey sukses menelurkan film yang menguras air mata penonton saat itu. Memerankan tokoh Tino Ridwan, Deddy Mizwar pun meraih penghargaan pada Festival Film Indonesia 1986.

Tulisan ini bukan bicara tentang film Arie Hanggara yang cukup fenomenal pada 1985. Bukan pula menyoal kepiawaian aktor watak Deddy Mizwar menjiwai peran. Tepat 29 tahun lalu, sosok kedua orang tua Arie Hanggara, muncul jadi pelopor child abuse. Anak yang seharusnya disayang dan dididik, malah jadi bulan-bulanan orang tua.

Entah ada hubungannya atau tidak dengan kekerasan yang dialami Arie Hanggara, sejak 1986 Indonesia memperingati Hari Anak Nasional setiap 23 Juli. Memang, sejarahnya sendiri berawal dari almarhum Presiden Soeharto yang menggulirkan Keputusan Presiden RI No 44 tahun 1984 tentang Hari Anak Nasional. Saat itu Soeharto melihat anak-anak sebagai aset bangsa.

Sejak kasus Arie Hanggara mencuat, kekerasan terhadap anak rupanya tak kunjung surut. Dari tahun ke tahun, korban-korban berjatuhan. Anak-anak kerap tak berdaya menerima siksaan dari orang tua baik fisik, mental, dan seksual.

Di Kabupaten Sukabumi, sepanjang 2013, ada 17 kasus kekerasan seksual dialami anak-anak. Jumlah itu lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Parahnya, kasus kekerasan seksual ini meningkat lantaran anak-anak makin mudah mendapatkan informasi negatif dari perangkat handphone (HP) maupun internet.

Kabupaten Bandung idem ditto. Meski tak memiliki data pasti, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sahabat Remaja dan Anak (SAHARA) Indonesia Kabupaten Bandung menyebut kekerasan terhadap anak terus terjadi. Belum lagi eksploitasi terhadap anak dengan cara perdagangan orang alias human trafficking.

Memperingati Hari Anak Nasional, saya teringat sosok bocah 8 tahun bernama Gisavo Lembayung Lelaki Akbar. Dia pandai bermain biola. Pandai pula menyanyi. Bahkan kini, siswa kelas IV SDN Karang Pawulang itu juga sedang mempelajari drum dan gitar. Keingintahuannya tinggi. Dia tak akan pernah berhenti bertanya, jika belum mendapat jawaban memuaskan.

Dia anak saya. Satu-satunya anak saya. Buat dia, saya ingin mengucapkan selamat Hari Anak Nasional. Ini hari istimewamu nak. Hari bagi seluruh anak-anak di Indonesia. Semoga tak pernah ada kekerasan di antara kita. Selamat Hari Anak Nasional.

Read more »

Kamis, 18 Juli 2013

Jangan Abaikan THR Lebaran

Lebaran masih tiga pekan lagi. Namun gaung pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) sudah terdengar kencang. Pekerja atau karyawan yang beragama Islam berteriak, me-warning pengusaha agar membayar THR tepat waktu. Tentu dengan besaran sesuai ketentuan. Wajar memang, karena tahun sebelumnya, beberapa perusahaan terlambat membayar THR.

Setiap tahun, makhluk bernama THR itu kerap jadi persoalan pelik. Ini lantaran begitu banyaknya jumlah buruh, pekerja, dan karyawan di Indonesia. Coba tengok, berapa total jumlah buruh atau karyawan tetap di Indonesia? Lantas, gabungkan dengan total buruh atau karyawan tak tetap.

Indonesia memiliki 34,5 juta buruh atau karyawan tetap. Plus 21,3 juta buruh tak tetap, total ada 55,8 juta orang. Sebagian dari buruh itu adalah kaum muslim yang kini sedang menanti datangnya THR Lebaran. Di Jabar, ada 2.959.139 orang yang bekerja di 26.627 perusahaan. Walhasil, begitu banyaknya uang yang harus disiapkan perusahaan membayar THR bagi karyawannya.

Tahun lalu, banyak perusahaan yang telat membayarkan THR kepada karyawannya. Malah, ada pula yang menunggak. Tak heran, Selasa (15/7/2013), Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jabar Hening Widyatmoko menyebut kesadaran perusahaan membayar THR masih lemah. Di Jabar, kata dia, sempat ada kasus THR belum dibayarkan sehari sebelum Lebaran.

Membayar THR itu wajib hukumnya! Terutama kepada pekerja formal yang tergolong tetap atau sudah bekerja paling tidak selama setahun. Pekerja kontrak pun idem ditto. Dia dianggap layak mendapatkan THR, meski tidak ada kewajiban tentang hal tersebut.

Secara detail, hak pekerja mendapatkan THR diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja No PER-04/MEN/1994 Tahun 1994 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi Pekerja di Perusahaan atau biasa disebut Permenaker 4/1994.

“Pengusaha wajib memberikan THR kepada pekerja yang telah mempunyai masa kerja 3 bulan secara terus-menerus atau lebih,” begitu isi pasal 2 Permenaker itu. Sementara Pasal 4 ayat 2 mengatur soal waktu pembayaran THR. “Pembayaran THR sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib dibayarkan oleh pengusaha selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sebelum Hari Raya Keagamaan,” sebutnya.

Soal besaran THR pun sudah diatur pada Pasal 3 Permenaker 4/1994. THR nilainya sebesar satu bulan upah, yakni upah pokok ditambah tunjangan-tunjangan tetap. Jelas sudah dasar hukum pembayaran THR. Pengusaha tak bisa lagi mencari alasan menunda pembayaran THR atau memundurkannya.

Sanksi hukum menanti mereka jika mengabaikan hak-hak karyawan seperti diatur dalam Pasal 17 UU No 4/1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja. Pekerja pun berhak mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI), jika tidak mendapatkan THR. So, mari kita menanti THR.


Read more »

Selasa, 09 Juli 2013

Ini Dia Jadwal Puasa 2013

Suryadharma Ali tak terlihat gundah sama sekali. Di hadapan kamera wartawan, Menteri Agama itu lugas menyatakan kesimpulan mulainya puasa. Pemerintah pun akhirnya menetapkan Rabu (10/7/2013) sebagai awal Ramadan. “Atas masukan dan hasil hisab, pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1434 Hijriah jatuh pada hari Rabu 10 Juli 2013,” ujar Suryadharma dalam sidang Isbat di Kantor Kementerian Agama, Jakarta.





Read more »

Jumat, 21 Juni 2013

Menanti Sepak Bola Indonesia Damai

Layaknya negara lain, kompetisi sepak bola Indonesia penuh warna. Ada sejumlah laga bertensi tinggi, rawan kerusuhan, dan sarat gengsi. Sebutannya bisa macam-macam. Duel klasik, big match, super big match, bahkan laga panas.

Hari ini pun, atmosfer Jakarta akan makin memanas. Di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Persija Jakarta bakal menjamu Persib Bandung. Tak ada yang menyangkal laga itu sarat dendam dan emosi. Sejak era perserikatan, keduanya kerap bersaing menjadi yang terbaik.

Fanatisme suporter dua tim mewarnai persaingan. Maka tak heran, laga Persib vs Persija selalu menyita perhatian banyak pencinta sepak bola di Tanah Air. Aparat keamanan bahkan harus berjibaku mengerahkan ribuan anggotanya untuk mengamankan laga tersebut.

Parahnya, imbas laga itu membuat kenyamanan warga, entah di mana pun terganggu. Sampai-sampai ada imbauan, jika Persib vs Persija main di Bandung, kendaraan pelat B dilarang melintas. Pun sebaliknya, main di Jakarta, kendaraan pelat D tak boleh berkeliaran di sekitar stadion.

Sepak bola memang kini menjelma bak candu. Efek adiktifnya membuat para pendukung terlena. Ujung-ujungnya bisa macam-macam dan mengarah ke hal negatif. Perseteruan suporter Persib dan Persija, bisa jadi contoh. Fanatisme keduanya kerap berujung bentrok fisik.

Seolah sudah mengakar, budaya bentrok membuat para suporter fanatik merasa besar. Sepak bola pun jadi tak sekadar 11 melawan 11, tapi berkembang menjadi aksi massa. Padahal, sepak bola bukan persoalan hidup dan mati.

Siapa yang rugi? Tentu suporter masing-masing dan pencinta indahnya sepak bola. Demi keamanan, laga Persija vs Persib di SUGBK sore ini, akhirnya digelar tanpa penonton. Polda Metro Jaya tak mengizinkan suporter kedua tim hadir di stadion.

Polisi berkaca pada laga Persib vs Persija di tempat yang sama, Mei 2012 silam. Kericuhan terjadi seusai laga. Suporter Persib meninggal dunia setelah dikeroyok penonton beratribut The Jakmania. Maka, wajar kiranya polisi mengeluarkan kebijakan tersebut.

Tak ada yang bisa mengubah kebijakan. Bahkan, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo pun terpaksa gigit jari. Niatnya menonton laga klasik sarat gengsi, tak kesampaian. Namun, dia hanya pasrah. Pria yang akrab disapa Jokowi itu memahami pertimbangan polisi.

Maka, keputusan polisi bisa jadi pelajaran bagi pencinta sepak bola di Indonesia. Fanatisme boleh-boleh saja, namun tidak berlebihan. Bentrokan fisik, jangan jadi budaya. Sebab, imbasnya bisa ke mana-mana. Tak hanya pribadi dan tim, tapi komisi hukum tertinggi sepak bola.

Read more »

Rabu, 01 Mei 2013

Siapa Bilang Belajar Musik Mahal?

"Where words fail, music speaks". Ketika kata tidak lagi berguna, maka musiklah yang berbicara. Begitu kutipan penulis kenamaan dunia Hans Christian Anderson. Tak sebatas kutipan, orang-orang yang memilih musik sebagai jalan hidup kini telah membuktikannya. Musik menjelma menjadi bahasa universal, melepas simpul-simpul perbedaan. Pun menebas sekat dan prasangka.

Semua berawal 2010 lalu. Saat itu, Irawan Zulhidayat gundah. Tinggal di wilayah timur Kota Bandung, dia tak menemukan tempat kursus musik yang komplet. Jika pun ada, biayanya cukup mahal. Padahal, banyak warga di daerahnya yang berminat mendalami musik.

Maka, pria yang akrab disapa Wawan itu pun memutar otak. Dia punya obsesi mendirikan sebuah kelas musik yang harganya terjangkau. Demi mewujudkan impiannya itu, Wawan pun mulai kasak-kusuk mencari lokasi. Tak mudah memang, hingga akhirnya dia menjatuhkan pilihan.

Sebuah rumah di Kompleks Margahayu Raya, dia sulap jadi lokasi kursus. Kamar-kamarnya, berubah jadi kelas musik. Tepat 1 November 2010, Rumah Nada Music School resmi berdiri. Lokasi persisnya, di Jalan Mars Selatan No 49 Metro Margahayu Raya Kota Bandung.

“Sebetulnya Rumah Nada didirikan karena di wilayah Bandung timur tak ada tempat kursus musik yang harganya terjangkau. Banyak peminat musik, tapi celakanya tempat kursusnya jauh dan mahal,” kata pria yang aktif mengajar di Purwacaraka Music Studio itu, beberapa waktu lalu.

Resmi berdiri, Rumah Nada Music School sempat sepi peminat. Padahal sebelumnya, Wawan sempat sounding ke sejumlah teman-temannya hendak mendirikan tempat kursus. Dari hasil pembicaraan bersama teman-teman, tercatat 40 murid siap mengikuti kursus musik di tempatnya.

“Saya sounding ke teman-teman akan mendirikan kursus musik. Banyak yang menyambut baik. Total, 40 murid siap ikut kurus. Tapi pada kenyataannya, ternyata yang kursus tak sampai segitu. Awal-awal berdiri, kami hanya punya 10 murid,” terang Wawan.

Wawan tak patah semangat. Dia tetap yakin dengan niatnya membangun sekolah musik dengan harga terjangkau. Tiga tahun berlalu, kesabarannya berbuah hasil. Kini, jumlah siswa yang mengikuti kursus di Rumah Nada Music School sudah mencapai 100.

“Sekarang, yang kurus di Rumah Nada tak hanya warga Kompleks Margahayu Raya, tapi dari berbagai kompleks di Kota Bandung. Malah, ada juga yang dari Ciparay. Total murid sudah mencapai 100 orang,” tutur pria kelahiran Tebing Tinggi, 27 Februari 1970 itu.

Sejumlah promo pun dilakukan. Dalam tiga tahun ini, tercatat Rumah Nada Music School menggelar dua kali konser. Promo itu sekaligus jadi ajang siswa-siswa tampil berani di depan umum. Hasilnya cukup positif. Siswa yang awalnya malu-malu, berani tampil di atas panggung.

“Meski harganya relatif terjangkau, kita tetap mengedepankan kualitas. Di Rumah Nada Music School, siswa-siswanya dididik oleh guru musik yang profesional,” pungkas pria yang sudah mendalami musik usia 8 tahun itu. (gin gin t ginulur)

Read more »

Sabtu, 23 Februari 2013

Suara Rakyat, Suara Tuhan

Tanggal sakral itu akhirnya tiba juga. Hari ini, 24 Februari 2013, rakyat Jabar menentukan siapa pemimpin mereka lima tahun ke depan. Perang jargon lewat spanduk, atau pun orasi usai sudah. Lima pasangan Cagub-Cawagub Jabar, kini tinggal bertarung dalam sebuah pemilihan langsung.

Dikdik Mulyana-Cecep Nana ST, Irianto MS Syaifuddin-Tatang Farhanulhakim, Dede Yusuf-Lex Laksamana, Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar, dan Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki, boleh jadi harap-harap cemas. Saat ini, mereka bersiap menanti suara rakyat.

Ya, rakyatlah yang menentukan. Berbagai survei yang dirilis jauh-jauh hari, boleh jadi tak berguna andai suara rakyat berkata lain. Kini, semua terserah kepada 32,5 juta pemilih yang tersebar dari ujung Selatan, hingga pesisir Pakidulan sepanjang Jalur Pantura.

Tak mudah memang. Sebab, selama masa kampanye, lima pasangan calon itu sudah berlomba meraih simpati rakyat. Menebar janji manis, semanis gula. Blusukan ke pasar-pasar tradisional. Pun berorasi di hadapan massa, menumbuhkan asa demi kesejahteraan Jabar ke depan.

Jabar boleh dibilang indikator peta Indonesia. Dia merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Dengan jumlah pemilih sebesar itu, betapa mahalnya harga pesta demokrasi lima tahunan itu. Betapa hebatnya Pemilukada Jawa Barat.

Yang juga patut dicermati adalah golongan putih (golput). ‘Hantu’ itu kerap bergentayangan pada setiap pemilukada. Tren pemilih golput, kerap meningkat di beberapa pemilukada. Banyak faktor memang. Kekecewaan, pesimistis, rasa jenuh berkepanjangan, bisa jadi pemicu.

Belum lagi kondisi masyarakat pedesaan yang tak sempat tersentuh para calon. Informasi terbatas, membuat mereka kurang mengenal para calon. Mereka mungkin hanya tahu calon yang mendapat jatah iklan terbanyak di televisi. Maka, mereka memilih untuk tidak memilih.

Kini, saatnya menanti sejarah. Pemilukada Jabar tercatat sebagai pesta demokrasi yang berlangsung aman, dan damai. Tak ada konflik berkepanjangan. Tak ada pertikaian antarpendukung. Semua pihak, saling legawa menghargai hasil akhir Pemilukada Jabar.

Siapapun yang terpilih nanti, tentunya harus betul-betul bisa berbuat yang terbaik bagi Jawa Barat. Karena dia adalah cerminan rakyat Jawa Barat. Seperti sebuah kata-kata bijak, pemimpin adalah cerminan rakyat. Pemimpin yang jujur, akan menumbuhkan kepercayaan rakyat.

Semoga Pemilukada Jabar menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Vox Populi, Vox Dei. “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan”. Begitu sebuah pepatah kuno dalam bahasa Latin. Maka, mari kita tunggu seperti apa suara Tuhan untuk Jabar lima tahun ke depan.

Read more »

Jumat, 15 Juni 2012

Piala Eropa dan Sepak Bola Indonesia

Seperti candu, hari-hari ini pengaruh sepak bola begitu kuat. Efek adiktifnya membuat jutaan pasang mata di dunia terjaga. Bak terdorong sebuah kekuatan revolusioner, bapak-bapak, pemuda, dan para remaja, mendadak jadi pengikut ajaran ‘footballisme’.

Ya, perhelatan akbar Piala Eropa bulan ini memang membuat pola hidup berubah. Di Kota Bandung, malam-malam menjelang pagi masih tampak ramai. Kafe-kafe menyediakan ruang kumpul bareng. Sejumlah stasiun TV menayangkan ulasan dan prediksi pertandingan.
Bursa taruhan? Jangan ditanya. Di mana-mana, selalu saja ada kelompok orang yang memanfaatkan momentum olah raga sebagai ajang taruhan. Mereka rela merogoh kocek dalam-dalam, demi mempertaruhkan tim jagoannya.

Meski masih bulan Syaban, sepak bola memang membuat hiruk pikuknya sudah seperti Ramadan. Orang-orang melek sampai pagi demi menonton sebuah laga. Sebagian orang bahkan sengaja merevisi siklus tidur agar energinya tak habis saat menonton tayangan sepak bola.

Seorang teman pernah bertanya. Dia mengaku penasaran dengan sepak bola yang seolah mampu ‘menguasai’ dunia. Di matanya, sepak bola adalah olahraga aneh. Ada 22 orang berlari memperebutkan satu bola. Belum lagi tackling keras yang tak jarang membikin tulang patah. Lebih gila lagi penontonnya. Tak kurang dari lima menit, mereka bisa saja bersorak dan menangis.

Belum urusan aksesori yang tak kalah edan. Kepala dicat, badan ditato, atau mengenakan kostum aneh bak seorang makhluk asing dari planet lain. Itulah sepak bola. Sihirnya tak hanya mampu menghipnotis alam pikir manusia. Lebih dari itu, sepak bola bisa menguasai tatanan hidup masyarakat, dari arus bawah hingga kalangan atas, tak terkecuali seorang presiden.

Saya termasuk korban sihir sepak bola itu. Laga-laga favorit Piala Eropa saya lahap meski harus begadang sampai subuh. Sejak gong Piala Eropa dimulai, saya pun jadi pecandu olahraga massal itu. Berbagai prediksi saya cermati sebagai bahan masukan.

Namun, memelototi laga Piala Eropa di layar televisi membuat pikiran saya melayang ke sepak bola tanah air, entah itu IPL atau ISL. Sungguh indah menyaksikan sepak bola Piala Eropa tanpa kekerasan di lapangan. Betapa eloknya melihat sosok wasit yang begitu berwibawa dan dihargai pemain.

Coba tengok laga sepak bola di tanah air. Banyak drama yang terjadi hingga membuat sepak bola seolah sebuah telenovela. Tiba-tiba saja wasit jadi bulan-bulanan pemain. Dia jadi korban kebrutalan pemain. Dicaci maki, didorong-dorong, bahkan dipukuli, terlebih jika sudah menunjuk titik putih.

Parahnya, pemeran utama sepak bola tanah air tak hanya pemain yang berjibaku di lapangan. Penonton pun bukan lagi sekadar figuran. Mereka bisa ada di lapangan dan membuat gaduh. Mewarnai udara di sekitar lapangan dengan asap pekat kembang api. Belum lagi kerusuhan seusai nonton laga.

Kematian tiga suporter seusai laga Persija vs Persib Bandung contohnya. Di lapangan, pemain bisa bersikap dewasa, membangun persaudaraan. Tapi di luar lapangan, penonton mengubah suasana jadi mencekam.

Tapi ya sudahlah. Lupakan persoalan sepak bola tanah air. Saya ingin membiarkan raga ini hanyut, menjadi pecandu sepak bola Piala Eropa. Toh obatnya pun tak sulit. Tak perlu masuk pusat rehabilitasi, cukup melihat tim favorit jagoan saya juara.

Read more »

Senin, 15 Agustus 2011

Papandayan Kini dan 9 Tahun Lalu

Ketenangan warga Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut kembali terusik Ramadan tahun ini. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi mengubah status Gunung Papandayan menjadi Siaga atau level III pada Sabtu (13/8/2011) lalu. Sebelumnya, sejak 2008 lalu, gunung dengan ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut itu berstatus waspada atau level II.





Perubahan status itu mengingatkan warga pada letusan Gunung Papandayan 9 tahun lalu. Ya, tepatnya 11 November 2002, Papandayan yang dikenal sebagai salah satu objek wisata terpopuler di Garut meletus. Warga yang saat itu juga tengah menjalankan ibadah puasa kaget. Mereka tak menyangka gunung yang lebih dari 70 tahun tenang tiba-tiba mengamuk.



Tak hanya meletus, Papandayan juga memuntahkan lahar dingin ke Sungai Cibeureum Gede. Belasan rumah penduduk di bantaran Sungai Cibeureum tertimbun longsor. Warga panik. Mereka berlarian ke tempat aman. Ada pula yang terpaksa hijrah ke rumah kerabatnya di Garut. Anak-anak menangis bingung. Sekejap saja, Kantor Kecamatan Cisurupan dipenuhi para pengungsi.



Saya sempat merasakan kepanikan warga sekitar Gunung Papandayan saat meletus 11 November 2002 lalu. Kebetulan sehari sebelumnya saya bersama dua teman masing-masing Machmud Mubarok dan Gani Kurniawan ditugaskan kantor meliput kondisi Gunung Papandayan yang terus menunjukkan aktivitasnya dalam satu minggu terakhir.



Menjelang tengah malam, kami meluncur ke Kabupaten Garut menaiki mobil. Saya bertugas menyetir lantaran dua teman lainnya belum mahir mengemudikan mobil. Tak banyak bekal yang saya bawa, termasuk baju ganti. Saya bahkan lupa membawa sepatu dan hanya beralaskan sandal jepit. Demi memburu berita, kami terpaksa sahur di jalan dan sempat beristirahat di Masjid Agung Garut.



Kami tiba di kawasan Gunung Papandayan Senin 11 November 2002 sekitar pukul 06.00 WIB. Saat itu warga sudah terlihat panik. Pascalongsor di puncak Gunung Papandayan, banyak warga yang sudah mengungsi. Mereka bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk Papandayan meletus. Kemacetan mulai terjadi. Warga tumplek ke jalan. Mereka berusaha menjauhi kawasan Gunung Papandayan.



Pos Pengamatan Gunung Api Papandayan pun riuh rendah. Tak hanya para ahli dan Muspida Kabupaten Garut, wartawan tumplek di sana. Mereka mengamati perkembangan kawah Papandayan. Senin 11 November 2002, sekitar pukul 15.30 WIB, Papandayan memulai menunjukkan aktivitasnya. Letusan freatik pertama terjadi pukul 16.03 WIB. Debu pekat menyembur dengan ketinggian sekitar 5 Km dari atas puncak. Warga makin panik. Sekejap saja, ruas jalan di kawasan Cisurupan macet.



Inilah letusan pertama yang menyebabkan terjadinya longsor dahsyat di sebagian dinding bukit Nangklak. Seluruh material longsor jatuh ke hulu Sungai Cibeureum Gede. Tercatat sedikitnya 12 rumah warga di Desa Pakuwon dan Naringgul tertimbun longsoran lumpur. Sebuah jembatan penyeberangan pun hancur diterjang banjir lumpur dan memutuskan akses dari Desa Cilimus ke Desa Sirnajaya.



Sialnya, di hari pertama letusan Papandayan itu kami gagal mendapat foto bagus lantaran terjebak di Pos Pengamatan Gunung Api Papandayan. Teguran pun melayang dari pejabat kantor. Kami pasrah, tak bisa memberikan alasan kuat.Terlebih lagi keesokan harinya seluruh foto HL halaman depan koran menggambarkan dahsyatnya letusan Gunung Papandayan. Hanya halaman koran kami yang tidak.



Hari kedua di Papandayan kami pun bertekad mengambil foto letusan dari jarak dekat. Di tengah rasa lapar karena puasa dan lupa sahur, kami mendaki Papandayan. Tak peduli orang-orang menjauh, kami malah mendekati kawah. Tanah bergetar. Beralaskan sandal, saya menaiki puncak berburu pemandangan indah letusan Papandayan. Ada rasa waswas di tengah keberanian mengamati semburan kawah Papandayan dari dekat. Namun semua terbayar setelah kami berhasil mengambil beberapa foto dahsyatnya letusan Papandayan dari jarak dekat. Betul-betul luar biasa!



Hanya tiga hari kami berada di Papandayan. Kantor meminta kami kembali dan bertukar tempat dengan tim lainnya. Ah, sungguh menakjubkan bisa melihat letusan gunung api dari dekat, merasakan tanah bergetar, dan menyaksikan debu pekat menyembur ke udara. Sungguh pengalaman luar biasa. Mungkinkan kejadian sama kembali berulang saat ini setelah aktivitas Papandayan meningkat? Tak ada yang bisa menduga. Saya hanya bersiap saja menanti kabar Gunung Papandayan selanjutnya.

Read more »

Rabu, 08 Juni 2011

Tentang Senja

Senja. Nama itu masih tersimpan di palung hati, tak kunjung terhapus. Sebuah nama yang kerap menghadirkan rindu, debar, dan sekelebat kenangan di masa silam. Entahlah, waktu ternyata tak bisa sedikitpun menghapus pesona alami yang terpancar tanpa alasan hingga aku akhirnya menolak lupa demi sebuah cerita yang pernah tercipta.


Senja. Nama itu masih tetap terdengar indah, selembut halimun terbawa angin. Sebuah nama yang sanggup membuatku bergeming di persimpangan, bingung memilih antara berjalan ke depan atau kembali ke belakang. Entahlah, kenangan itu begitu erat tergenggam meski aku kerap terhuyung menahan rindu tak terperi.

Senja. Nama itu membuatku belajar menerima rasa sakit ketika cinta sepertinya tak lagi butuh keberadaan, tertahan di padang tandus, kering tak tersirami. Entahlah apakah ini sebuah kebodohan hingga aku tak pernah sampai ke ujung perjalanan jiwa. Merasa letih menyimpan asa tak tersampaikan sekadar menatap bening matanya atau menyentuh hangat jemarinya.

Read more »

Rabu, 11 Mei 2011

Akhirnya Kutinggalkan Beranda Senja Itu

Akhirnya kutinggalkan juga beranda senja itu. Menghapus semua jejak yang pernah tercatat lebih dari 2.000 hari. Menanggalkan beribu potong kenangan selama tak kurang dari 42.000 jam. Sungguh, bukan aku tak mau menjaga beranda itu lebih lama lagi. Tapi aku sulit menerjemahkan setiap sudut yang ada di ruang beratap tak berdinding itu.

Akhirnya kutinggalkan juga beranda senja itu. Melepaskan mimpi-mimpi yang kerap muncul di sepertiga sisa malam. Melupakan hari-hari menikmati perubahan warna matahari di batas cakrawala. Maaf, bukan maksud menafikkan keindahan senja yang tak pernah ada habisnya. Bukan pula membenci wajah senja yang begitu lembut dan pantas disentuh. Tapi, aku memang harus pergi, kembali merumuskan diri sendiri yang masih tergeragap.

Akhirnya kutinggalkan juga beranda senja itu. Mencoba mengendalikan hidup yang penuh keterdugaan hingga masa depan kerap lepas dari pegangan. Sungguh, aku tak bisa selamanya menjelma menjadi patung yang berdiri menatap senja sempurna di beranda itu menjelang malam. Seperti katamu, aku memang harus melupakan beranda itu. Karena lupa mungkin akan membebaskanku dari pusaran tak berujung ini.

Read more »

Jumat, 22 April 2011

Dilarang Merindukan Senja

Senja. Setiap hari aku mematung di sini menantimu menyapa lembut, saat matahari mulai beranjak syahdu menuju garis cakrawala. Aku merindukanmu. Senja yang mengantarkan sejuta cerita dari negeri di awan hingga membuatku serasa berada di dunia berbeda. Dari sisi gelapku, saban waktu tak lelah aku mengagumimu.


Senja. Aku masih di sini menunggumu. Berkawan angin bertiup rindu pada burung-burung yang melintas di atap langit. Aku merindukanmu. Senja yang penuh cerita. Tentang hati yang menyepi, terhuyung-huyung bersembunyi dalam ketiadaan. Lalu tenggelam dibalut rasa cinta yang selalu indah dalam ketidakwujudannya

Senja. Aku masih berdiri di sini, menunggumu meski langit tak jua menguning. Sementara hati masih saja nanar, membeku dalam balutan cerita senja. Adakah senja bakal tersenyum walau sesaat sebelum malam datang mengoyak harapan? Ah, sepertinya tidak. Awan hitam menggelayut pertanda langit bakal segera basah. Ia seolah berbisik: Jangan pernah kau merindukan senja itu lagi.

Read more »

Selasa, 19 April 2011

Kembali ke Kota Cirebon

Hari menjelang sore, Jumat (15/4/2011). Saya memacu motor di ruas Jalan Raya Cileunyi menuju arah Timur Utara. Tujuan saya adalah Cirebon, kota yang berjarak sekitar 133 Km dari Bandung. Bom bunuh diri di Masjid Adzikra Mapolres Cirebon Kota (Ciko) saat Jumatan jadi pemicunya. Gara-gara insiden itu, saya pun punya kesempatan kembali liputan setelah lima bulan absen. Tanpa membawa baju ganti, saya berangkat berbekal uang seadanya, hape, dan kamera digital kecil milik teman.

Waktu menunjukkan jam 4 sore. Target sampai ke Cirebon jam 6 sore sepertinya bakal meleset. Terlebih lagi, saya sempat terjebak macet di kawasan Cibiru. Belum lagi membayangkan macet di Pasar Tanjungsari Sumedang. Saya tak sendiri. Ada Baban duduk di belakang jok motor. Ia juga ditugaskan kantor meliput insiden bom bunuh diri di Mapolres Cirebon Kota. Kondisi Baban idem ditto. Ia tak membawa baju ganti, selain bekal uang dan hape.

Seperti diperkirakan sebelumnya, kami terjebak macet di Pasar Tanjung Sari Kabupaten Sumedang. Laju motor tersendat. Kondisi ini sulit dipecahkan. Pasar Tanjung Sari memang jadi salah satu biang kemacetan di jalur Bandung-Cirebon. Antrean kendaraan bahkan terkadang sampai ke kawasan Jatinangor (dari arah Bandung) dan Citali (dari arah Sumedang). Pasrah, saya tak terlalu berharap banyak. Demikian pula Baban. Kami pun hanya bisa menikmati kemacetan, disemprot asap knalpot bus dan truk yang tepat berada di depan motor.

Hujan sempat menghambat perjalanan kami. Cukup deras hingga membuat badan dingin, mata perih, dan pakaian basah. Beruntung, Baban sigap membawa jas hujan. Sejenak kami berhenti sekadar mengenakan jas hujan dan mengamankan barang-barang penting agar tak kehujanan. Sejurus kemudian, kami melanjutkan perjalanan diguyur hujan sore. Hanya setengah jam, hujan berhenti tepat saat kami tiba di pusat Kabupaten Sumedang. Khawatir kembali hujan, kami tak melepas jas. Saya kembali memacu motor. Perasaan sedikit waswas karena rem belakang motor tak terlalu pakem.

Tanpa terasa, kami sudah melintasi jalur Tomo Kabupaten Majalengka. Sebentar lagi Palimanan. Hari mulai gelap rupanya. Saya sempat melirik jam tangan. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 6 sore lebih. Setengah jam lagi kemungkinan kami tiba di Kabupaten Cirebon. Jalanan rusak membuat saya harus ekstra hati-hati menjalankan motor. Salah sedikit, motor bisa terperosok masuk lubang. Lebih parah lagi, kami berdua bisa saja terjatuh dari motor jika tak hati-hati memperhatikan lubang jalanan.

Menyusuri jalur Bandung-Cirebon ingatan kembali ke 6 tahun silam. Terlebih lagi saat memasuki ruas Jalan Palimanan. Enam tahun silam saya ditugaskan menjajal wilayah III Cirebon yang meliputi Cirebon (kota/kabupaten), Majalengka, Indramayu, dan Kuningan selama tiga bulan sejak 16 Mei 2005. Dua bulan pertama, saya tak pernah melalui jalur Palimanan jika hendak ke Cirebon, atau sebaliknya. Biasanya, sebulan sekali saya pulang pergi lewat jalur Rajagaluh Majalengka yang tembus ke Sumber Kabupaten Cirebon. Namun, 29 Juli 2005, kali pertama saya melintasi jalur Palimanan, saat hendak pulang ke Bandung bersama seseorang. Ah, kenangan itu masih sangat kuat melekat di ingatan saya.

Lamunan saya buyar saat tiba di kawasan Ciwaringin. Ternyata kami sudah sampai di Kabupaten Cirebon. Saya menghentikan motor, membeli pulsa, lantas menelepon teman di Cirebon. Waktu menunjukkan jam setengah 7 malam. Baban melakukan hal serupa. Menelepon teman yang sama-sama ditugaskan kantor meliput perkembangan aksi bom bunuh diri di Masjid Adzikra Mapolres Cirebon Kota. Limabelas menit berlalu, saya kembali melanjutkan perjalanan. Sempat nyasar ke Jalan Cipto, akhirnya kami tiba di Mapolres Cirebon Kota Jalan Veteran jam 7 malam.

Tepat setengah jam setelah kedatangan kami, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan tiba di Mapolres Cirebon Kota. Fokus kami pun saat itu mewawancarai gubernur. Malam hari, kami berbincang dengan Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Agus Rianto. Langit di atas Mapolres Cirebon Kota tampak cerah. Bulan purnama nyaris sempurna, dihiasi lingkaran perak. Awan tegak lurus sempat menarik perhatian kami. Tak terasa, hari sudah berganti. Setelah sempat kesulitan mencari makan, kami mengakhiri liputan, Sabtu (16/4/2011) sekitar jam setengah dua dinihari.

Saya sungguh menikmati liputan di Cirebon. Seolah melakukan napak tilas, saya membawa Baban melintasi ruas jalan dan tempat berkesan saat liputan di Cirebon seperti Jalan Siliwangi, Jalan Kartini, Jalan Cipto Mangunkusumo, Tuparev, dan Mal Grage. Sabtu (16/4/2011) malam, saya pun menyempatkan diri menengok seorang teman liputan yang menginap di Hotel Priangan Jalan Siliwangi, setelah lelah beraktivitas bolak-balik Majalengka-Cirebon. Malam itu, kami menghabiskan waktu di depan Masjid Attaqwa Jalan Kartini bersama teman-teman wartawan Cirebon hingga Minggu (17/4/2011) pagi.

Rencana pulang Minggu (17/4/2011) gagal. Awalnya, kami hanya berniat kembali meminta komentar istri terduga teroris di rumahnya kawasan Majalengka. Namun, setelah selesai mememintai komentar, tim Densus dan identifikasi Polda Jabar ternyata datang menggeledah rumah tersebut. Baban tak bisa pulang hari itu karena kantor memintanya meneruskan liputan. Saya tak mau pulang tanpa Baban. Terlebih lagi, momen penggeledahan tak mungkin dilewatkan begitu saja. Empat jam sejak jam 5 sore hingga jam 9 malam kami terjebak di Majalengka, kehausan dan kelaparan setelah nyaris seharian tak makan nasi. Kami sepakat tak pulang ke Bandung malam itu dan kembali ke Cirebon setelah selesai meliput penggeledahan rumah terduga teroris.

Malam terakhir Kota Cirebon berhias bulan purnama. Saya mengajak Baban makan malam di Rumah Makan Padang Simpang Raya Jalan Kartini. Jam 10 malam kami kembali ke hotel, menyimpan tenaga buat besok kembali ke Bandung. Tiga malam di Cirebon memang tak cukup mengembalikan kenangan enam tahun lalu. Namun saya cukup terpuaskan setelah kembali menyusuri malam-malam jahanam wilayah Pantai Utara menaiki motor. Besok, kami harus pulang ke Bandung, kembali menyusuri Jalan Palimanan, menempuh perjalanan panjang sekitar 133 Km. Ah, Cirebon memang luar biasa. Kota itu menarik saya kembali ke lingkaran masa lalu.

Read more »

Senin, 07 Februari 2011

Senja Terlukis di Pantai Anyer

Senja terlukis di ufuk Barat Pantai Anyer Kabupaten Serang. Cahaya emasnya menyepuh siluet Gunung Krakatau di ujung batas cakrawala. Indah, meski tak begitu sempurna lantaran gumpalan awan sedikit mencoreng wajahnya. Tak jauh di sebelahnya, kepulan asap Anak Krakatau masih terlihat, sisa batuk Desember silam. Sore itu, ombak Januari menghantam pesisir, membuat bibir pantai makin menyempit. Bayu senja membelah langit dan pintu rezeki buat nelayan terbuka.


Menatap wajah senja di pesisir pantai memang tak akan pernah ada habisnya. Ada aura kemesraan dan romantisme terpancar di sana. Keduanya menyatu membentuk harmoni tiada ujung. Senja membuat hamparan laut berdenyar laksana jutaan serakan kilau kristal. Ia seolah menjelma menjadi candu saat ruap ombak menciptakan nada kerinduan, membakar semangat nelayan. Ah, pantai dan laut memang sebuah tempat pelarian sempurna menepikan gundah, dan Tuhan sepertinya menitipkan cinta pada senja jingga di tepi pantai.

Senja mulai padam saat malam menjemput perlahan. Lembayung berlari menjauhi laut. Bocah lelaki enam tahun itu tampak kuyup. Butiran pasir memenuhi rambut tipisnya. Setelah nyaris seharian penuh menari bersama ombak, ia mulai lelah. Meski begitu, dua bola matanya yang memerah tersiram air laut tampak berbinar. Senyumnya terus mengembang. Sayang, sebentar lagi sore susut. Syair sunyi pun berlantun mengiringi datangnya malam, berharap bintang berbinar di tengah gemuruh gelombang. Saatnya membawa anakku pergi dari laut.

Sejak tiba di Pantai Anyer tengah hari bolong, Lembayung memang larut dengan keasyikannya sendiri bermain pasir dan mencari kepiting. Ia tak peduli panas matahari membakar kulit. Dibiarkannya lidah ombak menjilati kaki telanjangnya. Sesekali ia tampak menantang laut yang menggulung anak-anak ombaknya dalam debur terhelai. Tubuh kecilnya berguling terhantam gelombang yang menengadahi langit. Tawa pecah begitu air laut asin bercampur pasir menampar wajahnya.

Aku bahagia melihat Lembayung mulai mencintai laut, seperti ia mengagumi senja. Bagiku, laut laksana tempat peri-peri menjalin mimpi dan memintal asa yang beranjak menua. Laut mengisahkan kepergian dan kepulangan, tempat semesta bermuara. Kepada laut, aku kerap menitipkan pesan tentang luka yang terapung-apung pada botol kaca, terempas entah ke mana, abadi bersama dewa Neptunus. Oh laut, pada setiap pantainya, ada sederet kenangan tak terlupakan saat putaran angin mendesirkan pohon nyiur.

Malam itu awan hitam menyungkup laut Pantai Anyer. Anakku tertidur begitu cendera. Di luar gelombang liar laut pasang yang tak pernah tidur mengiringi keheningan malam. Gaungnya terasa begitu jujur melagukan nyanyian biru para pejalan sunyi. Angin mengempaskan pasir, mencatati setiap jejak putri duyung dan bajak laut yang sembunyi di balik karang. Di pinggir pantai, aku memejamkan mata, mendengarkan dongeng laut tentang lelah hati menggapai senja yang kau kisahkan pada bumi.

Read more »

Senin, 17 Januari 2011

Tentang Gerimis

Gerimis itu tiba-tiba turun dari celah langit. Tipis, nyaris seperti embun. Saya melihatnya dari balik jendela. Tempiasnya membasahi kaca luar jendela, lalu mengucur perlahan seperti membentuk sebuah kaligrafi. Angin berembus pelan, membuat beberapa pucuk pohon melambai ke kiri dan kanan. Satu dua daun jatuh menyentuh tanah. Dingin menusuk pori-pori.

Pagi itu langit memang sedikit gelap namun tidak menakutkan. Nyaris setahun lebih kota ini diguyur hujan. Mungkin memang ini masanya jemari langit menyentuh bumi. Kadang bermain-main dengan lembut, meski sering pula berubah brutal. Kali ini ujung hujan memang tak setajam sebelumnya. Bagai pensil tumpul, ia hanya menuliskan pesan singkat, bukan janji mendatangkan pelangi.

Saya teringat seseorang beberapa tahun lalu. Kami bertemu dalam aroma gerimis yang menerjemahkan tanah-tanah. Menyusuri jalanan basah, kami tertimpa gerimis, membeku dalam dingin. Sepanjang jalan tak bosan kami bertukar kata. Sesekali terdiam mencoba mengurai makna gerimis yang menderai di antara sepi. Sejenak basah dalam percakapan di antara mendung yang semakin menyusut mengikuti sisa gerimis. Sungguh, gerimis mendedas yang menghasut kenangan.

Saya seolah menangkap sebuah nyanyian rindu ketika hujan gerimis itu perlahan turun. Meresonansi masa lalu, membuat saya terhipnotis pada keadaan. Berharap menemukan wajahnya di antara ribuan garis gerimis miris yang berjatuhan menabuh bumi, meresap ke dalam hati. Atau menangkap matanya yang kerap melukiskan pemandangan indah. Ah, gerimis memang menyimpan sebuah rahasia yang tak pernah bisa dibongkar. Ia seperti bercerita soal kerinduan, ketabahan, dan kelembutan.

Rindu pada gerimis ini memang tak pernah berhenti meski menggigil dalam dingin usia. Terus melaju di antara putaran malam dan siang yang terasa sangat singkat. Pada gerimis ini, saya selipkan beberapa bait pesan yang dikirim lewat aliran sungai kata-kata, tentang masa depan rumit dan meresahkan

Read more »

Jumat, 31 Desember 2010

Aku Kehilangan Senja

Aku kehilangan senja sore ini. Cahaya indahnya tak muncul di akhir tahun. Kali ini aku pasrah, hanya diam dan tak mengejar. Aku pun tak berniat menuliskan laporan kehilangan, karena sepertinya senja enggan menampakkan diri dan tak ingin diburu. Padahal aku biasanya rajin memburu senja, menangkapnya walau sepotong, menyimpannya baik-baik dalam sebuah bingkai yang ditancapkan di dinding hati.

Aku kehilangan senja sore ini. Hari pun mendadak gelap karena senja betul-betul tak tampak. Ia seperti menghilang bersama kegalauannya, berselimut malam yang selalu terasa cepat datang. Tiba-tiba saja aku takut senja tak lagi muncul mengisi mimpi-mimpiku, membebaskanku dari sunyi dan kelam. Aku takut senja tak lagi menyepuh dunia dengan warna keemasannya.

Aku kehilangan senja sore ini. Pancaran lembutnya hilang hingga langit terasa begitu kelabu. Ia tak muncul mengubah cakrawala dengan warna-warna magis. Tak ada paduan warna cantik menghias langit dibalut awan menjelang magrib. Ketika ungu, jingga, oranye, biru muda, bercampur di batas cakrawala, membuat gradasi warna yang luar biasa. Sore ini, hanya desir angin dan pepohonan rimbun yang kutemui. Mungkin ini hanya soal waktu. Karena aku masih berharap, senja yang sama muncul kembali suatu hari nanti.

Read more »

Sabtu, 11 Desember 2010

Tak Ada Senja di Rancabolang

Jalan Rancabolang tampak letih sore itu. Entah berapa bulan lamanya, kendaraan proyek mulai kembali hilir mudik melintasi jalan yang menghubungkan Kompleks Margahayu Raya dengan kawasan Ciwastra itu. Permukaan jalan yang awalnya mulus mulai kusam dan bergelombang. Debu-debu pun beterbangan liar mencari korban para pengemudi motor dan pejalan kaki. Sesekali tenang, lantas liar lagi mengikuti irama angin. Sore yang kering, matahari mulai redup. Malam sudah bersiap melahapnya.

Proyek pembangunan perumahan di kawasan Rancabolang memang tak pernah habis. Hamparan sawah yang awalnya terlihat di kiri kanan jalan, kini berubah jadi tanah lapang. Ruang terbuka hijau di Jalan Rancabolang nyaris musnah. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan tanah kering yang siap ditumbuhi rumah-rumah mewah.

Menjelang magrib, deru mesin bechoe terdengar keras diiringi teriakan para kuli bangunan. Alat berat itu sibuk menutupi lahan sawah dengan tanah hitam untuk dijadikan fondasi rumah. Gemuruhnya terasa hingga ke tengah jalan. Sejenak mesin itu berhenti bekerja dan suasana pun hening. Lantas, beberapa saat kemudian, kembali menyala, menuntaskan pekerjaan hari itu.

Seperti biasa, setiap sore begini, saya selalu membawa si kecil Gisavo ke Jalan Rancabolang sekadar menyaksikan fenomena senja. Lokasi favorit kami berdua adalah sebuah hamparan sawah tidak jauh dari depan Kompleks Perumahan Bumi Persada. Dari situ, matahari terbenam biasanya terlihat jelas. Perubahan warna langit pun begitu kentara. Kami biasanya berdiri di pinggir sawah tanpa mengucap sepatah kata pun. Tatapan kami hanya tertuju pada kaki langit.

Toh keinginan kami melihat senja kandas. Hamparan sawah favorit kami sudah dipenuhi gundukan tanah. Selain itu, sebuah mesin bechoe berdiri kokoh menghalangi pemandangan langit sebelah barat. Gisavo terdiam di pinggir jalan. Tatapan matanya tak fokus. Matanya liar mencari matahari, sekaligus cara kerja bechoe. Selain itu, pikirannya juga seperti berkelana mencari tahu ke mana hamparan sawah yang dulu menjadi tempatnya bermain.

Setahun lalu lokasi proyek itu merupakan hamparan sawah luas. Di sanalah awal mula Gisavo mengenali senja, sebuah fenomena alam yang sangat saya kagumi. Setahun lalu, hampir setiap hari kami mendatangi tempat itu. Menyaksikan proses perubahan warna langit yang semula biru muda menjadi agak kemerah-merahan. Awalnya Gisavo bingung dan bosan. Namun lama-lama senja mulai merasuki jiwanya.

Kini, di hamparan sawah itu ia tak lagi melihat senja. Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir dari mulut kecilnya. Ia ingin mencari kejelasan atas kebingungan yang menghinggapinya sore itu. Kebingungan tentang proyek, hilangnya senja, dan bergantinya sawah menjadi tanah hitam. Saya menjelaskan satu per satu semua pertanyaannya. Meski saya tahu, semua pertanyaan yang diajukannya mengarah pada satu jawaban. Ya,sawah dan senja tak terlihat lagi karena proyek perumahan.

Gisavo mengangguk, seolah mengerti penjelasan saya. Ia masih saja menatap langit sebelah barat. Bechoe di hadapannya berhenti meraung. Kuli bangunan bersiap pulang. Hari semakin sore. Tiba-tiba langit berubah kelam. Sebentar lagi malam. Saya menggenggam tangan Gisavo, mengajaknya pulang. “Sudah, di sini tak ada lagi senja,” saya berucap sambil menariknya menjauhi tanah hitam.

Read more »

Sabtu, 04 Desember 2010

Tak Ada Senja di Rancabolang

Jalan Rancabolang tampak letih sore itu. Entah berapa bulan lamanya, kendaraan proyek mulai kembali hilir mudik melintasi jalan yang menghubungkan Kompleks Margahayu Raya dengan kawasan Ciwastra itu. Permukaan jalan yang awalnya mulus mulai kusam dan bergelombang. Debu-debu pun beterbangan liar mencari korban para pengemudi motor dan pejalan kaki. Sesekali tenang, lantas liar lagi mengikuti irama angin. Sore yang kering, matahari mulai redup. Malam sudah bersiap melahapnya.


Proyek pembangunan perumahan di kawasan Rancabolang memang tak pernah habis. Hamparan sawah yang awalnya terlihat di kiri kanan jalan, kini berubah jadi tanah lapang. Ruang terbuka hijau di Jalan Rancabolang nyaris musnah. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan tanah kering yang siap ditumbuhi rumah-rumah mewah.

Menjelang magrib, deru mesin bechoe terdengar keras diiringi teriakan para kuli bangunan. Alat berat itu sibuk menutupi lahan sawah dengan tanah hitam untuk dijadikan fondasi rumah. Gemuruhnya terasa hingga ke tengah jalan. Sejenak mesin itu berhenti bekerja dan suasana pun hening. Lantas, beberapa saat kemudian, kembali menyala, menuntaskan pekerjaan hari itu.

Seperti biasa, setiap sore begini, saya selalu membawa si kecil Gisavo ke Jalan Rancabolang sekadar menyaksikan fenomena senja. Lokasi favorit kami berdua adalah sebuah hamparan sawah tidak jauh dari depan Kompleks Perumahan Bumi Persada. Dari situ, matahari terbenam biasanya terlihat jelas. Perubahan warna langit pun begitu kentara. Kami biasanya berdiri di pinggir sawah tanpa mengucap sepatah kata pun. Tatapan kami hanya tertuju pada kaki langit.

Toh keinginan kami melihat senja kandas. Hamparan sawah favorit kami sudah dipenuhi gundukan tanah. Selain itu, sebuah mesin bechoe berdiri kokoh menghalangi pemandangan langit sebelah barat. Gisavo terdiam di pinggir jalan. Tatapan matanya tak fokus. Matanya liar mencari matahari, sekaligus cara kerja bechoe. Selain itu, pikirannya juga seperti berkelana mencari tahu ke mana hamparan sawah yang dulu menjadi tempatnya bermain.

Setahun lalu lokasi proyek itu merupakan hamparan sawah luas. Di sanalah awal mula Gisavo mengenali senja, sebuah fenomena alam yang sangat saya kagumi. Setahun lalu, hampir setiap hari kami mendatangi tempat itu. Menyaksikan proses perubahan warna langit yang semula biru muda menjadi agak kemerah-merahan. Awalnya Gisavo bingung dan bosan. Namun lama-lama senja mulai merasuki jiwanya.

Kini, di hamparan sawah itu ia tak lagi melihat senja. Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir dari mulut kecilnya. Ia ingin mencari kejelasan atas kebingungan yang menghinggapinya sore itu. Kebingungan tentang proyek, hilangnya senja, dan bergantinya sawah menjadi tanah hitam. Saya menjelaskan satu per satu semua pertanyaannya. Meski saya tahu, semua pertanyaan yang diajukannya mengarah pada satu jawaban. Ya,sawah dan senja tak terlihat lagi karena proyek perumahan.

Gisavo mengangguk, seolah mengerti penjelasan saya. Ia masih saja menatap langit sebelah barat. Bechoe di hadapannya berhenti meraung. Kuli bangunan bersiap pulang. Hari semakin sore. Tiba-tiba langit berubah kelam. Sebentar lagi malam. Saya menggenggam tangan Gisavo, mengajaknya pulang. “Sudah, di sini tak ada lagi senja,” saya berucap sambil menariknya menjauhi tanah hitam.

Read more »

Jumat, 03 Desember 2010

Bocah Pemain Biola

Lima jari tangan kiri Gisavo tampak menggenggam leher biola kecil yang terbuat dari kayu mapel. Bocah laki-laki berusia enam tahun itu kemudian meletakkan badan biola yang menyerupai sebuah jam pasir di atas bahu kirinya. Sejurus kemudian, dagu mungilnya ditekankan pada penyangga di bagian kiri atas badan biola. Alat musik gesek itu pun diapitnya dengan dagu dan pundak kiri.

“Pak, Gisa mau main biola ya,” kata Gisa, nama kecil bocah itu, kepada ayahnya yang baru saja pulang. Dua bola matanya tampak berbinar-binar. Sepertinya ia sangat ingin memperlihatkan hobi barunya itu.
“Boleh, nanti bapak dengerin ya. Sok, Gisa mau main lagu apa?” sang ayah duduk persis di depan anaknya. Ia urung memasuki kamar, mengganti bajunya yang kumal setelah seharian diterpa angin kering.
“Sebentar ya pak,” kata Gisavo.
“Siap!” jawab sang Ayah.

Tak lama berselang, tangan kanan Gisavo mengambil busur biola, sebuah alat gesek yang terbuat dari batang kayu pernambuco dan helai-helai rambut kuda putih. Didekatkannya busur biola itu pada salah satu senar yang merentang kencang di leher biola. Lalu, digeseknya perlahan-lahan hingga mengeluarkan bunyi . Tanpa melepas gesekan busur biola pada senar, ia menjelaskan nada apa yang dimainkan.

“Yang tadi itu kunci G Pak,” kata Gisa. Sang Ayah mengangguk. Bocah yang saat ini duduk di kelas 1 SD itu melanjutkan aksinya. Ia menggesekkan lagi busur biola pada senar lainnya. Kali ini bunyinya terdengar lebih tinggi.
“Itu kunci apa?” tanya sang Ayah.
“Itu E pak,” jawab Gisavo mantap. Sang ayah kembali mengangguk. Tak ada maksud mengetes kepiawaian anaknya mengenal kunci dan nada. Ia benar-benar tidak tahu nada yang dimainkan anaknya itu. Meski cukup mahir bermain gitar, untuk persoalan nada dan kunci, ia sama sekali buta.

Gisavo kemudian menggesek dua senar berikutnya. Empat senar biola yang konon awalnya terbuat dari usus domba dicampur logam itu habis digesek satu per satu. Ia kemudian terdiam.
“Udah pak,” kata Gisa.
“Jangan dulu, bapak mau denger Gisa main satu lagu,” bujuk sang ayah.
“Satu lagu ya pak? Boleh,” bocah itu menjawab tantangan ayahnya.

Empat jari kecilnya kemudian menari-nari di atas senar biola. Tak jelas lagu apa yang dimainkan. Nada yang keluar dari biola itu pun terdengar sumbang. Sang ayah tersenyum. Meski musik yang dimainkan anaknya tak beraturan, ia tetap bertepuk. Bocah itu pun menyudahi penampilannya. Sang ayah lantas memeluknya erat-erat.

“Wah, Gisa hebat, udah bisa mainin satu lagu pake biola,” puji sang Ayah. Gisavo melepas pelukan ayahnya.
“Pak, Gisa boleh main dulu?” pintanya. Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. “Jangan lama-lama ya. Nanti kalau jarum panjang sudah ke angka 6, Gisa tidur,” jawab sang Ayah. Gisa mengangguk. Ia memasuki kamar dan menumpahkan seluruh mainannya.

Sejak usia 4 tahun, Gisavo memang sudah menyukai biola. Setiap kali mendengar suara biola yang dimainkan dengan tempo lambat, ia terdiam menikmatinya. Tak heran, saat mengikuti les nyanyi di salah satu sekolah musik terkenal di Bandung, bocah kelahiran Agustus 2004 itu kerap memperhatikan orang-orang yang memegang biola, atau memainkannya. Melihat kuatnya keinginan dia bermain biola, sang kakek berinisiatif membelikan sebuah biola ukuran sedang.

Di sela-sela les nyanyi setiap Sabtu siang, Gisavo berlatih biola. Meski tangan kirinya belum bisa menjangkau hingga gulungan kepala biola, ia tetap tekun berlatih. Semua pelajaran biola yang diajarkan gurunya dilahap habis. Hampir setiap malam, ia berlatih menggesek biola di rumah bersama ibunya. Namun setelah beberapa kali latihan menggesek, ia harus mulai berlatih memainkan jari. Karena biola yang dipakainya berlatih masih terlalu besar, ibunya membelikan lagi Gisavo sebuah biola ukuran kecil.

Tanpa mengganti baju yang dikenakannya sejak pagi, sang ayah masih duduk memperhatikan Gisavo bermain mobil hotwheels. Pikirannya menerawang, membayangkan anak satu-satunya itu beranjak dewasa, dan tampil memainkan biola di sebuah konser akbar. Betapa tampannya dia mengenakan jas, dasi, dan memegang biola klasik, disaksikan ribuan penggemar.

"Ah, tak perlu sepiawai Idris Sardi, Yehudi Menuhin, Itzhak Perlman, atau Vanessa Mae, apalagi komposer macam Johann Sebastian Bach atau Wolfgang Amadeus Mozart. Cukuplah menjadi Gisavo yang bisa membuat orang tuanya bangga," pikirnya.

Tak terasa, jarum panjang jam di dinding menunjukkan angka 6. Sudah pukul 21.30 WIB rupanya. Gisavo harus tidur.
“Gisa, udah setengah sepuluh. Lihat coba jarum panjangnya!” teriak sang Ayah.
“Iya pak, sebentar lagi,” sahut Gisavo.
“Nanti mamah bikinin susu, Gisa langsung minum ya. Setelah itu, sikat gigi, terus tidur,” ibunya menimpali.

Lebih dari 10 menit waktu yang dijanjikan, bocah itu kemudian tidur ditemani ibunya. Besok pagi, dia harus sekolah. Sang ayah melanjutkan aktivitasnya, cuci muka, ganti baju, menyeduh kopi, mengisap rokok, lantas memainkan HP hingga larut malam. Tugas berat menantinya beberapa tahun ke depan. Menyediakan kebutuhan anaknya yang semakin tumbuh dewasa.

Read more »